
Azizah memperbaiki penampilannya dan turun dari mobil. Ia menggandeng lengan suaminya kemudian berjalan memasuki restoran, meski 1 bulan baru diresmikan restoran itu sudah banyak sekali pengunjung Azizah bahkan bingung untuk duduk dimana.
Steven yang melihat istrinya kebingungan itu pun bertanya, “Kamu kenapa sayang?”
“Ini sangat ramai kita mau duduk dimana?” tanya Azizah.
“Selamat datang nyonya muda dan nyonya muda!” sapa pelayan yang bekerja di restoran itu.
“Terima kasih!” seru Azizah.
Azizah terlihat begitu ramah kepada para pelayan namun beda dengan Steven, pria blasteran itu tak tersenyum sedikitpun ia hanya fokus menatap wajah Azizah sambil merangkul pinggang ramping Azizah seolah-olah menjaga istrinya.
“Kita tidak makan disini, diatas ada ruangan khusus untuk kita,” ucap Steven membisikkan ditelinga Azizah.
“Aku tidak ingin makan diatas, bisakah kita makan di dekat kolam itu?”
“Baiklah!" seru Steven ia tak bisa menolak keinginan istrinya.
“Terima kasih suamiku!”
🍽️🍽️
“Bagaimana apakah enak?” tanya Steven.
“Sangat enak,” sahut Azizah.
Azizah kembali melanjutkan aktivitas makannya, Steven terus saja memandang para pelanggan yang melihat Steven berdecak kagum karena ketampanannya membuat Azizah kesal namun ia menutupi rasa kesal dan cemburunya sebaik mungkin.
“Sayang suapi aku!” pinta Azizah.
Steven tersenyum lalu mengambil sendok berisikan makanan dan mengayunkan tangan ke arah mulut Azizah.
“Terima kasih suamiku!” ucap Azizah.
Biar deh dibilang berlebihan ini juga kan gara-gara mereka menatap ke arah suamiku.
“Sama-sama istriku!”
“Aku sudah kenyang sekarang kita kemana?” tanya Azizah.
Tak.... tak...
Suara ketukan sepatu berjalan mendekati mereka, “Hai.. kamu Steven kan?” tanya seorang wanita sambil memainkan rambutnya dengan begitu genit.
Azizah mengerutkan keningnya dan menatap ke arah suaminya.
“Ayo istriku sayang kita pergi!” ajak Steven mengabaikan wanita itu.
Steven berjalan sambil merangkul pinggang Azizah sesekali ia mencium pipi istrinya itu membuat yang lain iri melihat Azizah yang bisa dirangkul serta dicium oleh Steven Walker.
“Siapa itu?” tanya Azizah dengan wajah masamnya.
“Aku tidak tahu istriku, mungkin orang yang sok kenal!” seru Steven.
Mereka sudah berada di dalam mobil Azizah melipat kedua tangannya sambil menatap lurus ke depan tanpa memandangi wajah suaminya.
“Oh ya ampun, dadaku rasanya sesak,” ucap Azizah sambil mengibaskan tangannya berulang kali ke wajahnya.
“Kamu cemburu sayang?” goda Steven sambil tersenyum lebar.
“Tidak untuk apa,” bohong Azizah.
__ADS_1
“Yakin tidak cemburu?” tanya Steven memastikan.
“Iya iya aku cemburu, sekarang kamu puas?”
“Terima kasih!”
“Kok malah terima kasih?”
“Iya itu tandanya kamu sangat mencintaiku!”
Steven pun mencium bibir Azizah ciuman mereka begitu lama untungnya saja kaca mobil itu gelas jadi tidak ada satu orang pun yang melihat kemesraan suami istri itu.
Steven mencium bibir Azizah lebih dalam sesekali ciumannya turun ke leher jenjang Azizah.
“Ayo sayang kita bulan madu!” ajak Steven yang sudah mengakhiri ciuman panas mereka.
“Kapan suamiku?” tanya Azizah sambil menyeka sisa-sisa air liur yang berada disekitar bibir.
“Bagaimana kalau nanti malam kita berangkat ke Paris?”
“Apa? nanti malam?”
“Iya istriku bagaimana?”
“Tapi bagaimana dengan kuliahku?”
“Itu semua bisa diatur, bagaimana?”
“Baiklah, tapi aku belum menyiapkan apa-apa untuk ke Paris!”
“Di rumah ada pelayan, biarkan saja mereka yang mengurusnya!”
“Oke!”
