Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 202


__ADS_3

Mike dan Yana datang dengan begitu panik.


Terlihat jelas air mata Yana yang terus mengalir.


“Bagaimana dengan keadaan Azizah?” tanya Yana.


“Iya Steven, mereka sekarang bagaimana keadaannya?” tanya Mike yang juga khawatir.


Steven tak menjawab pertanyaan dari sahabatnya, ia malah menunduk lesu dengan keadaan yang sangat berantakan.


Yuli mendekati Yana dan menjelaskan keadaan sahabatnya.


“Brukkk!” Yana terjatuh tak sadarkan, Mike langsung panik dan mengangkat tubuh istrinya yang sedang hamil.


“Mike cepat bawa istrimu ke ruang pasien!” perintah Yuli yang panik.


Mike dengan cepat membawa istrinya yang tak sadarkan diri untuk di tangani oleh perawat rumah sakit.


*


Kini Mike duduk berkumpul bersama Steven dan kedua orangtuanya Steven di jejeran kursi tunggu.


Pria bule itu tidak bisa mengucapkan sepatah katapun kepada Steven yang duduk tepat disampingnya. Tiba-tiba ia teringat kejadian dimana ia tak sengaja menabrak seorang gadis yang ternyata adalah wanita yang dicintai oleh sahabatnya.


“Mike, kamu sebaiknya temani istrimu saja. Istrimu pasti membutuhkan kamu,” ucap Yuli.


“Aku permisi dulu,” balas Mike dan pergi ke ruangan Yana.


Steven masih saja menangis.


Ia masih tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya mengorbankan calon bayi dia dan juga sang istri.


Anakku sayang..


Maafkan papah. Ya Allah selamatkan lah mereka bertiga.


“Aaaaaaaa!” Steven berteriak dan memukul tembok dengan sangat keras bahkan tangannya sampai berlumuran darah.


“Tenang nak!” Adam dan Yuli panik berusaha menenangkan putra mereka.


“Bagaimana aku bisa tenang Mi, mereka sekarang sedang berjuang melawan maut. Semua ini gara-gara jal*ng tidak tahu diri itu!” Steven berteriak dengan sangat keras.


Para perawat yang mendengar teriakkan dari Steven tak bisa meneguk karena mereka tahu bahwa hal seperti itu akan membuat pria blasteran itu bertambah marah.


Beberapa perawat terlihat berlarian dan masuk ke ruang operasi Azizah.


“Maaf suster, ini ada apa?” tanya Yuli mencegah seorang perawat yang ingin masuk kedalam ruang operasi.


“Maaf nyonya saya harus buru-buru masuk, pasien keadaannya tiba-tiba menurun,” ucap wanita itu dan segera masuk ke dalam.


Deg!


Bak disambar petir di siang bolong, tubuh Steven rasanya mati rasanya.


Perasaannya saat itu benar-benar terkejut sekaligus marah.

__ADS_1


Steven dengan cepat berlari ke arah bahkan menggedor-gedor pintu ruang operasi.


“Buka! cepat buka!” teriak Steven.


Adam dan Yuli mencoba menenangkan Steven. Namun, bukannya tenang Steven malah semakin menggila.


“Buka pintunya sekarang! biarkan aku berada disisi istriku!” teriak Steven lagi.


Di dalam ruang operasi.


“Bagaimana dok?” tanya salah satu suster karena pintu masuk berulang kali di gedor oleh pria blasteran yang tak lain suami dari Azizah.


Dokter tidak ingin operasinya gagal, ia pun mengizinkan Steven untuk masuk dengan syarat bisa menahan emosinya.


“Biarkan dia masuk!”


“Baik dokter!”


Steven langsung masuk saat pintu itu terbuka.


Ia menghentikan langkahnya saat melihat istrinya yang sedang berjuang melawan kematian.


“Istriku,” ucap Steven dan terkulai lemas dilantai.


“Tolong tuan Steven tenang!” pinta dokter.


Ya Allah selamatkan lah istri dan anak kami.


Jangan ada yang pergi meninggalkan hamba ya Allah.


Di dalam ruang operasi para tenaga medis tiba-tiba panik saat detak jantung Azizah melemah, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menstabilkan detak jantung dari sang ibu yang tengah mengandung.


***


Adam dan Yuli memutuskan untuk sholat bersama, mereka berharap agar semuanya baik-baik saja dan operasi berjalan dengan lancar.


Langkah mereka semakin cepat saat tiba di mushola dalam rumah sakit. Mereka kemudian mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan sholat.


