
“Oek... oek... oek...”
Suara tangisan keluar dari mulut Azizah kecil, Dimas sibuk menenangkan bayi nya sudah berbagai cara ia kerahkan untuk menenangkan bayi nya mulai dari menggendong, mengayun-ayunkan, memberikan susu formula hingga menepuk-nepuk kecil bokong sang bayi.
“Azizah sayang, papa mohon berhentilah menangis ini sudah malam nak!” pinta Dimas.
“Oek... oek... oek..”
Sutomo dan Ida ayu datang menghampiri Dimas dan cucunya yang berada di kamar.
“Azizah kenapa menangis Dimas?” tanya Ida yang tak lain ibu Dimas.
“Dimas juga tidak tahu ibu, tiba-tiba Azizah bangun dari tidurnya lalu menangis.”
“Sini biar ibu saja menggendong Azizah!”
Ida menggendong cucunya itu, iya mengayun-ayunkan Azizah di gendongannya. Tak butuh waktu lama Azizah kecil pun terdiam dan mulai meminum susu formula.
“Lihat anak kamu ini Dimas, dia menangis karena membutuhkan seorang ibu. Kamu kenapa tidak menikah lagi? kasihan Azizah masih bayi dia juga butuh kasih sayang dari seorang wanita,” terang Ida.
“Yang dikatakan ibu kamu benar nak, menikahlah segera mungkin!”
“Berapa kali Dimas tegaskan kepada ayah dan ibu, Dimas tidak akan menikah kecuali dengan...”
“Maksud kamu dengan Azizah? berhenti mengejar Azizah, dia sudah menikah apalagi suaminya bukan sembarang orang yang bisa kamu hadapi,” potong Sutomo.
“Memang kenapa kalau Azizah sudah menikah, Dimas akan menunggu Azizah sekalipun ia menjadi janda bahkan sampai tua pun Dimas akan tetap menunggu Azizah,” tegas Dimas.
“Hentikan Dimas! kamu sadar tidak apa yang kamu bicarakan? kamu sudah kelewat batas Dimas!” ucap Ida.
“Dengarkan ucapan ayah baik-baik, sekalipun Azizah telah menjadi janda dan kamu memutuskan untuk menikah dengannya, ayah sampai kapanpun tidak akan menerima dia sebagai menantu.”
“Kenapa ayah berkata seperti itu?" tanya Dimas kesal.
“Karena ayah yakin Azizah selamanya tidak akan menjadi istri kamu!” tegas Sutomo.
“Oek... oek... oek..”
“Ini sudah malam, tidak baik jika kalian bertengkar. Ayo yah kita ke kamar! biar Azizah tidur dengan kita!” ajak Ida.
Dimas menatap kesal kearah ayahnya, ia lalu menyandarkan tubuhnya di ranjang.
Sedikitpun aku tidak bisa melepaskan kamu Azizah, sampai detik ini aku masih mencintai kamu dan selamanya mencintai kamu.
💕💕💕
Pria blasteran bermata cokelat berjalan memasuki kamar, ia melihat istrinya sedang tertidur dengan pakaian yang sangat seksi membuat darahnya naik turun. Pria itu tak langsung berbaring ke ranjang melainkan ia membersihkan diri dan berganti pakaian dengan menggunakan piyama.
Steven perlahan mendekati istrinya dengan sangat lembut ia mencium leher putih sang istri, Azizah yang tertidur bergerak dengan sedikit mengeluarkan desahan akibat perlakuan dari suaminya.
“Ah...ehmmm..” suara itu begitu lirih namun semakin membuat Steven bergairah.
“Sayang!” panggil Steven ditelinga Azizah.
__ADS_1
Azizah yang memejamkan mata langsung membuka matanya dan menatap ke arah suaminya.
“Ka..kamu sudah pulang Sayang?”
Steven menghentikan aktivitas dan tersenyum tipis ke arah istrinya lalu kembali mencumbu istrinya.
“Ah... sayang.... hentikan!”
“Ada apa?” tanya Steven.
“I love you my husband,” ucap Azizah sambil tersenyum malu-malu.
“I love you too my wife,” balas Steven.
Mereka pun melakukan aktivitas suami istri, setiap melakukan Steven tak pernah mengeluarkan cairannya ke dalam rahim Azizah, ia lakukan agar untuk sementara waktu Istrinya tak hamil ia ingin membuat baby saat di Paris ketika mereka berbulan madu.
Cukup lama menggauli Azizah Steven pun menyudahinya terlihat jelas keringat yang keluar dari tubuh mereka meski sudah menyalahkan AC.
“Terima kasih istriku muaccchh!” ucap Steven lalu mengecup kening Azizah.
“Sama-sama suamiku!” balas Azizah.
