Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Kecemburuan Freya.


__ADS_3

"Karena ada urusan mendadak, kakak pergi meninggalkan kita. Iris, kamu baik-baik saja?"


"Um."


Di depan istana, Eliza dan Iris sedang menunggu penguasa negara ini datang untuk menyambutnya. Randolph pergi untuk memanggil orang tersebut.


Namun dia mencemaskan Iris yang baru saja ditinggalkan oleh ayahnya. Pasti berat untuk anak seusianya dicampakkan oleh ayahnya sendiri. Tapi, itu semua salah Tuannya, itu menyebabkan posisi Eliza menjadi pelik untuk berbicara dengan Iris. Dia merasa canggung.


Sementara itu, Tuannya tidak bisa membawa semua orang kembali bersamanya, maka dari itu Eliza dan Iris ditinggalkan di sana untuk melanjutkan urusan awal sebagai delegasi. Jika semua orang kembali padahal sudah sampai di depan gerbang istana, orang-orang dari kerajaan itu pasti akan membicarakan mereka.


"Selamat datang, tamu dari..."


Seorang pria, berbadan besar dengan rambut dan jenggot putih panjang, keluar dari dalam istana bersama Randolph.


"Negeri Naga, Lumia."


"Tamu dari Negeri Naga, Lumia! Saya terkejut atas kedatangan Anda di tanah ini. Sudah ribuan tahun lamanya semenjak kami kedatangan tamu dari luar. Dan sekarang, Anda adalah tamu pertama yang bisa menemukan tanah tersembunyi ini."


Sambutannya, yang sempat terhenti di awal karena dia tidak tahu nama tempat tamunya berasal, telah dilanjutkan setelah Randolph mengingatkannya.


Itu sambutan yang buruk.


"Namaku Eliza Testalia. Sebenarnya aku datang ke sini bersama dengan Tuanku, Albert Testalia. Namun karena urusan mendesak yang tidak bisa ditunda, beliau kembali. Mohon pengertiannya."


"Apa dia akan kembali lagi?"


"Tentu. Dia bilang itu tidak akan memakan waktu lama, dia akan segera kembali."


"Begitu rupanya. Saya mengerti. Ngomong-Ngomong saya adalah raja di kerajaan ini, Mahatta atl Galantis. Mari bicarakan urusan Anda datang ke negeri ini di dalam."


Penyambutan selesai dan semua orang akan segera masuk ke istana, namun Eliza melihat Iris sedang gelisah dan terus melihat ke sekeliling istana. Terlihat mengkhawatirkan sesuatu.


"Ada apa Iris?"


"Ah, tidak. Tidak apa-apa."


Iris masih tidak mau membicarakannya, mungkin karena ada orang lain yang membuatnya tidak mau berbicara, contohnya kehadiran Randolph. Atau mungkin Eliza sendiri yang masih belum bisa dipercaya oleh Iris.


Pembicaraan mereka sempat membuat semua orang berhenti di ambang pintu masuk, tapi tetap masuk sesudahnya.


\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=


Datang dan perginya Nodens beserta rombongannya membuat kegemparan bagi seluruh penduduk kastil dan warga kota.


Untuk pertama kalinya perisai sihir pelindung di tengah kota aktif, tentunya membuat seluruh penduduk kota bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Mereka sampai berkumpul di depan kastil untuk mencari tahu, untungnya tidak ada hal serius yang terjadi. Namun, mereka melihat sesuatu yang keren, yaitu penampilan gagah dewa mereka. Dewa para naga, Platinum Dragon Lord, Luminous.


Tidak, mereka bahkan sempat berdiskusi untuk mengubah nama julukan dewa mereka seperti Shining Dragon Lord, atau Golden Dragon Emperor. Untuk menyesuaikan dengan penampilan kerennya tersebut.


Di depan kastil. Setelah Nodens pergi meninggalkan kota, semua orang tidak bubar. Melainkan berkumpul untuk mendapatkan pengarahan dari Merlin, selaku orang yang memiliki posisi paling tinggi di kastil tersebut ketika Albert pergi.


Namun, Merlin tidak perlu repot-repot memberikan arahan kepada mereka karena Albert sebenarnya sudah tiba.


Turun dari langit, dia tiba di depan kastil dengan kuda biru exoticnya yang bernama Rainer. Semua orang di sana secara spontan bertekuk lutut untuk menyambut kedatangan tuan besar mereka yang sangat mereka hormati.


