
"groowl"
Monster laba-laba itu berteriak.
Ini pertama kalinya aku mendengar suara laba-laba. Mungkin karena dia besar, dia memiliki otot yang kuat pada bagian mulutnya hingga dia bisa berteriak.
Atau mungkin laba-laba di dunia ini memang bisa berteriak.
Freya tampaknya tegang sama sepertiku, eliza masih tetap berbaring dan merlin tidak menanggapi laba-laba itu seolah-olah itu bukan masalah untuknya.
Yah, jika ada sihir proyektil nyasar ke sini, aku masih bisa menanganinya, jadi itu bukan masalah lagi. Sisanya mari kita serahkan pada tiga orang yang sejak awal sangat percaya diri.
"hmph, dia marah. Sepertinya dia bisa mengerti bahasa manusia."
"lawan yang sangat cocok untuk mencoba kemampuan baruku."
"benar-benar membuat bergairah."
Mereka bertiga — william, ignis, dan leon — tidak peduli dengan betapa marahnya monster itu, dan mengutarakan perasaan mereka masing-masing.
Akhirnya monster itu melakukan pergerakan.
Kaki-kakinya sangat panjang dan kokoh, dia bergerak sangat cepat, datang menghampiri william dan yang lain.
Sebaliknya, mereka bertiga tidak mengkhawatirkan itu dan semakin... Bersemangat?
Akhirnya william mengeluarkan sebuah tongkat yang terbuat dari permata berwarna biru gelap, itu terlihat sangat berat, lalu di ujungnya terdapat kristal berwarna biru jernih dan dilapisi oleh aura surgawi.
Itu adalah item khusus yang dimiliki npc dengan peran pendeta, jadi aku tidak memilikinya.
Bahkan jika aku memilikinya, itu tidak akan pernah terpakai olehku.
William mengarahkan tongkat itu ke arah laba-laba yang mendatanginya dengan cepat.
"jauhkan kami dari makhluk-makhluk terkutuk, [divine barier]!!"
William berteriak dan monster laba-laba tersebut seperti sedang menabrak dinding kokoh hingga suara "dingg!!" yang sangat kencang terdengar ke seluruh lokasi.
Tidak tahu apa yang terjadi, monster itu mengambil beberapa langkah mundur.
*shaaa*
Teriak monster, tampak semakin marah.
Lalu monster itu menyemburkan cairan asam berwarna hijau dengan suhu tinggi ke arah depannya.
*splat*
Cairan itu menabrak sesuatu.
Ternyata ada dinding tidak terlihat di sana yang menghalangi jalan monster itu.
Ditambah lagi, monster itu memiliki akal untuk mencoba memastikan apa yang terjadi pada area di depannya menggunakan cairan miliknya.
Sangat hebat.
Dia pasti monster dengan level yang sangat tinggi karena memiliki kecerdasan.
"ku~fufu, makhluk rendahan sepertimu tidak akan bisa menghancurkan dinding itu."
William tersenyum merasa bangga dan aku sepertinya melihat taring william berkilau walau hanya sekejap, mungkin itu hanya imajinasiku.
*bang**bang**bang*
Monster itu semakin terprovokasi dan memukul dinding tidak terlihat itu dengan kaki-kakinya yang pipih namun kokoh.
"itu percuma saja jika kau tidak memiliki kekuatan jiwa untuk menghancurkannya. Leon, sekarang giliranmu."
"baiklah."
William memberi isyarat pada leon.
Leon mulai merapihkan postur tubuhnya dan bersiap untuk memanah.
Menarik tali pada busurnya dan mengarahkan senjatanya ke arah langit — atau lebih tepatnya — dia mengarahkan ke atas monster itu.
Beberapa panah cahaya menumpuk di busurnya.
"[hujan panah...]"
Sepertinya dia belum menyelesaikan kalimatnya tapi panah-panah itu sudah dilepaskan dan langsung meluncur ke atas monster itu.
"[serang]!!"
Dengan itu, tepat ketika panah itu berada di atas monster tersebut, mereka meledak dengan "boosh" dan menjadi ratusan proyektil yang menyerang monster itu secara terus menerus.
*stab**stab**stab*
Tidak ada hentinya, ratusan proyektil terus ditembakan dari atas.
