
Seminggu sudah berlalu saat Galih meninggalkan dunia untuk selamanya.
Seminggu itu juga Mariska seperti orang mati, ia tidak pernah berbicara dengan mengeluarkan kata-kata maka dari mulutnya.
Rumah Steven sekarang tidak ada lainnya keributan yang diakibatkan oleh Mariska, hanya Farhan lah yang mengisi kekosongan rumah itu dengan tangisannya.
Kedua orangtua Steven sedang bersiap-siap untuk pergi Inggris bersama Mariska, meskipun Mariska tidak menjawab mau atau tidaknya, Adam terus kekeh dengan pendiriannya untuk mengajak keponakannya kembali ke Inggris.
“Kami berangkat ya nak, kamu jagalah istri dan cucu kesayangan mami!” pinta Yuli.
“Siap mi,” jawab Steven.
“Hubungi papi jika ada sesuatu!” pinta Adam.
“Baik Pi,” jawab Steven lagi.
Azizah mendekati Mariska yang duduk dekat jendela mobil, “Mariska, kamu harus hidup dengan penuh kebahagiaan,” bisik Azizah ditelinga adik iparnya.
Mariska hanya menoleh dan memberikan senyum tipis.
“Kami pergi, selamat tinggal,” ucap Yuli dan Adam melambaikan tangan.
“Hati-hati dijalan!” teriak Azizah pada mobil yang semakin menjauhi meninggalkan pekarangan rumah.
“Oek... oek...” Bayi Farhan menangis dengan menggerakkan tubuhnya.
Azizah mengayunkan pelan-pelan sampai akhirnya bayi mungil mereka kembali tenang.
“Sini biar aku saja yang menggendongnya sayang!”
Azizah mengangguk dan perlahan ia memberikan Farhan ke gendongan sang suami.
“Anak papah jangan nangis ya nak! Opa, Oma dan Aunty Mariska akan kembali lagi kesini menemani anak papah ini,” ucap Steven kepada bayi kecilnya.
Farhan seolah-olah mengerti dengan ucapan dari papahnya, ia pun tersenyum manis kepada Steven.
“Sayang, apakah kamu melihatnya? Bayi kita tersenyum kepadaku!” Steven benar-benar gembira ketika melihat senyum dari buah hatinya.
“Tentu saja, aku bahkan yang menyusui Farhan sering melihat ia tersenyum ke arahku,” jawab Azizah.
Steven dengan hati-hati berjalan memasuki rumah bersama istrinya, para pelayan yang berdiri di sekitar mereka terlihat sedih maklum saja, kedua orangtuanya dan juga Mariska sudah pergi meninggalkan rumah itu.
“Bi ana!” panggil Azizah.
Bi Ana yang sedang berada di dapur cepat-cepat menghampiri majikannya.
“Iya nyonya muda!” seru Bi Ana.
“Bi, tolong ambilkan kain bedong Farhan ya!” pinta Azizah kepada Bi ana dengan tersenyum manis.
“Baik nyonya muda!”
__ADS_1
Meskipun Azizah dan Steven memperkerjakan bi Ana. Tapi, hampir semua urusan bayi mereka Azizah dan Steven yang mengurusnya, sementara Bi Ana hanya membantu sedikit saja.
Itu memang sengaja dilakukan oleh suami istri itu karena permintaan Azizah yang awalnya hanya untuk mengajak bi Ana tinggal di Jakarta karena kasihan jika harus tinggal di Singapura seorang diri apalagi dengan pekerjaannya yang cukup berat.
“Anak mamah yang lucu ini jangan nakal ya nak!” Azizah mengajak bayinya berbicara.
Steven memperhatikan istrinya yang terus mengajak buah hati mereka berbicara.
Bi Ana datang dengan membawa kain bedong di tangannya.
“Nyonya muda, ini bedongnya!” seru Bi Ana sambil memberikannya kepada Azizah.
“Terima kasih ya Bi, bibi kalau belum makan langsung makan saja Bi! anggap rumah sendiri!”
“Iya nyonya muda, terima kasih banyak karena nyonya dan tuan muda begitu baik dengan saya,” ucap Bi Ana karena selama tinggal di rumah itu dirinya tidak pernah kelelahan ataupun kesusahan. Kedua majikannya begitu menghargai dirinya meskipun hanya seorang bawahan.
“Bi Ana jangan sungkan-sungkan begitu,” balas Azizah dengan sangat ramah.
