
Di Jakarta
Setelah kematian putri tercintanya yaitu Azizah. Dimas memutuskan untuk menyibukkan dirinya di restoran milik sang ayahanda yaitu Sutomo Ginanjar.
Awalnya Dimas seperti orang yang tidak tahu arah, hampir setiap hari ia menangis karena belum bisa menerima kepergian bayi yang begitu imut. Namun kedua orangtuanya selalu memberi semangat dukungan dan selalu meyakinkan Dimas bahwa Azizah sudah bahagia di surga.
“Dimas tolong kamu gantikan ayah nak!” pinta Sutomo.
Sutomo biasanya jika di restoran selalu memegang bagian kasir, meski di bos disana namun tak enak rasanya jika hanya berdiam diri.
“Ayah mau kemana?” tanya Dimas.
“Ayah mau mengantarkan Ibumu ke rumah bibi Meri, anaknya baru saja menikah.”
“Ya sudah ayah pergilah, ibu pasti sudah menunggu ayah!”
Sutomo langsung bergegas pergi ke rumah menjemput sang istri, sementara Dimas langsung sigap duduk di kursi tempat pembayaran.
Sekarang semuanya sudah berakhir,
Monicha dan Azizah anakku telah pergi meninggalkan aku.
Azizah Cahyani, entah langkah apa yang harus aku ambil sekarang.
Tapi aku akan berusaha melupakan dan melepaskan mu.
Aku juga akan memutuskan untuk tidak menikah lagi dan menyimpan rapat-rapat namamu di hatiku.
“Mas saya mau bayar!” ucap seorang pelanggan yang ingin membayar makanan yang ia pesan.
Dimas yang sedang melamun langsung tersadar, ia mengangguk kecil pada pria dihadapannya, “Oke! totalnya
Rp. 65.000.”
Pria itu mengeluarkan uang dan memberikannya kepada Dimas.
Dari kejauhan dua pegawai restoran itu menatap kasihan ke arah Dimas yang sedang sibuk di meja kasir.
“Kasihan ya pak Dimas! masih muda sudah ditinggal mati sama istri dan anak,” ucap salah satu pegawai.
“Iya kamu benar, mungkin Allah punya rencana lain untuk pak Dimas. Semoga pak Dimas bisa mendapatkan wanita yang baik!”
“Iya aku dengar-dengar kalau istrinya itu seorang pelakor.”
“Sussstt! kamu jangan bicara seperti itu. Ayo kita kerja lagi!”
Kedua pegawai wanita itu lalu pergi melakukan pekerjaan mereka.
Dimas memandang layar ponselnya yang masih tertera jelas gambar diri Azizah dan dirinya waktu mereka bersama dulu, tak dapat dipungkiri meski Dimas sudah mencoba melepaskan Azizah tetap saja kenangan-kenangan indah dulu bersama Azizah tetap ia simpan secara rapi.
“Pak Dimas,” ucap salah satu pegawai restoran yang sudah berada di belakang samping Dimas.
__ADS_1
“Ada apa Yanto?” tanya Dimas.
“Sore ini kita ada pesanan catering acara anak kampus pak Dimas, tapi stok makanan sudah mulai habis sementara orang yang biasa mengantarkan sayuran serta persediaan bahan sore ini tidak datang karena sedang sakit,” jelas Yanto.
Dimas berpikir sejenak karena hari itu bukanlah pagi melainkan sudah siang dan pasar disekitar tempat mereka sudah tutup.
“Kamu ajak dua pegawai yang lain untuk pergi mencari persediaan barang, aku beri waktu 2 jam apakah cukup?”
“Saya usahakan agar cukup pak!”
“Ya sudah kamu pergi sekarang, pakai uang ini dan jangan lupa catat semua harganya!”
“Baik pak Dimas, saya permisi.”
Restoran yang dibangun oleh Sutomo memang sangat terkenal di daerah Jakarta, bahkan bisa dibilang restoran itu termasuk restoran yang paling ramai diantara restoran yang lain.
Restoran Sutomo tidak hanya satu melainkan sudah ada 3 cabang, 1 diantaranya adalah milik Dimas. Akan tetapi semenjak Azizah kecil meninggal, Dimas menutup sementara restoran itu dan membantu restoran ayahandanya.
