Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 143


__ADS_3

Azizah dan Steven memutuskan untuk melakukan USG untuk mengetahui usia janin yang dikandung oleh Azizah.


“Uwek... uwek..”


Sudah ke lima kalinya Azizah mengalami morning sickness. Steven merasa kasih melihat istrinya selalu mual setiap paginya.


“Sayang, apa kita tunda untuk menemui dokter kandungan?” tanya Steven yang begitu kasihan melihat istrinya nampak lemas.


“Jangan suamiku, kita harus pergi kesana untuk mengetahui usia kandunganku!”


“Baiklah, tapi kamu tidak boleh banyak gerak!” perintah Steven.


Tidak boleh banyak gerak bagaimana?


sementara sejak suamiku tahu bahwa aku hamil ia begitu overprotektif, bahkan sekedar ke kamar mandi saja dia mengikuti seperti tahanan yang akan kabur dari bui.


“Ya,” balas Azizah singkat.


“Sayang, ayo kita sarapan! kamu harus mengisi perutmu dengan makanan!” ajak Steven sambil terus mengelus-elus perut rata Azizah.


“Baiklah.”


Steven lalu menggendong tubuh Azizah, hampir setiap hari Steven menggendong tubuh Azizah kesana kemari tak memberikan waktu untuk Azizah berjalan sendiri.


“Suamiku, aku bisa jalan sendiri tidak perlu digendong seperti ini,” ucap Azizah berharap suaminya segera menurunkan dirinya.


“Tidak boleh, kamu harus aku gendong seperti ini!” tegas Steven kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


Azizah tak menjawab dan hanya memanyunkan bibirnya, suaminya itu benar-benar membuat Azizah menjadi sebal.


“Tombol lift sayang!” pinta Steven agar istrinya menekan tombol lift.


Azizah tak menjawab dan hanya melakukan apa yang dikatakan oleh Steven.


Adam, Yuli dan Mariska sudah terlebih dulu berada di ruang makanan, sudah 3 hari ini mereka menyaksikan bagaimana seorang suami yang begitu overprotektif terhadap istrinya.


“Tidak capek ya kak gendong kak Azizah dari kamar sampai sini?” tanya Mariska sambil memainkan bibirnya.


“Tidak, aku melakukannya karena ingin menjaga istri dan calon anakku!” tegas Steven dengan wajah yang begitu serius.


Steven menurunkan tubuh istrinya dengan sangat pelan, membuat mereka bertiga tertawa kecil melihat kelakuan Steven.


Ini yang membuat aku sangat kesal, jika papi, mami dan Mariska tidak ada maka tak masalah untukku.


Tapi mereka ada disini, ada dirumah ini membuatku sangat malu serta canggung.


“Kalian jadi pagi ini pergi ke dokter?” tanya Yuli membuka percakapan.


“Jadi mi, Steven juga harus tahu usia kandungan Azizah!”


“Baiklah, kami bertiga sampai sore hari tidak ada dirumah,” ucap Yuli.

__ADS_1


“Memang mami, papi dan Mariska mau kemana?” tanya Azizah penasaran.


“Kami ingin ke apartemen, sudah lama kami tidak kesana,” balas Yuli.


“Apakah rumah ini membuat kalian tidak nyaman?” tanya Steven.


“Bukan begitu nak, apartemen mu kan sudah lama tidak dihuni jadi kami ingin mengunjungi walau hanya sebentar,” terang Yuli.


“Ya sudah, setelah kalian pulang kami akan memberitahukan hasil pemeriksaan Azizah!”


“Ayo kita sarapan! lihat sudah jam berapa sekarang!” ajak Adam.


Sarapan bersama pun dimulai, Steven tak membiarkan istrinya untuk makan sendiri.


Pria blasteran itu terus saja menyendok kan nasi ke dalam mulut istrinya untungnya saja Azizah tidak merasa mual.


“Biar aku saja yang makan sayang!” pinta Azizah agar suaminya tak menyuapi makanan kedalam mulutnya lagi.


“Tidak boleh, biar aku saja nanti kamu terluka bagaimana?” tanya Steven dan terus menyendok kan makan ke dalam mulut Azizah.


Mereka bertiga hanya bisa geleng-geleng kepala melihat cara Steven memperlakukan istrinya yang sudah mulai kesal dengan sikap Steven.


Selesai sarapan, Steven dan Azizah bergegas untuk menemui dokter kandungan.


Sementara Adam, Yuli dan Mariska memutuskan untuk pergi ke apartemen.


Di sepanjang perjalanan menuju RS, Steven selalu mengelus-elus perut Azizah yang masih rata itu.