Kecuali untuk Merlin dan Freya, mereka berdua adalah istrinya. Meskipun begitu, Merlin sendiri masih ingin menyambut kedatangan suaminya dengan berlutut untuk menunjukkan kesetiaannya seperti biasa, tetapi tidak bisa karena sekarang dia sedang hamil.


"Selamat datang kembali, Tuan Albert!" ××


Semua orang menyambutnya, tapi dia tidak membalas. Tatapannya hanya tertuju pada kedua istrinya, tidak terpengaruh dengan hal lain.


"Albert, aku senang kamu kembali. Tapi semuanya baik-baik saja, kok! --eh?"


Selesai memberitahu keadaannya, Freya menyadari kalau ada yang berbeda dengan Albert.


Albert tidak berbicara dan tetap berada di atas tunggangan, itu terlihat agak aneh untuk Freya. Untuk mencari tahu mengapa, dia melihat ke arah Merlin. Dan terkejut seketika saat dia melihat mata Merlin terbelalak, Merlin sedang tercengang akan sesuatu.


Untuk sesaat Freya panik, melihat kembali ke arah Albert untuk mencari tahu sendiri, apa yang sedang terjadi.


Di sana Albert sedang memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Dia menyapu pandangannya ke seluruh tempat seperti ingin mengetahui sesuatu.


Apa yang sebenarnya terjadi? —Suasana entah mengapa terasa tegang dengan semua orang yang sedang terdiam juga.


"Ah! Matamu!"


Akhirnya Freya berhasil menemukan sesuatu. Ketika dia dan Albert berkontak mata, dia melihat mata iblisnya sedang digunakan. Itu menunjukkan kalau dia sedang marah. Dia tahu, kalau perubahan pada matanya itu bisa disebabkan karena sengaja atau tanpa disengaja tergantung suasana hatinya tersebut.


Mungkin hanya dia yang belum menyadari situasinya, jadi dia diam saja setelah mengetahui Albert sedang marah. Namun dia berhasil menemukan beberapa orang yang diam-diam melirik ke arahnya ketika dia terkejut. Sepertinya mereka juga mulai bertanya-tanya kenapa suasananya begitu sunyi, dan beberapa diantaranya ada yang berbisik untuk memperingati teman di sebelahnya supaya tetap diam.

__ADS_1


Freya melihat Albert turun dari kuda dan menghampirinya. Itu tentu saja karena sejak awal Albert sudah memperhatikan dirinya dan Merlin.


"Albert, tenang. Semuanya baik-baik aja, kok... E-Eh!!"


Dia berusaha untuk memenangkan Albert, tetapi malah mendapatkan tatapan tajam darinya.


Kenapa!? —Freya terus bertanya-tanya, takut. Ini adalah pertama kalinya Albert marah dengan mulut tertutup seperti itu. Karena biasanya, dia hanya akan mengatakan omong kosong ketika marah.


Freya mulai mencari Merlin.


"A-- eh!?"


Tapi malah semakin terkejut melihat Merlin sedang menatap Albert dengan penuh napsu. Di matanya seperti ada banyak icon hati bertuliskan "Suami" "Suami" "Suami" "Suami" yang membentuk barisan panjang melintas di matanya.


DIA SEDANG JATUH CINTA!!


Tidak, dia memang mencintai Albert, bagaimanapun dia adalah istri pertamanya. Tapi seharusnya dalam situasi seperti ini, dia enggak harus seperti itu, kan? Atau itu memang sehat terpincut ketika kondisi suami sedang seperti itu? —Freya tidak mengerti.


"Hei, Merlin! Tegarkan dirimu. Apa kamu tidak bisa melakukan sesuatu kepadanya!? Tunggu, jangan malah senyum-senyum di situasi seperti ini!"


Freya meraih pundaknya dan mengguncang tubuhnya berulang kali. Melihat kondisinya tidak kondusif, rencana pertama untuk meminta bantuan pada Merlin langsung berantakan.


"Berisik!"


"Hmh!!?"


"Ahh~" ❤❤❤


Freya dibungkam dengan suara Albert yang berbeda. Tapi reaksi lain terjadi pada Merlin, seolah-olah ilusi hati di matanya semakin dan semakin membesar. Tubuhnya bergetar dan nafasnya tidak beraturan, seperti betina birahi yang tidak sabar untuk diterkam. Freya sebenarnya khawatir tapi Merlin hanyalah orang mesum!!


Duhh~ Tidak terduga favorit Merlin seperti ini. Aku mengerti kalau Albert entah mengapa lebih berbeda dari biasanya, dia menjadi lebih keren sedikit. Tapi situasi ini tidak bisa dilanjutkan! —Freya baru saja mengetahui kesukaan Merlin yang lain, yaitu sisi serius Albert yang sedang marah.