Deg.... deg...
Mencetak baby? maksudnya kami membuat bayi, tapi bagaimana dengan kuliahku?
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan sayang, soal kuliah itu bisa diatur. Bagaimanapun kita harus segera memiliki anak, bagaimana kalau kita buat anak yang banyak?”
“Hentikan sayang! kamu kira melahirkan anak itu enak seenak kita bercinta?”
“Ayolah sayang! hartaku sangat banyak jika kita memiliki anak 1 atau 2 aku rasa hartaku masih tersisa sangat banyak!”
“Harta tidak akan dibawa mati sayang, lebih baik disumbangkan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat,” ucap Azizah.
“Ternyata aku benar-benar tidak salah pilih Istri, selain cantik istriku ini juga sangat baik,” puji Steven.
“Sudah jangan dibahas lagi, ayo pulang!”
“Baiklah istriku tercinta!" seru Steven dan mulai mengendarai mobil.
Di Magetan.
Danu dan Yana masih menunggu hasil pemeriksaan medis hingga pukul 6 sore dokter tak kunjung datang untuk memberitahukan hasilnya.
Danu yang awalnya tenang kini ia mulai panik, perutnya yang sedari tadi belum diisi sesuap nasi itu diabaikannya sangking khawatirnya dengan kondisi sang istri.
“Tuan Danu Aryanto!” panggil perawat.
“Iya saya sendiri!” seru Danu.
__ADS_1
“Silahkan tuan masuk ke ruang dokter Endang!”
Danu mengangguk kepalanya masuk ke ruang dokter lalu Yana membuntuti papinya itu.
“Tuan Danu?"
“Iya dok saya Danu!”
“Dari hasil pemeriksaan medis istri tuan mempunyai penyakit kanker lambung stadium 3 kemungkinan untuk sembuh hanya sedikit!” jelas sang dokter.
Yana sangat syok jantungnya benar-benar terasa sesak pikirannya tak dapat dikontrol ia pun ambruk tak sadarkan diri.
BRUG!
“Astagfirullah Yana!” teriak Danu.
“Ayo tuan bawa anak anda ke ruang rawat!” perintah sang dokter.
Yana langsung dibaringkan di ranjang rumah sakit sementara Danu menunggu diluar.
“Tuan silahkan tunggu diluar!”
Danu berjalan dengan begitu lemas setiap langkahnya seperti ia tak berpijak di bumi.
Hatinya sangat hancur mengetahui penyakit sang istri, kebahagiaan yang baru saja dimulai kini entah seperti apa nantinya.
Ya Allah ujian apalagi ini, kenapa keluarga hamba mengalami cobaan yang berat seperti ini?
Rika baru saja sembuh dari traumanya sekarang malah ia mengidap kanker lambung stadium 3 dan kamu kenapa Rika tidak memberitahukan kepadaku tentang penyakitmu ini?
Danu mengusap wajahnya dengan sangat kasar, rambutnya ia tarik tersendiri sangking pusingnya. Pakaiannya begitu acak-acakan terlihat jelas raut wajah putus asa dari Danu.
“Mami, mami kita ada dimana?” tanya Yana sambil melihat sekeliling.
“Mami berada di tempat yang indah sayang, mami sekarang bahagia disini.”
“Yana ikut mami ya tinggal disini, Yana mami menemani mami disini!”
“Jangan sayang, Yana sekarang bangunlah! masih ada papi dan Mike yang membutuhkan kamu sayang!”
“Tapi Yana dan papi juga membutuhkan mami!”
“Yana jaga diri baik-baik jangan nakal, jadilah anak yang baik dan istri yang penurut!”
“Mami..... mami mau kemana?” teriak Yana saat Rika berjalan menjauh darinya.
“Mami akan pergi sayang, selamat tinggal!”
“Jangan mami, jangan tinggalkan Yana!!!”
“Mami!!!! jangan tinggalkan Yana!!”
Yana terbangun dari tidurnya ia melihat sudah ada dokter dan Danu yang menatap lekat ke arah Yana.
“Kamu mimpi buruk sayang?” tanya Danu panik dan memeluk sang putri.
“Mami mana Pi?” tanya Yana panik.
“Mami masih di ruang sebelah nak, belum sadarkan diri!”
“Ayo Pi kita kesana, mami tidak boleh meninggalkan kita!” ajak Yana.
__ADS_1
Yana turun dari ranjang itu dan menarik tangan papinya agar segera pergi ke ruang maminya di rawat.
Bersambung.