Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Perburuan Berlanjut.


__ADS_3

Melanjutkan pencarian, kami berjalan dengan santai karena adanya keberadaan Mozes.


Jika Mozes berlari, kami khawatir dia akan meruntuhkan ruang bawah tanah ini.


Meski gua ini terlihat kuat dan kokoh, gua tetaplah gua. Ada kemungkinan kalau tempat ini lebih rapuh daripada yang terlihat.


Selain itu, tempat ini sedikit berdebu. Jika Mozes berlari, dia akan menerbangkan setiap debu di lantai, menciptakan tanah di langit-langit rontok dan itu akan membuat kami kotor.


Itu akan menjadi perjalanan yang paling tidak menyenangkan.


Namun, aku tidak pernah menganggap Mozes sebagai halangan. Dia masih dibutuhkan dalam situasi tertentu.


Ngomong-ngomong, ketika Freya bertanya kenapa aku bisa mengetahui tempat ini, aku hanya menghindarinya dan mengatakan akan menjawab pertanyaan itu setelah sampai di kastil.


Ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita, oleh karena itu Freya mengerti dan kami melanjutkan perjalanan.


William, Ignis, dan Leon sudah berjalan lebih dulu untuk membersihkan monster dan memeriksa kondisi di area selanjutnya, mereka sudah seperti tim pelopor.


Sepertinya, ini dungeon sungguhan. Tidak, maksudku, sungguhan dalam arti tempat ini benar-benar tempat alami.


Ketika monster di sini mati, mereka tidak akan dihidupkan kembali. Dengan kata lain, gua ini benar-benar ruang bawah tanah dimana tempat monster bersarang.


Tidak ada sistem untuk menghidupkan kembali monster yang sudah mati atau dikalahkan seperti di dalam game.


Sementara tim pelopor membersihkan area di depan, kami mencari lokasi untuk beristirahat. Meski anak-anak kami makhluk spiritual, mereka bukanlah robot. Mereka masih perlu makanan untuk merubah suasana hati.


Kami menemukan tempat luas kedua setelah berjalan satu jam lebih, lokasinya sama dengan tempat sebelumnya.


Dalam bahasa dungeon, mungkin ini sudah menjadi lantai ke dua. Karena ini merupakan ruang bawah tanah, kami berjalan turun ke bawah. Yang artinya, ada banyak lantai tidak diarahkan ke atas, melainkan ke bawah.


Kami memutuskan untuk beristirahat di sini. Seperti biasa, Kaguya dan Titania langsung melakukan pekerjaan mereka.


Aku menyuruh tim pelopor kembali untuk ikut makan bersama dan melaporkan hasil penemuan mereka. Kemudian, aku teringat akan sesuatu.


«Bisakah kita menggunakan sihir perpindahan di sini?»


«Tergantung monster di setiap lantai. Jika mereka bisa membuat sihir penghalang di sarang mereka, maka kita tidak akan bisa menggunakan sihir perpindahan. Yah, semua itu tergantung tingkat kemampuan mereka. Monster lemah tidak akan bisa membuat sihir penghalang secara naluriah untuk memperkuat pertahanan sarang mereka.»


Begitu rupanya. Kupikir, hanya monster peringkat atas yang bisa melakukan hal itu, seperti makhluk setingkat Luminous.


Setelah beberapa menit, tim pelopor akhirnya kembali sambil menunggangi kuda mereka.


Benar juga, tidak perlu untuk melakukan sihir perpindahan jika ingin melarikan diri. Dengan kuda ini, kami masih bisa berlari lebih cepat daripada kecepatan suara.


Adapun Mozes dan ketiga gadis, kami bisa memasukkan Familiar ini ke dalam scroll dan masih banyak tempat untuk membonceng para gadis.


Sambil makan, aku mendengarkan isi laporan.


Setelah mengetahui bahwa monster di lantai awal sangat lemah, mereka memutuskan untuk mengabaikan monsternya dan mencari keberadaan monster pengganggu di lantai selanjutnya.


Mereka menunggangi kuda sambil melepaskan aura membunuh untuk menyingkirkan monster lemah.


Ketika mereka tiba di lantai ke 31, para monster sudah berani menunjukkan sikap agresi terhadap William dan yang lainnya.


Namun meski begitu, monster di domain tiga puluhan masih lemah. Hanya dengan satu orang dari mereka sudah bisa menghapus keberadaan seluruh komunitas di lantai tersebut.


Jadi, mereka memilih untuk berpisah dan bertindak independen. Leon mengurus lantai 31 sampai lantai 40, Ignis mengurus lantai 41 sampai lantai 50, dan William mengurus lantai 51 sampai lantai 70.


