
Danu dan Yana masuk ke ruang rawat Rika, wajah Rika terlihat sangat pucat belum lagi selang yang menancap di punggung tangan serta di hidung wanita itu.
“Hiks.... hiks... mami pasti sembuh kan Pi?” tanya Yana lirih.
“Pasti sayang, mami kamu adalah wanita yang kuat,” balas Danu yakin.
Yana berjalan dengan sangat pelan mendekati Rika, setiap langkahnya terasa begitu sakit. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari mata Yana.
“Hiks...hiks...”
“Mami ini Yana, mami tolong kembalilah untuk kami. Yana masih sangat membutuhkan mami,” bisik Yana pada telinga Rika.
Rika tak bergerak sama sekali hanya air matanya yang tiba-tiba mengucur dari balik mata yang terpejam itu.
“Ma..mami kenapa menangis? mami jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Yana dan papi,” tegas Yana sambil menyeka air mata Rika.
“Hiks...hiks... bangun mami, lihat Yana dan papi disini!” pinta Yana.
“Yana sayang ayo kita keluar, mami sekarang harus istirahat!” ajak Danu.
“Tidak, Yana mau diam disini menemani mami. Yana tidak mau kemana-mana!” tegas Yana.
Dokter berseragam putih datang memasuki ruang pasien.
“Maaf tuan silahkan kalian keluar! kami harus memeriksa kondisi pasien!” pinta dokter itu.
“Tidak! Yana tetap disini!” tegas Yana tak mau meninggalkan Rika.
“Yana sayang, Yana mau kan mami sembuh? kalau mau ayo kita keluar biar dokter memeriksa keadaan mami!” ajak Danu memberikan pengertian kepada putrinya.
“Tapi Pi....”
“Ayo nak!” ajak Danu sambil menuntun Yana keluar.
Diluar Yana masih saja menangis, ia sangat khawatir kepada mami nya itu ditambah mimpi yang sangat menyeramkan.
“Papi! mami tidak akan meninggalkan kita kan?”
Papi berharap juga seperti itu Yana, papi sangat berharap mami kamu segera sadar dan sembuh.
“Tidak akan, karena masih ada Yana dan papi yang butuh mami!” seru Danu.
“Hiks...hiks... Yana cengeng ya Pi!”
“Tidak, anak papi justru kuat. Sekarang kita pergi cari makan ya nak! kasihan kalau mami tahu anak cantik mami dan papi ini belum makan!” ajak Danu.
“Baik Pi..” balas Yana lirih.
Mereka pun mencari makan di rumah nasi Padang pinggir jalan sekitar Lanud Iswahjudi.
Di Jakarta
Azizah dan Steven telah sampai di rumah.
Saat memasuki rumah tepatnya di ruang keluarga, Adam, Yuli dan Teressa duduk dengan raut wajah yang begitu serius. Suami istri itu saling pandang satu sama lain dan menghampiri mereka.
“Malam semuanya!” sapa Azizah ramah.
“Ada Pi?” tanya Steven tak ingin basa-basi.
“Duduklah kalian!” pinta Yuli.
Azizah dan Steven duduk berdekatan di sofa, Steven menggenggam tangan Azizah dengan erat membuat Azizah yang awalnya sedikit gugup akhirnya tenang.
“Kami memutuskan untuk sementara kembali ke Inggris,” ucap Adam.
“Ke Inggris! kenapa?” tanya Azizah terkejut.
__ADS_1
“Iya memangnya kenapa kalian kembali ke Inggris, bukankah kalian telah memutuskan untuk tinggal di Indonesia?” tanya Steven.
“Ini hanya untuk sementara waktu, lagipula teyze mu ingin tinggal di Inggris!” seru Adam.
“Kami akan pergi besok!” sambung Teressa.
“Secepat ini kalian pergi?” tanya Steven.
Mereka besok pergi, padahal aku dan istriku malam ini ingin ke Paris. Berarti rencana bulan mandi kami ditunda sampai mereka pergi ke Inggris.
“Iya Steven, nenek sebenarnya juga rindu Inggris,” ucap Teressa.
Cukup lama mereka berdiskusi akhirnya percakapan itu selesai, dikarenakan sudah larut malam. Mereka pun menyudahinya dan kembali ke kamar masing-masing.
“Apakah ini tidak terlalu cepat suamiku?”
“Ya mau bagaimana lagi, mungkin memang harus seperti itu.”
“Ya sudah aku mau mandi,” ucap Azizah.
“Aku ju.....”
“Malam ini aku ingin mandi sendiri suamiku,” potong Azizah.
“Baiklah...” balas Steven lesu.
Azizah mengambil handuk dan bergegas masuk ke kamar mandi. Steven yang masih memakai pakaian lengkap itu merasakan ngantuk yang teramat ia pun akhirnya tertidur.
“Ceklek” suara pintu kamar mandi.
Azizah tertawa kecil melihat kelakuan suaminya saat tertidur, lagi-lagi Steven selalu tidur memakai kaos kaki sebelah.
