Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 109


__ADS_3

Sutomo lari terbirit-birit saat mendengar cucu tunggalnya mengalami keracunan obat, pria yang berumur 60 tahun itu terlihat begitu panik sekaligus sedih.


“Dimas, bagaimana dengan keadaan Azizah?”


tanya Sutomo tersengal-sengal.


“Hiks...hiks... Azizah mengalami demam panas dingin ayah, Dimas tidak tega melihat bayi Dimas seperti itu.”


“Dimas ibu kamu?” tanya Sutomo mencari istrinya.


”Ibu sedang beristirahat di dalam ayah, sedari tadi ibu menangis di dalam,” jawab Dimas dengan begitu lesu.


Sutomo pun berjalan memasuki ruang rawat cucu nya dan melihat Ida tertidur dengan posisi duduk sambil menggenggam tangan Azizah kecil.


“Ibu bangun!” pinta Sutomo dengan menggoyangkan tubuh istrinya pelan.


Ida yang tertidur itu akhirnya terbangun.


“Ayah! kapan datangnya?” tanya Ida.


“Sekitar 10 menit bagaimana keadaan Azizah sekarang?” tanya Sutomo.


Ida yang awalnya tenang akhirnya teringat dengan keadaan Azizah kecil. Sutomo mengernyitkan keningnya saat melihat ekspresi sedih dari istrinya. Ia mendekat dan memeriksa suhu tubuh Azizah dengan punggung tangannya.


Sutomo terkejut saat merasakan panas pada Azizah, ia berlari ke luar ruangan dan mencari Dokter.


“Anda dokter yang merawat cucu saya kan?” tanya Sutomo memastikan.


“Iya ada apa tuan?” tanya dokter itu langsung tahu bahwa ia adalah kakek dari si bayi karena hanya Azizah yang dirawat di rumah sakit itu.


Maklum saja rumah sakit itu terbilang cukup baru dan tidak terlalu ramai. Para pasien yang berkunjung ke rumah sakit itu hanya memeriksa keadaan tanpa dirawat atau tinggal sementara waktu di rumah sakit.


“Tolong dokter cepat temui cucu saya! Azizah badannya panas dokter!” pinta Sutomo dengan mata memerah seperti ingin menangis.


“Baik tuan!” seru dokter.


Mereka berdua dengan cepat ke ruang Azizah, dokter terkejut melihat Azizah kecil mengalami kejang-kejang, sementara Dimas serta nenek kakeknya menangis.


“Tolong kalian keluar agar saya segera memeriksa kondisi Azizah!” pinta dokter.


Dimas enggan menuruti kata dokter itu ia bersikeras berada di dalam menemani putri kecilnya.


“Ayo nak!” ajak Ida.


“Tidak, Dimas ingin tinggal disini untuk menemani Azizah!” tegas Dimas.

__ADS_1


“Kalian boleh pergi, biar tuan Dimas yang menemani saya disini!” ucap dokter itu mengalah.


Sutomo dan Ida akhirnya pergi keluar dengan raut wajah yang begitu sedih, 2 perawat datang menghampiri dokter dan langsung menangani Azizah.


Dimas berdiri tak jauh dari sang putri kecilnya itu, kejang-kejang yang dialami Azizah tak kunjung berhenti membuat Dimas semakin panik. Dokter dan perawat berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan Azizah.


30 menit kemudian.


Tuhan berkehendak lain terhadap Azizah kecil.


Dokter dan dua perawat akhirnya menyerah, Azizah kecil tidak bisa diselamatkan.


“Maaf tuan Dimas, anak anda telah pergi,” ucap dokter itu sambil menunduk.


Dimas yang duduk menyender dinding terbangun, ia mengeraskan rahangnya dan membenturkan kepalanya ke dinding sehingga menghasilkan bunyi. Darah segar keluar dari kepala dan dahi Dimas, dokter dan yang lainnya berusaha menghentikan pria itu.


“Tuan harus tenang, ini sudah takdir tuhan!”


“Tidak! Azizah anak saya belum mati!” tegas Dimas berteriak.


Sutomo dan Ida yang duduk di luar ruang rawat terkejut mendengar suara ribut-ribut di dalam.


“Ayah, ayo kita masuk!” ajak Ida.


Sutomo dan Ida sangat terkejut melihat anak tunggalnya seperti orang yang tidak waras, mereka melihat kepala serta dari Dimas berdarah.


