
"Hei, bagaimana ini?"
"Kau bertanya padaku? Mereka sudah memulai perangnya, tahu! Tentu saja kita harus bertindak!"
"Ch, ini terlalu mendadak."
Para komandan istana Aeghistar yang tersisa mulai gelisah. Karena Albert dan kelompoknya menyerang mereka secara tiba-tiba, mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan persiapan.
Seluruh pasukan yang dipanggil telah datang, namun tindakan mereka tidak terarah dan sedang bertarung dengan koordinasi yang kacau.
Mereka hanya fokus menyerang pada satu musuh berukuran besar.
Sementara itu, para pilar sudah mendapatkan beberapa orang dari pihak musuh untuk diri mereka sendiri.
Mereka pergi jauh entah kemana untuk bertarung.
Dan terakhir, Miura – salah satu komandan istana – justru mau dibawa pergi oleh musuh.
Sudah jelas kalau dia berkhianat, tapi Hastur masih tetap mengkhawatirkannya dan malah mengambil tindakan di luar perintah.
Melihat semua itu, para jenderal istana yang tersisa sadar kalau musuh mungkin sudah merencanakan itu semua. Membuat anggota mereka terpisah sedemikian rupa.
Cthugha, sang jenderal api, bisa dibilang juga sebagai komandan tertinggi istana, menyadari hal itu lebih dulu melihat kekuatan mereka tiba-tiba berkurang drastis.
Sekarang orang yang tersisa untuk menjaga istana tinggal 4 orang, termasuk dirinya sendiri, Cthulhu, Ostars, dan Gideon.
Musuh juga tinggal 4 orang. Tapi melihat situasi secara keseluruhan, dia yakin musuh pasti sudah merencanakan sesuatu untuk mereka. Jadi dia tidak bisa lengah sedikitpun.
"Pertama, tugas kita adalah menjaga Yang Mulia. Jangan sampai pertarungannya diganggu oleh siapapun!"
"Aku mengerti. Lalu, pasukan kita juga butuh diberikan arahan."
"Kau benar. Tapi kita memiliki 4 musuh kuat di sini. Jika salah satu dari kita pergi untuk mengkoordinir mereka, maka..."
Kondisi mereka sekarang 4 VS 4. jika salah satu mereka pergi, maka jumlah mereka tidak akan bisa mengimbangi musuh. Itu selalu membuat mereka kepikiran.
Masalahnya tidak hanya itu. Mereka tahu kalau musuh juga sama kuatnya seperti mereka, dan bahkan memiliki kemampuan untuk mengalahkan mereka.
Jika dalam jumlah saja mereka tidak bisa menyamai musuh, maka persentase kekalahan mereka pasti akan meningkat.
Karena itulah mereka gelisah. Mereka punya banyak pasukan tapi tidak ada satupun dari mereka yang dapat mengomandoi pasukannya. Alhasil pasukan bergerak di luar kendali dan hanya melawan satu musuh saja, itupun mereka malah kewalahan.
Musuh hanya satu. Meski terlihat sangat kuat melihat sihir dan segala serangan lainnya tidak dapat melukainya, tapi pasti di suatu tempat dia memiliki kelemahan.
Jika saja salah satu diantara mereka dapat mengkoordinir pasukan...
"Mereka pasti telah merencanakan semuanya sampai sejauh ini!"
Cthugha sampai pada kesimpulan. Dia menguatkan rahangnya dan urat nadinya terlihat menonjol di pelipisnya, dia sangat marah.
Mungkin memang terlihat seperti musuh hanya datang dan menyerang seperti biasa, tapi tetap saja Cthugha melihat alur pertempuran sudah terpegang oleh mereka.
"Tidak, tidak mungkin mereka bisa merencanakan hal sampai sejauh itu. Ini pasti kebetulan."
"Ya. Kau hanya kehilangan ketenanganmu, Cthugha!"
Rekan setempat kerjanya, Ostars dan Gideon, mencoba menenangkannya.
Jika diingat kembali, musuh memang datang dan langsung menghajar tuannya. Kemudian yang bergerak setelahnya adalah para pilar. Jadi Cthugha mungkin memang terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Dia mencoba menenangkan dirinya kembali setelah mengingat itu, namun kemudian dia menemukan wajah Julius dan Ghidora di seberang kelompoknya. Dan akhirnya saling berkontak mata.
