Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Makan Malam.


__ADS_3

Tristan tidak bisa berkata banyak karena aku memang mengikuti regulasi pendaftaran dengan benar.


"Apa kau sungguh tidak pernah membunuh monster pada saat itu?"


"Tentu saja. Bahkan, kurasa aku tidak pernah membunuh monster dengan tanganku sendiri sampai saat ini."


"Membunuh monster tidak pernah, tapi kenapa kau membunuh manusia? Ditambah lagi, kau tidak segan-segan membunuh banyak manusia."


Topik pembicaraan tiba-tiba menjadi serius. Itu terlihat seperti aku memihak monster daripada manusia, dan Tristan sepertinya sedang menyelidiki sesuatu.


(Padahal aku hanya ingin bersikap netral.)


"Kau tidak bisa berkata seperti itu, Tristan. Itu adalah perang antar sesama manusia. Jika aku tidak membunuh mereka, mereka akan membunuh ribuan tentara Kerajaan, membunuh anak-anak tidak berdosa, dan mungkin saja akan memperkosa wanita-wanita di Kerajaan. Setelah mendengar hal itu, apa kau masih berpikir untuk tidak membunuh mereka? Tristan, bahkan orang yang jarang sekali marah sepertiku tetap tidak bisa menahan amarah setelah mengetahui hal itu."


"..."


Tanpa sadar aku menceramahi Tristan dengan wajah kosong tanpa perasaan. Tristan sendiri tidak tahu harus berkata apa.


"Aku bahkan sempat mempertimbangkan untuk menghancurkan negara mereka, tapi aku tahu orang sepertimu pasti akan kerepotan. Yah, yang jelas, jika kau tetap ingin bersikap netral, kau tidak perlu mengurus masalah perang manusia."


"Tapi tidak harus sampai membunuh mereka semua, kan? Jika itu kau, aku yakin kau bisa mengatasinya dengan metode yang lebih baik bahkan tanpa perlu menimbulkan korban."


Tristan memiliki pemikiran yang sama seperti Freya, tipikal orang yang suka menambah-nambahkan pekerjaan.


"Pemikiran naif seperti itu hanya akan berakhir dengan bencana. Jika kau melepaskan mereka begitu saja, mereka hanya akan mengulangi kesalahan mereka di masa mendatang. Karena aku manusia, aku bisa mengerti pola pikir mereka. Pada saat itu, bagaimana kalau Aku atau Kau tidak bisa mencegah mereka? Itu akan menjadi kesalahan ku karena telah melepaskan mereka begitu saja, kan? Itu sebabnya, aku memberikan rasa sakit kepada mereka dan mengajarkan kalau tindakan mereka itu merupakan hal yang buruk untuk dilakukan. Berkat itu, sekarang mereka lebih menurut dan bersumpah untuk tidak melakukan hal itu lagi."


"Apa maksud "lebih menurut" Dan "telah bersumpah"?"


"Maksudnya, ya seperti itu apa adanya..."


"Bukan. Maksudku, apakah mereka masih hidup?"


"Tentu saja. Mau lihat?"


Tristan tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. Karena dia sangat penasaran dengan keberadaan para tentara Kekaisaran, aku langsung menampilkan layar tampilan dari rekaman [Cermin Map].


Layar menampilkan bangunan-bangunan besar yang terbuat dari kayu. Itu merupakan tempat tinggal sementara untuk para pasukan Kekaisaran. Tempat itu dikelilingi oleh hutan lebat dan terdapat jalan menuju ke pantai di arah selatannya.


Tempat mereka itu yang akan menjadi kota, namun prioritas utama mereka adalah membuat pelabuhan terlebih dahulu untuk kenyamanan kapal barang dari negara tetangga.


Setelah pelabuhan sudah dibangunin dengan sempurna, baru mereka bisa membangun kotanya.


Karena mereka mantan tentara, tidak ada diantara mereka yang mengeluh tinggal di hutan. Mereka bahkan bersyukur karena telah diberikan tempat tinggal untuk berteduh.


"Apa itu? Bukankah kau telah membunuh pasukan Kekaisaran?"


"Itu pasukan Kekaisaran, Tristan. Jumlahnya lebih dari lima ratus ribu orang."


"Tapi, bagaimana caramu membuat mereka seperti itu?"


"Cukup Tristan. Bertanya lebih jauh tidak diizinkan. Kalau penasaran, kau bisa datang langsung ke sana dan bertanya bagaimana keadaan mereka."


