
Yana kesal dengan sikap Danu maupun Rika yang acuh tak acuh terhadap dirinya.
ia merasa tidak dianggap sebagai seorang anak.
Danu yaitu Ayah Yana sangat sibuk dengan pekerjaannya.
sementara Rika sibuk dengan masalah percintaannya.
hanya mbok parti pengasuhnya sedari kecil yang perduli padanya.
nenek maupun kakek dari kedua orangtuanya sudah lama meninggal dunia.
“Yana kesal mbok sama mami dan papi, sebenarnya Yana ini anak kandung mereka bukan? kenapa mereka sibuk sendiri. ulang tahun Yana sebentar lagi seharusnya mereka ada di sisi Yana mbok,” omel Yana pada parti.
“Mbok tahu bagaimana perasaan non Yana, tapi non tidak boleh sedih. non harus tunjukkan kalau non bisa. dan ulang tahun non Yana bisa dirayakan bersama mbok, pak Paijo dan teman-teman non Yana,” hibur parti.
“Mbok benar, kenapa Yana tidak memikirkan hal itu,” ucap Yana semangat.
“Hehe.. mbok parti gitu lho,” ujar Parti sok keren.
“Apaan sih mbok hihi,” balas Yana ceria sambil tertawa kecil.
“Mbok kebelakang dulu ya non, tadi mbok masak Sup sea food kesukaan non Yana.”
“Asyik, mbok memang is the best.”
“Kalau begitu mbok permisi dulu non.”
Parti pun bergegas mengambil sup sea food kesukaan Yana.
ia sangat senang melayani Yana, Yana sudah dianggap seperti cucunya sendiri.
Parti adalah wanita sebatang kara. saat Yana masih bayi Danu dan Rika mempekerjakan Parti bahkan sampai saat ini.
“Ini non silahkan dinikmati,” ucap parti sambil memberikan semangkuk sup.
“Terima kasih mbok, mbok temani Yana makan ya!” pinta Yana.
"Iya non, mbok duduk disini.”
“Mbok suapi Yana ya!” pinta Yana manja.
“Oke non, sini mbok suapkan.”
Parti menyuapi Yana sedikit demi sedikit sampai habis.
selesai makan Yana bergegas tidur.
Di Sekolah.
“Selamat pagi Yana!” sapa Azizah semangat.
“Selamat pagi juga Azizah,” jawab Yana lesu.
“Kamu kenapa Yana? tidak biasanya kamu murung seperti ini,” ucap Azizah khawatir.
“Aku tidak apa-apa, Azizah apakah kamu dan orang tuamu sangat dekat?” tanya Yana Penasaran.
“Orang tuaku sudah meninggal sekitar 5 bulan yang lalu,” ucap Azizah dengan air mata yang mulai basah.
“Ya ampun Azizah maafkan aku, aku tidak tahu sama sekali kamu jangan menangis,” ucap Yana yang ikut menangis juga.
“Kamu tidak salah Yana, kamu juga kenapa jadi ikut-ikutan menangis,” balas Azizah yang kemudian menghapus air mata Yana.
“Lalu yang biasa menjemput kamu pakai sepeda itu siapa Azizah?” tanya Yana lirih.
__ADS_1
“Itu Tanteku, adik ibu kandungku, dia sudah seperti ibuku sendiri,” ucap Azizah jujur.
“Apakah Tante mu baik?”
“Bu Darmi begitu baik kepadaku, aku beruntung memiliki Bu Darmi,” ucap Azizah tulus.
"Syukurlah Azizah.”
“Lalu bagaimana dengan orang tuamu Yana?”
“Orang tuaku sudah lama bercerai, saat usiaku 7 tahun dulu aku belum mengerti arti dari perceraian yang aku tahu bahwa mami dan papi tidak tinggal serumah lagi,” jelas Yana sedih.
“Bagaimana pun mereka tetaplah orang tuamu Yana, kamu beruntung masih bisa melihat mereka,” ucap Azizah menenangkan hati Yana.
“Terima kasih Azizah, kamu memang sahabat pengertian,” ujar Yana.
Usai berbincang-bincang mereka masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran, anak-anak yang sebelumnya tidak menyukai Azizah akhirnya mulai bersikap seperti biasa.
ada pula yang berteman dengan Azizah.
Azizah maupun Yana mereka saling melengkapi satu sama lain.
“Yuk Azizah temani aku ke kantin, kita sarapan bersama!” Ajak Yana.
“Tapi Azizah....” ucap Azizah belum selesai bicara ucapannya sudah dipotong oleh Yana.
“Tidak ada tapi-tapi an Azizah, ingat aku paling tidak suka ditolak. aku makan sendirian di kantin juga rasanya tidak enak tidak ada kawan untuk mengobrol. kalau ada kamu kan kita bisa mengobrol bersama Azizah,” terang Yana panjang lebar.
“Baiklah aku ikut kamu,” balas Azizah.
“Terima kasih sahabatku, kamu makan yang banyak ya aku yang traktir oke!” seru Yana bersemangat.
“Aku ikut kamu saja Yana,” balas Azizah.
Sesampainya di kantin.
“Apa tidak kebanyakan Yana?” tanya Azizah heran.
