Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Dewa Reaper.


__ADS_3

Pada akhirnya, Silva dan Kaguya malah bertengkar menggunakan mulutnya.


Karena mereka saling berbohong satu sama lain, mereka tidak bisa mengetahui isi pikiran satu sama lain.


"Kalau kamu ingin aku serius, maka kamu harus bersiap."


Silva sudah tidak ingin berbicara lagi dengan Kaguya, karena bagaimanapun Kaguya adalah sekutu iblis. Dia akhirnya mulai serius dan masuk ke mode Valkyrie.


Seluruh tubuh dan pedangnya terselimuti oleh Haki, lalu pakaiannya berubah menjadi perlengkapan berperang berwarna emas. Hampir mirip dengan perubahan Freya, hanya sedikit dimodifikasi pada bagian-bagian tertentu untuk disesuaikan dengan gaya bertarungnya yang menggunakan whip sword. Itu agak lebih ramping ketimbang armor valkyries Freya.


Melihat semua itu membuat Kaguya teringat dengan tuannya, Freya. Dan karena dia sudah tahu kalau ketika Seraphim masuk ke mode Valkyrie kekuatan dan pertahanan mereka akan meningkat drastis, Kaguya mulai berdoa.


Dia berdoa, meminta pertolongan kepada Freya dalam hatinya. Dan setelah tubuhnya terselimuti dengan energy suci, itu berarti doanya sudah didengar oleh Freya dan permohonannya telah dikabulkan.


Sesederhana itu ritual untuk menggunakan sebagian kekuatan tuannya kepada dirinya sendiri.


Aura Kaguya dan aura suci Freya bergabung menjadi satu kekuatan Kaguya, menjadi Haki biru yang sangat dingin.


Perubahan kekuatan energy yang sangat mendadak itu mengejutkan Silva. Dalam sekejap, Kaguya bisa menyetarakan energinya dengan Silva yang merupakan seorang pilar surga.


Selain itu, dia pun baru tersadar kalau katana Kaguya tidak mengalami kerusakan sama sekali padahal sudah berbenturan dengan senjata dewanya berulang kali.


Memang tidak aneh kalau musuh Nodens harus memiliki kapabilitas untuk bisa menjadi lawannya. Akan tetapi, Silva tetap saja masih mengagumi mereka karena telah diperlengkapi dengan senjata kelas satu tersebut.


"Kamu bisa menyerang duluan."


"Anda saja yang menyerang saya duluan, bukankah Anda yang pertama ingin serius?"


"Cih, menyebalkan! Jangan salahkan aku kalau kamu terluka!!"


"..."


Dengan sedikit rasa kesal, Silva mulai menyerang Kaguya. Whip swordnya memanjang dan mengarah ke Kaguya, tetapi...


Kaguya tiba-tibanya muncul di sampingnya, dengan kuda-kuda yang masih terpasang namun tangannya sudah siap untuk mengeluarkan katananya dari sarungnya.


Itu membuat Silva tercengang melihat tatapan predator Kaguya yang sangat dingin dan menusuk.


"Bang!!"


Ledakan dari benturan energy terjadi di tempat mereka. Yang tersisa di tengah-tengah kepulan asap hanyalah Kaguya seorang dengan katana yang sudah tersarungkan kembali.


Sedangkan Silva sudah terhempas dan jatuh ke daratan.


"Apa itu barusan?"


Silva masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya. Hanya sepintas saja, dia melihat Kaguya muncul di sampingnya dan terlihat seperti sudah bersiap untuk menyerang Silva. Pada saat itu, Silva hanya mengikuti nalurinya untuk bertahan dan berhasil memasang pertahanannya dengan memutar kembali senjatanya ke arah Kaguya sebagai penghalang.


Dia hanya ingat pada bagian itu saja, dia sama sekali tidak melihat kelanjutannya dengan benar karena tiba-tiba saja ledakan terjadi. Dan kemudian dia terlempar.


Dari apa yang Silva tahu, Kaguya entah bagaimana telah menyerangnya. Hanya saja Silva tidak dapat melihat serangannya, membuat Silva terkejut dengan perubahan peristiwa yang terjadi begitu cepat.


"Anda mungkin tidak akan bisa menjadi lawanku, Tuan Pilar."