"Kamu baik-baik saja?"


Albert mencemaskan Merlin, mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Merlin. Merlin hanya mengatakan "um" Dengan manisnya, dan kemudian memegang tangan Albert dengan kedua tangannya lalu merasakan telapak tangan tersebut melalui wajahnya secara berlebihan. Seperti peliharaan yang menggosokkan wajahnya ke tangan majikan untuk menunjukkan rasa kasih sayangnya.


(Istrimu 'kan tidak hanya satu, kenapa hanya Merlin yang mendapatkan perhatian?) —Freya cemburu dengan mereka dan berakhir murung. Walaupun sudah hidup bersama dalam setahun, peristiwa mengkhawatirkan yang sangat jarang sekali terjadi seperti ini membuat perasaan hatinya lebih kompleks.


Yah, itu memang salahnya karena sudah sejak awal Freya memberitahu bahwa keadaannya baik-baik saja, mungkin itu menyebabkan Albert tidak terlalu mengkhawatirkannya. Namun tetap saja, perbedaan perlakuan itu masih membuat dia sedih. Mengira seolah-olah Merlin sebagai istri pertama pada akhirnya tetap lebih diutamakan.


Tetapi!


Huh? —Freya yang kebingungan hanya menghampiri Albert untuk menuruti permintaannya. Kemudian Albert memanjakannya dengan elusan kepala. Perlakuannya yang tiba-tiba itu membuat Freya sedikit terkejut, tapi langsung merasa senang setelahnya karena telah mendapatkan bagiannya.


"Dimana yang lainnya?"


Mengesampingkan perubahan suasana hati Freya, Albert mempertanyakan keberadaan William dan yang lainnya kepada Merlin.


"Mereka masih di tempat urusan mereka masing-masing-- Tu-Tunggu! Jangan marah. Aku yang menyuruh mereka untuk tidak datang ke sini."


"Kenapa?"


"Aku pikir tidak perlu menunjukkan mereka semua kepada musuh, karena di sini masih ada kami, mereka bisa datang ke sini segera jika memang benar dibutuhkan. Jadi aku hanya menyuruh mereka untuk bersiaga. Jangan marah, Sayang."


Merlin membujuk Albert yang sedang mengerutkan alisnya seperti sedang marah. Dia sebenarnya juga takut sama seperti Freya, bahkan sangat takut. Tetapi keberaniannya masih bisa dipertahankan karena kecintaannya terhadap Albert sedang memuncak.


Kekurangannya mungkin dia bisa saja pingsan kapan saja karena terlalu bahagia ditatap oleh mata suaminya itu.


Setelah kata "kami" Disebutkan, Albert memandang ke sekelilingnya. Semua orang sedang menunggu untuk mendapatkan perintah berdiri.


"Luminous, suruh semua orang kembali dan beraktivitaslah seperti biasa."


"Baik."


"Odimus, lihat apa yang terjadi tadi! Kalian adalah penjaga di kastil ini. Lakukan tugas sesuai arahan, perintahkan semua pekerja untuk tidak keluar masuk kastil tanpa sepengetahuanmu!"


"Dimengerti!"


"Kaguya, seluruh maid dan staf beastman juga tidak boleh keluar masuk sembarangan."


"Dimengerti."


"Julius."


"Ya."


"Kau dan Ghidora sudah membantu keluarga ayah mertua menangani pasukan musuh, terimakasih."

__ADS_1


"Kesetiaan hamba hanya untuk Anda." ×2


"Nanti ingatkan ke seluruh Einherjar untuk bersiap di pertarungan selanjutnya."


"Dimengerti."


"Baiklah. Semuanya boleh bubar!"


"Baik!" ××


Kemudian dalam satu gerakan, Albert memberikan arahan untuk semua orang supaya kembali ke tempat mereka masing-masing.


Tersisa beberapa orang — Rin, Titania, dan Kaguya — Albert langsung menyuruh mereka berdiri karena dia ingin semua orang kembali ke kastil.


"Ah, bagaimana dengan anak-anak?"


Freya teringat dengan Alice dan yang lain. Meski malas bertanya karena suasana hati Albert sedang tidak bagus, Freya masih tetap tidak bisa mengabaikan Keadaan putri-putri kesayangannya.


"Aku sudah menandai mereka di map. Kalau mereka dalam masalah, semua Einherjar harus bergerak. Maksudku, biarkan saja mereka pergi. Apa menurutmu, Nodens adalah orang yang mau menggunakan cara apapun untuk mendapatkan kemenangan?"