Sepertinya ada perdebatan diantara mereka untuk memutuskan siapa yang harus mengurus lantai paling dalam.


Di sana, William menggunakan kecerdikannya untuk mengelabui mereka.


Pertama, di lantai ke 31 dan seterusnya, itu merupakan lokasi hutan rimba dengan monster hidup di atas pepohonan.


Meski mereka lemah, mereka masih membuat resah para pelintas dan akan menyebabkan gangguan terhadap aku dan Merlin.


Oleh karena itu, Leon ditugaskan dalam mengatasi lantai tersebut karena dia memiliki jangkauan serangan paling jauh dan akurat.


Leon tidak bisa membantah ini dan hanya memilih untuk menuruti perintah William.


Kemudian lantai 41 ke atas, itu merupakan lokasi rawa dengan banyaknya monster serangga berartibut racun.


Ukuran mereka bervariasi dari kecil hingga besar. Untuk menangani hal tersebut, api Ignis sangat diperlukan untuk membakar mereka semua.


Sama seperti Leon, Ignis tidak bisa membantah karena api sangat ampuh ketika melawan serangga.


Dengan begitu, William melanjutkan perjalanannya sampai ke lantai 51.


Saat ini, William merasa sangat senang seolah-olah dia sudah memenangkan sesuatu.


Anak ini, dia memanfaatkan keunggulannya sebagai kakak laki-laki pertama. Entah kenapa, aku merasa William sama sepertiku karena bisa memanipulasi adik-adiknya.


Di sisi lain, Leon dan Ignis memakan makanan mereka sambil cemberut. Mereka sepertinya sudah sadar telah dipengaruhi, tetapi tidak bisa melawan.


Ngomong-ngomong, di lantai 51 ke atas, itu merupakan lokasi padang pasir. Dipenuhi dengan berbagai jenis kadal di setiap lantai. Akan tetapi, William dengan mudah menghabisi mereka semua.

__ADS_1


Perlu diingat, meski William memiliki peran sebagai High Priest, namun dia tetaplah seorang Vampire. Dia bisa menggunakan kemampuan rasnya dalam memanipulasi darah sebagai alat untuk menyerang para kadal itu dengan mudah.


Yah, meski aku katakan mudah, itu masih memerlukan usaha.


Dilanjutkan ke lantai 61, itu merupakan lokasi lembah gelap, lembab, dan berkabut. Tempat itu dipenuhi dengan monster mayat hidup. Aku bisa mengatakan bahwa itu adalah lembah kematian.


Melihat itu, William memutuskan untuk tidak kembali lebih awal. Alasannya adalah atribut Suci miliknya sangat cocok untuk melawan monster tipe Undead.


Itu merupakan kesempatan bagus untuk dia bersinar, jadi dia menyerang, atau lebih tepatnya memurnikan mereka semua dengan atribut Sucinya.


Normalnya, satu lokasi memerlukan waktu 10-20 menit untuk membereskannya. Namun, william membereskan satu lantai berisi Undead hanya memerlukan waktu 3-5 menit.


Dalam membereskan sembilan lantai undead, dia hanya memerlukan waktu kurang lebih 48 menit.


Setiap sepuluh lantai pasti memiliki bos lantai. Begitu juga dengan lantai ke 61-70, bos lantai di sana merupakan Death Dragon. Naga yang sudah menjadi bangkai hidup, sangat mengerikan dan kejam.


Namun, semua serangannya tidak akan berguna di hadapan High Priest kami. Dan dengan sedikit usaha, William entah bagaimana bisa mengalahkannya.


"Monster itu cukup kuat. Sudah dipastikan bahwa semakin dalam lapisannya, maka semakin kuat monsternya, sama seperti Dungeon pada umumnya."


Sambil memakan dendeng pedas, William mengkonfirmasi kondisi Dungeon.


Atla dan Eren juga mendengarkan pembicaraan kami dengan antusias, sambil memakan dendeng rasa pedas manis.


Kekhawatiran dan ketakutan mereka sebelumnya benar-benar sudah menghilang melihat pekerjaan William dan yang lainnya dilakukan dengan mudah.


Tapi, faktor penting hilangnya rasa ketakutan mereka mungkin karena makanan.


Nah, Kaguya dan Titania telah membuat makanan yang sangat enak hingga kami melupakan tujuan awal kami datang ke sini.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan keadaan lantai ke 71?"


Sambil memakan dendeng asin, aku bertanya kepada William.


