
"Albert, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
Freya bertanya karena aku melamun.
Aku mengambil beberapa kue dan meminum teh untuk mengubah suasana.
Selanjutnya, aku dan Carol melanjutkan pembahasan tentang senjata milikku. Jenis dan atributnya, semua aku katakan tanpa perlu ada yang disembunyikan.
Lagipula, aku sudah memperlihatkan sejumlah senjata kepada mereka, menyembunyikannya sekarang sudah termasuk terlambat.
"Semuanya atribut dasar elementer, tidak memiliki atribut suci, ya?"
"Memangnya ada apa, Ayah Mertua?"
"Tidak, kupikir perisai dengan atribut suci dapat meningkatkan daya tahannya dan dapat melawan iblis."
Ayah Freya, Carol, telah menyebut kata iblis.
Malaikat dan iblis merupakan musuh bebuyutan, jadi sudah wajar jika mereka akan mengarahkan pembicaraan ke sana bila menyangkut tentang pertarungan.
Namun aku dan Freya sedikit merasa tidak nyaman ketika Carol menyebut kata iblis. Itu karena dua diantara putri kami merupakan ras iblis. Ditambah lagi, mereka berasal dari ras iblis unggulan, Ifrit.
Kurasa, tidak akan mudah untuk meyakinkan kedua orang tua ini tentang keberadaan Atla dan Eren.
"Ayah, Ibu, sebenarnya kami sudah memiliki tiga anak."
"Hah."
Freya langsung menuju ke sana, dan membuat aku terkejut.
Padahal aku sedang memikirkan bagaimana aku akan menjelaskan tentang hal itu, dan berniat akan menjelaskan setelah aku sudah merasa cukup dekat dengan orangtuanya.
Tapi rencanaku hancur ketika Freya mengatakan itu.
Carol bergumam "Hmm?" sambil memicingkan matanya ke arahku, dia terlihat tidak senang. Sedangkan Lilia mengatakan "ya ampun!" dengan terkejut sambil menutup mulutnya.
Kupikir, reaksi Lilia lebih alami dan sering dijumpai ibu ibu yang mengidamkan cucu.
"Sayang, mereka sudah mempunyai anak. Akhirnya kita memiliki cucu!"
Lilia terlihat sangat bahagia, meraih tubuh Carol dan menggoyangkan tubuhnya beberapa kali karena terlalu senang.
Awalnya Carol terlihat sangat tidak senang, tapi setelah melihat istrinya begitu bahagia, dia menjadi tenang.
Sigh, aku bersyukur karena mereka tidak menjatuhkan banyak pertanyaan untukku.
"Ibu, tenang dulu. Ini bukan seperti apa yang Ibu bayangkan."
"Eh?"
"Kami belum melakukan hal sampai sejauh itu. Tiga anak yang aku maksud adalah anak angkat."
"Angkat? Jadi kalian belum menghasilkan anak sendiri?"
"Belum."
"Ya ampun, kupikir aku akan bertemu dengan cucuku dari darah keturunan ku."
Lilia terlihat kecewa. Dan ketidaksenangan Carol muncul kembali.
Sungguh, aku tampaknya selalu serba salah di matanya.
"Sebenarnya, ada satu hal yang ingin kukatakan kepada kalian. Ini mengenai anak angkat kami."
Freya menjadi serius. Kemudian Lilia mengangguk dan Freya melanjutkan...
"Ibu ingat kami pernah ke dunia iblis?"
Freya mengatakan itu dan suasana tiba-tiba berubah.
"Nah, dua diantara ketiga putri kami adalah iblis--"
*BANG*
Tepat setelah Freya mengatakan "iblis", Carol berdiri dan mengeluarkan seluruh auranya. Mau dilihat dari mana pun, dia pasti sedang marah.
Meja dan bangku terhempas, lalu menabrak dinding hingga hancur. Aura Carol sangat besar dan kuat, membuat ruangan ini penuh dengan energi sucinya.
Sambil menahan tekanan dari Carol, aku dan Freya mengambil beberapa langkah mundur. Juga, aku tidak lupa untuk mengambil staffku kembali.
Lilia sama seperti kami, mundur beberapa langkah dan mencoba bertahan dari tekanan aura Carol.
"Apa kamu benar-benar mengakui iblis sebagai anakmu sendiri, Freya?"
Carol berbicara, suaranya lebih berat dari biasanya.
"Ya, mereka adalah putriku, dan aku tidak akan pernah menyangkalnya!"