Semakin ke sini, Tristan semakin tidak sabaran. Padahal sebelumnya kami sedang membahas masalah kartu keanggotaan. Tidak, kami sedang membicarakan integrasi organisasi atau lebih tepatnya pengadaan Guild Pedagang di organisasi yang Tristan dirikan.


Setelah aku menegurnya, Tristan tidak lagi membahas masalah perang antara Kekaisaran. Dia kemudian mengeluarkan kartu keanggotaan untuk Aku, Merlin, dan Freya. Desainnya sama seperti kartu Freya, warna hitam dengan ukiran emas. Namun Tristan menambahkan bintang emas pada sisi kartu dan mulai menulis nama kami di atas kartu tersebut.


Aku tidak menyangka kalau Tristan juga memiliki skill [Craftsman]. Apakah itu skill yang mudah untuk dipelajari?


"Ini untuk kalian. Jika kalian ingin datang ke guild, kalian harus menggunakan kartu ini."


Dia menyerahkan kartu itu kepada kami.


"Ini bagus. Apa maksudnya bintang emas ini?"


"Itu tanda khusus yang baru saja aku buat. Aku akan mengumumkan kategori baru kalian kepada semua anggota nanti."


"Maksudnya, kamu ingin membedakan kami, kan?"


"Iya."


Freya tampaknya sudah mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan Tristan. Aku tidak terlalu mengerti, tapi bukan berarti aku ingin mengerti. Pada akhirnya kartu ini hanya akan menjadi bukti kalau kami telah bekerja sama dengan Tristan. Kemungkinannya itu tidak akan pernah digunakan.


"Tristan, terimakasih."


"Terimakasih, Tristan."


Aku dan Freya berterima kasih. Aku berterima kasih bukan karena kartunya, nyatanya aku tidak peduli. Namun aku berterima kasih karena Tristan sudah membuatkan kartu untuk Merlin, dan membuat Merlin terlihat sangat senang karena punya kartu yang sama seperti aku dan Freya.


"Tok! Tok! Tok!"


Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu dan membukanya. Di celah pintu terdapat kepala Alice sedang memantau kondisi di dalam ruangan.

__ADS_1


"Mamah, Ibu, kenapa kalian lama sekali ngobrolnya. Sebentar lagi sudah mau jam makan malam."


Alice mengingatkan kami kalau sekarang matahari sudah hampir terbenam. Aku tidak sadar kalau pembicaraan kami telah memakan waktu yang cukup lama.


Alice datang ke sini pasti ingin mandi bersama dengan Freya dan Merlin, seperti biasa. Tapi bukankah dia sudah mandi?


"Alice, kamu belum memperkenalkan dirimu kepada Andine, kan? Ke sini sebentar dan kenalkan dirimu."


Freya ingin memperkenalkan Alice kepada Grandine. Alice tidak bisa menolak dan mendekati Freya, namun dia menuju ke arah Freya dengan tatapan kewaspadaan masih tertuju ke arah Grandine.


Aku tidak terlalu mengerti dengan pola pikirnya, aku hanya tahu kalau dia sedang malu sekarang.


"Jangan bersikap seperti itu kepada Andine, Sayang. Dia tidak berbahaya, kok."


Sesampainya Alice di hadapan Freya, dia langsung memeluk Freya.


"T-Tidak apa-apa, kak Freya. Dia pasti seperti itu karena kami pernah mencelakainya. Aku minta maaf atas sikap dan kekasaran temanku."


Grandine sangat pengertian. Dia ternyata adalah wanita baik dengan kepekaan tinggi terhadap hal-hal seperti itu.


"Alice, Andine sudah meminta maaf, apakah kamu masih tidak mau memaafkannya?"


Karena Alice tidak menjawab permintaan maaf Grandine, Freya bertanya menggantikannya.


"Tapi, Mah~. Orang itu katanya memiliki banyak sekali makhluk aneh."


"Hm? Apakah kamu mengetahui hal itu dari Kakakmu?"


"Iya, tadi kami membicarakan makhluk apa saja yang ada di tubuh Kakak ini..."


"Oh, seperti yang diharapkan dari Eren."


Alice ternyata waspada terhadap Grandine karena keberadaan sejumlah makhluk di sekitar Grandine. Makhluk itu tidak lain adalah makhluk spiritual yang sudah mengikat kontrak dengannya, dengan tingkat kelas yang berbeda-beda, namun paling tinggi berada di kelas [Epic].


