
Tibalah saat bagi Yana dan keluarga bersiap-siap untuk pergi, dengan berat hati Yana pergi meninggalkan rumah yang selama ini ia tempati. Tempat yang tiap hari selalu melindunginya dari Panasnya terik matahari dan dinginnya hujan.
Rumah, terima kasih Selama ini kamu telah melindungi kami semua. Yana pamit, suatu saat Yana akan datang dan meminta perlindungan dari kamu.
Danu Aryanto tahu betul perasaan Putrinya saat ini, meninggalkan semua kenangan yang tertinggal di dalam rumah ini.
“Anak Papi tidak boleh menangis, kan Yana masih bisa berkunjung kesini.”
“Iya Pi, terus rumah kita disini jadi dijual?” tanya Yana.
“Siapa yang kalau rumah kita mau dijual?” tanya Danu balik.
“Kan Mbok Parti dan Pak Paijo ikut kita ke Malaysia Pi, terus kemarin Papi berbicara ditelepon tentang jual rumah. Jadi Papi beneran mau jual rumah kita?”
“Hmmm, Mbok Parti dan Pak Paijo ikut kita kesana karena mereka disini tidak ada siapa-siapa lagi. Soal rumah yang dijual itu bukan rumah ini sayang, tapi properti rumah Papi yang ada di perumahan. Rumah ini Papi sewakan sementara Sampai kita kembali kesini.”
“Beneran Pi!”
“Iya sayang, Papi tidak mungkin membohongiku Putri kesayangan Papi.”
“Asyik, terima kasih Papi. Yana sayang Papi.”
“Papi lebih sayang sama Yana, muach...” Danu lalu memberikan kecupan manis di dahi Yana.
Disisi lain.
“Bu, ayo kita ke rumah Yana!! Hari ini mereka akan pergi!” ajak Azizah dengan mata sembab.
“Sayang tatap mata Ibu, Apakah kamu belum bisa menerima kepergian Yana untuk ke Malaysia?” tanya Darmi serius.
“Azizah.. hiks hiks, Azizah belum bisa Bu. hiks hiks...” jawab Azizah dengan tangisan yang tak henti-hentinya.
“Azizah harus kuat, ibu yakin kamu dan Yana akan bertemu lagi. Hapus air mata kamu, ayo kita ke rumah Yana.”
“Baik Bu.”
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Danu Aryanto, Azizah selalu menangis tak henti-hentinya air mata itu keluar. Mata yang bengkak sedari tadi tak dihiraukan oleh Azizah, berat rasanya melepas kepergian Sahabatnya.
Tibalah mereka di kediaman Danu Aryanto.
Ting.. Tong..
“Assalamualaikum,” ucap Azizah dan Darmi.
"Waalaikumsalam Silahkan masuk!”
“Mbok, Yana mana? aku ingin menemuinya.”
“Non Yana ada dikamar.”
“Saya langsung ke kamar saja ya Mbok,” ucap Azizah lalu pergi menuju kamar Yana meninggalkan Parti dan Darmi.
Di kamar Yana.
“Yana, hiks hiks kamu jadi pergi hari ini?” tanya Azizah yang kembali menangis.
“Azizah, maafkan aku. Tapi aku harus pergi hari ini juga. hiks hiks hiks aku pasti sangat merindukanmu,” balas Yana yang tak dapat membendung lagi air matanya.
Mereka menangis dengan saling memeluk, Parti dan Darmi yang menyaksikan mereka pun ikut menangis. Sementara Danu Aryanto yang mendengar tangisan mereka juga ikut menangis. sungguh hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah perpisahan.
1 Jam kemudian.
Di Terminal Maospati.
Danu Aryanto memesan tiket menuju Surabaya, Mobil Milik Danu Aryanto dititipkan kepada Sahabatnya Amri. pekerjaan yang Ia tinggalkan pun. Danu titipkan kepada orang kepercayaan di kantor untuk sementara waktu.
Bus yang memberangkatkan mereka menuju Surabaya pun sudah tiba, kini detik-detik perpisahan Kedua Sahabat itu pun akan berakhir.
