
“Azizah!”
Mendengar namanya dipanggil Azizah langsung membalikkan badan.
“Kamu!” teriak Azizah kaget.
“Ada apa kamu datang kehadapan ku?
Tidak cukup kamu membuat hatiku sakit,” teriak Azizah. Azizah tak perduli banyak pasang mata yang melihat dirinya.
“Azizah kamu tenang dulu, kehadiranku kemari karena ingin mencari keperluan anakku,” ucap pria itu.
“Anak? wah hebat sekali kamu Dimas, sudah memiliki anak. Tak pernah terpikirkan oleh diriku bahwa kamu menikahi wanita lain,” ucap Azizah sinis.
“Istriku telah meninggal, anakku sekarang aku yang mengurus sendirian. Ini adalah karma untukku Azizah. Maafkan kesalahanku Azizah,” ucap Dimas sambil berlutut dihadapan Azizah.
“Dimas kamu apa-apaan cepat berdiri!” Azizah membantu Dimas berdiri.
“Aku benar-benar minta maaf Azizah, aku sangat bersalah terhadapmu karena telah mengkhianati dirimu.” Dimas berkata dengan penuh sesal.
“Penyesal memang datangnya di akhir Dimas.
Aku bersyukur kamu telah menyadari kesalahan yang telah kamu perbuat kepadaku.” Azizah kemudian tersenyum.
“Jadi kamu mau memaafkan aku?” tanya Dimas semangat sambil memegang kedua tangan Azizah.
“Lepaskan Dimas! tidak sepantasnya kamu seperti ini.”
“Maaf Azizah, karena aku terlalu senang bertemu denganmu.”
“Ya, aku permisi...”
“Tunggu Azizah, bolehkah aku minta nomor ponselmu?” tanya Dimas.
“Untuk apa?” ketus Azizah.
“Hanya menjalin silaturahmi.”
“Baiklah,” ucap Azizah sambil mengeja nomor telepon.
Hampir 1 jam Azizah tak muncul batang hidungnya, Heru sangat khawatir jika calon istri majikannya itu kenapa-kenapa.
Heru lalu bergegas meninggalkan mobil dan segera menyusul Azizah.
Terlihat dari kejauhan Azizah bersama seorang pria.
“Siapa pria itu? seperti aku mengenalinya.
Bukankah dia pria itu?”
Heru mempercepat langkahnya, jiwa pelindungnya meronta-ronta untuk melindungi Azizah.
“Nona muda!” panggil Heru.
“Pak Heru!” sahut Azizah terkejut.
“Ini siapa Azizah?” tanya Dimas penasaran.
“Kamu yang seharusnya siapa? berani-beraninya kamu mendekati majikan saya,” ucap Heru tak senang.
Heru menatap tajam ke arah Dimas, begitu dengan Dimas. Dimas menatap tajam ke arah Heru, terlihat sekali mereka seperti mengibarkan bendera permusuhan.
__ADS_1
“Sudah-sudah, jangan mencari ribut disini,” lerai Azizah agar kedua pria itu tidak bertengkar di depan umum.
“Ayo pak Heru kita kembali sekarang!” Azizah menarik tangan Heru agar menjauh dari Dimas.
Dimas melihat kepergian Azizah dengan sangat sedih, ia begitu mencintai Azizah.
Meski aku telah membuka hati untuk Monicha tetap saja rasa ini untukmu Azizah.
Sekarang Monicha telah pergi untuk selamanya meninggalkan seorang anak perempuan, tapi kepergiannya sama sekali tidak membuatku sedih.
Sementara kamu Azizah, kamu pergi meninggalkanku dengan cara seperti ini membuatku sangat sakit bahkan hatiku begitu seperti teriris pisau yang sangat banyak.
Azizah terus menarik Heru sampai ke area parkir.
“Maaf pak Heru, aku bisa jelaskan kenapa aku dan dia bisa bertemu,” ucap Azizah. Ia sangat takut jika Heru mengadukan pertemuannya dengan Dimas.
“Nona muda tenang saja, saya tahu kenapa kalian bisa bertemu.”
“Benarkah?”
“Saya masih bisa berpikir secara logika nona muda, karena disini pusat perbelanjaan.
Tapi jika tuan muda yang melihat kalian berdua sudah pasti lain ceritanya nona muda.
Tolong lain kali saat nona muda tidak sengaja bertemu dengannya atau dia menghampiri nona muda, nona muda segeralah menjauh kalau bisa pergi tinggalkan dia,” terang Heru.