Mengakhiri kalimat, Freya mengeluarkan sejumlah energi yang sangat besar, lebih besar daripada Carol hingga membuat Carol terkejut.
Freya juga tampak terlihat marah. Mengeluarkan energi dalam jumlah besar dan membuat seluruh ruangan hancur.
(Sebagai suami, apa yang harus aku lakukan sekarang?)
Menenangkan Carol sudah pasti tidak mungkin. Dan jika aku menenangkan Freya, apa yang akan dilakukan Carol pasti akan merepotkan kami. Tapi aku juga tidak akan tinggal diam jika mereka benar-benar bertarung.
Meski Freya lebih kuat, melihat Freya bertarung dengan keluarganya sendiri sangat membuat perasaan tidak nyaman.
Namun kekhawatiran ku sepertinya tidak diperlukan.
Merasa kalah dari tekad Freya, Carol berhenti mengeluarkan auranya. Itu juga berlaku untuk Freya, dia juga berhenti mengeluarkan energinya setelah melihat Carol menyerah.
"Aku akan bertanya sekali lagi. Kamu benar-benar menganggap iblis sebagai anakmu, Freya?"
"Ya, aku sudah mengakui mereka sebagai anakku sendiri. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menyesali satu hal ini."
Wajah Freya penuh dengan tekad.
__ADS_1
Sejak awal, dia memang gadis yang penuh komitmen. Melihat dia seperti itu sekarang, membuat semua orang di ruangan ini bisa melihat dengan jelas tekadnya.
"Begitu ya. Aku sudah salah membesarkanmu..."
Carol terlihat murung. Dia pasti tidak mengira bahwa anaknya akan menganggap iblis sebagai keluarga.
Anehnya, aku bisa memahami kenapa hanya karena menganggap ras seperti iblis sebagai keluarga, bisa membuat Carol kecewa pada Freya.
Mau bagaimana lagi, ras iblis sangat dibenci oleh hampir seluruh ras yang ada di "dunia lain" ini.
Tidak, di duniaku berasal, mereka juga diperlakukan seperti itu.
Mereka terkenal sangat kejam, licik, dan sejenisnya. Singkatnya mereka sangat buruk dan selalu merugikan pihak lain.
Jujur saja, aku juga takut dengan mereka. Tapi Atla dan Eren berbeda dengan makhluk seperti itu.
Mereka baik, rajin, dan manis. Intinya tanda-tanda sifat iblis tidak bisa ditemukan di diri mereka.
Aku pernah mengira kalau hal seperti nakal atau tidaknya seorang anak karena faktor mereka dibesarkan. Padahal tidak semua bisa disalahkan karena faktor itu.
Sifat seseorang, itu alami berasal dari diri mereka sendiri. Pengaruh eksternal hanya untuk pembentukan mentalnya.
Jadi — manusia, malaikat, atau iblis — selama mereka tidak berbuat jahat terhadap aku dan keluargaku, aku tidak akan menganggap mereka jahat.
Tidak peduli bagaimana kau menilai, manusia sepertiku lebih memilih melihat keuntungan untukku sendiri daripada mementingkan kesedihan orang lain.
Yah, aku masih memiliki hati nurani. Bukan berarti melihat orang lain sedih membuat aku senang. Jika aku bisa membantu mereka, aku akan membantu.
"Tunggu Sayang, jangan bersikap seperti itu kepada Freyaku."
Lilia terlihat khawatir.
"Jangan menganggap dia sebagai anakmu sendiri, dia juga anakku."
"Terserah saja. Tapi jangan selalu membuat keputusan terlalu cepat, ok?"
"Apa yang kamu maksud? Memangnya, kamu mengira aku ingin melakukan apa?"
"Eh? Kukira, orang sepertimu akan membuang Freya karena melakukan hal itu."
"Tentu saja, tidak. Kenapa aku harus membuang putriku sendiri?"
"Oh, maafkan aku. Aku sudah salah menilaimu. Ternyata kamu lebih baik dari apa yang aku kira."
Lilia tersenyum cerah. Dia benar-benar memperkirakan suaminya akan mengusir Freya karena telah menganggap iblis sebagai keluarga.
Padahal aku juga sama seperti Lilia, akan berfikir kalau Carol akan melakukan hal itu melihat dia begitu marah sebelumnya. Aku tidak menyangka dia masih menganggap Freya sebagai putrinya, bahkan setelah mengetahui putrinya mengadopsi anak iblis.
Kurasa, rasa sayang Carol terhadap putrinya lebih tinggi daripada apa yang kami kira.
*****
Beberapa menit kemudian, kami berkumpul kembali di meja dan bangku yang telah disediakan.
