Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 23


__ADS_3

Malam hari ditemani bintang-bintang bertaburan di langit. Rika terduduk di balkon kamar miliknya dan Vijay, Vijay telah 3 hari tak pernah kembali pulang ke kediamannya.


“Dimana kamu Jay? Kenapa belum juga kembali,” ucap Rika sedih.


Ting...tong.. Suara bel pintu.


Rika menapaki anak tangga, Ia berharap bahwa itu Vijay. betapa terkejutnya Ia saat mengetahui Siapa yang datang.


“Ada perlu apa bapak ke rumah saya?” tanya Rika terkejut.


“Selamat malam, kami kesini ingin memberitahukan kepada Nyonya Rika. Bahwa telah ditemukannya Mayat bernama Vijay Julio di dekat Jl. Rajawali. Tuan Vijay sendiri kemungkinan adalah korban tabrak lari,” terang Polisi yang datang bersama kedua rekannya.


“Apa yang kalian maksud? Tidak mungkin!” teriak Rika, Ia menangis histeris tak kuasa menahan air matanya suami yang Ia nikahi 7 tahun yang lalu telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


“Sekarang Mayat Tuan Vijay ada di Rumah Sakit Sejahtera Indah, Kami harap keluarga segera mengurusi jenazah korban. Kalau begitu Kami permisi, Selamat malam!”


Rika terkulai lemas, Ia tak mampu berdiri. Suami yang Ia nantikan kepulangannya malah membawa duka yang sangat mendalam, meski Vijay selalu berlaku kasar kepada dirinya. Bagaimanapun Vijay tetaplah suami Rika.


Kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini Jay? Kita belum melakukan banyak hal, kita belum memperbaiki hubungan kita. Tapi kenapa kamu pergi meninggalkan aku selamanya Jay.


Rika lalu menghubungi kedua Mertuanya, Caci maki serta hinaan ditujukan kepada Rika. Rika hanya pasrah apapun yang mereka katakan Rika siap lahir batin.


“Gara-gara kamu Anakku Meninggal, Wanita pembawa sial. Aku sudah meminta Vijay untuk menceraikan kamu dari dulu, dasar wanita tak tahu diri, Pembawa sial. Aku jijik melihat wajahmu yang sok polos ini,” hina Neha Julio pada Menantunya.


“Maafkan Rika Bu, tapi ini bukan salah Rika,” bela Rika.


“Bukan salah kamu, kamu bilang? Kalau saja Vijay tidak menikahi janda seperti kamu. Anakku Vijay tidak akan seperti ini!” teriak Neha.


“Sudah Bu, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Agar Vijay segera kita urus untuk peristirahatan terakhirnya,” ucap Tomi Julio suami Neha.


Tomi dan Neha pergi menuju rumah sakit untuk pengurusan Pulang, Rika tidak ikut Ia hanya berdiam diri di rumah menantikan jenazah Sang suami.


Ya Allah apa ini adalah karma untuk hamba, karena telah menyia-nyiakan Mantan suami dan Anak hamba Ya Allah. Maafkan hamba mu ini Ya Allah.


“Assalamualaikum,” ucap Dwi tetangga Rika.


“Waalaikumsalam,” balas Rika lirih.


“Kamu kenapa Rika? Ada masalah apalagi? Lebih baik cerita sama aku!” ucap Dwi yang selama ini menjadi teman curhat Rika.


“Vijay hiks...hiks..” lagi-lagi Rika menangis.


“Ada apa dengan Vijay? apa kalian bertengkar lagi?”


“Vijay telah meninggal Dwi, dia telah meninggalkan aku untuk selamanya,” ucap Rika sedih.


“Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, Kamu yang sabar Rika. Doakan semoga amal ibadah Vijay diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa,” balas Dwi menenangkan hati Rika.


Rika menangis di pelukan temannya, nasib yang harus Ia terima dengan lapang dada.


Dwi tak tega melihat Rika seperti itu, air matanya pun ikut jatuh.


Di Rumah Sakit Sejahtera Indah.


Tomi dan Neha melangkah kami mereka dengan tergesa-gesa, air mata yang tak henti-hentinya mengalir.


Anak semata wayang mereka meninggal dengan cara yang sangat tragis dan pelaku tidak bertanggung jawab.


“Permisi, kami orang tua dari Vijay Julio korban tabrak lari. Dimana Jenazah anak kami?” tanya Tomi.

__ADS_1


“Mari saya antarkan,” ucap Salah satu perawat di Rumah Sakit tersebut.


Kini tibalah mereka di Ruang Jenazah.


Perawat itu menunjukkan jenazah milik Vijay Julio.


“Vijay!!! Anakku!” teriak Neha histeris.


“Kenapa bisa seperti ini Nak? Kenapa kamu meninggalkan kami secepat ini,” ucap Tomi.


Tomi dan Neha memeluk jasad Anaknya, jasad yang terbujur kaku dengan wajah yang sangat pucat.


Beberapa jam kemudian, Prosedur telah selesai. Mereka pun membawa jenazah Vijay ke rumah duka.


Sampai di Kediaman Vijay, mereka segera mengangkat tubuh Vijay dengan keranda.


Rika tersungkur saat jenazah Suaminya tiba, air matanya tak henti-hentinya mengalir.


“Vijay!!” teriak Rika.


Suasana di rumah kediaman duka sangatlah ramai, banyak tetangga dan orang sekitar yang melayat. Selain karena Vijay tinggal di daerah yang terbilang ramai, Vijay juga termasuk orang yang kaya didaerahnya.


