
Pagi hari yang cerah, seorang wanita hamil sedang duduk di balkon kamar sambil menikmati segelas susu khusus ibu hamil.
Wanita itu memakai pakaian yang cukup terbuka untuk menghangatkan tubuhnya, ia mengikat rambut panjangnya.
“Sebentar lagi mamah dan papah melihatmu anakku sayang, kami tidak sabar ingin melihat wajahmu yang lucu,” ucap Azizah mengajak bayi di dalam perutnya berbicara.
Bayi itu ternyata merespon dengan memberikan tendangan-tendangan yang cukup kuat, wajah Azizah kini terasa sangat bengkak apalagi kakinya yang sekarang sulit untuk memakai sandal ataupun sepatu.
Dirasanya tubuhnya cukup terkena sinar matahari pagi, Azizah memutuskan untuk menyegarkan tubuhnya.
*
“Segar!” ucap Azizah setelah dirinya selesai mandi dan memutuskan untuk pergi ke bawah mengisi perutnya yang kembali lapar.
Azizah berjalan dengan sangat hati-hati hingga akhirnya ia sampai di ruang makan.
Para pelayan melayani ibu hamil itu dengan sangat detail, sehingga Azizah tidak perlu lagi mengatakan apapun kecuali, terima kasih.
“Baju bayi sudah dicuci belum bi?” tanya Azizah.
Salah satu pelayan maju mendekati Azizah, “Sudah nyonya muda!”
“Terima kasih ya Bi!” ucap Azizah kemudian tersenyum lebar.
Azizah makan dengan sangat lahap.
“Kak Azizah!” panggil Mariska sambil menepuk pundak kakak iparnya.
“Uhuk... uhuk...” Azizah tersedak makanan karena rasa terkejutnya yang disebabkan oleh Mariska.
“Ya Allah, maafkan Mariska kak! Mariska tidak sengaja,” ucap Mariska panik dan malah menangis.
“Hiks... hiks..” Mariska menangis karena telah membuat kakak iparnya tersedak, ia sangat takut jika kakak sepupunya tahu dan memarahinya apalagi wanita yang sedang hamil itu adalah wanita yang sangat dicintai oleh Steven.
Azizah terkejut dan segera memeluk tubuh Mariska.
“Sudah Mariska, kak Azizah tidak apa-apa sekarang. Kamu kenapa menangis hanya karena masalah sepele seperti ini?” tanya Azizah dan berusaha menenangkan Mariska.
“Mariska takut kalau kak Azizah kenapa-kenapa dan nanti kak Steven....”
“Kamu ini kenapa malah berpikir seperti itu, sekarang temani kakak makan!” pinta Azizah yang sebelumnya memotong ucapan Mariska.
Mariska menghentikan tangisannya dan mengikuti permintaan dari ibu hamil itu.
__ADS_1
Para pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua hanya terdiam. Namun, sebelumnya mereka sempat khawatir karena takut jika tuan muda Steven marah kepada para pelayan akibat insiden Azizah tersedak.
20 menit kemudian.
Azizah mengajak Mariska untuk menemaninya menonton film tentang kerajaan lagi, Mariska lagi-lagi tidak bisa menolak.
Ia sejujurnya sangat bosan dengan kisah kerjaan yang menurutnya sangatlah membosankan.
Galih datang dengan terburu-buru dan menghampiri istri dari tuan mudanya yang sedang berada di ruang keluarga.
“Maaf nyonya muda,” ucap Galih tiba-tiba membuat Azizah dan Mariska terkejut.
“Ada apa Galih kok kamu terlihat sangat buru-buru?” tanya Azizah penasaran.
Galih mengatur napasnya terlebih dahulu.
“Tuan muda meminta saya untuk mengambil flashdisk yang berada di dalam kemeja tuan muda, bisakah nyonya muda mengambilnya sekarang!” pinta Galih dengan sedikit membungkukkan badannya.
Azizah mengangguk dan segera mengambil flashdisk milik suaminya. Tak lupa Azizah meminta bantuan Mariska untuk menemaninya.
Beberapa menit kemudian.
Azizah keluar dari lift dan memutuskan untuk ikut serta Galih pergi ke perusahaan.
Di perjalanan menuju perusahaan.