Ketenangan yang ingin dia dapatkan tiba-tiba menghilang, melihat wajah mereka begitu santai seperti mereka sedang meremehkan dirinya.
Atau mereka mungkin memang meremehkannya, karena bagaimanapun dia pernah dikalahkan sekali oleh mereka.
Dia berpikir, mereka mungkin bisa bersikap santai sedemikian rupa karena mereka sudah tahu kalau mereka bisa mengalahkan Cthugha.
Itu membuat dia kesal dan semakin frustasi.
Dia juga ingat kalau tuannya menjadi tidak mempercayainya lagi karena ulah mereka berdua. Membuat kesabaran hampir habis. Dia, bagaimanapun juga ingin menyerang salah satunya secepat mungkin.
"Cthugha, mungkin ini waktu yang bagus untukmu membersihkan nama baikmu."
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Aku akan mengatur pasukan. Sedangkan kau harus menangani musuhku, jadi kau akan menghadapi dua orang. Apa kau ingin melakukannya?"
"Guhh..."
Berbicara dengan tenang, Cthulhu memberikan sarannya. Dia adalah jenderal es, pria yang dingin baik di atribut maupun sikapnya. Bahkan sekarang, dia masih bisa terlihat tenang di situasi genting ini.
Dia bahkan mungkin tidak peduli jika Cthugha kalah lagi oleh musuh.
Dia tahu Cthugha pernah kalah sekali oleh musuh, tapi dia tetap membiarkan dirinya melakukan itu.
__ADS_1
Kalau bukan karena tidak peduli lalu apa?
Tapi anjurannya dapat diterima. Kalau Cthugha ingin membersihkan nama baiknya maka dia harus bisa mengalahkan musuh itu. Demi mendapatkan kembali kepercayaan tuannya.
Namun tetap saja. Karena dia pernah dikalahkan sekali oleh musuh, dia adalah orang yang paling tahu kalau musuh ketika bekerjasama, kekuatannya akan meningkat sangat gila.
Waktu itu dia memang lengah karena termakan oleh kemarahannya, tapi itu tidak mengubah fakta kalau mereka bisa mengalahkannya dalam satu waktu singkat. Sangat tidak masuk akal.
"Bagaimana?"
Cthulhu mendesaknya. Membuat Cthugha semakin bimbang.
"Aku masih tidak mengerti dengan apa yang kalian rencanakan."
Gideon, di sisi lain, mengutarakan kebingungannya.
"Gampangnya, Cthugha akan menjadi Tank kalian."
Singkat dan jelas, Cthulhu secara terang-terangan ingin menjadikan Cthugha samsak tunju musuh. Itu terlihat seperti dia ingin mengorbankan Cthugha.
Musuh sudah jelas kuat, dan siapapun mengerti hal ini. Jika dalam pertarungan tim mereka memiliki 3 orang, maka itu akan dibagi menjadi Tank, DPS, dan Support.
"Hei, bukankah itu terlalu..."
"Itu terlalu beresiko."
Setelah mengerti dengan pembicaraannya, Ostars dan Gideon langsung menentangnya.
Itu terdengar cukup menjanjikan untuk situasi mendesak saat ini, tapi mungkin saja Cthugha mati dalam prosesnya.
Jika dipikirkan baik-baik, lebih baik kehilangan sejuta pasukan daripada kehilangan satu komandan terkuat mereka. Bagaimanapun pasukan bisa dibuat kembali nanti, namun mencari pengganti untuk posisi komandan cukup sulit.
Masing-masing komandan adalah malaikat peringkat tinggi yang sudah hidup selama ribuan tahun. Dan mereka juga merupakan malaikat langka yang memiliki keterampilan uniknya tersendiri. Berbeda dengan malaikatnya biasa.
"Tenang saja. Aku punya rencana untuk menangani makhluk itu. Setelah aku selesai berurusan dengannya, aku akan membawa seluruh pasukan untuk membantu kalian. Sementara itu, kalian harus menahan pergerakan musuh supaya mereka tidak membantu makhluk besar itu."
Cthulhu menjelaskan rencananya. Dan itu terdengar lebih realistis daripada yang diduga, membuat Cthugha dan yang lainnya terkejut.
"Ah, ada cara seperti itu rupanya."
"Baiklah, aku setuju dengan rencanamu. Kami akan berurusan dengan mereka! Kau harus cepat menangani monster itu."
