
Sudah hampir 1 bulan Azizah tinggal di Apartemen mewah itu, ia bahkan terlihat mulai bosan.
Selama hampir 1 bulan itu juga Dimas tak pernah memberi kabar kepadanya. Sehingga membuat Azizah ragu dengan hubungan mereka, Sementara Steven sudah 2 Minggu ini tidak pernah ke Apartemen dikarenakan pergi ke Inggris menemui Neneknya yang sakit.
"Nona!!" Panggil Indah.
"Lagi mikirin Tuan Muda ya!!" Tebak Indah.
"Bukan Mbak, aku cuma bosan tinggal disini" Sahut Azizah.
"Mbak Indah temani aku ke bawah ya, sepertinya taman di bawah sangat cantik" Pinta Azizah dan diangguki oleh Indah.
Disisi lain.
Kediaman Bima Nasution.
"Monicha aku sebaiknya pulang, aku takut orang tuamu akan kembali" Ucap Dimas.
"Kamu kenapa takut begitu, biarkan saja mereka kembali. Aku masih ingin bersama denganmu" Sahut Monicha manja.
Dimas tidak bisa menolak keinginan Monicha, bagaimanapun ia pria normal.
Monicha begitu Agresif, ia sangat tidak ingin jauh-jauh dari Dimas.
"Sayang!" Panggil Monicha manja.
"Ada apa?" Tanya Dimas.
"Kapan kita menikah?" Tanya Monicha yang tidur beralaskan dada Dimas.
Dimas tidak menjawab, setiap kali bersama Monicha. Monicha selalu menanyakan pertanyaan itu, Dimas sebenarnya tidak mencintai Monicha ia mendekati Monicha hanya karena nafsu tidak lebih dari itu.
"Dimas sayang!!" Panggil Monicha lagi dengan nada yang begitu mesra.
"Aku merasa gerah, sebaiknya aku segera mandi" Ucap Dimas lalu berjalan ke kamar mandi tanpa memakai sehelai kain pun.
"Sial, kenapa lagi-lagi Dimas tak menjawab tiap kali aku bertanya soal pernikahan. Seharusnya dia menjawabnya, apa tidak cukup perjuanganku selama ini untuk mendapatkan kamu?".
Monicha lalu berlari menghampiri Dimas yang sedang mandi dan kebetulan kamar mandi tidak terkunci sehingga Monicha bebas menyelinap masuk.
****
Azizah sudah mulai membaik dengan menikmati pemandangan sore di taman lingkungan Apartemen, Indah dengan setianya tetap mendorong kursi roda milik Azizah.
Semenjak Steven pergi ke Inggris, Indah dengan senang hati mengalah tidur di Apartemen menemani Azizah.
Itupun dengan tawaran gaji yang cukup banyak.
"Mbak Indah sudah memiliki kekasih?" Tanya Azizah penasaran memecahkan keheningan sore itu.
"Sudah Nona" Sahut Indah malu-malu.
"Kalau Mbak Indah disini terus, apa kekasih Mbak tidak mencari Mbak Indah?" Tanya Azizah penasaran, ia ingin tahu apakah setiap pria selalu hilang kabar jika mereka tak bertemu.
"Kalau pacar saya itu sukanya menghantui saya Nona" Sahut Indah sambil tetap mendorong kursi roda.
"Bisa kamu ceritakan tentang hubungan kalian?" Tanya Azizah penasaran.
"Bisa Nona, jadi begini. Saya dan pacar saya itu bertemu pas dia jadi sopir online kebetulan saya adalah pelanggannya, kami waktu pertama kali bertemu ngobrol-ngobrol gitu nona. Terus sekitar 2 bulan kedekatan kami, dia langsung nembak saya ya saya terima aja orang di baik sama saya. Terus semakin kesini dan kesini dia selalu overprotektif tapi tidak yang berlebihan seperti hubungan yang lain. Dan 1 jam sekali dia pasti nelpon saya" Celoteh Indah semangat.
__ADS_1
"Jadi Mbak sering alasan mau ke kamar mandi itu karena menerima telepon dan pacar Mbak?" Tanya Azizah memastikan.
"He..he.. Iya Nona, tapi jangan bilang sama Tuan Muda ya! saya takut" Ucap Indah.
"Mbak tenang saja" Sahut Azizah.
Merasa cukup mencari udara segar di taman, mereka pun mengakhiri jalan-jalan di sore hari itu. Mereka bergegas menuju Apartemen.
"Nona Azizah makan ya!!" Ucap Indah yang sibuk menata piring dimeja.
"Baiklah, Mbak juga harus makan bareng aku" Sahut Azizah dan diangguki oleh Indah.
"Tidak biasanya asin, Mbak Indah mau nikah ya?" Tanya Azizah yang mencicipi masakan Indah.
Indah dengan malu-malu mengangguk kepalanya pelan, ia begitu terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Azizah.
"Kapan Mbak? ketahuan deh sama aku".
"3 Bulan lagi Nona, habis kontrak kerja sama Tuan Muda Steven" Ucap Indah jujur dengan malu-malu.
"Wah, selamat ya Mbak. semoga lancar sampai hari H dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah" Ucap Azizah memberi selamat.
"Amin, Terima kasih Nona untuk doanya" Sahut Indah.
Mereka pun melanjutkan makan bersama.
20 Menit Kemudian.
"Mbak, aku ke kamar dulu" Ucap Azizah lirih.