Galih yang berada di depan hanya tersenyum mendengar tentang kehamilan majikannya itu apalagi Steven memberikan gaji yang sangat fantastis untuk dirinya serta bawahan yang lainnya.


“Galih berhenti disini!" perintah Azizah tiba-tiba membuat Galih terkejut dan menghentikan mobil secara mendadak untuk saya Steven memeluk tubuh istrinya sehingga Azizah tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.


“Kenapa berhenti disini sayang?” tanya Steven penasaran sementara Galih sangat takut jika kecerobohannya membuat Azizah kenapa-kenapa.


“Aku ingin kamu turun dan belikan aku itu,” ucap Azizah sambil menunjuk ke arah seorang ibu tua yang dimana ia sedang berjualan makanan yang entah itu apa karena Steven tidak tahu tentang makanan ataupun rasa dari makanan yang dimaksud oleh istrinya.


“Tidak boleh, itu makanan tidak sehat sayang,” larang Steven.


“Kata siapa itu tidak sehat? aku sering membelinya saat aku berada di Magetan!”


“Tidak boleh sayang,” ucap Steven.


“Aku mau kamu membelikan itu sekarang atau aku tidak ingin ke RS ataupun berbicara lagi denganmu!” tegas Azizah dengan memberikan tatapan tajam ke arah suaminya.


Mendengar ucapan istrinya dan tatapan tajam yang diberikan kepadanya membuat Steven ciut dan mengiyakan permintaan istri tercintanya.


“Baiklah, biar Galih yang pergi kesana!”


“Tidak boleh, aku ingin kamu suamiku!”


“Ya sudah aku yang kesana, kamu diam disini dan Jangan kemana-mana.”

__ADS_1


Steven membuka pintu mobil dan berjalan menghampiri ibu tua itu dan membeli makanan yang dijual oleh ibu tua itu.


“Tolong bungkusan saya ini dan ini!” pinta Steven sambil menunjukkan beberapa jenis makanan yang terbungkus di dalam balutan daun pisang.


“Ini namanya kue bugis atau Mendut dan yang ini namanya lemper nak!" ucap ibu tua itu dan membungkuskan makanan tradisional itu kedalam sebuah kresek.


Cukup banyak Steven membeli makanan tradisional itu meski hanya dua macam saja lalu memberikan lembaran uang kertas berwarna merah 5 lembar.


“Ini kebanyakan nak,” ucap ibu tua itu dan ingin mengembalikan uang tersebut kepada Steven.


“Tidak usah, saya sengaja memberikan uang ini kepada anda. Istri saya sedang mengandung anak pertama!” jelas Steven dan pergi menuju mobil.


Ibu tua itu menangis terharu karena ia mendapatkan rezeki nomplok dari seorang pria.


“Ini istriku sayang!" ucap Steven dan memberikan bungkusan itu.


“Terima kasih suamiku, kamu sangat baik serta perhatian,” balas Azizah. Azizah dari kejauhan memperhatikan suaminya dan memberikan uang kepada ibu tua itu.


Suamiku begitu baik, terima kasih Ya Allah berkali-kali hamba mengucapkan banyak terima kasih karena telah memberikan sesosok pria yang begitu baik.


“Galih kita berangkat!” perintah Steven.


“Baik tuan muda!” seru Galih.


Azizah dengan lahap menikmati makanan tradisional itu, ia tersenyum kecil saat melihat suaminya dan meminta Steven untuk memakan makanan tradisional itu.


“Sqyang, coba makan ini!” pinta Azizah sambil menyodorkan kue Bugis ke arah mulut suaminya.


Steven menutup rapat mulutnya dan menggelengkan kepalanya.


“Makan!” perintah Azizah dan melotot tajam ke arah suaminya.


Steven terpaksa membuka mulutnya dan memakan makanan itu, ia mengunyahnya dengan sangat pelan.


“Bagaimana apakah enak?” tanya Azizah penasaran.


Steven merasakan sensasi yang lain saat memakan kue Bugis itu.


Ternyata makanan ini tidak buruk.


“Bagaimana apakah enak?” tanya Azizah sekali lagi.


“Lumayan,” balas Steven dan mengambil kue Bugis itu yang masih utuh dan dengan semangat melahapnya.


Azizah tertawa kecil karena suaminya menyukai makanan tradisional itu.


“Galih kamu makan ini, ini sangat enak,” ucap Azizah menawarkan makanan itu.


“Iya nyonya muda!” seru Galih.


Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏

__ADS_1


Mohon kerjasamanya teman-teman.


__ADS_2