Monster itu tidak memiliki pertahanan khusus, dia menurunkan tubuhnya, dan kaki-kakinya yang panjang itu terlipat untuk menahan serangan dari leon supaya tidak mengenai kepalanya, seperti seseorang yang sedang berjongkok dan mengapitkan kepalanya dengan lutut.
Jika ada istilah "lutut" pada kaki laba-laba itu, pasti lutut-lutut itu yang berada di atas kepala laba-laba itu tapi tidak sampai melindungi bagian perutnya yang besar.
Ratusan proyektil secara acak menyerang ke arah monster itu dan perutnya mengalami luka yang serius karena terus menerus terkena proyektil.
Entah kenapa aku merasa sangat kasihan pada monster itu jadi aku menyuruh mereka untuk mempercepat proses membu--... Proses mengalahkannya.
Perasaan kasihan pada musuh seperti ini memang tidak bagus untuk dunia yang buruk ini.
Aku juga sering melihat dalam fiksi, memberi belas kasih pada musuh bisa membuat rekan sendiri terluka.
Tapi mau bagaimana lagi, sebelumnya aku tinggal di dunia yang damai dan aku masih belum terbiasa dengan dunia yang penuh kekerasan seperti ini.
"sayang, ada apa denganmu?"
Merlin bertanya padaku dengan wajah sangat khawatir.
Sepertinya kecemasan di wajahku membuat merlin membangkitkan insting keibuannya.
"t-tidak apa-apa, aku baik-baik saja."
Aku mulai membenarkan kembali wajahku dan bertekad untuk sesuatu.
Aku melihat eliza yang sedang tertidur di pangkuannya merlin. Entah kenapa, aku menjadi sangat ingin tidur di sana juga, itu pasti sangat nyaman.
__ADS_1
Baiklah kembali ke medan pertempuran.
Setelah aku memerintahkan mereka supaya lebih cepat untuk mengalahkannya, mereka menjadi serius.
Tidak ada wajah merendahkan musuh lagi.
Proyektil yang ditembakkan oleh leon sudah berakhir, dan sepertinya monster itu telah menyadari perbedaan level mereka.
Monster itu menegakkan badannya dan mulai berbalik dengan terhuyung-huyung.
Beberapa cairan hijau menetes dari perutnya karena terluka.
"tidak akan aku biarkan kau melarikan diri."
Ignis membuat pernyataan. Lalu, nyala api seukuran bola tenis terbentuk di tangan kanannya.
"william, lepaskan mantramu."
"tentu."
Sekilas, bidang hampa di tempat sihir pertahanan milik william mengeluarkan cahaya dengan singkat.
Mungkin itu tanda bahwa sihirnya sudah dihilangkan.
Lalu ignis melepaskan atau lebih tepatnya melempar nyala api itu ke arah sang monster.
"tunjukkan dia jalan menuju ke kematian, [will-o-the-wisps]!"
Ignis berkata, rambutnya sedikit berkibar. Aku tidak terlalu yakin, tapi sepertinya itu bukan nama dari mantra yang dia lepaskan, dan dia hanya asal mengatakan kalimat tersebut.
Yah, aku bukan ignis, mungkin saja itu hanya kebiasaannya untuk mengatakan kata-kata yang dia sukai untuk sihirnya.
Nyala api milik ignis terbang perlahan menghampiri monster tersebut, lalu api itu menabrak salah satu kaki sang monster dengan suara *pat*, kemudian *boom* api itu langsung meledak dan membuat gelombang kejut ke area di sekitarnya.
"growl"
Monster laba-laba itu diselimuti dengan api.
Merasa kepanasan, dia mempercepat pergerakannya untuk melarikan diri namun leon dengan sigap melepaskan beberapa panah untuk mematahkan dua kaki bagian depan monster itu.
Monster itu kehilangan keseimbangan tetapi tubuhnya masih bisa berdiri dengan sisa kaki yang ada.
Lalu disusul dengan kaki-kaki yang lainnya, leon memanah dengan sangat cepat dan akurat.
Garis hitam vertikal pada matanya mengecil dan dia sangat fokus dalam membidik.
Itu membuat aku sedikit merinding melihat dia yang serius seperti itu.
Juga, kecepatan pada panah yang dia tembakkan sangat tidak masuk akal.
Sebagai seorang manusia, aku hanya bisa melihat kilatan cahaya yang muncul dari leon dan langsung melesat ke arah monster.
