Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 51


__ADS_3

Rika semakin rindu dengan sang anak, setelah bergulat dengan pemikirannya akhirnya Rika memutuskan untuk kembali ke Jawa timur.


Ia sangat berharap bisa bertemu dengan putri semata wayangnya, ia ingin melihat Yana untuk terakhir kalinya.


“Kapan kamu kesini lagi Rika?” tanya Yati.


“Mungkin saya tidak akan kesini lagi Bu,” jawab Rika.


“Loh kenapa Rika? kalau kamu tidak kesini lagi saya akan kesepian disini,”


“Saya ingin tinggal bersama anak saya Bu,”


“Kalau itu alasannya saya tidak bisa berkata apa-apa lagi Rika, titip salam ku untuk anakmu ya!”


“Baik Bu, ojek saya sudah datang. Saya pamit ya Bu, Assalamualaikum.”


“Waalikumsalam hati-hati ya Rika!”


“Iya Bu, saya pamit!”


Ojek itu lalu mengendarai motornya menuju raja basa, Rika tak sabar untuk bertemu sang anak. Firasatnya mengatakan bahwa Yana berada di Magetan.


“Mau kemana Bu?” tanya calo tiket.


“Saya mau ke Jawa timur pak,” sahut Rika.


“Jawa timur mana Bu?”


“Magetan pak,” ujar Rika.


“Naik bus kami saja Bu!”


“Baik pak.”


Setelah membayar tiket Rika duduk dijejerkan kursi penumpang, bus pun berjalan.


Di Jakarta.


Steven dan Mike hanya duduk dari kejauhan memperhatikan Azizah dan Yana yang sangat asik bermain air di kolam renang, kedua pria itu sangat ingin berenang bersama tapi Azizah dan Yana dengan tegas melarang mereka.


“Nasib.. nasib, niat mau mesra-mesraan malah kayak nyamuk begini. Seharusnya mereka membiarkan kita main air juga, bukan malah duduk seperti orang bodoh begini,” keluh Mike.


“Kamu saja yang bodoh, jangan bawa-bawa aku,” ketus Steven dan meninggalkan Mike.


Mike mengepalkan tangannya. “Dasar Steven, lagi-lagi seperti itu.”


Azizah dan Yana menghabiskan waktu mereka yang tertunda selama 7 tahun lebih itu.


“Azizah!” panggil Yana.


“Iya ada apa Yana?”


“Aku turut berdukacita atas kematian Bu Darmi,” ucap Yana.


“Terima kasih Yana, kematian Bu Darmi seperti pukulan berat untukku. Kamu tahu kan bahwa Bu Darmi sudah seperti ibu bagiku dan juga menjadi satu-satunya kerabat yang aku miliki.” Azizah mengatakan dengan begitu sedih.


“Azizah lihat aku, kamu tidak pantas untuk menangis. Kamu lihat pria tampan itu sedari tadi melihatmu dari atas balkon kamar,” tunjuk Yana pada Steven yang sibuk perhatikan Azizah.


Azizah mendongakkan kepalanya dan benar saja, Steven melempar senyum ke arah Azizah dan melambaikan tangan.


“Aku sebelumnya tidak pernah mengerti apa arti cinta, tapi setelah melihat kalian berdua aku yakin bahwa itu adalah cinta,” terang Yana.

__ADS_1


“Kamu sungguh sahabat yang sangat baik Yana, terima kasih.” Azizah berkata dengan sangat serius dan memeluk Yana.


Setelah dirasa cukup kedua gadis itu pun bergegas ke kamar, Steven dan Mike telah lebih dulu menunggu mereka di ruang keluarga.


Steven duduk sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Mike terheran-heran dengan tingkat Steven yang terlihat sedikit gelisah.


“Ada apa Steven?” tanya Mike penasaran.


“Tidak ada, hanya masalah kecil,” sahut Mike.


“Masalah kecil apa Steven?” tanya Azizah yang mendengar perbincangan mereka.


Steven terdiam, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Ada apa Steven? sepertinya ada sesuatu yang menggangu pikiranmu.”


Azizah dibuat penasaran dengan tingkah sang kekasih.


“Bisakah kalian tinggalkan kami berdua?” tanya Steven sambil melihat ke arah Mike dan Yana.


“Baik Steven,” sahut Yana. Ia lalu menarik tangan Mike, “Ayo sayang!”


Setelah dirasa mereka sudah pergi barulah Steven mulai mengatakan apa yang sedang dia pikirkan saat itu juga.


“Begini sayang,” ucap Steven sambil mengingat ucapan orang tuanya.


Flashback beberapa jam yang lalu.


Steven sedang memeriksa beberapa berkas di ruang kerja, saat ia sedang memeriksa berkas itu ada sebuah panggilan dari ponsel pintar miliknya. Saat melihat siapa gerangan yang mengubungi dirinya ia pun menerima sambungan telepon itu.