Kami sudah menyelesaikan makan siang kami dan hanya memakan dendeng tipis dengan varian rasa.


Dendeng itu tipis dan sedikit renyah, sangat cocok sebagai cemilan untuk mengobrol di kondisi seperti ini. Kondisi dimana kami harus mengisi tenaga untuk berpetualang.


"Lokasi di sana merupakan area pegunungan. Karena areanya sangat luas, satu hari tidak akan cukup untuk menjelajahi seluruh lantai. Yah, di lantai sebelumnya juga seperti itu. Kami hanya menangani monster yang berpotensi menghalangi perjalanan Anda."


William menjelaskan, sambil membersihkan mulutnya dengan sapu tangan.


Fumu, mereka benar-benar mengerjakan tugas mereka sebagai pelopor, memastikan lokasi dan membuka jalan.


Tapi, itu masalah jika kita berjalan. Sekarang William sudah menghafal tempatnya, dengan gerbang transfer, kami bisa langsung ke sana tanpa memakan waktu lama.


Sihir sungguh sangat berguna.


"Oh iya, Tuan Albert."


"Hm?"


"Kami sudah mengalahkan bos di setiap lantai, namun tidak memiliki waktu untuk menambang kristal Ajaib di sarang mereka."


Ignis dan Leon juga mengangguk untuk menunjukkan kondisi yang sama. Mereka tidak memiliki waktu untuk menambang karena aku menyuruh mereka bekerja cepat.


"Walaupun kita memiliki banyak, benda itu masih sangat berguna untuk perkembangan teknologi, jadi kita harus mengambilnya. Lagi pula, dungeon sangat jarang ditemui, mungkin saja kita tidak akan pernah menemukan Dungeon lagi di dunia ini."


Benar, jika Dungeon ini sama dengan Dungeon dalam game, maka setelah kita mengalahkan bos terakhir, Dungeon ini mungkin akan menghilang.


Freya dan Titania bahkan tidak pernah bertemu dengan Dungeon karena keberadaannya sangat langka, mungkin saja tempat kami saat ini merupakan Dungeon terakhir di dunia.


...


Hm? Sepertinya aku melupakan tujuan awal kita ke sini...


"Begitu, ya. Kalau begitu, kami akan mulai mengumpulkan kristal itu."


"Benar, kami bisa langsung pergi ke lantai bos sekarang."


"Umu."


William, Ignis, dan Leon ingin menjadi sukarelawan.


Jujur saja, aku sangat lelah melihat mereka bekerja.


"Ayo kita pergi bersama. Atla dan Eren ingin melihat suasana di lantai bos area."


Wajah Atla dan Eren tampak cerah setelah mendengar ini.


Aku jadi ingat tujuan kita datang ke dunia Roh untuk bersenang-senang. Karena kami adalah keluarga, kami pergi dan bekerja harus bersama-sama.


Kami mulai merapihkan peralatan, dan membawa setiap sampah bersama kami untuk menjaga kebersihan lingkungan.


Namun, kupikir tindakan seperti itu tidak diperlukan karena kami akan menghancurkan Dungeon ini.

__ADS_1


Pertama-tama, kami langsung melompat ke lantai 20.


Di lantai 10, bos lantai hanya memiliki sedikit kristal Ajaib, jadi kami melewatinya karena tidak ingin membuang-buang waktu.


Di lantai 20, bos area tersebut adalah monster tumbuhan. Itu sudah dalam keadaan mati ketika kami sampai.


Aku melihat bangkainya sambil mengatakan "Apa ini bisa dijadikan sayuran?" seperti itu dan berakhir dicubit oleh Freya karena suatu alasan.


Tentu saja, dia hanya mencubit aku dengan pelan. Meski dia tidak berbicara, namun wajahnya seperti ingin mengatakan "Kamu sangat rakus!".


Mengesampingkan itu. Aku menyimpan mayatnya untuk diteliti lebih lanjut. Bagaimanapun juga, monster tipe tumbuhan tidak pernah kami temui sebelumnya.


Untuk menghilangkan rasa penasaran, aku akan bertanya kepada Clara atau Olivia tentang tumbuhan sejenis ini. Mungkin saja kami bisa membudidayakan mereka dan menjadikan mereka sebagai pertahanan alami.


Melanjutkan perjalanan kenapa aku memutuskan untuk pergi ke lantai ini.


Sebenarnya, di lantai ini pun hanya memiliki sedikit kristal Ajaib. Namun, di sini banyak sekali tumbuhan langka.