Aku menyaksikan semuanya dengan mata kepalaku sendiri.
Mereka semua benar-benar sangat menakjubkan.
"m-mereka sangat hebat."
Freya melihat itu dengan mata yang terbuka lebar.
Itu sebabnya aku tidak terlalu terkejut dan hanya kagum kepada mereka.
Mereka adalah karakter dengan level maksimal, ditambah lagi mereka sudah berpengalaman dalam hal bertarung.
Tidak ada langkah atau pergerakan yang percuma, bahkan jika lawannya adalah monster yang tidak pernah mereka temui.
Monster laba-laba itu sudah kehilangan kaki-kakinya dan nyala api ignis sangat membakarnya hingga cairan yang seharusnya menjadi darahnya mendidih dan menguap.
Benar-benar pemandangan yang buruk, dan aroma-aroma gosong yang tidak menyenangkan terbawa angin hingga kami dapat mencium baunya.
Beberapa menit kemudian, monster itu praktis hangus dan hitam, tidak ada daging yang tersisa, aku rasa.
Aku menghampiri mereka.
"kerja bagus, semuanya."
"hehe, ini bukan apa-apa, tuan."
"umu."
"ya, sangat menyenangkan."
Mereka masih bersemangat, sepertinya mereka tidak menggunakan mana terlalu banyak.
Kami mulai mendekati bangkai dari monster tersebut.
"bangkainya tidak bisa diolah lagi."
"benar, dia terlalu lemah atau mungkin kita yang bertambah kuat?"
"aku tidak tau, tapi aku memang merasa tidak kelelahan setelah menggunakan banyak panah."
Aku pikir, kalian yang bertambah kuat tapi aku tidak memiliki bukti untuk itu.
Aku hanya mengetahui kalau monster ini adalah monster terkuat di sini karena dia memiliki esensi mana yang sangat banyak.
"kalian mau melihat sarangnya? Mungkin akan ada batu ajaib di sana?"
Benar, setiap sarang atau tempat tinggal monster dengan esensi mana yang banyak pasti memiliki batu ajaib di sekitarnya, aku sering mengumpulkannya ketika sedang menghabiskan waktu luang dalam game.
"aku akan mengumpulkannya."
Leon mengajukan diri dan pergi ke sana sendirian.
Meskipun tubuhnya seperti anak-anak, tapi aslinya dia memiliki umur yang tidak terduga, jadi dia bisa mengumpulkan batu-batu itu secara mandiri.
Aku bersama william dan ignis kembali ke tempat para perempuan.
"kerja bagus."
"kalian berdua hebat."
Merlin memiliki senyuman seakan merasa puas dengan hasil kerja mereka dan freya sedikit memuji di sana.
"monster itu tidak terlalu tangguh."
__ADS_1
"dia seperti monster level 40."
William dan ignis memberi penilaian.
Aku rasa monster itu tidak selemah itu, dia juga memiliki badan yang besar jadi tidak mungkin bisa disamakan dengan monster level menengah.
Apa mereka sungguh npc yang aku kenal?
Jika ada sistem peringkat di sini, aku akan menaruh monster itu pada peringkat A atau di atasnya, dan level 40 adalah peringkat D.
Itu benar-benar tidak bisa dibandingkan, mereka mungkin asal menebak tapi mereka lebih veteran dibandingkan denganku jadi aku tidak bisa mengeluh pada penilaiannya.
Leon kembali dan melaporkan hasil penemuannya.
Dia menemukan sekitar 800 batu, itu sudah lumayan tapi masih tidak banyak.
Dan, jika aku bandingkan dengan batu milikku yang aku dapatkan dari ruang timbunan harta, mereka memiliki warna yang berbeda dan lebih kecil.
Batu milikku memiliki warna pelangi yang selalu mengalami pergantian warna setiap menit dan warnanya lebih cerah.
Sedangkan batu yang dibawa oleh leon — yang diambil dari sarang laba-laba sebelumnya — memiliki warna sedikit pudar dan pergantian warnanya cukup lambat.
Aku memiliki asumsi kalau konsentrasi mana yang dimiliki pada batu itu tidak terlalu tinggi.
Lalu aku menyuruh leon untuk memegangnya karena aku tidak ingin mencampurkan batu kualitas rendah seperti itu dengan batu-batu aku.