Mereka pun memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya mereka. Azizah sebenarnya ingin sekali mandi namun itu semua akan sia-sia saja karena Steven akan kembali bangun dan memintanya lagi.
Aku sangat mencintaimu suamiku, terima kasih ya Allah karena telah mengirimkan Steven Walker menjadi kekasih hamba.
🍃🍃🍃
Pagi hari yang cerah dan suara berisik burung membangunkan Azizah, ia membuka mata secara perlahan-lahan menyesuaikan penglihatannya yang terkena sinar sang Surya di pagi hari.
Azizah mengernyitkan keningnya saat melihat suaminya telah berpakaian rapi.
“Kamu mau kemana sayang sepagi ini?” tanya Azizah penasaran.
“Aku ada urusan di kantor sayang, cepatlah bangun dan temani aku sarapan!” pinta Steven.
“Ba..baik, aku akan segera bersiap-siap!” seru Azizah dan tergesa-gesa menuju kamar mandi dengan hanya memakai pakaian dan celana dalam.
“Sayang apa kamu melupakan sesuatu?” tanya Steven sedikit berteriak.
“Tidak!” seru Azizah yang berada di dalam kamar mandi.
“Apalah kamu yakin?” tanya Steven.
Di dalam kamar mandi hanya terdengar gemericik air shower.
Beberapa menit kemudian.
Loh handukku kemana? ya ampun aku lupa membawa handuk.
“Sayang!” panggil Azizah dibalik pintu kamar mandi.
Suamiku kemana? tidak mungkin kan ia pergi tanpa menungguku selesai mandi.
__ADS_1
“Sayang!” panggil Azizah lagi.
“Duar!!!” teriak Steven mengejutkan istrinya.
“Apakah kamu ingin menjadi duda?” tanya Azizah sedikit mengancam.
Steven yang tertawa menghentikan tawanya ia mendorong pintu itu dan masuk ke kamar mandi, Azizah yang sedang tak berbusana dengan cepat menutup bagian atas dan bawah semampunya memakai tangannya.
“Kenala harus ditutupi istriku? bukankah aku sudah melihat seluruh tubuhmu dari atas sampai bawah dan tak ada yang terlewatkan sedikit pun,” bisik Steven ditelinga Azizah.
“Dasar mesum, cepat ambil handuk sekarang!” perintah Azizah.
“Baiklah, tapi cium ini dulu!” pinta Steven sambil menunjuk bibirnya.
“Muacchhh!” Azizah mencium bibir suaminya sekilas.
“Terima kasih!” ucap Steven dan keluar kamar mandi mengambil handuk milik istrinya.
Steven kembali masuk ke kamar mandi dan mengenakan handuk itu ke tubuh istrinya, Azizah tak bisa mencegah ia hanya terdiam sambil melihat apa yang dilakukan oleh suaminya.
“Sudah selesai sekarang tinggal pakai baju,” ucap Steven dan menuntun istrinya ke luar kamar mandi dan mendudukkan Azizah ke bibir ranjang.
“Kamu diam disini aku akan memilihkan pakaian yang cocok untuk istriku tercinta ini!” perintah Steven.
Steven membuka almari pakaian istrinya dan mulai memilih pakaian mana yang cocok untuk istrinya itu.
“Sepertinya yang ini cocok,” ucap Steven menjatuhkan pilihan pakaian yang dirasa cocok untuk Azizah.
Pria blasteran itu mulai memakaikan pakaian ditubuh Azizah, sebelumnya Azizah telah memakai dalaman terlebih dahulu.
Azizah merasa tersanjung dengan apa yang dilakukan suaminya, meski sederhana tapi itu membuatnya menjadi bangga dengan perlakuan suaminya.
“Sekarang aku keringkan rambut kamu ya istriku!”
Steven menyalakan hairdryer dan mulai mengeringkan rambut Azizah setelah kering ia menyisir rambut panjang istrinya.
“Terima kasih suamiku!” ucap Azizah.
“Kamu senang istriku?”
“Ya sangat senang, ternyata begini rasanya hidup setelah menikah. Saat ingin tidur orang terakhir yang dilihat adalah pasangannya dan orang pertama yang dilihat juga adalah pasangannya,” terang Azizah.
“Muaachhhh, terima kasih sudah menjadi istriku!” Steven mengecup mesra kening istrinya.
“Kruk... kruk...”
“Ha...ha... wah ternyata kamu begitu lapar sayang!” ucap Steven disela-sela tawanya.
Azizah menunduk malu wajahnya yang putih kini terlihat sangat memerah seperti kepiting rebus.
“Hentikan, aku sangat malu!” pinta Azizah.
“Baiklah sekarang aku berhenti tertawa, ayo kita sarapan!” ajak Steven.
__ADS_1
Memalukan, ya ampun suasana seperti ini mengingatkan aku tentang Bu Darmi.