
"Beri tahu kami title seperti apa yang telah kamu dapatkan, Sayang?"
Merlin bertanya mewakili semua orang, suara lembutnya telah memecahkan kebisingan.
"Aku..."
Tiba-tiba, keraguan muncul di hatiku. Setelah Alice melihat ke arahku dan wajah kami bertemu, banyak pertanyaan mulai bermunculan di dalam kepalaku.
Apakah memberi tahu hal ini kepada mereka merupakan keputusan yang benar? Mereka akan memasang wajah seperti apa setelah mengetahui bahwa aku memiliki judul jahat seperti Raja Iblis?
Tapi percuma saja bila aku menyembunyikan hal itu, lambat laun mereka pasti akan menyadarinya. Karena beberapa diantara mereka juga memiliki kemampuan Appraisal yang setara dengan Hydra.
Mungkin sekarang mereka belum mengetahuinya karena tidak menggunakan kemampuan itu kepadaku, tapi nanti...
Sigh, baiklah. Apapun yang terjadi, pada akhirnya mereka akan mengetahuinya.
Lebih baik jujur sekarang dan melihat apakah mereka memiliki masalah tentang aku yang sudah menjadi Raja Iblis atau tidak, dan menyerahkan keputusan akhir kepada mereka.
"Aku mendapatkan title Raja Iblis."
Mengatakan itu, suasana menjadi sunyi. Hanya ada suara renyahan kue kering dari mulut Alice.
Anak ini, dia benar-benar tidak mengerti apa-apa. Tapi sikap santainya itu membuat aku tenang, jadi aku tersenyum padanya sambil mengelus kepalanya. Dia adalah oasisku.
"Ayah, kamu menginginkan kue ini?"
Tiba-tiba, Alice memberi penawaran.
Cukup jarang melihat Alice mau menawarkan makanannya kepada orang lain, jadi aku terkejut sedikit.
"Tumben kamu mau membagi makananmu?"
Aku bertanya, basa basi. Tapi pertanyaannya adalah untuk apa berbagai jika makanan-makanan itu sejak awal adalah milikku.
Di sini sangat sunyi, suara pembicaraan aku dengan Alice bahkan sudah bisa memenuhi ruangan.
"Nenek bilang aku tidak boleh makan terlalu banyak. Nanti gemuk."
"Hee, begitu rupanya."
Nampaknya kepribadian Alice sudah mengalami perubahan. Dan kurasa, sikapnya juga sudah cukup tenang, berbeda dari sebelumnya.
Sebenarnya, apa yang telah dilakukan Lilia selama anak-anak kami bermain di rumahnya?
Aku sangat ingin tahu. Dia Nenek yang cukup bisa diandalkan, sepertinya.
"Kalau begitu, berikan aku kue rasa cokelat."
Aku menerima tawaran Alice. Dan tiba-tiba keraguan muncul di wajahnya.
"Yang ini, yang ini rasanya lebih enak."
Dan menawarkan kue dengan rasa lain. Sepertinya dia sangat menginginkan kue cokelat itu.
"Rasa apa itu?"
"Keju!"
"Baiklah, keju juga tidak buruk."
Dengan begitu, aku menerima tawaran kue rasa keju dari Alice. Dan langsung memakannya setelah dia memasukkan kue itu ke dalam mulutku.
"Albert, kamu serius mengatakan kalau kamu mendapatkan judul Raja Iblis?"
Freya akhirnya bertanya, menunggu pembicaraan aku dengan Alice usai.
"Em, Raja Iblis. Setelah membunuh lima ratus lebih manusia, Hydra menemukan title itu telah terukir di jiwaku. Sekarang, aku adalah Pahlawan sekaligus Raja Iblis." (Terdengar labil.)
Aku menjelaskannya. Sambil terus melihat ke arah Alice, tidak berani menatap wajah Freya.
Menilai dari suaranya saja, Freya tampaknya cukup terkejut. Dia menampilkan ekspresi seperti apa sekarang, sebenarnya membuat aku sangat penasaran.
Tapi aku sangat takut. Kalimat "Tolong jangan benci aku" — selalu aku katakan di dalam hati. Aku tidak mengenal dewa dunia ini, tapi aku tetap berdoa, meminta agar Freya tidak meninggalkan aku.
"Tuan Albert, boleh saya memastikan satu hal?"
Titania berbicara. Pandanganku tidak mengarah ke wajahnya, namun aku dapat mengetahui kalau dia terlihat sangat ingin mengetahui sesuatu.
"Tentu saja boleh."
"K-Kalau Anda benar-benar mendapatkan title Raja Iblis, bisakah Anda memperlihatkan aura Anda?"