Meski hancur berantakan, kami tidak berpindah tempat karena beberapa pelayan wanita telah membawakan meja serta bangku untuk kami.
Mereka juga menuangkan teh, tapi kurasa minuman itu tidak terlalu memberikan pengaruh terhadap perubahan suasana kami.
Lilia bertanya dengan elegan. Wajahnya biasa saja, seolah semua kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi.
"Benar. Mereka adalah anak-anak yang manis."
Freya juga bersikap biasa seperti itu adalah jawaban paling wajar di dunia.
"Lalu, bagaimana dengan anak yang ketiga?"
"Oh, yang satu itu cukup spesial karena dia sangat aktif dan jarang ditemui."
"Jarang ditemui?"
"Ya, dia adalah monster."
"..."
Baik itu Lilia ataupun Carol, mereka berdua terdiam setelah mendengar jawaban Freya.
Aku sangat yakin mereka pasti menganggap kami adalah keluarga aneh, itu tidak bisa dipungkiri.
Sejak awal, malaikat seperti Freya yang telah merangkul iblis juga sudah merupakan keanehan diantara hal paling aneh di dunia.
"Kamu adalah Freya si putri manis Ibu, kan?"
Lilia bahkan mulai meragukan anaknya sendiri.
"Aku mengerti apa yang Ibu pikirkan tentangku, tapi aku masihlah Freya putrimu. Tolong jangan pernah meragukan hal ini. Dan juga, ini karena Ibu belum pernah melihat mereka. Jika Ibu sudah melihat mereka, Ibu pasti akan merubah pandangan Ibu tentang iblis dan juga monster."
"Memangnya mereka anak-anak seperti apa?"
Akhirnya Carol bertanya.
Kemudian Freya memandangku. Mungkin ingin aku menjawab pertanyaan itu.
"Mereka adalah anak yang baik. Sebenarnya saya bisa membawa mereka ke sini "sekarang juga" jika kalian berdua ingin melihat mereka."
"Hmm, bagaimana kamu melakukannya? Ah, tunggu, aku juga Ingin mengetahui bagaimana cara kalian agar bisa sampai ke sini?"
"Baiklah saya akan menjelaskan semuanya..."
Dengan begitu, aku menjelaskan tentang gerbang antar dunia milik kami dan kuda peri sebagai kendaraan kami.
Sebenarnya, setiap dunia memiliki gerbang dimensi untuk melintas ke dunia lain. Tapi hanya seseorang dengan status tinggi yang dapat mengendalikan gerbang dimensi tersebut.
Contohnya, Hestia. Dengan statusnya, dia memiliki wewenang untuk melintas antara Dunia Roh dan Dunia Manusia.
Status seperti itu diciptakan pasti memiliki arti dan tujuan. Hanya saja, aku belum mengetahuinya karena kekurangan informasi.
"Ohh, jadi kuda di depan itu adalah Kuda Peri."
"Sangat mengejutkan. Ini baru pertama kalinya aku melihat Kuda Peri."
__ADS_1
Mereka terkesan dengan kuda kami.
Ternyata, topik kuda lebih penting daripada gerbang dimensi di mata mereka.
"Albert, kamu tidak hanya kuat, tetapi juga memiliki banyak kemampuan dan hal aneh. Apa kamu benar-benar hanya manusia biasa?"
Pertanyaan Carol membuat aku bingung. Dan juga, ini adalah pertama kalinya dia menyebut namaku.
Apakah itu karena Kuda Peri? Seharusnya aku membahas kuda peri saja sejak awal, kan?
Tidak, kurasa kita tidak akan menganggap kuda itu sebagai pokok pembahasan.
"Sebenarnya aku juga bingung dengan kondisiku sendiri. Aku adalah manusia, tapi tidak memiliki orang tua di sini karena aku berasal dari dunia lain. Jadi, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu, maafkan aku."
Aku membungkuk, agak lemah.
Bahkan jika aku menjawab, pertanyaan seperti itu akan kembali ditanyakan ketika mereka melihat keanehan aku yang lain.
Itu sangat merepotkan untukku. Lebih baik, aku menanamkan kata "aneh" Atau "misterius" Saja di kepala mereka, dan biarkan mereka terus penasaran agar mereka tidak mengulangi pertanyaan yang sama.
Maksudku, jika mereka sudah menganggap aku misterius, hal-hal aneh yang akan keluar dariku tidak akan mereka persoalkan lagi karena sejak awal aku memang orang aneh.