“Yana, Aku mohon jangan pernah lupakan aku. Sampean kapanpun kamu adalah Sahabat terbaikku,” ucap Azizah yang berusaha tegar.
“Sebelumnya Kita sudah berjanji untuk tidak saling melupakan, jadi kamu tenang saja.”
“Baik-baik disana.”
“Kamu juga harus baik-baik disini.”
Mereka kembali berpelukan, air mata yang sedari tadi ditahan oleh mereka pun akhirnya tumpah juga. Danu Aryanto dan yang lainnya pun tak kuasa melihat pemandangan yang sangat mengharukan tersebut.
__ADS_1
Satu persatu mereka naik ke Bus meninggalkan Azizah dan Bu Darmi.
Kini Terminal Maospati Magetan adalah tempat perpisahan kedua Sahabat itu.
"Hati-hati Yana, aku akan selalu merindukanmu hiks hiks...” teriak Azizah.
Banyak orang yang menyaksikan mereka, ada pula yang ikut menangis terharu dengan Persahabatan mereka yang begitu erat.
“Sudah Azizah, lebih baik kita pulang. Kamu harus kuat, kamu pasti bisa,” ucap Darmi menenangkan Azizah.
“Hiks hiks hiks iya Bu.”
“Yang sabar ya dik, suatu saat kalian pasti bertemu,” hibur Ibu paruh baya.
“Terima kasih Bu,” balas Azizah.
Darmi dan Yana pulang ke rumah memakai becak, Azizah yang masih sedih pun selalu memeluk Darmi. Pelukan Darmi sangatlah nyaman Sampai Azizah tertidur di becak.
Disisi lain.
“Hiks hiks Semoga Azizah baik-baik Pi di sana, Yana sayang banget sama Azizah,” ucap Yana pada Danu.
“Iya sayang, pokoknya kamu doakan supaya mereka baik-baik saja disana.”
Lihat Yana anak kita, sedikitpun dia tidak menangisi kamu Rika. padahal kamu adalah ibu kandungnya, dan maafkan aku tidak memberitahukan kamu tentang kepergian Yana. Aku harap kamu bahagia bersama kehidupan baru kamu.
Beberapa jam kemudian.
Sampailah mereka Di Bandar Udara Internasional juanda Surabaya.
Beberapa saat kemudian, Pesawat menuju Malaysia lepas landas.
“Selamat tinggal kenangan terindah dan kenangan pahit, selamat tinggal Mami yang telah memilih meninggalkan Yana dan Papi. Selamat tinggal Yana dan Bu Darmi semoga kita berjumpa lagi, Selamat tinggal semuanya dan selamat tinggal Indonesia,” ucap Yana membatin.
Dikediaman Vijay Julio.
Rika sedari tadi merasakan kekhawatiran yang mendalam menjadi tidak fokus, yang dipikirkannya saat ini adalah Yana.
“Prankkk!!” Suara piring pecah.
“kamu kenapa? kenapa piring bisa pecah begini?” tanya Vijay Julio khawatir.
“Aku tidak apa-apa, mungkin karena kurang berhati-hati.”
“Kamu istirahat saja, biar Indri yang membereskan.”
“Iya Jay, kalau begitu aku ke kamar sekarang,” ujar Rika lalu pergi menuju kamar.
“Indri!! Cepat kesini bereskan piring yang berserakan!!” perintah Vijay pada asisten rumah tangga.
“Baik Tuan.”
Di Bandar Udara Internasional Malaysia.
Keluarga Danu Aryanto yang berada di Malaysia tidak sabar menanti kedatangan mereka.
Yana yang mulai membaik melebarkan senyum manisnya, agar keluarga di Malaysia tidak melemparkan banyak pertanyaan.
“Danu!!” teriak Noor.
Danu menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
“Ayo Yana kita kesana, Nenek dan lainnya sudah menjemput kita.”
Mereka kemudian bergegas menuju arah Noor yang diikuti Parti dan Paijo.
“Assalamualaikum,” ucap Danu.
“Waalaikumsalam, akhirnya kalian tiba juga.”