Berdiri di langit dengan Haki biru yang berfluktuasi, Kaguya sang apostle Freya, penuh dengan aura superioritas memandangi Silva dengan tatapan dingin.


\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=


"Energyku baru saja terhubung dengan Kaguya."


Ruang monitor sementara, kediaman Bestlafiol. Freya menyampaikan statusnya kepada Merlin dan ibunya, Lilia.


"Waktu pertarungan sudah berjalan cukup lama, apa Kaguya mendapatkan masalah?"


"Kaguya?"


"Aku tidak tahu. Bisa kita lihat dia sebentar? Aku khawatir dengannya."


Karena alat transmisinya hanya satu, mereka harus mengganti salurannya ketika ingin memonitor anggota yang terpisah dari lokasi pusat pertarungan.

__ADS_1


"Kalau tidak salah, dia sedang melawan pilar keempat, kan? Lokasi mereka ada di perbukitan. Ah, ini dia..."


Niks mencari keberadaan Kaguya melalui skill pengintainya dan kemudian mengubah saluran monitor setelah Kaguya ditemukan.


"Kelihatannya dia lebih unggul, Nyonya Freya."


"Iya. Aku terlalu mengkhawatirkannya ternyata."


Setelah melihat Kaguya baik-baik saja, bahkan sampai bisa menandingi Silva, Freya merasa lega.


"Rekan-rekanmu sangat hebat, Frey."


"Tentu saja, Bu. Mereka semua adalah orang-orang yang dapat aku andalkan."


Freya senang Kaguya dan yang lainnya mendapatkan pujian dari Lilia. Ada perasaan bangga karena telah menjadi bagian dari kelompok mereka, itu membuat dia sangat bahagia.


"Yah, ini adalah alasan kenapa William dan Ignis tidak ikut berperang, ya? Sekarang aku mengerti."


Lilia seperti salah paham akan sesuatu, Freya dan Merlin mengamatinya. Memang itu juga tidak salah, tetapi alasan sebenarnya adalah karena Albert tidak mau menempatkan mereka di medan perang lagi. Hal ini hanya diketahui oleh Freya dan Merlin.


"Uhm, bagaimana dengan Ayah?"


"Benar, aku tidak mengkhawatirkannya tetapi aku tetap ingin melihat dia bertarung."


Merlin berhasil mengalihkan topiknya.


Dengan begitu, mereka melihat semua pertarungan dari layar monitor, dan tentunya semua orang baik-baik saja.


\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=


Tidak jauh dari istana, sisi dinding barat. Carol dan pilar ketujuh, atau sering disebut sebagai pilar terakhir, Tiamat – bertarung cukup intens menggunakan senjata mereka masing-masing.


Senjata Carol adalah pedang dua tangan, sedangkan Tiamat menggunakan sabit berukuran besar.


Tiamat selalu menyerang Carol dari arah depan, dan tentunya Carol hanya perlu menangkis atau menghindarinya. Pertarungan itu terlihat cukup sederhana, tapi sebenarnya tidak.


Sabit besar Tiamat juga merupakan senjata tingkat [mythical-class]. Senjata ini dapat memberikan damage tambahan jika berhasil menyentuh atau mendaratkan pukulannya kepada lawan. Dan tergantung keterampilan si pengguna, senjata tersebut juga bisa melipatgandakan serangannya sebanyak ratusan kali lipat hanya dengan satu ayunan jika serangannya selalu berhasil mendarat ke tubuh lawan.


Ada beberapa cara untuk tidak terbebani dengan kemampuan dari senjata tersebut, yaitu dengan menghindarinya atau bila perlu menjauh dari Tiamat itu sendiri.


Namun Carol tidak lupa kalau Tiamat adalah salah satu pilar surga, meskipun dia yang terakhir.


Dalam kecepatannya dan ketangkasan, perbandingan antara Carol dan Tiamat tidak terlalu jauh berbeda. Oleh karena itu, sedikit sulit untuk menghindari serangan Tiamat ataupun menjauh darinya. Lengah sedikit, Carol bisa saja tertebas dari belakang.


Mau tidak mau, Carol harus menghadapinya. Dan cara terbaik untuk mengakhiri serangannya adalah membungkam penggunanya, yaitu Tiamat.