"Biar saya yang antar".
Azizah menutup pintu kamarnya rapat-rapat, hatinya sedari tadi sebenarnya tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal dan membuat hatinya tak nyaman, ia selalu memikirkan kekasihnya disana. ia lalu mengambil ponselnya untuk mencoba menghubungi Dimas.
Tut.. Tut..
Tut.. Tut..
Azizah terus mencoba menghubungi Dimas, bagaimanapun Dimas harus menerima telepon dari Azizah.
Tut.. Tut.
"Halo, dengan siapa?".
Deg.. deg..
Brak.... Ponsel yang di genggam Azizah terjatuh.
"Hiks.. hiks..." Dada Azizah terasa sesak.
Air matanya melesat dengan sangat cepat di mata cantik Azizah dan mengalir indah di pipinya. Ia tak pernah membayangkan bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang ia cintai. Azizah ingin sekali berteriak kencang sekencang mungkin.
Hatinya meledak seperti gunung Merapi dan mengeluarkan magma yang sangat panas.
"Hiks..hiks... Sebenarnya apa yang kamu lakukan disana Dimas? Suara siapa itu? aku tahu kamu tidak mempunyai saudara perempuan. Kamu kejam Dimas" Ucap Azizah, hatinya benar-benar hancur.
Azizah tak henti-hentinya menangis, bahkan air matanya sampai kering karena terlalu lama menangis.
Disisi lain.
__ADS_1
Kediaman Bima Nasution.
Dimas mencari ponselnya yang hilang entah kemana, ia ingat betul bahwa ia menaruh ponselnya diatas ranjang.
Namun Dimas begitu terkejut saat tahu bahwa ponsel itu di genggaman Monicha.
"Kamu apa-apaan bawa ponsel aku" Ucap Dimas sambil merampas paksa ponselnya.
"Ya kamu lama banget di kamar mandi, tadi ada panggilan dari Azizah. lalu aku angkat baru saja aku bilang halo malah dimatikan" Sahut Monicha santai.
Deg.. deg..
Dimas langsung keluar keringat dingin, tak pernah terpikirkan oleh dirinya bahwa Monicha mengangkat telepon dari Azizah, ia pun segera pergi meninggalkan Monicha tanpa menghiraukan panggilan dari Monicha.
"Iiiih.. Dimas apa-apaan main tinggal aja. Biasanya cium sama peluk aku dulu" Gumam Monicha.
Dimas memukul setir mobilnya, ia sangat kesal dengan tingkat Monicha yang main angkat telepon seperti itu.
"Aaahhh! Sial" Teriak Dimas di dalam mobil.
"Jangan sampai hubungan kita berakhir, aku tidak akan melepaskan kamu Azizah. Bagaimanapun aku mencintai kamu dan tidak akan pernah melepaskan kamu dari sisiku" Ucap Dimas.
Dimas mencoba menghubungi nomor Azizah, namun nomor Azizah tidak dapat dihubungi. Hatinya benar-benar kacau balau, Seharusnya hubungan terlarang dirinya dan Monicha tidak pernah terjadi. Sehingga hubungannya dan Azizah akan baik-baik saja.
"Sialan, gara-gara wanita murahan itu. Sampai hubunganku dan Azizah berakhir, aku tidak segan-segan membuat kamu menyesal Monicha" Gumam Dimas yang kesal dengan Monicha.
Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia pergi menuju kontrakan Azizah. Namun saat sampai disana rupanya tempat itu bukan ditempati oleh Azizah lagi melainkan ditempati orang lain.
Dan lebih anehnya lagi, Azizah 1 bulan lebih tak pernah datang ke kontrakan itu.
"Aaahhh.. Bagaimanapun kamu tidak boleh lari dariku Azizah. Aku Dimas Ginanjar sangat mencintai kamu tidak ada yang bisa memilikimu selain aku" Teriak Dimas di dalam mobil.
Ia berpikir keras, tempat mana yang bisa ia datangi untuk menemui Azizah.
Beberapa menit kemudian.
Dimas memutar arah menuju Perusahaan Walker Corp, Ia ingat bahwa Azizah bekerja disana.
Sesampainya di Perusahaan terbesar di Jakarta itu, Dimas berlari dengan sangat kencang untuk bertemu dengan Azizah.
"Huuuhh..huuhh Ada Azizah?" Tanya Dimas pada salah satu pegawai di perusahaan itu, sambil menata nafasnya yang tak beraturan.
"Kamu Siapa?" Tanya Mia, ya pegawai itu adalah Mia.
"Saya tanya dimana Azizah, kenapa kamu malah balik bertanya" Ucap Dimas dengan nada tinggi.
"Biasa aja Mas ngomongnya tidak perlu ngegas seperti itu" Sahut Mia kesal.
"Azizah tidak bekerja disini lagi, dia tidak masuk kerja sudah hampir 2 bulan ini" Sambung Mia lagi.
"Lalu dimana Azizah sekarang?" Tanya Dimas penasaran.
"Daripada cari Azizah, mending cari saya saja mas. Saya lebih cantik dan lebih sexy" Goda Mia dan memuji dirinya sendiri.
"Cih, murahan" Sahut Dimas dan pergi tergesa-gesa.
"Dasar setan!! Kamu itu yang murahan bahkan jika kamu gratis pun aku tidak mau" Teriak Mia emosi.
Lanjut? Komen👇
__ADS_1
Bersambung..