
Steven duduk tak jauh dari sang nenek yaitu Teressa, sementara Teressa dengan santainya menyeruput teh hangat kesukaannya.
“Ayolah nek cepat katakan!” pinta Steven kesal. Sudah 2 hari sang nenek tak mengatakan alasan kenapa Steven diminta untuk datang ke Inggris.
“Nanti juga nenek akan mengatakannya,” sahut Teressa dengan santai.
“Apakah sangat penting nek?” tanya Steven memastikan.
“Nanti juga nenek akan mengatakannya,” sahut Teressa lagi.
Steven mendengus kesal karena sikap sang nenek yang begitu santai, mau sekeras apapun Steven berpikir tetap saja tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh sang nenek.
“Ya sudah Steven pergi saja!”
“Mau kemana?” Teressa bertanya pada sang cucu.
“Steven akan pergi ke Oxford street.” Steven menjawab tanpa menatap mata Teressa.
“Tidak boleh.” Teressa melarang Steven untuk pergi ke Oxford street yaitu pusat belanja di Inggris yang sangat terkenal.
“Kenapa tidak boleh? haruskah nenek melarang Steven untuk kesana?” Steven bertanya dengan penuh kekesalan.
Bukan menjawab Teressa malah tertawa menampilkan giginya.
Steven menyipitkan matanya, ia berpikir bahwa sang nenek sedikit miring.
“Nenek kekurangan obat?” tanya Steven sambil menyentuh dahi Teressa untuk memastikan suhu tubuh sang nenek baik-baik saja.
“Hmmmm...”
“Ma..maaf nek Steven kira nenek....”
“Nenek minta kamu datang kesini karena nenek rindu kamu dan nenek ingin cepat-cepat ke Jakarta,” ucap Teressa mengutarakan maksud meminta Steven datang ke Inggris.
“Nenek serius?” tanya Steven kaget.
“Hmmmmm,” sahut Teressa tanpa membuka mulut.
“Ya ampun nek, aku kira ada hal lain,” ucap Steven.
“Hal lain apa? nenek meminta Mami dan Papi kamu untuk mengantarkan nenek ke Jakarta tapi mereka tidak bisa, jadi nenek memaksa kamu agar kesini,” terang Teressa.
“Kalau begitu ayo kita ke Jakarta sekarang nek!” ajak Steven semangat.
“Jangan sekarang.” Teressa menolak.
“Kenapa jangan sekarang nek?”
__ADS_1
“Kita pergi ke Oxford street terlebih dahulu, nenek juga ingin membelikan sesuatu buat cucu menantu nenek.”
Steven bernafas lega kekesalan dihatinya kini telah sirna, mereka akhirnya pergi ke pusat perbelanjaan yang terkenal di Inggris.
❤️❤️❤️
Rika telah sampai di Magetan.
“Pak antarkan saya ke alamat ini!” pinta Rika sambil menunjukkan alamat rumah di kertas yang sebelumnya telah ia catat.
“Baik Bu, pakai juga helm ini Bu!”
Rika senang akhirnya ia bisa kembali ke Jawa timur, tak butuh waktu lama ia pun sampai dikediaman Danu Aryanto.
Setelah membayar biaya ojek, Rika berjalan tergesa-gesa menuju rumah itu.
“Assalamualaikum!” ucap Rika.
Beberapa detik tak ada respon.
“Assalamualaikum, Yana ini mami nak!” ucap Rika namun tak ada respon.
Rika kemudian lewat samping rumah dan mengetuk jendela kamar yang dulu pernah menjadi tempat tidur ia dan mantan suaminya yaitu Danu.
“Mas Danu ini aku mas Rika!” teriak Rika dari luar jendela.
“Haduh siapa sih siang-siang begini gangguin tidurku? apa tetangga sebelah?” tanya Yana bermonolog.
Dengan terpaksa Yana menyeret kakinya menuju pintu, ia lalu membuka pintu itu namun tak mendapati siapa-siapa.
Saat akan menutup pintu tiba-tiba dari luar ada yang menahan pintu itu, Yana pun mengurungkan niatnya untuk menutup pintu dan menoleh ke arah orang yang menahannya.
“Mami!” teriak Yana.