"U-Uh, aku yakin dia pasti tidak akan segan-segan, bahkan terhadap anak-anak kita."


Untuk awalannya, Freya sempat takut karena pertanyaannya membuat langkah Albert yang sedang berjalan ke arah kastil berhenti, tapi dia kembali lega karena Albert sudah memikirkan mereka.


"Ah, itu semakin bagus. Mungkin kita bisa gunakan mereka sebagai umpan untuk menunjukkan sifat asli Nodens kepada semua orang."


"Apa?"


Freya tercengang dengan ucapan Albert, yang lain juga sama halnya. Merlin bahkan mendapatkan kesadarannya kembali setelah mendengar itu. Suasana menjadi tegang seketika. Hanya Ghidora yang tidak terlalu peduli, sedangkan Luminous belum bisa memahami situasinya.


"Selama ini aku selalu memikirkan, bagaimana caranya agar aku bisa membunuh pria itu tanpa berurusan dengan umat manusia yang menyembahnya. Bahkan sampai pagi ini, aku masih belum menemukan jawabannya. Tapi jika dia adalah pria jahat yang memiliki sifat buruk, aku bisa menunjukkan hal itu kepada--."


"Bukan itu yang aku tanyakan!!"


Freya tidak membiarkan Albert menyelesaikan penjelasannya. Dia meneriaki Albert dengan seluruh upaya napasnya.


"Kau bertindak berlebihan lagi! Aku tidak habis pikir kalau kau bahkan mau menempatkan anak-anak ke situasi berbahaya seperti itu, dasar gila!"


"..."


Albert mendapat makian. Kemudian Albert berbalik untuk melihat Freya, dengan wajah tenangnya seolah tidak ada masalah apapun. Itu berbeda dengan Albert yang biasanya.


"K-Kenapa? Cepat bawa anakku pulang atau biarkan aku yang menjemputnya sendiri! Hm?"


Sesuai dugaan, bahkan Freya masih takut berhadapan langsung dengan Albert, walaupun dia sudah berusaha untuk memberanikan dirinya sendiri dengan memanfaatkan kemarahannya. Tapi di sana, Albert menggunakan kedua tangannya, dan dia menepuk kedua pipi Freya dengan pelan. Seperti ingin menenangkannya.


"Maaf, aku tidak benar-benar bermaksud seperti itu. Apa kamu pikir, aku ini adalah tipe orang yang akan melakukan hal buruk seperti itu kepada anaknya sendiri?"


"Tentu. Aku memang berpikir kalau kamu mungkinkah saja akan menggunakan cara itu."


"Ha?"


Dijawab dengan tegas tanpa jeda sama sekali. Freya memiliki pemahaman yang dalam terhadap suaminya, sampai-sampai suaminya kehabisan kata.


"Kamu, ngeselin juga, ya?"


Merasa jengkel, Albert memainkan kedua pipi Freya untuk melampiaskan perasaannya. Namun, Freya tidak mengeluh atau berontak, dia justru terdiam. Atau justru terkejut melihat mata sebelah kanan Albert kembali seperti semula, tetapi itu hanya sebelah saja.


"Berbicara tentang anak-anak, Nava ada di mana?"


Setelah puas memainkan wajah orang lain, Albert kembali berjalan ke arah kastil.


"Ah! Nava sedang di dalam kamar Tuan Putri."


"Atla dan yang lainnya 'kan sedang pergi, kenapa dia ada di sana? Apa dia sedang dikurung?"


"I-I-I-Itu karena, Nodens datang, jadi...."


"Kasian banget putra tunggal kita padahal dia pasti merasa kesepian karena ditinggal pergi oleh kakak-kakak perempuannya. Kalau dia sampai menangis, aku akan marah, tahu."


"Tolong jangan marah Tuan Albert! Saya akan pergi ke kamar Tuan Putri dan segera menemuinya!!"


Rin panik dan berlari dengan terburu-buru menuju ke lantai dua agar Albert tidak marah.


"Dia sangat tergesa-gesa padahal aku tidak serius dengan ucapanku."


"Tuan, siapapun akan bereaksi seperti itu kalau Anda mencoba untuk mengancam mereka."

__ADS_1


Albert dan yang lainnya akhirnya masuk ke dalam kastil, tapi Freya terus memikirkan kenapa hanya sebelah saja mata Albert yang sempat kembali semula. Padahal pada akhirnya, itu sama sekali tidak penting.


__ADS_2