Ostars dan Gideon menyetujui rencananya, dan agak bersemangat.
"Ya, aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi!"
Pergerakannya dapat dilihat dengan jelas oleh Julius, Ghidora, Diego, dan Damara — 4 orang yang akan menjadi lawan Cthugha. Namun mereka tidak repot-repot mengejar kepergiannya.
"Apa aku perlu pergi membantu teman kalian?"
Ghidora menawarkan diri untuk membantu Demiurge yang sedang melawan pasukan malaikat sendirian.
Mengurus pasukan sebanyak itu sendirian saja sudah membuat orang lain ingin membantunya, tapi baru saja ada salah satu musuh kuat menuju ke sana. Membuat semua orang semakin mengkhawatirkannya.
"Dia adalah tumbal yang bagus demi kemenangan kita, jadi biarkan saja."
"Eh?"
"Tidak, tidak. Caramu mengatakannya tidak benar, Julius!"
"Ya. Dia hanya akan menjadi pengalihan. Karena tubuh kerasnya itu, aku yakin dia tidak akan kalah semudah itu."
"Be-Begitu, ya."
Diego dan Damara mengklarifikasi kesalahan dalam penyampaiannya Julius agar Ghidora tidak salah paham.
Meski mereka dalam divisi yang sama, yaitu sesama Einherjar. Julius dan Demiurge sampai sekarang masih tidak dapat akur.
Dan meski ucapannya terlihat seperti lelucon, tapi Julius mungkin cukup serius untuk mengatakan itu.
"Pokoknya. Berkat dia, musuh kita jadi berkurang satu. Ayo kita selesaikan ini dengan cepat."
"Ya!" ×3
Dan dengan begitu, pertarungan mereka pun dimulai.
Tapi ada satu hal yang mereka tidak ketahui. Yaitu, kepergian Cthulhu.
Cthulhu secara diam-diam melarikan diri dari lokasi pertempuran. Escape!
Dia tidak pergi untuk mengarahkan pasukan ataupun untuk berhadapan dengan Demiurge. Ketika rekan-rekannya sudah bertarung dengan musuh, dia memastikannya sekali lagi dan kemudian berbelok ke arah lain ketika semua orang tidak menyadarinya.
"Ini pertarungan yang tidak mungkin dimenangkan."
Gumamannya di tengah perjalanan. Wajahnya tetap datar ketika mengakatan itu meskipun dia telah mengkhianati semua orang, bahkan sampai menghianati tuannya sendiri.
__ADS_1
(Mau bagaimana lagi.) — Pikirnya. Dia sudah mendengar semuanya, informasi tentang kekuatan musuh dari Cthugha. Dan itu membuatnya sangat terkejut.
Dia bahkan tidak percaya dengan setiap ucapannya, "musuh memiliki ini" Atau "musuh berkemampuan seperti itu". Ketika Cthugha sedang menjelaskan rinciannya.
Namun ketika dia melihat sendiri hari ini, pasukan musuh yang sedang menyerang mereka. Dia yakin akan satu hal, yaitu mereka (Nodens) pasti tidak akan menang. Dia akhirnya percaya.
Kenapa dia bisa seyakin itu kalau pihaknya yang akan kalah? Itu karena musuh memiliki pilar kelima di pihak mereka.
(Sudah jelas, musuh pasti memiliki hampir dari semua informasi kami dari Carol. Jika dia bekerjasama, dia pasti membeberkan hal sepenting itu kepada mereka.) —Cthulhu, memikirkan hal ini sejak pertama kali musuh datang menyerang istana.
Jadi, sudah hampir dipastikan kalau musuh bisa memenangkan perang tersebut.
Salah satu buktinya adalah mereka memiliki kekuatan untuk menandingi tujuh pilar surga, dapat menghiraukan pasukan malaikat, dan... Memiliki dua Master Divine Monster.
Yang terakhir mungkin menjadi faktor utama musuh dapat memenangkan pertarungannya.
Jadi, sudah jelas kalau Nodens akan kalah.
Dengan kesimpulan itu, Cthulhu kemudian mencari cara untuk melarikan dari situasi kacau tersebut dengan cara melarikan diri.
Dia mungkin merasa tidak enak dengan tuannya, tapi mau bagaimana lagi. Itu Pertempuran yang tidak mungkin dapat dimenangkan. Hanya kematian yang akan menunggu mereka.