“Dimas!” panggil seorang pria dan langsung memeluk tubuh Dimas.
“Juned?” tanya Dimas memastikan.
“Iya ini aku Juned, aku kira tadi salah orang. Kamu bekerja disini?”
“Tidak, ini restoran milik ayah ku. Ngomong-ngomong kamu sekarang tambah ganteng aja,” ucap Dimas.
“Iya dong bro! kan aku sudah ada yang mengurusi.”
“Loh udah nikah, kenapa-kenapa tidak mengundang aku?”
“Maaf-maaf, keasikan ngobrol jadi lupa.
Silahkan duduk disini!” ucap Dimas mempersilahkan teman SMA nya untuk duduk.
Juned salah satu sahabat SMA Dimas, semenjak lulus kuliah mereka tidak pernah saling menghubungi satu sama lain.
“Aku sudah menikah Dimas, istriku sekarang tengah mengandung. Kamu sudah nikah belum?” tanya Juned.
Dimas yang semula gembira karena bertemu dengan sahabat lamanya langsung merubah ekspresi wajahnya.
“Loh kamu kenapa Dimas ada yang salah dengan ucapanku?” tanya Juned keheranan.
“Istriku telah meninggal setelah melahirkan putriku,” balas Dimas.
“Sorry aku tidak tahu Dimas, sekarang anakmu dimana?”
Dimas memijat keningnya dan berusaha agar perasaannya tetap tenang.
“Anakku telah menyusul ibunya.”
“Ya ampun aku tidak tahu, sorry Dimas aku turut berdukacita.”
__ADS_1
“Terima kasih ned, lagipula ini semua udah takdir Allah buat aku. Oya kamu sekarang dimana?”
“Sekarang aku di Bandung, ke Jakarta cuma mau nengok nenek aja. Kebetulan mampir kesini buat makan malah ketemu kamu,” jelas Juned.
Dimas dan Juned berbincang-bincang sambil mengingat masa-masa indah pada saat mereka duduk di bangku SMA.
Dimas yang awalnya sedih kini mulai membaik berkat Juned,
Juned di sekolah termasuk anak yang humoris, ada-ada saja kelakuan yang diperbuat oleh Juned.
“Jadi istri kamu itu adalah Nita, cewek yang galak itu?” tanya Dimas.
“Iya yang galak itu, kerjaannya suka ngelaporin aku ke guru bimbingan konseling.”
Dimas tertawa kecil karena jodoh sahabatnya adalah Nita, yang tak lain adalah musuh bebuyutan Juned.
“Hebat kamu ned, bisa meluluhkan hati si galak,” puji Dimas sekaligus meledek.
“Ya mau bagaimana lagi, kita sekolah di kampus yang sama dan satu jurusan yang sama. Hampir setiap hari kita bertengkar dan malah sekarang menjadi suami istri,” terang Dimas.
“Sekarang Nita apa masih galak ned?”
“Nita sekarang malah seperti kucing, selalu nurut dan tidak pernah galak-galak seperti yang dulu.”😂
“Hebat kamu ned,” puji Dimas.
Dimas menghentikan perbincangan dengan Juned sejenak kalau ada pelanggan yang ingin membayar biaya makan.
Kasihan sekali kamu Dimas, istri meninggal anak pun meninggal.
Semoga kamu segera menemukan jodohmu Dimas.
“Juned kamu kenapa melamun?”
“Siapa yang melamun, Dimas sepertinya aku harus pergi sekarang. Nita di Bandung sendirian dan aku harus segera pulang!”
“Ya sudah kamu hati-hati,” ucap Dimas.
“Ini aku mau bayar makanan yang aku makan tadi,” ucap Juned sambil memberikan uang.
“Kamu apa-apaan, udah tidak usah. Bawa saja uangnya,” tolak Dimas.
“Terima kasih bro, Oya aku minta no telepon mu!”
Dimas mengangguk dan mengeluarkan ponsel miliknya, mereka lalu saling bertukar nomor telepon.
“Aku pergi ya Dimas!”
“Iya ned, lain kali main-main lah kemari dan bawa Nita beserta anakmu!”
“Oke kapan-kapan aku kesini.”
__ADS_1
Setelah kepergian Juned, Dimas langsung fokus dengan pekerjaannya.
Ia senang karena bisa bertemu dengan Juned.