
Sudah 3 hari Azizah berbaring di ranjang miliknya dan suami, keadaan Azizah sudah membaik.
Steven sang suami setia menemani Azizah, pria blasteran itu sungguh perhatian hingga membuat Azizah makin mencintai suaminya.
“Sudah sayang, aku sudah kenyang,” ucap Azizah karena semuanya terus saja menyuapinya.
“Dua sendok lagi ya sayang!” pinta Steven.
“Baiklah dua sendok lagi setelah itu aku selesai makan!”
“Siap Bu bos!”
Steven menyuapi Azizah dengan begitu lembut sesekali Steven mengusap lembut pipi Azizah.
“Sekarang istriku tidak gembul lagi,” ucap Steven.
“Gembul kamu bilang? jadi kamu mengatakan aku sekarang gendut?” tanya Azizah dengan tatapan tajam.
“Kamu tidak gendut sayang hanya saja kamu kan sedang membawa anak kita kemana-mana jadinya ya.. hehe..”
“Menyebalkan, cantik-cantik begini dibilang gendut,” omel Azizah.
“Tapi aku menyukaimu sayang,” balas Steven.
“Tentu saja kamu harus menyukaiku kalau tidak aku tidak akan membiarkan anakku bersama mu.”
“Jangan lupa bayi di dalam di perutmu adalah anak aku juga sayang, aku yang berusaha membuatnya.”
“Tapi aku yang mengandungnya!”
“Tapi aku....”
“Pokoknya anak ini adalah anakku,” tegas Azizah mendelik tajam.
Steven menelan Saliva dengan begitu susah, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi jika istri sudah mengeluarkan jurus jitunya.
“Baiklah dia adalah anakmu,” ucap Steven pasrah.
Azizah tertawa dan mengelus-elus perutnya.
“Lihat papah mu sangat takut dengan mamah mu ini nak, kalau papah mu macam-macam laporkan saja sama mamah ya!” Azizah mengajak ngobrol bayi di dalam perutnya.
Steven mendengus kesal dan naik keranjang lalu memeluk tubuh istrinya.
“Aku akan selalu menjaga kalian sayang, jangan membuat aku khawatir lagi!” pinta Steven dan mengecup mesra kening Azizah.
***
Mariska sedang menikmati es krim sambil duduk di kursi teras, ia begitu menikmati es krim sampai-sampai tak mengetahui bahwa Galih sedang memperhatikan dirinya.
“Ya ampun es krimnya sangat enak sekali, untuk menikmati es krim ini aku tinggal mengambil saja di freezer tanpa harus menikah dengan pria manapun,” ucap Mariska bermonolog.
Galih tersenyum tipis melihat Mariska berbicara sendiri.
Tidak ada teman berbicara jadinya berbicara sendiri.
Yuli datang menghampiri Mariska yang duduk sendirian lalu ikut duduk menemani Mariska.
“Kamu sendirian saja nak,” ucap Yuli.
“Iya mi, memangnya siapa yang mau menemani Mariska?” tanya Mariska.
“Ajaklah kenalan kamu mau kerumah!”
“Mariska tidak ada kenalan mi, Mariska terlalu introvert dengan orang yang belum Mariska kenal dekat mi,” balas Mariska.
Orang yang aku kenali hanyalah teyze Lucy, kak Yana kalaupun pria itu hanya cowok aneh.
__ADS_1
“Cobalah untuk membuka diri nak, kamu juga harus mengenal banyak orang,” ucap Yuli.
“Mami ikut Mariska ke apartemen ya, Mariska ternyata lupa memberikan baju hamil untuk kak Azizah!” ajak Mariska.
“Ya sudah ayo sekarang saja, mumpung papi kamu lagi santai-santai di belakang rumah!” seru Yuli.
Yuli menggandeng tangan Mariska dan mengajak menghampiri Galih.
“Galih kamu sudah mandi belum?” tanya Yuli.
Mami ini apa-apaan menanyakan cowok aneh ini sudah mandi apa belum? yang ada nanti sok kepedean ini cowok.
“Alhamdulillah sudah nyonya besar, nyonya mau saya antarkan kemana?” tanya Galih ramah.
“Ke apartemen ya!”
“Baik nyonya besar, kebetulan mobil sudah saya panaskan mesinnya!” seru Galih.
Mariska buru-buru naik dengan mengerutkan bibirnya dan melirik kesal ke arah Galih.
“Mariska kamu tunggu disini dulu, mami mau melaporkan kepada bibi kalau kita akan pergi daripada nanti kita dicariin,” ucap Yuli.
“Baik mi,” balas Mariska.
Mariska masih duduk cantik dengan terus menikmati es krim ditangannya yang semakin lama semakin mencari hingga ia tidak sadar bibirnya sudah belepotan es krim.
Galih tertawa kecil ketika melihat wajah Mariska di kaca.
“Eh cowok aneh kamu ngapain ketawa-ketawa tidak jelas, kesambet kamu ya?” tanya Mariska yang lebih tepatnya menuduh.
“Sudah besar seperti anak kecil saja,” celetuk Galih.
