Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 154


__ADS_3

“Sayang ayo foto bersama!” ajak Steven sambil mengeluarkan ponselnya.


“Baiklah!” seru Azizah.


Azizah dan Steven berfoto bersama, terlihat kebahagiaan dari keduanya.


Aku berharap kebahagiaan ini tidak pernah luntur suamiku.


“Beberapa bulan lagi anak kita lahir, aku tidak sabar ingin menggendongnya lalu kita membuat baby lebih banyak lagi,” ucap Steven.


“Apakah suamiku sekarang menjadi gila?” tanya Azizah.


“Mengapa kamu mengatakan aku gila sayang?”


“Anak kita belum lahir suamiku, lagipula setelah melahirkan aku harus menyusui,” terang Azizah.


“Baiklah, tidak masalah setelahnya kita akan punya anak yang banyak!”


“Berapa banyak?”


“10 mungkin,” jawab Steven santai.


Azizah melongo lebar mendengar suaminya mengatakan 10 anak.


“Menyebalkan!” teriak Azizah dan memukuli suaminya.


“Aw.. Aw.. sakit sayang,” ucap Steven sambil mengelus-elus bahu serta dadanya akibat pukulan dari Azizah.


“Aku akan kewalahan jika harus memiliki anak 10 sayang.”


“Baiklah setengahnya saja,” ucap Steven.


“Cih.. menyebalkan,” balas Azizah dan beranjak pergi meninggalkan suaminya.


Steven mengejar istrinya yang berlari dengan kecepatan sedang, Galih dan Mariska dari kejauhan memperhatikan suami istri itu kejar-kejaran.


Bahagianya mereka berdua.


“Jangan iri terhadap mereka, suatu saat kamu juga akan seperti mereka,” ucap Galih.


Mariska melirik tajam ke arah Galih dan berjalan meninggalkan pria itu.


Dasar cowok gila, kenapa harus dia yang menemaniku. Aku ingin malam Mingguku ini menjadi malam indah tapi, karena ada cowok gila dan aneh ini malam Mingguku menjadi tidak seru.


Galih berjalan membututi Mariska dari belakang, ia tersenyum tipis melihat kelakuan Mariska.


Steven dengan cepat memeluk Azizah.


“Sayang jangan lari-larian lagi, kamu sekarang sedang mengandung,” bisik Steven.


Azizah baru ingat bahwa dirinya sedang mengandung, “Maaf aku lupa!” ucap Azizah.


“Sayang lihat sudah jam berapa sekarang!”


“Memangnya jam berapa?”


“Sudah jam 10 malam sayang, tidak baik untuk ibu hamil keluar malam-malam seperti,” ucap Steven khawatir ditambah udara yang semakin malam semakin dingin.


“Baiklah ayo kita mampir ke rumah makan!" ajak Azizah.

__ADS_1


“Kamu mau makan lagi sayang?" tanya Steven memastikan.


“Iya sayang lapar,” ucap Azizah manja.


“Ya sudah ayo kita cari makan lagi!”


Steven merangkul pinggang Azizah dan menuntun istrinya ke arah mobil, Galih dan Mariska kompak menghampiri suami istri itu.


“Galih bukakan pintu sekarang!” perintah Steven.


“Baik tuan muda!” seru Galih dan berlari kecil ke arah mobil yang terparkir.


“Kak kita langsung pulang apa makan terlebih dahulu?" tanya Mariska.


“Makan dulu,” balas Steven.


“Horeee!” seru Mariska semangat.


Azizah tertawa kecil melihat kelakuan Mariska yang begitu semangat.


Galih membukakan pintu untuk majikannya itu, Azizah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil disusul pula oleh Steven.


Di dalam mobil Steven mendekat ke arah istrinya dan mengelus-elus perut Azizah, “Jangan nakal ya sayang," ucap Steven berbicara kepada janin yang dikandung oleh Azizah.


“Aku tidak nak kok papah!” seru Azizah dengan menirukan suara anak kecil.


“Papah? berarti anak kita akan memanggil kita papah dan mamah?” tanya Steven.


“Bagaimana menurutmu sayang, cocok tidak?”


“Sangat cocok!” seru Steven.


“Cari rumah makan masakan Padang ya Galih!” pinta Azizah.


“Baiklah nyonya muda!” seru Galih.