Nah, sekarang adalah saatnya untuk membahas masalah peningkatan level.
«hydra, bagaimana? Apakah rencana kita berhasil?»
«i-itu berhasil! Ada apa dengan tubuh anda, ini sangat aneh.»
Ohh, ini pertama kalinya aku melihat hydra terkejut.
Sejak awal aku datang ke dunia ini, aku selalu terkejut. Sekarang melihat hydra terkejut, entah kenapa aku menjadi bangga karena suatu alasan.
Benar, akhirnya aku bisa menyombongkan pengetahuan aku tentang game kepada hydra.
Tidak sia-sia kami berburu, aku juga mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan.
«jadi kita bisa meneruskan perburuan ini?»
«tidak ada masalah. Anda bisa mengumpulkan nilai jiwa berapapun jumlahnya, saya memiliki ruang tanpa batas untuk itu.»
Hmm, seperti yang diharapkan dari skin legendaris.
Aku langsung beralih ke anggotaku.
"haruskah kita berburu lagi? Kita bahkan belum mendapat daging di sini."
Laba-laba itu terbakar hangus, tapi bahkan jika tidak dibakar — dia tetap tidak memiliki daging.
"anda benar, ini masih terlalu awal untuk kembali."
"aku masih bersemangat."
"tuan, boleh aku menyarankan sesuatu?"
Mereka setuju untuk melanjutkan perburuannya, lalu leon ingin mengatakan sesuatu.
"katakan saja."
"aku memiliki kemampuan baru yang bernama [teritorial], dengan kemampuan ini, aku memiliki kuasa penuh untuk bisa mengetahui keberadaan makhluk hidup sampai dengan jarak 62 mil."
"apa!?"
Tanpa jeda, aku langsung berteriak terkejut di tempat.
Tapi tunggu dulu, kemampuan dinding william dan nyala api milik ignis, itu adalah kemampuan baru yang tidak aku ketahui karena tidak ada dalam game.
Kenapa aku baru sadar dengan hal sepenting ini?
Sepertinya aku terlalu kagum pada sihir mereka sehingga aku lupa kalau mereka adalah mantan npc, dan melupakan perspektif aku tentang game.
"l-lalu apa yang ingin kamu sarankan?"
"dengan kemampuan [panah meteorit], aku bisa menembak mereka dari sini."
Leon mendengus beberapa kali dan matanya menunjukkan kalau dia sangat percaya diri dengan usulannya itu.
Panah meteorit, itu adalah salah satu kemampuan pengguna busur.
Dan dengan kemampuan barunya, bukankah dia akan menjadi pemanah yang cakap jika dia bisa menembak musuh pada jarak sejauh itu?
Mereka semua benar-benar sudah berbeda.
Aku menyetujui saran leon dan dia langsung mencari tempat tinggi supaya panah yang dia tembakkan tidak terhalang oleh apapun.
Beruntung kita sedang berada di atas gunung, dan tebing di atas kami adalah tempat yang sangat bagus untuk itu.
Setelah itu, leon terus menerus menembaki monster yang berada pada jarak kemampuannya, yaitu 62 mil dari posisi tubuhnya.
Dia benar-benar bekerja keras dan tampaknya dia sangat menikmati itu.
Aku, merlin, dan yang lainnya, hanya menunggu leon bekerja.
Sungguh sangat tidak terpuji menyuruh anak-anak bekerja sedangkan kami para orang dewasa hanya bersantai.
Tapi jujur saja, ini adalah permintaan leon, dia yang mengajukan saran itu dan menyuruh aku, merlin, dan freya untuk tetap duduk beristirahat.
Dia benar-benar anak yang berbakti, haruskah aku memberi sebuah hadiah?
Lalu aku melihat ke arah william dan ignis.
Karena beberapa alasan, mereka tampaknya tidak senang dengan sesuatu.
"pada akhirnya, anak itu yang paling banyak menarik perhatian."
"aku tidak menyangka, dia sangat cerdik."
"jika seperti ini terus, kita akan tertinggal jauh olehnya."
"kau benar, kita harus segera melakukan sesuatu."
Aku tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, tetapi mungkin ada sebuah kontes di sini tanpa sepengetahuan aku.
__ADS_1
Yah, selama mereka tidak bertengkar aku akan membiarkan mereka melakukan apapun sesuka mereka.