Neha Julio yang tak lain Mertua Rika hanya diam, Ia tidak ingin di cap mertua jahat. Sebisa mungkin Ia tak memperdulikan Rika.


Vijay dimakamkan malam itu juga tepat jam 11 malam. Sekarang raga Vijay tidak dapat di sentuh Rika, hanya kenangan lewat foto saja yang bisa Rika kenang.


Keesokan harinya.


Rika yang masih tertidur di kamarnya, dipaksa bangun oleh Sang Ibu Mertua.


“Bangun!! Cepat Bangun!!” teriak Neha sambil menggoyangkan tubuh Rika.


“Bangun!!” teriak Neha lagi.


"Ada apa Bu?" Tanya Rika lirih dengan wajah yang pucat dan mata sembabnya.


“Anakku meninggal gara-gara kamu malah kamu tertidur pulas dasar tidak tahu diri,” hina Neha.


Mendapat hinaan itu Rika hanya terdiam meski hatinya sangat sakit.


“Cepat bawa pergi semua baju kamu sekarang! angkat kaki dari rumah ini segera mungkin.”


Neha tak ingin Rika berlama-lama tinggal di kediaman milik anaknya itu.


“Tapi ini rumah Rika juga Bu,” balas Rika sehalus mungkin.


“Rumah kamu? hei wanita tak tahu diri ini rumah anak saya bukan rumah kamu!” tegas Rika.


“Ada apa pagi-pagi ribut seperti ini?” tanya Tomi yang mendengar keributan.


“Aku ingin wanita pembawa sial ini pergi,” jelas Neha.


“Jangan seperti itu Bu, bagaimanapun Rika menantu kita.” Tomi membela Rika.


“Cukup, jangan membela wanita ini. Kalau kamu tidak mau memasukkan baju mu biar aku saja yang memasukkannya!” perintah Neha lalu mengambil koper. Ia memasukkan pakaian Rika di dalam almari.


“Sekarang pergi dari sini,”usir Neha yang melempar koper itu tepat di depan Rika.


Rika tidak dapat melawan, diambilnya koper itu. Dengan berat hati Ia meninggalkan rumah yang Ia tempati serta kenangan bersama Sang Suami.

__ADS_1


“Ingat!! Jangan pernah kembali ke rumah ini lagi. Jangan pernah menginjakkan kaki kamu selangkah pun!” teriak Neha.


Tomi pasrah melihat Rika pergi, setidaknya Rika bisa terbebas dari kejahatan Sang Istri.


Dwi melihat Rika yang di usir Oleh mertua Rika, dihampirinya Rika untuk membantu temannya berdiri dan berdiam sementara waktu dirumah Dwi.


“Ayo Rika, kamu ke rumah aku dulu!!” ajak Dwi.


Rika pun menuruti ajakan Dwi, Ia sangat beruntung masih ada orang yang peduli terhadap dirinya.


“Terima kasih Dwi,” ucap Rika lirih.


“Sungguh malang hidup kamu Rika, kamu wanita yang benar-benar kuat,” puji Dwi.


Rika kembali memeluk Dwi, Ia sangat butuh tempat sandaran dan berbagi cerita.


“Kamu jangan menangis lagi, Tuhan masih sayang sama kamu Rika. Sebaiknya kamu tidur disini dulu,” ucap Dwi.


“Tidak Dwi, hari ini aku pulang saja ke rumah lama milikku,” tolak Rika Secara halus.


“Tapi keadaan kamu masih seperti ini Rika, lagipula Rumah kamu di Ponorogo tidak ada siapa-siapa.”


“Tak Masalah Dwi, aku butuh menenangkan diri.”


“Baiklah biar aku yang antar,” ucap Dwi.


“Tak perlu, aku harus menemani anak kamu,” tolak Rika lagi.


“Rehan biar Ibu aku yang menjaganya, aku takut kamu pulang sendirian dengan keadaan yang seperti ini.”


“Terima kasih Dwi, aku berhutang padamu.”


“Jangan bicara seperti itu, aku ikhlas menolongmu. Aku juga pernah kehilangan suami yang aku cintai, jadi aku tahu rasanya ditinggalkan suami untuk selamanya.”


“Terima kasih banyak Dwi, kamu wanita yang kuat.”


“Kamu juga wanita yang kuat Rika.”


Dwi mengantarkan Rika pulang ke kediamannya di Ponorogo, Perjalanan hanya membutuhkan waktu 2 Jam.


“Kita belok kanan, nanti ada pagar coklat itulah rumahku,” uap Rika menunjuk arah.


Dwi menghentikan mobilnya tepat di depan pagar yang cukup tinggi berwarna coklat.


“Ayo masuk Dwi!!” ajak Rika.


Rika membuka pagar lebar-lebar, dimasukannya mobil milik Dwi. Dwi singgah di rumah itu sekitar 1 jam.


“Sudah siang, sebaiknya aku pulang. Kamu baik-baik disini ya Rika, kalau ada apa-apa hubungi aku,” ucap Dwi.


“Terima kasih Dwi, maaf merepotkan. seringlah berkunjung kesini bersama anakmu Rehan,” sahut Rika.


“Baiklah, Assalamu'alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Rika Membereskan rumah miliknya, masih banyak foto kenangannya bersama Sang Suami. Ia telan sendiri kesedihannya, berharap penderitaan ini agar segera berakhir.


Like dan tambahkan Favorit ❤️

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2