"Eh, memangnya mendapatkan title dapat merubah aura seseorang? Selama menyandang title Pahlawan, aku tidak pernah merasakan adanya perbedaan."
Selama ini, aku terus mengandalkan aura Hydra untuk melakukan berbagai kegiatan, dan sangat jarang sekali menggunakan auraku sendiri untuk memenuhi keperluan.
"Tidak. Anda sebenarnya selalu memancarkan aura Pahlawan—"
Titania menghentikan kalimatnya, mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
*Krek*
Bangkunya tergeser, lalu dia melanjutkan.
"—Saya bisa merasakannya. Anda selalu memberikan perasaan nyaman, hangat, dan menenangkan hati. Bahkan sebagian iblis, saya selalu bisa merasakan aura itu. Anda terbukti memiliki aura Pahlawan. Tapi jika Anda memiliki title Raja Iblis, Anda pasti dapat mengeluarkan auranya juga."
Titania seperti yakin akan sesuatu. Dia bahkan sampai berdiri untuk mengatakan hal memalukan seperti itu dengan wajah serius.
Bukan memalukan untuk Titania, melainkan untukku.
"Kalau kamu ingin memastikannya, maka..."
Aku memutuskan untuk menunjukkan auraku, tapi...
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Tuan Albert. Jika benar Anda memilikinya, Anda harus memberi penghalang untuk Tuan Putri Alice, Atla, dan Eren. Karena sifat aura Raja Iblis sangat berkebalikan dengan aura Pahlawan, itu memberi pengaruh buruk. Menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman. Singkatnya, sebuah skill pasif untuk meneror."
Titania memberi peringatan.
Ketiga putriku sedang berada di dekatku, mereka pasti akan terkena dampaknya bila aku mengeluarkan aura tersebut. Begitu, kan?
"Kamu banyak tahu, ya. Titania."
Aku terkesan, sekaligus tersadar kalau aku mengajak dia ke sini untuk memanfaatkan wawasannya, tapi kenapa aku tidak memanfaatkan itu dengan baik?
Mungkin jika aku banyak bertanya padanya, peristiwa mendapatkan gelar mengerikan itu pasti bisa dihindari.
Yah, kesalahan ada padaku karena tidak bertanya padanya. Ditambah lagi, dia tidak tahu apa-apa tentang perang kemarin.
Sudah terlambat untuk menyesali hal itu sekarang.
Kemudian, aku mengikuti saran Titania, menaruh penghalang untuk ketiga putriku agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.
Duduk di antara Ignis dan Clara — Claris tampaknya tidak akan bisa menahannya juga. Namun dia sudah diberi penghalang oleh Ignis, jadi itu tidak masalah.
Kemudian aku mulai melepaskan aura.
Pada saat itu, aku bisa langsung paham aura mana yang harus aku keluarkan ketika sedang ingin membuka Belenggu Aura.
Aku bisa merasakan energi hangat dan dingin dari dalam diriku. Dan pada saat itu, aku memilih energi dingin yang terselimuti dengan perasaan tidak nyaman.
*Whosh*
Aura dilepaskan, dan memberi tekanan untuk semua orang hingga semua orang menatap dengan mata serius.
Seperti apa yang dikatakan oleh Titania, aura ini sangat cocok untuk meneror seseorang. Selain itu, tekanan aura kali ini lebih kuat daripada sebelum aku menjadi Raja Iblis.
Hydra pernah mengatakan kalau aku mendapatkan peningkatan, tapi aku tidak mengira kalau title Raja Iblis pengaruhnya lebih besar daripada title Pahlawan.
Pelepasan aura sudah kulakukan. Karena ini adalah permintaan Titania, aku langsung melihat ke arahnya.
Di sana, dia hanya diam berdiri menatap aku. Matanya melebar dan mulutnya terbuka.
"Mata Ayah! Mata Ayah berubah!"
"Eh?"
Alice mengumumkan sesuatu dengan perasaan terkejut. Dan entah kenapa, kalimat itu membuat aku sedikit khawatir dengan kondisiku sendiri.
"Apa matamu baik-baik saja, Sayang?"
Merlin bangkit dari bangku, mendatangi aku dengan cepat, dan bertanya tentang kondisiku.
Oleh karena itu, aku mengarahkan pandanganku untuk melihat Merlin. Dan melihat dia tampak khawatir.
Setelah pandangan kami bertemu, dia melebarkan matanya seakan terkejut dan langsung menutup mulutnya yang sedang terbuka dengan tangan kiri.
Reaksi itu, Merlin sedang menunjukkan adanya anomali pada diriku, bukan? Itu membuat aku takut, serius.