Sebenarnya, hanya itu satu-satunya cara yang bisa Carol pikirkan. Karena dia sendiri tidak tahu kelemahan dari senjata mythical-class, dia hanya bisa menghadapinya secara langsung.


Sebelum pertarungan di antara mereka pecah, Carol dan Rin sempat berbicara untuk memilih lawan. Dan setelah itu pilar keenam, Agatha Knell, menggunakan mace-nya untuk mengawali pertarungan.


Dari sana kelompok mereka jadi terpecah belah. Dan alasan kenapa Carol melawan Tiamat karena Tiamat sendiri yang menghampirinya. Dia tidak tahu bagaimana nasib anggota lainnya karena dia tidak bisa mengkhawatirkan orang lain ketika dia sendiri sedang dalam bahaya dari sabit Tiamat.


Jika mereka mendapatkan lawan yang mereka inginkan, maka Rin pasti sedang melawan Agatha Knell sekarang. Karena, Carol sudah berurusan dengan pilar surga ketujuh di sisinya.


"42... 43... 44... 45... 46!! Hyaah!!"


"Kghh..."


Tiamat terus menerus mendaratkan pukulannya padaku, dan makin lama ke sini pukulannya semakin kuat.


Ini terasa sangat berat dari waktu ke waktu. Jika aku tidak melakukan apapun terhadapnya, aku mungkin akan kalah. —Carol mencoba tegar dan terus mencari celah untuk melumpuhkan lawannya.


Ditambah lagi, setiap tebasan sabitnya dapat menciptakan secondary attack yang berupa bilah-bilah angin kecil. Itu menyebabkan sayatan-sayatan kecil pada tubuh Carol dan jumlahnya semakin bertambah seiring dengan jumlah tebasan senjatanya.


Hanya sekali saja, aku ingin menghindari serangannya agar dia gagal mendapatkan kombo. Tapi bagaimana caranya? Kecepatan kami hampir sama. —Carol sudah kerepotan.


Dia terus fokus untuk bisa menangkis setiap serangan Tiamat. Sabit Tiamat itu sangat besar dan melengkung, ujung dari senjata tersebut sangat berbahaya dan sulit dilihat karena terlalu runcing. Dia tidak bisa lengah dan membiarkan musuh mendaratkan benda tajam tersebut ke tubuhnya.


Lagian, kenapa benda sebesar itu bisa dia ayunkan dengan mudah? —Carol mengeluh dalam hati.

__ADS_1


Setiap Tiamat ingin menyerang Carol, dia memang harus mengambil ancang-ancang untuk menebasnya. Dan pada saat itu, seolah-olah Carol seperti dituntun oleh pikirannya untuk menghindari setiap serangan. Tapi setiap kali dia ingin berpikir untuk menghindar, nalurinya berkata kalau dia akan menyesal ketika melakukan itu.


Itu sebabnya dia tidak pernah mau menghindari serangan Tiamat, dia tidak berani. Bertarung tanpa memahami sifat senjata lawan memang sangat berbahaya.


"Ini pukulan ke 50!! Matilah!!"


"Kenapa kau sangat ingin aku mati?"


Tiamat tiba-tiba muncul di depan Carol dalam satu kedipan mata, dan dia sudah mengarahkan senjatanya.


Pada saat Tiamat mengayunkan senjatanya dengan sangat cepat, Carol dalam waktu singkat memutuskan untuk menyerang Tiamat juga daripada harus memilih menghindar atau bertahan.


Dia juga berpikir kalau serangan ke 50 itu mungkin bisa membuat dia terluka, bahkan jika dia berhasil menangkisnya.


Itu sebabnya dia tanpa memperdulikan sabit Tiamat, dia mengarahkan pedang emasnya ke leher Tiamat dan menemukan Tiamat sangat terkejut melihatnya tidak bertahan lagi.


Kedua senjata mereka, mengarah ke masing-masing leher musuh mereka.


Di sana, Tiamat sempat berpikir kalau sabit besarnya lebih unggul dalam ukuran dan bisa mencapai leher Carol lebih dulu dari serangannya.