Setelah itu Bi Ana permisi ke dapur.
“Sayang, aku lupa jika ada beberapa urusan di perusahaan. Kamu tidak apa-apa aku tinggal beberapa jam saja?” tanya Steven.
“Baiklah, jangan pulang terlalu sore ya suamiku. Farhan kita pasti akan merindukan papahnya!”
“Tenang sayang, aku akan menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin.”
“Lalu, jam berapa sayang berangkat ke perusahaan?”
“Mungkin setelah aku selesai mandi sayang, ayo kita kembali ke kamar!” ajak Steven.
Sesampainya di dalam kamar, Steven langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri meskipun ia sudah mandi sebelum jam 6.
Azizah meletakkan bayinya ke keranjang bayi kemudian menyiapkan jas kerja untuk suaminya yang akan pergi ke perusahaan.
Dering ponsel milik Azizah berbunyi membuat wanita satu anak itu bergegas menerima sambungan telepon.
“Assalamu'alaikum!”
“Waalaikumsalam, iya Yana ada apa?” tanya Azizah dengan nada gembira.
“Azizah, bisakah kamu membuatkan aku nasi goreng?” tanya Yana.
Azizah mengernyitkan keningnya mendengar permintaan dari sahabatnya.
“Bagaimana jika kamu mengajak suamimu kesini!”
“Ide yang bagus, baiklah aku dan suamiku akan menuju kesana 1 jam lagi!”
“Oke aku akan menunggumu mu!”
“Assalamu'alaikum Azizah!”
__ADS_1
“Waalaikumsalam Yana!”
Setelah sambungan telepon berakhir, Azizah kembali ke tugasnya sebagai istri untuk menyiapkan keperluan suaminya.
Beberapa menit kemudian.
Steven keluar dengan jubah mandi ditubuhnya. Kemudian memeluk tubuh dari belakang dan mencium tengkuk leher istrinya.
“Geli sayang,” ucap Azizah sambil sedikit menggerakkan lehernya akibat rasa geli yang dibuat oleh suaminya.
Steven melepaskan pelukan dan mengusap lembut rambut istrinya.
“Terima kasih sayang karena telah
menyiapkan keperluan ku,” ucap Steven kemudian mengecup kening Azizah mesra.
“Sudah menjadi tugasku sebagai istri suamiku tercinta, tadi Yana menghubungiku dan memintaku untuk membuatkan nasi goreng,” terang Azizah.
“Lalu bagaimana?”
“Ya aku mengatakan kepadanya agar datang kesini sekalian mengajak Mike. So, suamiku harus pulang lebih awal ya!”
“Siap istriku!”
Steven bergegas memakai pakaiannya sementara Azizah menggantung jubah mandi yang sebelumnya dipakai oleh sang suami.
30 menit kemudian.
Steven mengecup kening istrinya dan mencium pipi lembut bayi mungil yang sedang terlelap tidur di gendongan Azizah.
“Aku pergi ya sayang!”
“Iya sayangku!"
“Assalamu'alaikum sayang!”
“Waalaikumsalam hati-hati ya sayang!” seru Azizah sambil terus melambaikan tangan.
Steven melangkahkan kakinya menuju mobil dan masuk ke dalam mobil, tak lama mobil itu pergi meninggalkan pekarangan rumah.
“Papah sudah pergi nak, anak mamah yang lucu ini jangan nakal ya,” ucap Azizah kemudian kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar.
Azizah kembali meneteskan air matanya, wanita itu mengingat kembali masa-masa saat ia masih kecil hingga akhirnya bisa menikah dan memiliki anak.
Ya Allah, terima kasih atas semuanya yang telah Engkau berikan.
Hamba mohon hal-hal pahit disekitar hamba jangan pernah terjadi lagi. Berikanlah adik ipar hamba yaitu Mariska sebuah keajaiban yang luar biasa di masa depannya kelak.
Semoga dia mendapatkan pria yang benar-benar mencintainya bahkan menjaga Mariska selamanya.
__ADS_1
“Nak, perjuangan hidup itu memang sangat sulit. Mamah berharap kelak kamu menjadi pria dewasa yang sangat baik kepada semua orang dan selalu rendah hati ya nak!”
Azizah terus meneteskan air matanya dan membelai lembut pipi bayinya yang tidur nyenyak di ranjang miliknya dan juga sang suami.