Aku sangat ingin bertanya, namun gagal karena seseorang menyentuh dan memalingkan wajahku. Memaksa aku mengalihkan pandangan untuk melihat ke arahnya.
Kemudian aku bisa melihat Freya, wajahnya berada di atasku karena dia sedang berdiri. Kedua tangan lembutnya menyentuh pipiku, dan dia mempersempit jarak antara wajah kami agar bisa melihat aku dari dekat.
Aku bisa melihat kalau dia sedang penasaran, atau mungkin sangat penasaran.
"Ini Mata Iblis."
Dan mengkonfirmasi bahwa aku memiliki mata iblis.
Sama seperti mata Titania, atau Atla dan Eren ketika mereka sedang bertransformasi ke wujud iblis mereka.
Tidak, mungkin lebih tepat bila menyebutnya "kembali ke wujud sejati" mereka.
(Haruskah aku terkejut akan hal itu?)
Mata iblis memiliki pupil berwarna hitam, bukan putih seperti manusia. Dan iris vertikal berwarna merah atau emas.
Aku tidak tahu mata iblisku seperti apa, aku sangat penasaran.
Sebenarnya, sekarang aku sedang mengkhawatirkan sesuatu dan tidak bisa memikirkan hal lain.
Freya menyampaikan informasi itu dengan serius. Menajamkan matanya dan menciptakan perasaan menusuk.
Seperti sebelumnya, aku terus berdoa. Berharap agar dia tidak pergi dariku hanya karena judul baruku, sambil melebarkan mata.
"Kenapa wajahmu seperti itu, Albert?"
"Hah?"
Freya bertanya, tapi aku tidak bisa menelaah pertanyaan itu karena terus menerus berdoa.
"Aku bilang, kenapa wajahmu seperti itu?"
Lalu Freya bertanya kembali.
"I-Itu, title Raja Iblis-- maafkan aku."
Tidak dapat berbicara dengan benar karena terlalu takut, aku berakhir meminta maaf.
"Kenapa kamu meminta maaf?"
"Tidak. Kupikir, kamu akan menjauhiku karena... Title ini..."
"Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?"
"Y-Yah, itu..."
Aku kehabisan kata-kata. Aku terlalu takut untuk ditinggal oleh Freya. Lalu, Freya melebarkan matanya seakan terkejut.
__ADS_1
Kali ini apa lagi? —Aku mulai bertanya-tanya. Memiliki aura iblis ternyata terlalu menakutkan dan selalu menimbulkan perasaan cemas untukku sendiri.
"A-Albert, kamu menangis?"
"Hah?"
Freya menyampaikan hal membingungkan.
Namun, aku langsung tersadar dan percaya ketika Freya mengusapkan ibu jarinya di sekitar kedua pelipisku untuk menghapus setetes air mata di sana.
Aku bisa langsung tahu kalau aku memang telah mengeluarkan air mata pada detik itu.
"Maaf, aku... Aku terlalu takut kalian akan meninggalkan aku karena judul ini, Ughh."
Akhirnya, aku memutuskan untuk menyampaikan perasaanku kepada mereka.
Tapi tunggu, ini bukan seperti aku adalah anak cengeng. Aku hanya takut, sungguh.
Mau dilihat dari manapun, ditinggalkan oleh orang yang kamu anggap sebagai keluarga sangat menakutkan.
Kalimatku memasuki telinga semua orang, dan tentunya kedua istri dan anak-anakku mendengar hal itu. Walaupun aku mengatakan itu dengan suara terkecil seolah bergumam.
"Begitu ternyata. Sebelumnya kamu tidak berani memandang aku karena hal ini. Tapi tenang Albert. Aku masih mencintaimu."
"Ayah. Ada apa denganmu!"
"Sayang, di sini tidak ada orang yang akan meninggalkan kamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi."
""Ayah!!""
"Tuan!!"
Beberapa keluargaku — Freya, Merlin, Alice, Atla, dan Eren. Bahkan Eliza — memeluk aku dan mengatakan tentang berbagai hal untuk menghilangkan kekhawatiran di hatiku sambil menangis.
Aku sangat senang, sungguh. Tapi, entah kenapa ini sedikit memalukan.
Aku hanya mengeluarkan sedikit air mata, namun kenapa yang lain justru menangis lebih parah dariku?
Yah, meski begitu. Aku tetap bersyukur karena telah diberikan keluarga dengan penuh kasih sayang seperti ini. Aku sangat berterimakasih.
*
Beberapa menit kemudian, keluargaku kembali tenang dan kembali duduk di tempat mereka masing-masing.
Anak-anakku masih terisak karena khawatir tentang aku. Alice duduk di pangkuanku, memeluk aku dan terlihat tidak berniat untuk melepaskan pelukannya.