Ya ampun kebiasaannya masih saja sama.
Azizah menghampiri suaminya yang tertidur pulas dan membuka kaos kaki yang terpanjang sebelah kaki suaminya. Ia membuka pakaian serta yang lainnya dan mengganti pakaian suaminya dengan piyama.
“Kamu membuatnya bangun sayang,” ucap Steven.
Azizah terkejut dan ia pun terjatuh ke lantai.
“Aaahhh...!!!”
“Kamu mengangetkan aku,” ucap Azizah yang mencoba bangun dari jatuhnya.
“Bagaimana aku tidak bangun jika adik kecilku disentuh!” seru Steven sambil membantu istrinya.
“Aku hanya mencoba mengganti pakaian mu saja Suamiku, berhubung kamu sudah bangun maka mandilah!”
“Tapi bagaimana dengan ini?” tanya Steven sambil melirik ke bawah.
“Pokoknya mandi dulu.”
Steven melengos pergi menuju kamar mandi, Azizah dengan cepat memakai piyama dan naik ke ranjang ia berusaha secepat mungkin untuk tertidur.
15 menit kemudian.
Steven sudah selesai membersihkan tubuhnya ia berjalan dengan handuk yang masih melekat pada tubuhnya bagian bawah lalu Steven menghampiri istrinya yang sedang berbaring di ranjang membelakanginya.
“Sayang, kamu udah tidur?" tanya Steven sambil membalikkan tubuh istrinya.
Istriku malah sudah tidur padahal adik kecilku sedang ingin.... ya sudahlah jam 2 pagi saja.
Pria blasteran itu sedikit sedih namun ia juga tidak mau egois dengan cepat ia memakai piyama dan tidur sambil memeluk istrinya.
“Selamat tidur istriku sayang, aku mencintaimu muaaaaccchhh!” ucap Steven sebelum tidur lalu mencium kening Azizah dengan sangat mesra.
Azizah mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap suaminya ia bersembunyi di dada suaminya.
__ADS_1
Suamiku begitu romantis, maaf ya sayang aku berpura-pura tidur. Karena pasti nanti pagi kamu membangunkan lagi.
Steven yang ingin memejamkan mata sedikit terkejut mendengar ponsel bergetar ia pun beranjak dan mengambil ponsel itu rupanya ponsel itu milik istrinya. Terpampang jelas notifikasi pesan dari seorang pria.
Dimas? untuk apa malam-malam begini mengirim pesan?
Steven berdiri dan berjalan menuju sofa, ia pun membuka isi pesan itu.
Pesan Dimas 💌📱
“Selamat malam Azizah.”
Perasaan Steven semakin panas saat mengetahui begitu banyak pesan dari pria itu tidak hanya mengucapkan selamat malam, selamat sore, selamat pagi, selamat siang dan selamat tidur juga tak luput dari pesan yang dikirim Dimas untuk Azizah.
Rupanya pria breng*** ini masih sering mengubungi istriku, untungnya saja Azizah tak menggubris pesan pria ini.
Steven pun memiliki ide agar Dimas berhenti mengejar istrinya. Ia pun membalas pesan Dimas seolah-olah bahwa Azizah lah yang membalas pesan.
Azizah 💌📱
“Selamat malam juga.”
Dimas 💌📱
“Akhirnya kamu membalas pesanku Azizah.”
Azizah 💌📱
“Iya ada apa Dimas?”
Dimas 💌📱
“Kamu lagi apa Azizah?”
Steven mengetik pesan dengan begitu kesal, ia benar-benar kesal dengan Dimas yang mengganggu istrinya.
Azizah 💌📱
“Sedang tidur bersama suamiku, bisakah jangan menggangguku lagi!”
Dimas 💌📱
“Baiklah!”
Steven sebenarnya ingin sekali memaki habis Dimas namun emosinya langsung ia kontrol karena tak ingin membuat Azizah berpikir yang aneh-aneh dengan segera ia memblokir nomor telepon Dimas.
Azizah yang belum tidur mengintip ke arah suaminya, ia penasaran sedang apa suaminya duduk di sofa.
“Sayang!” panggil Azizah yang berpura-pura bangun dari tidurnya.
“Kamu kenapa bangun istriku?” tanya Steven yang dengan cepat berjalan menuju ranjangnya.
“Karena aku tidak menemukan suamiku untuk dipeluk, bukankah itu ponselku?” tanya Azizah saat melihat ponsel miliknya berada digenggaman suaminya.
“Maafkan aku tadi ada pesan dari si breng***.”
Azizah tak mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya ia hanya mengangguk dan memeluk suaminya.
“Ayo sayang aku mengantuk!”
“Iya sayang ayo kita tidur, sini aku peluk!"
Azizah senang dengan perlakuan lembut suaminya mereka pun tidur dengan posisi Steven memeluk pinggang Azizah dan Azizah tidur dengan membelakangi suaminya.
Bersambung.
Vote dong!!😭😭
__ADS_1