
Sudah sore Azizah masih terbaring di atas ranjang, ia begitu malas untuk bergerak bahkan untuk ke toilet saja rasanya ia tak berdaya.
Steven 2 jam yang lalu pamit pergi karena ada hal yang harus ia tangani, Azizah pun tak ingin tahu karena rasa sakit di perutnya mengalahkan keingintahuannya.
Rasanya sangat sakit, tidak biasanya sakit seperti ini.
Haduh... Aku sangat lapar, tapi bagaimana memesan makanan?
Aku bahkan bingung berbahasa Perancis.
Azizah berusaha turun dari ranjangnya dan ia berjalan perlahan keluar kamar,
ia memutuskan untuk keluar hotel dan berkeliling disekitar hotel itu.
“Kamu jangan dikamar saja Azizah, bergeraklah sedikit,” ucap Azizah bermonolog.
Ia duduk di salah satu kursi umum sambil mendengarkan musik MP3 di ponselnya, dirasa cukup ia pun akhirnya kembali ke kamar.
“Kruyuk.... kruyuk...” Bunyi perut Azizah.
Perutku sudah berbunyi lagi?
Ini perut apa karet, dari tadi bunyi terus.
Azizah berusaha mempercepat langkahnya menuju kamar.
****
Sesampainya di kamar Azizah mencari makanan yang ada namun tak menemukannya.
“Ya ampun makanan juga tidak ada, apakah suamiku sengaja menelantarkan aku sendirian disini?”
Ia pun menjadi sangat kesal untungnya saja di lemari pendingin ada susu yang bisa ia minum.
Ah... segarnya!
Wanita itu meraih ponsel di saku celananya dan mencoba menghubungi suaminya yang sedang keluar.
“Tut..... Tut.....”
“Assalamualaikum istriku, ada apa?” tanya Steven.
Azizah mendengar bunyi musik dari seberang telepon, ia berpikir jika suaminya saat itu sedang berada di sebuah tempat yang ramai karena banyak sekali suara orang yang berbincang-bincang.
“Waalaikumsalam, hei kamu kapan pulang?” tanya Azizah tanpa memakai embel-embel sayang ataupun suamiku.
“30 menit lagi aku akan pulang istriku!”
30 menit lagi?
“Tidak! pokoknya pulang sekarang!” perintah Azizah.
“Baiklah aku pulang sekarang, tunggu aku pulang istriku! I love you my wife.”
Azizah langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
“Hei Steven bergabunglah dengan kami, kita belum menikmati acara minum-minum bersama!” ajak Hendrick.
“Aku tidak minum, aku harus pulang sekarang!” seru Steven.
Megan yang tak lain istri Hendrick hanya terdiam dan terus memperhatikan Steven yang sedang berbincang-bincang dengan suaminya.
“Ayolah Steven!” ajak Hendrick.
“Aku permisi!” ucap Steven.
__ADS_1
“Tunggu tuan Steven!” cegah Megan.
Steven hanya menoleh dan meneruskan langkahnya untuk meninggalkan mereka, ia sangat tidak senang dengan istri partner kerjanya yang terlihat begitu tertarik padanya.
“Kamu mengapa memanggil Steven?” tanya Hendrick pada Megan.
Ya ampun aku lupa jika ada Hendrick.
“Oh itu? aku hanya berusaha mencegahnya agar bisa minum bersama denganmu Hendrick,” bohong Megan.
“Kamu memang istri yang sangat perhatian!” ucap Hendrick.
Kalau bukan karena hartamu aku juga tidak mau, andai aku lebih dulu dekat dengan Steven yang jelas-jelas pria yang sangat kaya.
Aku sangat penasaran dengan istri tuan Steven yang sukses mencuri perhatian tuan Steven dan menjadi istrinya.
“Lebih cepat!” perintah Steven pada sopir pribadinya.
“Oke sir!”
Semoga istriku tidak marah.
Setelah sampai di hotel itu, Steven dengan langkah tergesa-gesa menuju kamar hotel yang ditempati ia dan istrinya.
Steven terkejut karena istrinya telah berada di depan pintu menunggunya.
Celakalah aku!
Selamatkan hamba ya Allah.....
“Sore sayang!” sapa Steven dan mencium sekilas pipi Azizah.
“Masuk!” perintah Azizah dengan wajah datarnya.
“Dari mana?” tanya Azizah mengintrogasi suaminya.
“Aku bertemu dengan partner kerja sayang,” ucap Steven jujur.