Apanya yang anak kecil? umurku sudah 17 tahun masih dikatakan anak kecil.
Mariska mengangkat kedua bahunya dan terus menikmati es krim hingga habis.
Galih mencari-cari keberadaan tisu rupanya terjatuh di bawah kursi mobil.
“Ini tisunya, hapus juga bibir kamu yang belepotan!” Galih memberikan tisu itu kepada Mariska.
Belepotan maksudnya apa sih?
Mariska membersihkan jari-jarinya yang terasa lengket sampai benar-benar bersih.
Yuli masuk mobil dan tertawa kecil karena wajah keponakannya benar-benar lucu.
“Mami kenapa ketawa? jangan-jangan mami seperti dia lagi kesambet,” ucap Mariska.
“Coba lihat wajahmu!” perintah Yuli.
Mariska bercermin di layar ponsel miliknya dan melihat wajahnya yang begitu memalukan.
“Ya ampun wajah Mariska,” ucap Mariska terkejut dan segera menghapus sisa es krim yang menempel pada bibir dan beberapa mengenai wajahnya.
“Kalau makan es krim jangan belepotan seperti itu macam anak SD,” sahut Yuli.
Mami dan cowok aneh ini sama saja, sama-sama ngeselin.
“Ayo cepat berangkat sekarang!” pinta Mariska kemudian memanyunkan bibirnya.
***
2 Jam kemudian.
Di dalam kamar Azizah dan Steven.
“Geli sayang,” ucap Azizah karena suaminya meniup-niup telinganya.
__ADS_1
“Aku hanya meniup sayang,” balas Steven dengan terus meniup telinga istrinya.
“Sayang, anak kita bergerak lagi,” ucap Azizah lalu mengelus-elus perutnya.
“Sini aku ajak berbicara!” seru Steven.
Steven menaikkan baju milik istrinya dan terlihat jelas lah perut Azizah, pria blasteran itu berkali-kali mencium pelan perut Azizah.
“Anak papah dan mamah sehat-sehat ya di dalam, jangan nakal di dalam perut istri papah ini,” ucap Steven.
“Ya ada kamu itu yang nakal sayang bukan anak kita,” balas Azizah.
“Iya deh papah yang nakal,” balas Steven pasrah.
“Tok... tok..”
“Kak Azizah, kak Steven! buka pintunya!” Suara Mariska memanggil memanggil dari luar pintu kamar.
“Kamu diam disini, biar yang bukakan pintu!”
Mau apa Mariska datang mengetuk pintu.
Steven memutar handle pintu dan membuka.
“Ada apa Mariska?” tanya Steven.
“Mariska mau masuk!” pinta Mariska.
“Masuklah!”
Mariska dengan cepat masuk dan menghampiri kakak iparnya dan melihat baju Azizah yang naik ke atas.
“Wah perut kak Azizah sudah semakin membesar,” ucap Mariska terkejut.
Azizah dengan cepat menutup perutnya, “Kamu ada perlu apa kesini?” tanya Azizah.
“Ini untuk kak Azizah, Mariska lupa memberikan ini untuk kakak!” ucap Mariska sambil menyerahkan paper bag.
Azizah mengernyitkan keningnya dan membuka isi di dalam paper bag.
Steven yang penasaran pun menghampiri mereka di ranjang dan naik ke atas ranjang sambil memeluk punggung sang istri.
“Mesra-mesraannya nanti saja bisa kan? Mariska masih disini loh,” ucap Mariska membuat Steven memberi jarak antara dirinya dan Azizah.
Azizah terkejut dengan barang pemberian dari adik iparnya, “Wah cantik sekali,” puji Azizah. “Bolehkah aku mencobanya sekarang?” tanya Azizah.
“Bolah lah kak, kan ini memang untuk kak Azizah!”
Azizah beranjak dari ranjang dan berjalan secara perlahan menuju kamar mandi, melihat istrinya yang belum pulih sempurna membuat Steven ikut masuk ke dalam kamar mandi untuk membantu sang istri mengganti pakaian.
Mariska menunggu suami istri itu keluar dari kamar mandi dengan memainkan game di ponselnya.
“Sangat cantik,” ucap Azizah setengah memakai pakaian ibu hamil pemberian adik iparnya.
“Wah ternyata sangat cocok,” puji Mariska.
Azizah kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya, ia begitu nyaman dengan pakaian pemberian dari Mariska.
“Kak Azizah pakai saja, itu sudah Mariska cuci. Mariska pamit dulu ya!”
“Terima kasih banyak Mariska, aku suka!” seru Azizah.
“Ini untukmu karena telah membuat istriku senang!” Steven memberikan uang kertas berwarna merah cukup banyak.
“Banyak sekali kak, Mariska ambil ya! Thank you,” ucap Mariska dan segera meninggalkan kamar suami istri itu tak lupa ia kembali menutup pintu rapat-rapat.
“Sayang, aku ngantuk peluk aku!” pinta Azizah manja.
__ADS_1
Steven mengangguk setuju dan menemani istrinya tidur.