Galih membawa mobil dengan kecepatan sedang, di sepanjang perjalanan ia terus merapalkan doa-doa agar tuan mudanya tidak murka akibat ulahnya yang menyetujui keinginan dari nyonya mudanya yang terus memaksa untuk ikut.
“Kamu sedang apa Galih?” tanya Azizah karena sedikit mendengar suara doa-doa surah pendek dari mulut Galih.
“Sedang Berdoa nyonya muda,” balas Galih dan kembali mengucapkan doa-doa.
“Memangnya kamu habis melihat setan ya Galih?” tanya Azizah lagi.
“Ini lebih dari yang nyonya muda bayangkan,” ucap Galih keceplosan, “Maksud saya bukan seperti itu nyonya muda,” sambung Galih lagi memperbaiki kata-kata yang sebelumnya terlontar dari mulutnya.
Azizah tak bertanya lagi, justru ia memfokuskan perhatiannya pada ponsel miliknya yang sudah banyak pesan masuk dari grup chat miliknya.
Galih tak sengaja menoleh ke arah spion mobil dan melihat ada gelagat aneh dari mobil belakang yang sepertinya terus mengikuti mobil yang ia kendarai.
Apakah hanya perasaanku saja kalau mobil berwarna hitam itu mengikuti kami?
Untuk memastikan benar atau tidaknya, Galih mencari jalan yang lainnya dan ternyata mobil itu mengikutinya.
__ADS_1
Tidak bisa dibiarkan, sepertinya mobil belakang itu berniat tidak baik.
Galih mengirim pesan suara kepada majikannya bahwa ada mobil yang mengikuti dirinya, Azizah samar-samar mendengar ucapan dari Galih.
“Aku dengan ada yang mengikuti kita, memangnya siapa Galih?” tanya Azizah yang mulai panik.
“Bu..bukan apa-apa nyonya muda, mungkin nyonya muda salah dengar,” ucap Galih yang sengaja berbohong karena tidak ingin membuat wanita hamil di belakangnya panik.
Azizah terdiam dan menyandarkan tubuhnya kembali.
Sejak kapan pendengaran ku bermasalah, jelas-jelas aku mendengar bahwa ada yang mengikuti kami.
Tiba-tiba Azizah menoleh kebelakang dan ternyata benar, ada mobil yang terlihat sedang membututi mobil yang ia kendarai.
“Galih, mobil di belakang sepertinya mengikuti kita,” ucap Azizah yang mulai panik.
Galih tak bisa berbohong lagi, ia pun mengiyakan ucapan dari nyonya mudanya.
“Galih sekarang kita harus bagaimana?” tanya Azizah panik.
“Nyonya muda tenang saja, sekarang nyonya muda harus tenang dan jangan berpikir yang aneh-aneh. Saya usahakan agar nyonya muda tidak kenapa-kenapa,” terang Galih.
Galih terus mengendarai mobil dan berusaha mencari celah agar bisa pergi sejauh mungkin dari mobil yang sedang membututi mobil yang ia kendarai.
Di sisi lain.
Diandra terus mengikuti mobil yang berada di depannya, saat itu ia sangat ingin membuat mengetahui siapa orang yang berada di dalam mobil itu.
Ia berharap sekali bahwa Azizah ada di dalam mobil itu. Sayangnya, ia tidak bisa melihat dikarenakan kaca mobil yang sangat gelap sehingga menghalangi dirinya untuk mengetahui siapa orang di dalam mobil tersebut.
Lihat saja wanita kampungan, aku akan memberimu pelajaran.
Aku harap memang kamu yang berada di dalam mobil itu.
Diandra akhirnya kehilangan jejak saat lampu merah menyala, sementara mobil di depannya sudah bergerak bebas menjauh darinya.
“Sial! lagi-lagi aku kehilangan jejak.”
Mariska terus mengumpat kesal di dalam mobil, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kontrakan kecilnya.
Wanita itu tidak bisa berlama-lama keluar dari kontrakan, karena dirinya masih saja dikejar-kejar oleh suruhan dari pria yang sangat ia cintai.
Sial, seharusnya aku lebih cepat agar aku bisa mengetahui siapa orang yang berada di dalam mobil itu.
__ADS_1
Karena aku tahu bahwa Steven sudah berada di perusahaannya.