“Tolong hentikan tuan Dimas, Azizah maksud saya cucu anda telah pergi untuk selamanya,” ucap salah satu perawat.


Deg... deg...


Jantung Sutomo dan Ida tiba-tiba terasa sangat sesak setelah mendengar perkataan dari salah satu perawat, mereka tak bisa berkata apa-apa lagi Pantas saja Dimas seperti itu dikarenakan cucu tunggal mereka yang masih begitu kecil telah pergi untuk selamanya.


“Azizah!” teriak Ida histeris.


Sutomo berjalan dengan begitu pelan seolah-olah kakinya sangat berat, ia menghampiri Dimas yang seperti orang tidak waras itu. Ia memeluk erat tubuh Dimas yang meronta-ronta minta dilepaskan.


“Katakan yah kalau yang dikatakan oleh dokter itu semuanya bohong! Azizah anakku masih hidup!” teriak Dimas.


Sutomo tidak menjawab ia menangis dengan terus memeluk tubuh Dimas yang berusaha melepaskan pelukannya.


“Hiks....hiks.... cucuku Azizah,” ucap Ida yang menghampiri Azizah yang sudah tak bernyawa lagi.


Bayi kecil yang baru beberapa bulan itu telah pergi menemui ibu kandungnya yang telah lebih dulu di panggil oleh Tuhan.


“Azizah, bangun sayang!” pinta Ida.

__ADS_1


Mau bagaimanapun jika Tuhan sudah berkehendak tidak ada yang bisa menunda ataupun menolak begitu juga dengan nyawa.


“Lepaskan Dimas yah! Dimas harus melihat Azizah!”


Sutomo pun melepaskan pelukannya, ia dan Dimas berjalan menghampiri Azizah yang sudah tidak bernyawa dan tubuh yang sudah pucat memutih.


Dimas ambruk terjatuh dan tak sadarkan diri, mereka dengan cepat membopong tubuh Dimas ke sofa.


Ya Allah ujian apalagi ini yang Engkau berikan kepada anak kami ini.


Pertama ia ditinggal mati oleh istrinya sekarang cucu kami satu-satunya malah Engkau ambil lagi ya Allah... 😭😭


Sambil menanti Dimas tersadar dari pingsannya, Ida dan Sutomo terlebih dahulu mengurusi jenazah cucu mereka untuk pulang ke rumah dan segera di makamkan.


“Hiks...hiks.... Anak kita yah,” ucap Ida di sela-sela tangisnya.


“Dimas kuat ibu, mungkin ini yang terbaik untuk Dimas anak kita,” tegas Sutomo yang berusaha tegar.


“Sekarang hidupnya benar-benar hancur ayah, sudah ditinggal Monicha sekarang ia ditinggal cucu kita Azizah.”


“Ini sudah jalan Allah bu.”


Beberapa jam kemudian.


Mereka akhirnya sampai di rumah pukul. 03.00 wib.


Dimas mulai ikhlas menerima kematian putrinya, kepala dan keningnya juga sudah dibungkus dengan kain guna menghentikan darah yang mengalir dari kepala dan kening.


Para saudara juga sudah di hubungi oleh Ida, rencananya Azizah kecil akan dimakamkan jam 8 pagi sambil menunggu saudara lain yang datang.


Dimas terus menggendong tubuh Azizah, ia menimang-nimang Azizah kecil dengan pelan. Itu ia lakukan untuk melepaskan kepergian Azizah kecil untuk selama-lamanya.


Selamat jalan putri kecilku, papa sejujurnya masih sangat terkejut dan belum bisa sepenuhnya melepaskan kepergian mu nak!


Maafkan ayah jika bukan karena resep obat itu, pasti sekarang kamu sedang tidur bersama ayah dan ayah membuatkan susu untuk kamu nak, jika kamu menangis terbangun dari tidurmu karena haus.


Seorang wanita tua yang telah beruban datang mendatangi mereka, wanita tua itu bisa dibilang adalah orang yang biasanya mengkafani jenazah.


“Assalamualaikum!” ucap wanita tua itu.


“Waalaikumsalam, mari masuk Bu!” seru Ida mempersilahkan masuk.


“Kalian yang sabar ya, Azizah pasti telah berkumpul bersama ibunya di Surga,” ucap wanita tua itu.


😭😭😭

__ADS_1


Minal Aidzin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin teman-teman.... 🙏🙏


__ADS_2