Sedangkan Atla dan Eren menggeser bangku mereka, merapat denganku supaya bisa memeluk tanganku.
Seharusnya, aku yang perlu dihibur, bukan? Namun, mengetahui aku sedang khawatir ternyata telah mendatangkan kecemasan berlebihan di hati mereka.
"Fuh, maaf telah membuat kalian cemas."
Aku merasa sangat bersalah kepada semuanya. Tidak hanya keluarga di rumah tanggaku, seluruh orang di dalam ruangan ini juga ikut mencemaskan keadaanku.
Mereka adalah orang-orang baik, dan merupakan keluarga yang dapat dipercaya.
"Sudah cukup minta maafnya, Albert. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, kurasa."
Freya seperti bosan melihat aku terus meminta maaf.
Aku paham tentang itu, aku memang terlalu banyak meminta maaf hanya karena tidak enak hati kepada mereka.
"Aku mengerti."
Mengakhiri kalimat, aku tersenyum ke arah Freya. Lalu melanjutkan.
"Baiklah. Kembali ke topik pembahasan. Karena kalian sudah tahu statusku sekarang, aku ingin meminta pendapat kalian. Apa aku harus mempublikasikan judul ini ke seluruh dunia atau tidak."
Aku bertanya kepada semua hadirin.
"Membeberkan info ini ke seluruh dunia bisa membuat kami dikenal dan dapat menciptakan kesan "Jauhi keluarga Testalia dan jangan pernah berurusan dengan mereka." seperti itu, dan keluarga kami dapat langsung disegani."
Dengan kata lain, kami mungkin bisa menjauh dari organisasi atau negeri bermasalah, kurang baik, dan sejenisnya.
"Namun, kabar buruknya jika Anda melakukan hal itu adalah kita mungkin tidak bisa berinteraksi dengan negara lain, karena mereka pastinya akan menjauh dan menganggap kita sebagai musuh. Bahkan sebelum mencoba untuk mengenal kita."
"Hal itu sejujurnya sangat tidak aku pedulikan, hal yang aku khawatirkan adalah perekonomian negara kami mungkin tidak akan bisa berjalan lagi. Stagnan karena kondisi hubungan buruk."
"Kita hanya bisa mengandalkan barang impor dari negeri yang beraliansi. Dan itu pun kalau mereka masih mau beraliansi setelah mengetahui bahwa Anda telah menjadi Raja Iblis."
Nah, itu pembicaraan jika aku menginfokan judul ini ke seluruh dunia. Semua orang berdiskusi tentang manfaat dan kerugian jika aku melakukan hal itu.
Jika kami tidak membeberkan gelarku, perekonomian kami mungkin masih bisa berjalan lancar. Bahkan perdagangan kami bisa meluas ke berbagai belahan dunia karena kami sudah menampilkan kekuatan kami pada perang tempo lalu.
Keberadaan kami sekarang pasti sudah menjadi perbincangan terpopuler para pedagang dari Kerajaan Herunia. Dan pastinya, hal itu akan menyebar luas ke berbagai pelosok dunia.
Namun karena aku tidak menginfokan gelar Raja Iblisku, maka status negara kami hanya seperti negara biasa lainnya.
(Lagipula, hanya karena para pedagang menceritakan kehebatan kami, bukan berarti semua orang dapat langsung mempercayai cerita tersebut.)
Mereka pasti hanya berfikir bahwa itu hanyalah cerita yang dilebih-lebihkan. Hanya saja, nama negara kami masih tetap terdengar. Dan cepat atau lambat, pasti akan terkenal.
Kurang lebih, seperti itulah perbedaan digunakan atau tidaknya gelar "Raja Iblis". Cukup terlihat signifikan.
Kami mendiskusikan hal ini cukup lama. Anak-anak tampaknya sudah bosan dan mulai mengantuk.
Selain itu, kami juga membahas tentang membangkitkan lima ratus ribu prajurit korban peperangan untuk dijadikan sebagai masyarakat negeri ini.
Sekarang aku bahkan sudah menganggap mereka sebagai rampasan perang. Mungkin tidak terlalu merugikan karena mereka akan dipekerjakan untuk membangun dermaga dan kota baru di dekat pantai.
Mereka bisa berdagang, dan menyerahkan sebagian uang mereka sebagai bentuk pajak tanah, bangunan, dan lain sebagainya.
Kota dengan lima ratus penduduk lebih. Tidak, jumlah itu akan meningkatkan setelah keluarga mereka datang ke tanah ini dari kampung halamannya.
__ADS_1
Jumlah itu pasti akan membengkak 2-3 kali lipat. Kami akan mendapatkan banyak tenaga kerja nantinya, semoga saja.