Bahkan untuk makhluk spiritual yang kehidupannya hampir terbilang abadi. Ketika mereka mati, dalam hal jiwa mereka benar-benar hancur, mereka tidak bisa hidup kembali. Mereka tidak akan ada di dunia ini lagi. Semua orang takut akan kehancuran.
Jadi dia melarikan diri berusaha untuk tetap hidup.
Tapi, apa yang akan dia lakukan setelah itu?
Dia menghianati tuannya, teman-temannya, dan juga pasukannya.
Jika di antara mereka ada beberapa yang entah bagaimana berhasil selamat dari pertempuran tersebut sama seperti dirinya, dia harus menunjukkan wajah seperti apa ketika mereka bertemu...
Itu membuat dia kepikiran.
Ada pemikiran untuk kembali yang sempat terlintas di kepalanya, bertarung bersama mereka sampai mati.
Mungkin, musuh dengan kerendahan hati mau memaafkan Cthulhu dan yang lainnya, para bawahan Nodens. Tapi, pemikiran naif seperti ini benar-benar tidak tepat.
Sedangkan Nodens, tuannya. Merupakan orang yang paling diincar oleh musuh, pasti akan dimusnahkan oleh mereka.
(Yah, itu kesalahannya sendiri karena telah mengolok-olok istri orang lain, tapi apakah hanya karena itu dia harus mati?)
(Tidak, tidak, tidak. Dia sudah jelas telah mengumpulkan para pilar dan mengumumkan peperangannya. Sayangnya musuh langsung mengetahui hal tersebut dan sedang membungkamnya.)
(Pasti dia akan dihukum mati karena hal itu.)
Cthulhu memikirkan tuannya sambil terbang menjauh dari medan perang.
"Hei! Kau ingin ke mana?"
Dan ketika dia sedang memikirkan hal-hal yang tidak perlu, seseorang tiba-tiba memanggilnya.
Dia melihat ke arah suara itu berada, dan menemukan tiga orang perempuan sedang menuju ke arahnya.
Itu Raphael, Veronica, dan...
"Miura."
Cthulhu mengucapkan namanya dengan raut wajah yang rumit.
Kalau dipikir-pikir Miura juga mengkhianati mereka. Dia dengan santainya berjalan bersama musuh tanpa konflik apapun.
"Cthulhu, pasukan kita sedang berada di sana. Kenapa kamu pergi ke arah lain?"
Miura berbicara seolah-olah dia tidak mengerti dengan tindakan Cthulhu yang berada di luar rencana. Tapi sebenarnya dia memang benar-benar tidak mengerti.
Pertanyaan polosnya dan kebingungannya membuat perasaan yang amat rumit bagi Cthulhu.
Dia sudah mengenal Miura sejak lama, dan dia tahu kalau Miura orangnya memang agak aneh. Tapi melihatnya secara langsung mengkhawatirkan sesuatu yang tidak jelas membuat Cthulhu mematung.
"Hei, kau dengar aku sedang bertanya?"
Dan akhirnya salah satu orang di sisinya bertanya kembali kepadanya.
Dia adalah wanita dengan warna serba biru, baik itu warna pakaian, rambut, maupun perlengkapannya.
Dia juga memancarkan aura kesombongan, tapi tidak ada kekurangan dari penampilannya. Semuanya tampak cocok yang membuat dia menjadi sangat cantik.
Di sisi lain, orang dengan rambut pirang dan pakaian serta peralatannya yang serba hijau, terlihat lebih tenang. Tapi tatapan sinis yang diarahkan dengan jelas langsung ke arah Cthulhu sangat memperlihatkan kewaspadaannya.
Sekarang dia tahu kalau dia dalam situasi terpojok karena ada dua musuh yang mengepungnya. Atau bahkan tiga karena Miura sudah termasuk ke dalam kelompok musuh.
Tidak mungkin kabur dari situasi itu tanpa pertarungan. —Cthulhu menyimpulkan.
Dia tidak memperhitungkan keberadaan mereka bertiga karena mereka sempat menjauh dari lokasi pertempuran sejak awal.
__ADS_1
Dia pikir mereka bertiga tidak akan mau repot-repot untuk datang menemuinya, dan menanyakan hal seperti "ingin pergi ke mana?" Ketika dia sedang berusaha mengendap-endap dari medan peperangan.
Ternyata dia salah perhitungan...