Namun ketika dia sudah berpikir akan menang dan ujung runcing sabitnya hampir menyentuh leher Carol dari belakang, tiba-tiba semacam penghalang tipis emas menyelimuti seluruh tubuh Carol dan menghambat serangan sabit Tiamat.


Walaupun penghalang itu bisa secara perlahan tertembus karena stak kekuatan dari senjatanya sudah banyak, tetapi itu justru memberikan waktu untuk Carol mendaratkan serangannya.


Carol dan Tiamat, sudah bisa melihat dan menebak kalau serangan dari pedang emas Carol akan mendarat lebih dulu. Dalam waktu yang sangat singkat, Tiamat memilih untuk menjauhkan lehernya dari lintasan serangan pedang Carol, dan kemudian mengagalkan serangannya untuk menggunakan batang sabitnya sebagai alat untuk menangkis demi pertahanannya.


Dia lebih memilih untuk mengagalkan serangan ke 50-nya daripada dia harus menerima luka.


Tiamat mundur sejauh mungkin setelah serangan Carol bisa dia tangkis dengan sempurna.


"Hou, jadi begini cara untuk melawan senjatamu..."


Sambil menahan keringat dingin karena hampir mati oleh serangan Tiamat, Carol berlagak tegar.


Sebenarnya dia bertaruh untuk bisa keluar dari serangan berkelanjutan Tiamat. Itu dilakukan hanya dengan insting bertarungnya dan secara tidak sengaja memikirkan cara seperti itu dalam waktu yang cukup singkat. Namun ternyata hasilnya cukup memuaskan.


Sekarang dia sangat bersyukur karena memiliki penghalang suci milik istrinya ditubuhnya. Dia sangat tertolong karena hal tersebut.


Ruang monitoring, Lilia dengan gelisah menyaksikan suaminya yang ingin mempertaruhkan hidupnya dengan mengandalkan keberuntungannya demi memenangkan pertarungan.


Dia tahu kalau perang memang tempat yang penuh dengan kematian, tetapi tepat saja dia tidak bisa menerima kalau suaminya mati begitu saja.


"Ibu tenang. Ayah masih hidup."


"Ya ampun. Kenapa dia sampai melakukan hal senekat itu."


"Aku yakin ayah sudah memperhitungkan semuanya, Bu. Jadi percayalah."


Merlin dan Freya berusaha menenangkan Lilia.


Padahal sebelum perang dimulai, Lilia terlihat sangat begitu tegar. Tapi ternyata dia sangat khawatir, lebih dari Merlin dan Freya.


"Ibu lihat! Ayah sedang tersenyum. Aku yakin ayah akan baik-baik saja."


"Kecepatan mereka memang sama, tetapi ayah masih unggul dalam teknik. Menurutku persentase kemenangan ayah cukup tinggi."


"Um, aku tahu itu. Tapi tetap saja. Jika dia terkena sedikit saja serangan dari senjata Tiamat, dia bisa..."


Bisa kalah karena senjata [mythical-class] bukanlah sekedar senjata biasa. Senjata-senjata tersebut dapat merusak roh targetnya secara permanen.


Senjata-senjata ini dapat memotong roh lalu mengubahnya menjaga energy bebas. Setiap bagian jiwa yang sudah terpotong dan menjadi energy bebas tidak akan bisa kembali atau berubah menjadi bagian dari roh itu kembali.


Itu sebabnya senjata setingkat ini juga bisa disebut sebagai "senjata pembunuh dewa".


Namun dewa adalah makhluk spiritual tingkat tinggi. Termasuk Carol dan keenam Pilar Surga lainnya, mereka bisa bangkit atau hidup kembali dengan ingatan utuh.


Dengan kata lain, Carol dan pilar Surga lainnya adalah makhluk abadi. Akan tetapi, dunia ini memiliki hukum mutlak dimana jika dewa yang terbunuh oleh dewa lainnya, maka dewa tersebut tidak akan bisa hidup kembali.


Jadi, Lilia tidak bisa tidak khawatir melihat suaminya bertarung habis-habisan dengan Pilar Surga lainnya.

__ADS_1


Karena jika kalah, suaminya tidak bisa hidup kembali. Ketakutannya melebihi ketakutan manusia yang bisa bereinkarnasi ketika mati. Dia lebih cemas lebih dari siapapun.


__ADS_2