“Hallo Steven, kamu dimana?”


“Nenek meminta kamu datang ke Inggris, ada sesuatu yang ingin nenekmu katakan.”


“Nenek bisa mengatakan lewat sambungan telepon Pi, kenapa harus Steven yang kesana?” tanya Steven kesal.


“Papi dan mami juga tidak tahu kenapa nenek kamu bersikeras ingin menemui kamu secara langsung, kami sudah mengatakan hal yang sama yaitu menghubungi kamu lewat sambungan telepon tapi nenek kamu menolak Steven.”


“Baiklah Steven akan kesana bersama Azizah.” Steven akan tenang jika membawa Azizah ke Inggris.


“Tidak boleh, nenek memintamu datang sendirian,” tegas Adam.


Steven semakin kesal, ia paling tidak suka dipaksa apalagi diatur-atur meski itu dengan keluarganya sendiri.


Ia lalu duduk di ruang keluarga sambil menunggu Azizah.


🌸🌸🌸


Setelah menjelaskan semuanya yang ingin disampaikan oleh Steven, Azizah terdiam.


Terlihat mata gadis itu mulai berkaca-kaca.


Ya Allah ada apa ini**?


“Sayang!” panggil Steven.


Panggilan Steven tak dihiraukan oleh Azizah, Azizah masih sibuk dengan pikirannya.


“Sayang!” panggil Steven lagi.


“Iya” sahut Azizah tanpa menatap mata Steven.

__ADS_1


Steven mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh pipi Azizah. “Sayang, ada apa? kamu menangis?”


“Entahlah Steven, pikiranku kemana-mana.


Aku pergi ke kamar dulu,” ucap Azizah tanpa memperhatikan mata yang terus memandangi dirinya.


“Kalau kamu tidak ingin aku pergi ke Inggris tak masalah, aku bisa menolaknya untukmu,” ucap Steven serius.


“Jangan bodoh Steven, itu sama saja kamu mengangkat bendera perang untuk nenekmu sendiri,” balas Azizah.


“Lihat aku sayang!” perintah Steven.


Azizah lalu mengikuti perintah Steven, ia menatap mata indah Steven.


“Kamu ingin aku bagaimana Azizah sayang? jujur, aku sekarang tidak bisa berpikir jernih karena harus berjauhan dengan calon istriku ini,” ucap Steven serius.


“Berapa lama?”


“Apanya?” tanya Steven yang tak mengerti.


Azizah semakin geram, ia dengan geram menginjak kaki Steven.


“Awww...”


Steven kesakitan bahkan sangking sakitnya ia hilang kendali dan akhirnya terjatuh.


Azizah hanya memanyunkan bibir melihat Steven terjatuh dengan wajah yang terlihat begitu kesakitan.


“Kamu kenapa begitu tega denganku sayang?” tanya Steven yang berusaha bangkit.


Entah keberanian dari mana, Azizah berjalan dan duduk tepat dikedua paha Steven.


Mendapat perlakuan dari sang kekasih membuat Steven menelan Saliva kasar-kasar.


Azizah tersenyum manis dan pergi meninggalkan Steven yang terlihat begitu terkejut.


Sesampainya Azizah di taman belakang, ia duduk di kursi kayu tepat di bawah pohon kelengkeng.


“Ya Allah apa yang barusan aku lakukan, dasar bodoh kamu Azizah. Bisa-bisanya kamu bertindak seperti gadis yang tak tahu diri,” ucap Azizah bermonolog.


Steven berdiri tepat dibelakang Azizah, ia berusaha menahan tawa karena melihat tingkah Azizah.


“Dasar bodoh, bodoh kamu Azizah. Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa bertemu Steven dengan kejadian yang baru saja terjadi.” Azizah masih mengutuki dirinya sendiri karena kebodohannya.


“Eheemmm,” Steven berdehem.


“Steven!!" teriak Azizah.


Steven dengan santai duduk tepat disamping Azizah, ia lalu mendekap tubuh kekasihnya itu.


“Jangan kamu pikirkan yang tadi sayang, kamu Sebelumnya menayangkan berapa lama aku pergi kan?” tanya Steven yang masih mendekap Azizah.


Azizah yang semula malu kini menjadi sedih.


“A...aku.” Azizah tak berani melanjutkan ucapannya, hatinya begitu sedih melepaskan kepergian Steven ke Inggris.


“Tunggu aku 3 hari sayang, aku janji akan kembali,” ucap Steven serius.


“Apakah benar 3 hari?” tanya Azizah penasaran.


“Iya sayang, aku tidak mungkin berlama-lama disana meninggalkan calon istriku ini. Aku takut jika wanitaku ini diambil orang lain,” sahut Steven.

__ADS_1


__ADS_2