20 menit kemudian.


Mereka berdua telah selesai melaksanakan sholat bahkan telah mengadukan apa yang mereka inginkan kepada Sang Pencipta.


Mulut Yuli tak henti-hentinya berdzikir kepada Allah.


“Ayo mi kita kembali!” ajak Adam.


*


Di ruang operasi.


Akhirnya detak jantung Azizah stabil, sang dokter dan rekan yang lain mulai melakukan operasi untuk pengangkatan sang bayi, Steven berusaha tenang di samping istrinya.


Ia berulang kali membisikkan kata-kata semangat untuk istri tercintanya.


“Aku tahu kamu wanita kuat sayang. Aku bersamamu sayangku, aku selalu bersamamu dan akan terus bersamamu. Kamu adalah cintaku dan penyemangat hidupku.” Steven membisikkan kata-kata tersebut dengan derai air mata yang tak henti-hentinya mengalir.

__ADS_1


“Ayo sayang, kamu bisa! Bukankah istriku ini adalah wanita yang paling kuat? Aku ingin mendengar kamu mengatakan bahwa aku adalah suami mesum sayang. Berjuanglah untuk cinta kita berdua.”


Steven menggenggam tangan sang istri dan mengecup pipi Azizah. Air mata Azizah tiba-tiba keluar seolah ia mendengar semua yang dikatakan oleh suaminya meskipun ia sedang tidak sadarkan diri.


Dokter mengangkat tubuh bayi mungil berjenis kelamin laki-laki di rahim Azizah.


“Anakku,” ucap Steven ketika melihat bayi mungil itu keluar dari rahim sang istri.


Bayi itu kemudian ditangani oleh perawat untuk dibersihkan.


“Maaf tuan Steven, anak anda tidak bisa diselamatkan,” ucap sang dokter.


Deg!


Lagi-lagi perasaan Steven bak di sambar petir, bayi ia dan sang istri benar-benar meninggalkan mereka untuk selamanya.


“Tidak! ini tidak mungkin!” teriak Steven.


“Tuan Steven, tolong anda tenanglah,” ucap mereka menenangkan Steven bahkan ada yang mendekati tubuh Steven dan mengusap punggung pria blasteran itu.


“Aku adalah orang tua dari bayi itu, biarkanlah aku menggendongnya!” pinta Steven memohon.


Sang perawat menatap ke arah dokter untuk meminta persetujuan. Mendapat tatapan itu sang dokter mengangguk kecil.


“Baik tuan, silahkan,” ucap perawat dan memberikannya kepada Steven.


Steven mulai menggendong tubuh mungil bayinya, seluruh tubuhnya gemetar tak kuasa menahan kesedihannya yang teramat dalam.


Air mata Steven bahkan menetes membasahi tubuh bayinya, perlahan Steven mencium pipi halus sehalus kapas bayinya.


“Nak, ini papah kamu nak. Lihat wanita cantik itu yang sedang tertidur! Itu adalah mamah mu nak.” Steven mengajak bayi mungil itu berbicara.


Tenaga medis yang melihat Steven berbicara dengan bayi mungil itu, tak kuasa menahan air matanya mereka. Mereka pun ikut menangis melihat pria yang sedang memeluk bayi yang tak bernyawa.


“Ayo nak! kamu harus bangun jangan tidur seperti ini. Papah dan mamah mu akan memberikan warna-warni kehidupan yang indah untukmu nak!” Steven terus mengajak bayinya berbicara.


Seorang ayah pasti akan terpukul ketika kehilangan anak yang sangat mereka nanti-nantikan, Steven berulang kali mencium pipi bayi berjenis kelamin laki-laki itu.


Ia belum terima atas kepergian bayi ia dan juga Azizah.


“Kamu keluar dan beritahu keluarga tuan Steven!” perintah dokter.


“Baik dokter!”


Perawat itu menghapus air matanya dan bergegas keluar untuk memberitahukan hasil operasi.


“Bagaimana keadaan menantu dan cucu kami sus?” tanya Yuli ketika melihat seorang perawat keluar dari ruang operasi.


“Mohon anda ikhlaskan kepergian cucu kalian nyonya.”


Yuli terjatuh di lantai dengan cepat sang suami membopong tubuh istrinya.


“Putra kita dan menantu kita pasti sangat sedih Pi,” ucap Yuli yang terus mengeluarkan air mata.


Adam tak bisa berkata apa-apa lagi, pria itu terus memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


__ADS_2