Aku sendiri tidak dapat menyadarinya, hanya ketika Hydra menyuruhku untuk menggunakan kemampuan Mata Iblisku, aku baru bisa melihatnya.


Namun Eren tanpa menggunakan media apapun sudah bisa melihat keberadaan para makhluk peliharaan Grandine. Betapa hebatnya anak itu.


Karena jika ditotalkan secara keseluruhan, jumlah energi pada sejumlah mahkluk itu dapat mencapai 2 juta poin. Jadi, itu pasti penyebab anak-anak membicarakan Grandine.


"Eh, maksudmu apa, Kak Freya?"


"Putri kedua kami, Eren, sebenarnya memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh orang biasa."


"Bagaimana aku harus menjelaskannya... Bisa dibilang, dia bisa melihat apapun jika dia mau. Bahkan jika itu sesuatu yang kamu sembunyikan di suatu dimensi. Karena selama energimu terhubung dengan dimensi itu, Eren pasti bisa masuk ke sana dan melihatnya hanya dengan keinginannya."


"Apa!? Bukankah itu kemampuan yang sangat hebat!!"


Grandine sangat terkejut dengan kehebatan Eren. Itu adalah reaksi yang sama seperti kami ketika Eren memberitahu kemampuannya setelah evolusi.


Sebenarnya, kemampuan hebat tidak hanya didapatkan oleh Eren. Namun orang-orang seperti Alice, Atla, Eliza, Titania, Kaguya, Luminous, Saber, Alfred, dan bahkan Odimus — sudah mulai menunjukkan hasil latihan mereka selama ini.


Ah, bagaimana kabar Mark dan Gale? Aku sebenarnya tidak ingin membicarakannya, tetapi... Karena aku memperbolehkan mereka memegang tombak kelas [Mistis] itu tanpa batas waktu, mereka menjadi malas berlatih dan hanya bermain dengan gadis-gadis Huldra. Aku tidak menyangka kalau mereka akan menjadi keterlaluan, walaupun kemampuan mereka mungkin sudah bisa disetaraian dengan rekan-rekan Tristan.


Yah, aku akan terus mengawasi mereka. Aku tidak bisa menarik kembali senjata itu karena aku sudah menyerahkannya. Dan bukan berarti ini seperti aku adalah orang pelit, hanya saja kalau skenario terburuk kedua senjata itu jatuh ke tangan orang jahat, itu akan menjadi tanggung jawabku jika terjadi masalah karena aku adalah orang yang memberikan kedua senjata itu kepada Mark dan Gale.


Untuk sekarang, keadaannya masih aman. Ketika situasi darurat terjadi kepada kami, aku akan langsung menarik kedua senjata mereka dengan alasan konservasi harta kastil.


"Mari kita akhiri diskusinya sampai sini dulu."


"Kenapa kita tidak melanjutkannya saja sekarang. Kupikir membahas perluasan jaringan asosiasi tidak akan memakan waktu lama."


Aku mengumumkan untuk menunda pembicaraan, namun dicegah oleh Tristan karena memang akan menjadi tanggung bila diakhiri sekarang.


"Apa kau memiliki jadwal lain yang harus kau hadiri setelah ini?"


"Tidak."


"Bagaimana dengan kalian berdua — Martin, Irina?"


Aku mulai bangkit dari bangku sambil menanyakan jadwal mereka bertiga setelah ini.


"Saya bisa menunda pekerjaan saya."


"Saya juga sama seperti Martin, Tuan Albert."


Martin dan Irina bermaksud kalau mereka memiliki waktu jika aku meminta.


"Kalau begitu kalian semua menginap saja di sini. Kita akan makan malam bersama dengan seluruh keluargaku dan membicarakan lanjutan diskusinya besok pagi. Bagaimana?"


Aku mengajak mereka untuk makan malam bersama. Kalau Tristan mengikutinya, keberadaan anak-anakku sudah tidak bisa lagi disembunyikan.

__ADS_1


Tapi aku juga tidak bisa tidak mengajak mereka untuk makan bersama. Kalau aku memulangkan mereka begitu saja dan menyuruh mereka balik kembali besok pagi, itu hanya akan membuat aku terlihat buruk. Adapun jika aku meneruskan diskusi ini sampai selesai dan menyuruh mereka pulang setelahnya, kupikir itu akan berakhir sama.


"Itu ide bagus. Bermalam saja di sini dan kembali besok, Grandine, Irina..?"


Freya mendesak kedua wanita itu untuk tidak pulang. Dia ingin melakukan apa terhadap kedua wanita itu?