Yana benar-benar terkejut, bukannya senang hatinya malah sangat sakit seperti teriris pisau. Bagaimana tidak, maminya yang dulu sangat cantik dan agak berisi kini kurus kering. Bahkan bisa dibilang perawakannya saat ini benar-benar tidak memungkinkan.
“Ini benar mami?” tanya Yana memastikan.
“Iya nak, ini mami Rika,” ucap Rika sambil menepuk dadanya.
“Ya Allah ini benar-benar mami? tapi kenapa dengan wajah dan tubuh mami?” tanya Yana.
Yana menangis histeris ia lalu memeluk sang ibu tercinta, ia tak pernah membayangkan jika Rika seperti itu.
“Yana jangan nangis, mami kesini karena ingin bertemu dengan Yana. Kalau Yana tidak ingin menemui mami tidak apa-apa, tapi mami minta beri mami waktu sehari saja untuk bertemu dengan anak mami ini,” ucap Rika.
Bukannya berhenti Yana semakin menjadi, air mata selalu membanjiri pipinya. Dadanya begitu sesak, tidak pernah ia mengalami kesedihan yang aneh seperti itu.
__ADS_1
“Ayo mi kita masuk! mami ke kamar Yana ya!” ajak Yana.
Ibu dan anak itu pun berjalan menuju kamar.
Dirumah hanya ada Yana, sebelumnya Danu dan Mike pergi ke Surabaya karena ada urusan penting.
Yana sebenarnya diajak oleh Danu, namun Yana menolak dengan alasan ingin beristirahat.
Sesampainya di kamar.
Yana masih menangis, namun tangisannya sudah mulai berhenti pada saat Rika mengelus rambut sang putri.
Rika tahu betul saat sang putri menangis jika rambutnya diusap maka Yana akan menjadi tenang bahkan bisa-bisa tertidur rupanya cara itu masih berhasil meski Yana kini telah menjadi seorang gadis.
“Mi Yana mengantuk, mami temani Yana tidur ya!” pinta Yana, ya memang Yana sangat mengantuk tidur siangnya pun akhirnya terwujud juga.
Rika menemani sang putri tertidur hingga pulas, karena tak ingin anaknya terbangun Rika akhirnya ikut tertidur.
Di Surabaya
Danu dan Mike sedang berada disebuah cafe, mereka ayah mertua dan anak mertua saat itu sedang membahas bisnis mereka. Danu berencana untuk membuka bisnis di Surabaya. Danu yakin jika usahanya yang ia bangun bersama sama calon menantu akan berhasil mengingat bahwa Mike adalah seorang pengusaha muda Amerika.
“Jadi kita harus ke daerah ini dan ini,” ucap Danu sambil mencoret-coret sketsa di sebuah kertas.
“Baik Pi,” sahut Mike.
Mike beradaptasi dengan sangat mudah, niatnya untuk tinggal di Indonesia sangatlah besar. Ditambah peluang untuknya membangun bisnis apalagi bisnisnya ia sangat menguntungkan baginya dan calon ayah mertuanya.
1 jam kemudian.
“Diskusi kita akhirnya selesai, papi harap kamu bisa mengatasi ini semua,” ucap Danu.
“Papi tidak perlu khawatir, Mike akan menyelesaikan tugas yang papi berikan. Kebetulan Mike ada sahabat yang sangat baik, Mike jamin ia akan membantu dan mendukung bisnis kita ini,” sahut Mike dengan penuh keyakinan.
“Kamu memang calon menantu yang tepat dan calon suami yang tepat buat Yana. Papi bangga sama kamu Mike,” puji Danu.
“Mike lebih bangga punya calon mertua seperti papi dan calon istri seperti Yana,” puji Mike.
“Karena ini sudah malam, sebaiknya kita segera ke apartemen. Besok pagi kita harus pulang ke Magetan, papi sangat khawatir jika Yana tinggal sendirian di rumah,” ucap Danu.
“Baik Pi, ayo Pi!” ajak Mike.
Mereka berdua langsung meninggalkan cafe itu, jarak cafe dan apartemen tidak terlalu jauh. Mereka ke apartemen dengan berjalan kaki.
Terima kasih para pembaca setiaku. ❤️
Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏😭
__ADS_1
Jangan lupa tambahkan favorit kalian.