“Aku mengerti yang dimaksud pak Heru, terima kasih karena telah percaya terhadapku,” ucap Azizah.
“Nona muda tidak perlu berterima kasih, sudah sore waktunya kita pulang!”
“Iya pak Heru.”
Heru tak banyak bicara selama di mobil, ia asik menikmati musik lagu dari Malaysia.
Ya Allah semoga hubungan kami selalu baik-baik saja.
Azizah masih sibuk dengan pikirannya, bahkan suara dering ponselnya tak terdengar olehnya.
“Nona muda!” panggil Heru.
Azizah tak mendengar panggilan Heru, ia tetap asik dengan lamunannya.
“Nona muda!” panggil Heru lagi.
Lagi-lagi Azizah tak merespon, karena khawatir Heru pun meminggirkan mobilnya.
“Kok berhenti?” tanya Azizah yang kini tersadar dari lamunannya.
“Alhamdulillah,” ucap Heru lega.
“Kok Alhamdulillah pak? memangnya kenapa? pak Heru tadi mau nabrak orang?” tanya Azizah heran.
“Astaghfirullah bukan itu nona muda, saya kira nona tadi kesurupan.”
“Pak Heru sembarangan aja ngomongnya.”
Azizah berbicara sambil mengibaskan tangannya.
“Habisnya dari tadi saya panggil nona muda tak merespon.”
“Ha? dari tadi?” Azizah tak percaya.
__ADS_1
“Coba nona muda cek ponsel nona, sepertinya ada yang menghubungi nona muda!”
Azizah dengan cepat mengambil tas kecil di sampingnya, terlihat beberapa panggilan nomor yang tidak dikenal tak terjawab.
Nomor siapa ini?
5 panggilan tak terjawab, pantas saja pak Heru mengira kalau aku sedang kerasukan.
“Siapa nona muda?” tanya Heru penasaran.
“Bukan siapa-siapa pak Heru, sepertinya teman aku.” Azizah berkata bohong.
“Dari tadi menghubungi nona muda terus, mungkin itu penting. Coba nona muda hubungi balik.” Heru memberi saran kepada Azizah.
“Tidak usah pak Heru, nanti saja saat sudah tiba dirumah," tolak Azizah.
“Baiklah nona muda.”
🌸🌸🌸
Dimas mencoba menghubungi Azizah namun berkali-kali ia menghubungi Azizah tak kunjung juga mendapatkan respon.
“Oek... oek..” Suara bayi mungil Dimas.
Dimas berulang kali berganti baby sitter namun tak dapat menemukan orang yang cocok.
Bayi yang diberi nama Azizah Ginanjar adalah bayi yang cukup rewel, nama sang putri terinspirasi dari nama Azizah.
Dikarenakan Dimas tak bisa move on dari Azizah wanita yang dulu pernah ia khianati.
“Azizah sayang, jangan menangis. Papa ada disini,” ucap Dimas menenangkan sang anak.
“Oek... oek..”
Lagi-lagi bayi itu merespon dengan suara tangisan, bayi yang baru menginjak usia 2 bulan.
“Anak papa yang cantik jangan menangis, ini mimik susu ya sayang!” seru Dimas sambil memberikan botol susu formula.
Akhirnya bayi mungil itu tertidur, Dimas bernafas lega. Semenjak kematian Monicha saat melahirkan Azizah kecil, Dimas lah yang mengurus sang anak. Mulai dari membuat susu, mengganti pakaian, memandikan bahkan membersihkan kotoran sang bayi.
Itu semua mudah baginya, karena Dimas sebelumnya pernah mengambil jurusan keperawatan.
“Alhamdulillah, sekarang anak papa sudah bobo. Tidur yang nyenyak ya sayang! 2 jam lagi papa bangunkan,” ucap Dimas lalu meletakkan sang anak di keranjang bayi.
Setelah meletakkan buah hatinya Dimas bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
20 menit kemudian.
Dimas telah rapi dengan piyamanya, ia merebahkan tubuhnya di ranjang.
Semenjak menikah memang ia tak pernah tinggal di rumah orang tuanya, Dimas lebih memilih membeli rumah sendiri.
Di rumah hanya dia dan Azizah kecil.
Para tetangga sekitar bolak-balik menyarankan agar Dimas menikah lagi, bahkan banyak dari mereka yang ingin menjodohkan anak mereka dengan Dimas.
Namun Dimas dengan terang-terangan menolak karena dirinya masih mengharapkan cinta seorang Azizah.
Lanjut tidak ini teman-teman?
Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏😭
__ADS_1
Terima kasih untuk kalian semua...