
Sore hari.
Azizah dan Steven sedang melakukan perjalanan menuju panti jompo milik Nyami, selalu mengunjungi panti jompo suami istri itu juga membawa beberapa kebutuhan untuk manula seperti popok khusus manula, susu penguat tulang dan pakaian yang sangat cocok untuk dipakai para manula apalagi saat waktu malam.
“Sayang apakah kamu menyukai tas merk Chan*** ini?” tanya Steven sambil melihatkan gambar di ponsel miliknya.
Azizah pun menoleh dan menggelengkan kepalanya, “Koleksi tas milikku sudah sangat banyak sayang, daripada uangnya dibelikan tas bermerk terkenal lebih baik uangnya diberikan kepada orang yang membutuhkan,” balas Azizah.
“Apa salahnya memanjakan istri sendiri?”
“Tidak salah sayang justru sangat bagus. Tapi, aku lebih suka kamu menghabiskan waktu bersama ku daripada membeli barang-barang mahal seperti itu.”
“Istriku memang beda dari yang lain,” ucap Steven.
Akhirnya mereka tiba di panti jompo, Azizah dengan cepat turun tidak sabar menemui Nyami. Steven tak kalah cepat menahan Azizah yang begitu terburu-buru.
“Sayang anak kita,” ucap Steven.
“Upsss.. maaf lupa,” balas Azizah dengan tersenyum lebar.
“Ayo kita pergi menghampiri Bu Nyami!” ajak Steven.
Bu Nyami yang sedang menyapu lantai begitu senang melihat suami istri yang sangat berjasa membangun panti jompo miliknya.
“Assalamualaikum!” ucap Azizah dan Steven.
“Waalaikumsalam, mari masuk!” ajak Nyami mempersilahkan pasangan suami istri itu untuk masuk.
Mereka bertiga berbincang-bincang mengenai banyak hal terutama tentang panti jompo, Nyami begitu senang karena Azizah dan Steven selalu membantunya.
“Kami ada sedikit hadiah untuk para manula Bu Nyami,” ucap Azizah.
“Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi karena kebaikan hati kalian, saya hanya bisa berdoa semoga Allah yang membalas kebaikan kalian ini!”
“Amin Yarobbal'alamin!” seru Azizah dan Steven.
Galih datang dengan membawa beberapa kardus kemudian ia pergi menuju mobil lalu membawa lagi beberapa kardus.
“Silahkan di terima Bu Nyami!” ucap Azizah dan Steven.
“Alhamdulillah terima kasih banyak!” ucap Nyami.
Cukup lama mereka berbincang-bincang akhirnya Steven memutuskan untuk kembali.
“Berhubung sudah sore saya dan istri saya pamit Bu,” ucap Steven.
“Iya nak, sekali lagi terima kasih atas bantuan kalian!”
Azizah dan Steven kemudian pamit untuk pulang, sesampainya di mobil. Azizah merasakan nyeri di perutnya.
“Sayang perutku sakit,” ucap Azizah sambil menyentuh perutnya.
Steven langsung panik, “Galih cepat cari rumah sakit terdekat!” perintah Steven.
“Ba..baik tuan muda!” seru Galih panik.
__ADS_1
“Awww.. sakit sayang,” ucap Azizah seketika wajah Azizah memucat.
“Cepat Galih!” perintah Steven.
“Baik tuan muda!”
“Kamu tahan ya sayang, sebentar lagi kita akan sampai,” ucap Steven menenangkan sang istri.
Ya Allah perut hamba sangat sakit sekali, lindungilah anak hamba ya Allah..
Beberapa menit kemudian.
Sampai mereka di rumah sakit.
Steven dengan perlahan menggendong tubuh Azizah menuju ruang rawat.
“Cepat periksa istri saya!” perintah Steven yang sudah bercucuran keringat.
“Silahkan masuk ke dalam!” seru seorang perawat.
“Sayang kamu yang tenang ya!” pinta Steven pada Istrinya agar tenang padahal ia pun begitu panik melihat kondisi Azizah yang tiba-tiba mengalami kesakitan.
Steven meletakkan tubuh Azizah di ranjang pasien dengan perlahan.
“Mohon tunggu di luar tuan!”