"Ayah, aku ingin Ayah berhenti bertanya hal-hal seperti itu lagi mulai sekarang. Dia benar-benar manusia dari dunia lain, dan aku bisa menjadi saksi karena aku telah melihatnya sendiri ritual pemanggilan Albert."
Sangat tidak enak mendengar aku berasal dari sebuah ritual, itu seolah-olah aku adalah makhluk halus. Tapi aku senang Freya mau membantu.
"Benar, Sayang. Kita bisa mempercayai orang pilihan Freya. Tapi kesampingkan itu, bukankah ini sudah waktunya untuk membahas acara pernikahan mereka?"
Lilia terlihat sangat gembira akan sesuatu.
"Kenapa kamu terburu-buru seperti itu? Bukankah mereka yang akan menikah?"
Carol bertanya dengan heran.
Aku juga penasaran kenapa Lilia terlihat begitu sangat senang. Sambil meminum teh yang telah disediakan, aku mendengar jawaban Lilia.
"Tentu saja, aku ingin segera memiliki cucu."
"Uhuk."
Dan aku tersedak karena dikejutkan oleh motif Lilia.
"Kamu baik-baik saja?"
Dengan cepat, Freya memberikan serbet. Aku berterimakasih dan membenarkan posisi.
"Ada apa, Albert?"
Lilia bertanya dengan bingung.
"Berbicara tentang pernikahan, sebenarnya saya..."
Aku ingin mengatakan "Sebenarnya aku memiliki satu istri lagi" seperti itu, tapi itu pasti akan merusak suasana hati Carol.
Meski begitu, aku masih harus menyampaikan hal ini kepada mereka. Aku adalah pria sejati!!
"Ibu, Ayah. Sebenarnya Albert sudah memiliki istri pertama. Dan aku adalah nomor dua..."
Tiba-tiba Freya mengatakan semuanya dengan wajah polos sambil memakan beberapa cemilan.
Aku mendengar "Hah?" dari mulut Carol. Dia memicingkan mata, terlihat tidak senang.
Jujur saja, aku sangat panik saat ini. Ini adalah situasi paling menegangkan yang pernah aku alami dalam hidupku.
Tapi aku tidak bisa mundur sekarang. Ayolah Albert, kamu adalah pria sejati!!
"E-Ehem, seperti apa yang Freya katakan, aku sudah memiliki satu istri bernama Merlin. Dan aku datang ke sini ingin meminta izin kepada kalian untuk menjadikan Freya sebagai istri keduaku."
Oh, aku mengatakannya! Meski agak gugup tetapi aku telah mengatakannya!!
"Merlin? Ah, apa jangan-jangan dia adalah orang yang sama dengan si pembuat kue kering ini?"
Lilia memiliki ingatan yang bagus.
"Benar, Ibu. Dia adalah wanitanya. Wanita yang sangat baik. Aku sudah diajarkan banyak hal olehnya. Dan sekarang, kami adalah sahabat."
Freya mengutarakan apa saja yang ada di dalam kepalanya tentang Merlin.
"Oh, aku jadi ingin melihatnya sendiri."
"Albert bisa menaruh pintu akses dunia di rumah ini. Dengan begitu, rumah ini dengan kastil Albert bisa langsung terhubung."
"Apakah itu bisa dilakukan?"
Lilia dan Freya menatapku secara bersamaan, ingin mencari jawaban. Sedangkan Carol, dia selalu menatapku sejak awal pembahasan Merlin.
"Eh... Ah, ya aku bisa menaruh pintu itu di sini. Karena pintu itu bisa diakses setiap hari sama halnya seperti pintu biasa, Anda bisa selalu datang ke kastil kami. Begitu juga dengan sebaliknya."
Aku agak melamun.
Ini terlalu aneh bagiku karena suasananya terlihat biasa-biasa saja.
"Kenapa, Albert?"
Freya bertanya.
"Tidak, aku baik-baik saja."
Aku menjawabnya dengan cepat. Lalu Freya entah kenapa malah tersenyum meledek.
"Kamu pasti heran kenapa Ibuku bersikap biasa-biasa saja setelah mendengar kamu memiliki istri lain, kan?"
"T-Tidak juga."
Berusaha untuk menghindar. Dan Freya malah tertawa melihat aku seperti itu.
Jujur saja, aku tidak mengira bahwa keluarga ini memperbolehkan poligami.
Selain itu, kenapa Freya tidak mengatakan hal ini sejak awal? Apakah dia ingin mempermainkan aku?
__ADS_1
Dia sekarang sedang tertawa, sangat senang dengan sesuatu.