“Kebanyakan bagaimana Azizah, bagiku ini kurang hehe,” ucap Yana dengan senyum semanis madu.
~~
“Ini mbak pesanannya, apa ada lagi?” tanya Dani.
“Sepertinya sudah cukup pak, terima kasih,” balas Yana ramah.
“Terima kasih Yana, lain kali aku yang akan traktir kamu makan,” ucap Azizah serius.
“Oke aku tunggu traktir makan dari mu,” balas Yana.
20 menit kemudian.
“Akhirnya selesai juga kita makan, lihat perutku sebesar ini,” tunjuk Yana pada perutnya.
“Kamu memesan terlalu banyak Yana, hati-hati badanmu menjadi gemuk,” ucap Azizah usil.
“Amit-amit jabang bayi, aku tidak ingin menjadi gemuk Azizah, menjadi gemuk itu susah luar biasa. bayangkan saja saat berjalan menaiki tangga ataupun turun tangga belum sampai tujuan sudah kehabisan nafas duluan,” oceh Yana.
“Aku bercanda Yana, sebelumnya terima kasih,” ucap Azizah.
“Ya sudah berhubung kita sudah selesai makan sekarang kita cus kembali ke kelas tercinta kita,” sambung Azizah lagi.
“Ya ampun sampai lupa, kamu tunggu disini sebentar aku mau ke kasir membayar makanan kita,” ucap yang kemudian pergi menuju kasir.
Selesai membayar, mereka kemudian menuju kelas. sesampainya di kelas mereka bersantai sedari menunggu Pak Zainal yaitu Guru olahraga.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
“Selamat pagi menjelang siang anak-anak, hari ini pelajaran kita tentang permainan bola basket, saya harap anak-anak membawa buku latihan. hari ini kita belajar di dalam kelas untuk mencatat kalian mengerti!!” terang Zainal.
“Mengerti Pak!” sahut para murid.
“Baik kalau begitu, buka buku paket halaman 98 tulis bab 1 sampai bab 2 sebelum istirahat ke dua saya harap kalian sudah selesai,” jelas Zainal panjang lebar.
“Baik Pak,” sahut mereka lagi.
Suasana belajar dan mengajar berlangsung dengan tenang, tidak ada satupun murid yang membuat gaduh. Zainal adalah guru yang memiliki sifat tegas. ia tidak segan-segan menghukum anak-anak yang di nilai nakal oleh Zainal. oleh karena itu anak-anak selalu patuh kepada Zainal.
“Oke, 10 menit lagi waktu istirahat, yang sudah selesai mencatat silahkan dikumpulkan di meja depan!” peritah Zainal.
Satu persatu anak-anak mengumpulkan buku catatan mereka.
“Waktunya habis, dan kalian tepat waktu kalau begitu silahkan istirahat dan ingat jangan makan sembarangan karena kalau sudah masuk ke perut bisa menyebabkan diare!” Pesan Zainal pada murid
“Baik pak, terima kasih nasehatnya,” ucap anak-anak serempak.
Anak-anak lalu beristirahat, ada yang dikelas atau pun sekedar duduk di depan kelas. istirahat ke dua kebanyakan dari mereka sudah habis uang saku sekolah.
“Yana, Azizah aku boleh gabung duduk bersama kalian?” tanya meli.
“Silahkan!” ucap Azizah ramah.
Namun tidak dengan Yana, Yana hanya diam membisu.
“Cuaca hari ini mendung ya,” ucap meli basa-basi.
“Iya mendung, tapi sepertinya tidak hujan,” balas Azizah.
“Azizah temani aku ke kantin yuk! aku haus,” ajak Yana lalu menarik lengan Azizah meninggalkan Meli.
Meli paham betul dengan sikap Yana, ia dan Yana pernah 1 sekolah saat di sekolah dasar dulu.
“Kenapa meli tidak di ajak juga Yana?” tanya Azizah heran.
“Tidak apa-apa lagian aku tidak terlalu suka dengan dia,” ketus Yana.
“Tidak suka kenapa?” tanya Azizah lagi.
“Dulu saat SD ia pernah mencuri jepit rambut ku, padahal itu pemberian dari Mami,” ucap Yana mengingat kejadian dulu.
“Kejadian itu tidak perlu diingat lagi, lagian kamu kan bisa meminta Mami mu membelikannya lagi,” terang Azizah.
“Ya ampun Azizah, kenapa aku tidak berpikir seperti itu,” ucap Yana polos.
“Ya sudah ayo ke kantin tadi kamu bilang haus!” Ajak Azizah.
Mereka kemudian pergi ke kantin.
kring..kring..kring.. suara bel Masuk.
Azizah dan Yana bergegas masuk kelas.
jam belajar pun dimulai.
“Mohon kepada Azizah Cahyani untuk segera datang ke ruang guru.” Suara dari speaker yang terpajang di atas tembok kelas.
Azizah yang mendengar namanya dipanggil bergegas ke ruang guru, ia berjalan tergesa-gesa.
hayo kira-kira Azizah kenapa ya guys!!! dipanggil ke ruang guru ada yang bisa tebak?
Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏😭
__ADS_1
Tambahkan favorit ❤️