Galih menyalakan mesin mobil dan mulai mengendarai mobil menuju rumah makan masakan Padang, suasana Magetan malam itu cukup ramai ya mungkin karena malam itu adalah malam Minggu.


Banyak muda mudi yang duduk di warung lesehan, Azizah sangat senang akhirnya ia bisa menikmati malam Minggu bersama suaminya yang tidak pernah ia rasakan saat belum menikah, karena Steven lebih senang makan malam romantis di restoran itu pun kebanyakan sudah dibooking oleh pria blasteran itu.


Tibalah mereka di rumah masakan Padang.


Azizah turun dari mobil dan tergesa-gesa untuk memesan makanan, Steven dengan sabar menjaga istrinya yang begitu bersemangat.


“Selamat datang, mau pesan apa mbak?” tanya seorang pria dengan seragam berwarna biru.


“Mas saya pesan ayam bakar, ati ampela, sambal udang balado dan telur dadar ya!” pinta Azizah.


Steven, Mariska dan Galih melongo mendengar Azizah memesan begitu banyak menu makanan.


“Sayang itu kamu memesan untuk kami atau...”


“Untuklah sayang,” potong Azizah an berjalan meninggalkan mereka bertiga lalu memilih tempat duduk yang berada di pojok.


Wanita yang sedang hamil sangat sulit ditebak, bahkan porsi makan saja begitu banyak.


“Kalian duduklah dahulu!” perintah Steven pada Mariska dan juga Galih.


“Iya kak!” seru Mariska.

__ADS_1


“Baik tuan muda!” seru Galih.


Galih sebelumnya tak pernah mengajak bawahannya makan bersama kecuali dengan Heru, itu dikarenakan Heru telah bekerja sangat lama sejak Steven masih remaja hingga umurnya yang hampir mencapai kepala tiga.


“Ayam bakar 3 porsi, teh hangat 4 dan sambal udang balado 3 porsi!” pinta Steven.


“Baik mister!” sahut pegawai rumah makan.


Orang-orang selalu memanggil Steven dengan sebutan mister atau di bahasa Indonesia kan artinya tuan, kalian tahu lah kenapa, yups.. karena Steven adalah seorang blasteran.


Steven duduk berdekatan dengan Azizah, sementara Galih dan Mariska memisah tidak duduk di satu meja.


Suasana rumah makan itu terlihat sangat sepi, wajarlah karena itu posisinya sudah malam dan kebanyakan dari muda mudi lebih memilih nongkrong bersama teman-teman di sekitar pinggir jalan sambil menikmati segelas kopi.


“Sayang!” panggil Steven.


“Iya sayang kenapa?” tanya Azizah.


“Kamu yakin makan dengan semua pesanan kamu tadi sayang?” tanya Steven memastikan.


“Yakin sayang, aku rasanya ingin makan banyak!” seru Azizah.


“Ya sudah kalau tidak habis tidak apa-apa,” ucap Steven.


“Ya harus habis dong sayang,” cetus Azizah.


“Iya-iya.”


Azizah melirik ke arah Galih kemudian ke arah Mariska, Azizah terheran-heran karena mereka duduk memisah.


“Hei kalian berdua apakah sedang musuhan?” tanya Azizah.


“Tidak!” seru Mariska dengan tatapan tajam ke arah Galih.


Mendapat tatapan tajam dari Mariska, Galih hanya tersenyum dan mengabaikan tatapan itu.


“Lalu kenapa duduk kalian memisah?” tanya Azizah.


Steven bersikap acuh tak acuh, ia hanya fokus kepada perut istrinya sambil terus mengelus-elus.


“Disini karena ada kipas angin kak,” balas Mariska dan berpura-pura kegerahan.


“Baiklah,” ucap Azizah.


Akhirnya makanan yang mereka pesan tiba juga, Azizah begitu bahagia dengan hidangan yang berada di hadapannya.


“Selamat makan!” ucap Azizah kemudian berdoa dan menikmati makan malamnya.


Steven menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan mulai menikmati malam malam bersama istrinya, Azizah begitu semangat melahap makanannya membuat Steven hanya bisa geleng-geleng kepala dengan nafsu makan istrinya.


Mariska dengan semangatnya menikmati makanan Padang tersebut.


Enak sekali, kak Azizah benar-benar terbaik.


“Pelan-pelan sayang makannya!" pinta Steven karena takut istrinya tersedak makanan.


“Iya sayang!” seru Azizah.


Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏

__ADS_1


__ADS_2