Lokasi ini merupakan area yang dipenuhi oleh ladang bunga. Tidak ada matahari, tetapi langit-langitnya memancarkan cahaya.


Aku tidak yakin apakah itu cahaya langsung dari matahari di luar Dungeon atau cahaya buatan Dungeon ini.


Anehnya, tempat ini sangat luas dan kami tidak dapat melihat adanya tepi atau pembatas apapun.


Kami sudah seperti berada di dimensi yang berbeda.


Baiklah, aku menyuruh mereka semua untuk melakukan hal apapun yang mereka inginkan. Singkatnya, mereka bebas.


Aku ke sini untuk mengumpulkan tumbuhan. Jika mereka ingin berdiam dan melihat pemandangan, itu terserah mereka.


Namun, semua orang ingin membantu. Tidak ada orang yang berani bermalas-malasan melihat tuan mereka bekerja. Kecuali untuk tiga orang, anda bisa menebak sendiri siapa mereka.


Ketiga orang itu, semuanya adalah gadis dan kami memperbolehkan mereka untuk bertindak bebas.


Setelah mengemas barang, kami melanjutkan perjalanan.


Lantai 21-30, merupakan area pantai diisi dengan monster amfibi, bos area mereka adalah Kepiting Raksasa.


"Hewan ini pasti sangat enak bila direbus dengan bumbu."


Aku bergumam setelah melihat mayatnya, dagingnya terlihat sangat empuk.


Setelah mengambil mayatnya, kami melanjutkan perjalanan tanpa mengumpulkan kristal Ajaib.


Lantai 31-40, merupakan area hutan dihuni oleh hewan primata, bos area mereka adalah monster Bekantan Raksasa.


Kali ini aku tidak ingin berkomentar apapun.


Kami ke sini tidak untuk mengambil mayat monster, melainkan untuk mengambil batu kristal Ajaib yang tertimbun di dalam sarangnya.


Itu adalah bukit yang dilubangi dan didekorasi sendiri oleh mereka. Tempatnya berada di tengah-tengah hutan lebat dan sangat sulit untuk dijangkau hanya dengan berjalan kaki.


Nah, di sinilah Mozes menampilkan kemampuannya. Dia bisa menciptakan sejumlah duri dari tanah dan menghancurkan atau merontokkan kristal Ajaib yang menempel di dinding atau lantai dengan duri tersebut.


Jadi, kami hanya perlu mengumpulkannya tanpa perlu bersusah payah menambang mereka.


Perjalanan masih berlanjut.


Lantai 41-50, merupakan area rawa dihuni oleh berbagai monster insek beracun dan mematikan, bos area mereka adalah Lipan Bara Raksasa.


Karena tempat itu sangat basah dan lembab, kami hanya melewatinya.


Lantai 51-60, merupakan area gurun pasir dihuni oleh monster kadal besar, bos area mereka adalah Kadal Batu Perak.


Tatapan mata dari Kadal Batu Perak bisa membuat lawan menjadi batu.


William melakukan sedikit kecerobohan dan terkena serangan tersebut pada bagian tangan kanannya. Beruntung dia memiliki sihir pemurnian dan memulihkan tangannya dari serangan tersebut.


Kebetulan, sihir dari Kadal Batu Perak berbasis kutukan, itu bisa dihilangkan dengan sihir suci milik William.


Jika posisi William ditukar dengan Ignis, mungkin Ignis akan mendapatkan masalah dan harus menggunakan tubuh raksasanya agar tidak terkena kutukan.


Menurut Hydra, para mantan NPC merupakan sosok spiritual ketika mereka datang ke wujud asli mereka.


Dengan tubuh spiritual, serangan yang berefek pada fisik tidak akan mempan kepada bentuk spiritual. Hal seperti ini juga ada di dunia asalku.


Ketika Kadal Batu Perak mengutuk target, maka tubuh fisik target akan mengeras dan menjadi batu.


Itu sebabnya kemampuan ini tidak akan mempan terhadap makhluk spiritual karena sejak awal mereka tidak menggunakan tubuh fisik.


Ngomong-ngomong, kenapa kami menyebutnya Kadal Batu Perak karena dia memiliki sejumlah batu Ajaib tumbuh di atas tubuhnya.


Warna dari kadal itu perak dan batu Ajaib di atas merupakan sejenis mineral langka. Aku pikir itu akan menjadi Mithril ketika diolah.


Tanpa repot-repot memisahkan mayat dengan batunya, kami langsung memasukkan dia ke dalam inventaris. Mungkin kulit dari monster kadal tersebut bisa dijadikan sebagai armor.

__ADS_1


__ADS_2