"K-Kalau itu maumu, Kak. Aku akan menginap di sini."


"Kalau begitu saya juga akan menginap di sini. Saya tidak bisa menolak undangan makan malam dari Anda sekalian."


Grandine dan Irina telah setuju untuk menginap dan makan malam bersama kami.


"Bagaimana dengan kalian berdua?"


"Saya akan menginap di sini."


"Hm, baiklah."


Dan akhirnya, Martin serta Tristan juga ikut menghadiri jam makan malamnya.


Kami semua kembali ke kamar dan pergi ke pemandian di lantai 5 untuk membersihkan diri.


***


**


*


Irina kembali ke kamarnya, menaruh semua catatan penuh materi diskusi dan kartu debit yang baru saja dia dapatkan di atas meja.


Karena banyaknya pembicaraan untuk membahas pengadaan guild pedagang dan pengembangan guild petualang, Irina menjadi sangat lelah.


Dia ingat kalau tidak membawa baju ganti karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan tentang acara makan malam, lagian itu adalah ajakan mendadak. Namun Albert menyuruh untuk tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu karena akan disediakan kebutuhan jika Irina menginginkan sesuatu.


Beberapa saat kemudian, seorang maid mengetuk pintu dan membawakan perlengkapan mandi seperti handuk dan sabun, baju ganti, serta layanan pencucian baju.


Karena itu sudah termasuk dalam pengaturan, Irina hanya bisa mengikuti arahan maid tersebut dan menyerahkan pakaiannya setelah mandi.


Ketika Irina menemukan kamar mandi dengan bathtub dan air panas, dia langsung melepaskan lelahnya dengan berendam di sana.


(Sungguh fasilitas yang mewah.)


Dia senang dengan tempatnya.


Selesai mandi, Irina mengenakan pakaian yang baru saja dia dapatkan dari maid. Itu adalah pakaian berbahan wol Heidrun kualitas terbaik. Mengenakannya saja sudah seperti terasa menjadi nyonya pemilik kediaman.


Kemudian, ketika jam sudah menunjukkan waktu makan malam, Irina menuju ke ruang makan dengan pakaian tersebut.


Irina dengan percaya dirinya menuju ke ruang makan tanpa tahu kalau seluruh keluarga Albert memiliki keharusan untuk makan malam bersama.


Dan ketika Irina mencapai lantai dua menggunakan tangga, dia menemukan pria berbadan besar dengan rambut panjang berwarna merah di persimpangan koridor.


"Hai!"


"!!"


Pria itu menyapa Irina dengan senyum lebar, namun Irina tidak menyangka akan bertemu dengan pria bertubuh besar. Itu sebabnya dia terkejut dan sempat untuk melangkah mundur karena merasa takut.


"Ada apa, Ignis?"


"Ah, kita bertemu dengan tamu Tuan Albert."


"Tamu?"


Pada saat itu juga, dua orang perempuan yang mengikuti jalan pria besar — salah satunya bertanya padanya.


Satu pria berbadan besar (Ignis), satu wanita dewasa (Clara), dan seorang gadis (Claris) — muncul di hadapan Irina.


Mendengar percakapan mereka membuat Irina mengerti kalau mereka bertiga merupakan keluarga Albert yang ingin menuju ke ruang makan sama seperti dirinya. Oleh karena itu dia membenarkan posisinya dan mulai mengambil nafas untuk berbicara.


"S-Saya Irina telah diundang oleh Tuan Albert untuk mengikuti makan malam bersama dengan kalian!"


"Haha, aku sudah tahu, jadi kamu tidak perlu gugup seperti itu. Kita bisa menuju ke ruang makan bersama-sama."


"B-Baik, terimakasih."


Sambil berusaha untuk menenangkan diri, Irina berjalan menuju ke ruang makan bersama dengan Ignis, Clara, dan Claris.


Sesampainya di ruangan makan, Irina dikejutkan lagi dengan sejumlah orang yang sudah mengisi banyak tempat duduk.


Dia tidak tahu kalau keluarga Albert ternyata ada banyak sekali karena pada siang hari dia tidak terlalu melihat banyak orang.

__ADS_1


Sekarang dia takut dan bingung ingin duduk dimana. Namun pada saat itu juga, dia menemukan Freya yang sedang mengarahkan tangannya seperti memberikan isyarat untuk menyuruhnya duduk bersama. Jadi daripada Irina berdiam diri di depan pintu, dia lebih memilih menuju ke arah Freya dan buru-buru menyingkir dari jalan.


__ADS_2