“Iya Bu, bagaimana kabar ibu?” tanya Danu.
“Alhamdulillah ibu baik, perkenalkan ini Sasya istri Indra, ini Megi anak Sasya dan Indra,” ucap Noor memperkenalkan menantu dan cucunya.
“Maaf Sasya Saya tidak hadir di pernikahan kalian, anak kalian sangat lucu,” sahut Danu Aryanto.
“Tak apa bang, kami tahu Abang sibuk,” balas Sasya.
__ADS_1
“Apakah ini Yana si gembul itu?” tanya Noor.
“Iya Bu, ini cucu pertama Ibu,” balas Danu.
“Sekarang jadi comel, mari kita pulang. Ibu masak banyak makanan.”
“Iya Bu.”
Mereka pergi menuju kediaman Rumah Noor, Semenjak meninggalkannya Yusuf Aryanto yang tak lain yang tak bukan suami dari Noor Aryanto dan Ayah dari kedua putranya yaitu Danu Aryanto dan Indra Aryanto. Noor tinggal sendiri, padahal Indra selalu membujuk Noor untuk tinggal dengannya. Alasannya karena tidak ingin meninggalkan kenangan bersama suami tercinta.
“Indra kemana Bu?” tanya Danu menanyakan keberadaan adiknya.
“Kak Indra lagi di Singapura Bang, ada masalah yang harus diurus,” timpal Sasya.
“Sebaiknya kita makan dulu, kalian pasti lapar kan? Ayo Parti dan Paijo tidak perlu sungkan kita makan bersama selagi hangat!” ajak Noor Ramah.
Mereka makan dengan lahap, masakan Noor sungguh sangat lezat.
Seminggu kemudian.
“Ibu, Sasya dan Megi pergi dulu ke Market,” ucap Sasya.
“Ajaklah keponakan kamu Yana, biar dia tahu daerah sini” ujar Noor.
“Baiklah Ibu, Ayo Yana ikut makcik ke market!” ajak Sasya ramah.
“Terima kasih Makcik.”
Sasya senang mengajak Yana, begitupun dengan Yana sangat senang diajak oleh Sasya.
“Kamu mau es krim tidak? Makcik belikan!!”
“Yana mau Makcik,” balas Yana gembira.
“Baiklah kamu tunggu disini dengan Megi ya!”
“Baik Makcik.”
Selepas Sasya pergi Yana mengajak Megi sang sepupu untuk berbicara, Megi yang masih balita ikut mengoceh walau suara yang dikeluarkan Megi tidak jelas.
“Ini Yana es krim rasa stroberi buat kamu dan Makcik rasa vanilla,” ucap Sasya sambil menyerahkan es krim.
“Terima kasih Makcik, sangat lezat.”
Malam hari.
Di kediaman Darmi.
“Sedang menonton apa kamu Nak?” tanya Darmi.
“Ini Bu film kungfu panda, filmnya bagus. jadi mengingatkan Azizah pada Yana Bu,”;ucap Azizah.
“Iya sayang, Yana paling suka sama panda. panda dari Yana mana sayang?” tanya Darmi.
“Ada Bu, Azizah taruh dikamar. Azizah simpan agar tidak gampang rusak,” ucap Azizah polos.
“Kamu kangen sayang sama Yana?”
“Kangen sekali Bu, Azizah Sampai lupa meminta nomor telepon Yana Bu,” ucap Azizah sedih.
“Astaga sayang, Ibu juga lupa. kamu jangan sedih, kamu harus percaya sama persahabatan kalian ya!!”
“Iya Bu, Azizah selalu percaya sama persahabatan kita.”
“Sudah jam 10, ayo tidur sayang besok kan mau sekolah.”
“Sebentar lagi ya Bu, habis film ini.”
“Ya sudah, Ibu ke kamar dulu ya.”
“Iya Ibu.”
Azizah dengan fokusnya menonton film tersebut, melihat Panda itu mengingatkan dia akan sahabatnya.
1 jam kemudian.
Azizah yang dilanda ngantuk itu pun, langsung bergegas menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.
__ADS_1