Azizah mendekat ke arah suaminya ia mengendus-endus kemeja yang dipakai suaminya itu.
Steven heran karena istrinya bertingkah seperti aneh, “Apakah ada yang aneh istriku?”
“Tidak ada, aku hanya mencoba mencium bau di kemeja mu barangkali ada bau parfum wanita!” seru Azizah.
Steven terkekeh geli mendengar jawaban istrinya.
“Hi... hi... aku selamanya hanya setia padamu istriku.”
“Lupakan ucapanku yang tadi, sekarang pesankan aku makanan. Kau pergi tanpa memberiku makan!”
“Astaga, aku benar-benar minta maaf sayang!” ucap Steven sambil menepuk dahinya.
“Kruyuk.... kruyuk...” Suara perut Azizah berbunyi.
Steven tertawa terbahak-bahak karena suara perut istrinya yang sangat jelas terdengar.
“Ha... ha.. ha.. Ya Allah istriku sangat lapar!”
“Hentikan! aku bilang hentikan sekarang!” perintah Azizah sambil memukul-mukul dada Steven.
“Aww... aww... ampun sayang. Oke-oke aku berhenti tertawa!”
Steven menghentikan tawanya dan memeluk mesra tubuh Azizah.
“Jangan pernah berpikir aku menyukai wanita lain istriku, mendapatkan mu saja sudah lebih dari cukup dan itu adalah keberuntungan bagiku Azizah Cahyani,” ucap Steven membisikkan ditelinga Azizah.
__ADS_1
Azizah tersipu malu di pelukan suaminya itu, tanpa sadar senyumnya terlihat merekah di bibir manis Azizah.
“Kamu ingin makan apa sayang?” tanya Steven.
“Aku ingin makan ikan kakap bakar balado, apakah ada disini?” tanya Azizah penasaran.
“Oke aku coba tanyakan!”
30 menit kemudian.
“Bagaimana?” tanya Azizah.
“Pesanan istriku akan segera datang, aku memesan 3 ekor ikan kakap bakar balado khusus untukmu istriku sayang!”
“Terima kasih suamiku!”
Azizah terus mendekap erat tubuh suaminya seolah-olah tak ingin dipisahkan walaupun mereka sedang berduaan di dalam kamar.
Azizah memanggilku dengan sebutan suami?
Akhirnya mood Azizah membaik 😍
“Aku ingin bermanja-manja dengan mu suamiku!” pinta Azizah.
“Bermanja-manja seperti apa sayang?” tanya Steven sambil mengacak-acak rambut Azizah.
“Angkat aku ke ranjang dan aku ingin kamu menciumiku!” pinta Azizah.
Wow... sore ini aku menang banyak!
Ternyata ada untungnya juga menstruasi istriku.
“Baiklah sayang!” seru Steven.
Steven mengangkat tubuh Azizah dan merebahkan tubuh Azizah perlahan di ranjang empuk itu, ia mencium bibir Azizah dengan begitu lembut.
Bunyian ciuman mereka terdengar satu sama lain, cukup lama akhirnya aktivitas mereka selesai karena pesanan makanan yang mereka pesan telah datang.
“Kamu diam disini dulu ya istriku! aku akan mengambil makanan kita!”
Steven turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu untuk mengambil makanan. seperti biasanya, Steven tak mengizinkan room service untuk masuk dan dengan tangannya sendirilah ia membawa makanan itu, tak ada kerepotan sedikit dari wajah pria blasteran itu.
Ia sangat senang jika istri tercintanya senang.
“Sayang makanannya sudah siap!” ucap Steven.
Azizah dengan cepat menyantap makanan itu.
“Wow.. ini sangat enak!” puji Azizah.
“Lebih enak jika aku memakan mu istriku,” goda Steven.
Azizah hanya melirik tajam ke arah suaminya dan kembali mengunyah makanan itu.
2 porsi ikan kakap bakar balado habis oleh Azizah sementara Steven hanya disisakan 1 itu pun tidak sepenuhnya ia habiskan.
“Kenapa tidak dihabiskan?” tanya Azizah.
“Aku sudah kenyang sayang,” ucap Steven.
Sebenarnya Steven tahu jika istrinya belum merasa kenyang karena bagaimanapun itu juga salah Steven yang tidak memesan makanan sebelum ia pergi menemui Hendrick partner kerjanya.
Tak ingin berbasa-basi lagi, Azizah langsung mencomot ikan kakap bakar balado itu.
Vote 😘😘
__ADS_1