Steven terpaksa meninggalkan Azizah yang terlihat kesakitan di dalam ruangan itu, nampak wajah Steven yang begitu panik sekaligus sedih.
Galih yang berada di dalam mobil dengan segera menghubungi Adam Walker karena ia tahu bahwa majikannya itu begitu sedih.
1 jam kemudian.
“Mami dan papi kenapa bisa kesini?” tanya Steven.
“Galih yang menghubungi papi, bagaimana keadaan menantu kami sekarang?” tanya Adam.
“Iya nak, bagaimana keadaan Azizah?” tanya Yuli khawatir.
“Steven juga belum tahu, sudah 1 jam dokter belum juga keluar dari ruangan Azizah,” terang Steven.
“Ceklek.” Suara pintu terbuka.
“Tuan Steven!” panggil dokter wanita.
“Iya saya sendiri dok!”
“Bisa bicara sebentar ke ruangan sayang?”
“Baik dok.”
Dokter wanita itu berjalan terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Steven.
“Silahkan duduk Tuan!” ucap sang dokter mempersilahkan Steven duduk.
Steven pun duduk dengan wajah ke khawatiran.
__ADS_1
“Anda siap mendengarkan apa yang akan saya katakan?” tanya sang dokter.
Ke khawatiran Steven bertambah saat dokter itu mengatakan yang membuat hati Steven begitu ketakutan.
“Ceritakan saja dok apa yang sebenarnya terjadi!”
“Kandungan istri tuan sangatlah lemah, saya berharap untuk beberapa istri anda jangan melakukan aktivitas yang berat dan untuk sementara waktu anda harus berpuasa tuan,” terang sang dokter.
“Jadi ada kemungkinan istri saya bisa...”
“Ya benar sekali, jadi untuk itu untuk sementara waktu istri anda harus beristirahat dan tidak boleh banyak bergerak.”
“Ba..baik dok!”
Dokter wanita itu memberikan banyak sekali penjelasan tentang seputar kehamilan Azizah, Steven pun mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh sang dokter.
Beberapa saat kemudian.
Steven dengan cepat menghampiri Azizah yang berada di ruang pasien.
“Sayang!” panggil Steven dan mengecup kening Azizah.
“Bagaimana anak kita sayang?” tanya Azizah dengan nada tak berdaya.
“Anak kita baik-baik saja sayang, kamu sekarang yang tenang ya sayang!” pinta Steven.
“Iya sayang,” balas Azizah.
Adam dan Yuli yang baru saja mengurusi administrasi langsung mendatangi menantu mereka yang terkapar di ranjang rumah sakit.
“Bagaimana keadaan kamu nak?” tanya Yuli.
“Azizah pusing sekali mi,” balas Azizah.
“Baiklah kamu jangan banyak berpikir ya nak!” pinta Yuli.
“Sayang aku ingin pulang, aku tidak mau di rumah sakit!” pinta Azizah agar ia segera pulang dan tak mau berlama-lama di rumah sakit.
“Iya kita pulang sayang, sebentar lagi kita pulang kok,” balas Steven.
Dokter datang untuk memeriksa kondisi Azizah, kemudian membantu kepulangan Azizah yang tidak ingin berlama-lama di rumah sakit.
***
Akhirnya sampailah mereka dirumah.
Azizah sudah tertidur pulas di kamar dengan selang infus yang menancap ditangan kirinya.
Cepat sembuh ya sayang, aku tahu kamu begitu kelelahan karena akhir-akhir kamu sering bolak balik perusahaan ditambah aku selalu meminta jatah kepadamu.
Steven mengelus-elus perut Azizah yang semakin membesar.
“Maafkan papah ya nak karena membuatmu mamah mu sakit, papah bersalah dengan mamah dan juga dengan kamu,” ucap Steven pada calon bayinya yang sedang di kandung oleh Azizah.
Seolah mendengar apa yang dikatakan oleh sang ayah, bayi yang berada di dalam perut Azizah bergerak-gerak.
__ADS_1
“Kamu mau memaafkan papah kan nak?” tanya Steven dan calon bayinya bergerak lagi.
Sebentar lagi kamu akan melihat dunia ini anakku, papah tidak sabar ingin bertemu kamu. Sekarang kamu harus kuat di dalam perut mamah mu yang cantik ini agar mamah mu tidak merasakan sakit lagi.