
Beberapa menit kemudian. Ayah Freya, Carol Bestlafiol, ikut bergabung dengan pembicaraan kami.
Sekarang dia duduk dengan tenang sambil meminum teh yang telah disediakan.
Setelah Lilia memukul meja sebagai bentuk ketidaksenangannya, Carol berhenti protes dan memilih untuk mengikuti pembicaraan dengan kami.
Kedua adik Freya — Manuel dan Nikolas — tidak ikut bergabung karena disuruh kembali ke kamarnya dan beristirahat oleh Lilia.
Semua pria bisa diatur oleh Lilia, sangat hebat. Dia benar-benar Ibunya Freya, sifat "tegas di waktu yang tepat" mereka sama.
"Baiklah, kita akan membahas tentang kalian sekarang. Kalian sudah hidup dan tinggal di satu tempat yang sama, itu artinya kalian sudah saling menyukai satu sama lain. Jadi, Albert, kamu akan bertanggung jawab untuk mengurus Freya, kan?"
Lilia langsung menuju pembicaraan ke arah sana.
"Ya, saya berjanji akan menjaga Freya dengan baik. Anda tidak perlu khawatir tentang keamanannya."
Aku sudah cukup percaya diri dengan kenyataan itu. Kami sudah mendapatkan banyak petarung tingkat tinggi dan bahkan sudah mendirikan lembaga serta fasilitas. Tentu saja Freya harus aman dengan semua itu.
"Um, pada dasarnya Freya memang sudah kuat, kami tidak akan khawatir dengan itu."
Lilia dengan santai menyesap tehnya.
Sedangkan Carol, dia masih diam dan selalu menatapku.
Aku ingin sekali meminta maaf tentang pertarungan sebelumnya, tetapi jika dia terus bersikap seperti itu, aku tidak bisa melakukannya. Itu pasti hanya akan menambahkan kekesalannya.
"Hmm, kalau begitu, sudah diputuskan. Kami akan membatalkan pernikahan Freya dengan Nodens."
Tiba-tiba Lilia mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku abaikan.
"Pernikahan?"
"Ya, pernikahan Freya dengan Nodens. Kamu sudah tahu tentang hal ini, kan?"
Lilia dan aku jatuh dalam situasi bingung.
Ini adalah pertama kalinya aku mendengar Freya memiliki calon suami. Jadi aku menatap dia.
"Ibu, sudah kubilang jangan mengatakan hal itu lagi, dia bukan siapa-siapa bagiku!"
Freya menyangkalnya, dia terlihat agak marah.
"Baiklah, maafkan Ibu. Kami tidak tahu kamu begitu membenci Nodens."
Sambil memasang wajah penuh bersalah, Lilia meminta maaf.
Mengamati pembicaraan mereka, sepertinya Freya telah dijodohkan dengan pria yang tidak dia sukai.
"Ada apa, Albert?"
Freya bertanya, menatap ke arahku dengan wajah bermasalah.
"Kenapa kamu tidak menceritakan hal penting seperti ini?"
Aku mengatakannya dengan serius. Mengetahui aku serius, Freya langsung memegang tanganku.
"Ini, Ini bukan seperti aku telah menyembunyikan hal ini darimu. Hanya saja aku sangat tidak ingin membahasnya. Aku, Aku benar-benar minta maaf."
Entah kenapa, Freya terlihat sangat panik.
Karena aku tidak mengerti dengan perubahan sikapnya itu, aku menghiraukannya dan beralih ke Lilia.
Saat ini, aku lebih penasaran dengan tunangannya Freya.
Namun ketika aku beralih, genggaman tangan Freya semakin dan semakin kencang. Itu tidak sampai membuat tanganku sakit, jadi aku masih mengabaikannya.
"Ibu mertua, kalau boleh tahu, bagaimana kalian mengatasi pernikahan itu? Apakah status mereka sudah menjadi tunangan?"
Aku bertanya, sangat penasaran.
Kemudian Lilia dan Carol saling menatap satu sama lain sebelum menjawab pertanyaanku.
"Ehem, biar aku yang akan menjelaskan hal ini. Sampai saat ini, Freya masih dalam status dijodohkan dengan Pangeran Nodens. Kami tahu Freya tidak menyukai Nodens, tapi kami tidak mengira kalau Freya sangat membencinya sampai pergi dari dunia ini dan meninggalkan kami. Yah, kami juga memang bersalah karena mengesampingkan perasaan Freya. Sekarang, karena Freya sudah kembali, kami akan membatalkan perjodohan ini."
Sikap Carol berubah 180 derajat, seolah-olah kejadian pertarungan sebelumnya denganku sudah dia lupakan.
Atau mungkin itu karena pengaruh Freya. Kurasa, dia masih menyayangi putrinya dan melupakan konflik denganku untuk putrinya.
"Atas pertarungan sebelumnya, saya benar-benar minta maaf."
Nah, selagi dia dalam suasana hati seperti itu, aku tidak bisa tinggal diam. Aku langsung meminta maaf dan menundukkan kelapa.
"Tidak perlu dipikirkan, itu bukan kesalahan Anda sepenuhnya. Aku juga sedikit terbawa suasana. Tapi mengetahui Anda begitu sangat kuat, aku akan mempercayakan urusan putriku padamu."
Carol membuang muka. Terlihat sangat enggan tapi tetap jujur pada perasaannya.
Sebenarnya dia adalah orang tua yang baik, hanya saja terlalu protektif tentang keselamatan putrinya.
Tunggu, bukankah dia sama denganku?
Yah, mengetahui bahwa Freya minggat dari rumah karena perjodohan, itu sudah menjelaskan kenapa Freya bisa berkeliaran tidak jelas di dunia manusia.
Mungkin aku bisa menjadikan ini sebagai contoh agar aku tidak menjodohkan putriku tanpa bertanya tentang perasaannya terlebih dulu.
__ADS_1
Mungkin saja putriku juga akan melakukan hal yang sama seperti Freya, menemukan pahlawan di suatu tempat dan bercinta dengannya.
Itu akan bagus jika dia adalah pria yang bertanggung jawab, tapi bagaimana jika dia memiliki kepribadian yang buruk? Itu tidak akan menjadi akhir yang bagus. Skenario terburuk, putriku akan dimanfaatkan olehnya.
Uwah, memikirkannya saja membuat kepalaku pusing.
Kesampingkan itu, aku mulai bertanya-tanya siapa Pangeran Nodens itu?
Dari namanya saja sudah terlihat keren dan berprestise. Dia pasti lelaki tampan dengan wajah cantik dan tubuh ideal, aku meyakini hal ini. Lagipula, ras malaikat memang rupawan.
"Nodens merupakan Pangeran sekaligus ketua klan Aegistar. Keluarga nomor satu dari 'Tujuh Pilar Surga'."
Carol menjawab pertanyaanku, tapi wajahnya terlihat bermasalah.
Keluarga nomor satu, ya. Kurasa pria bernama Nodens ini adalah orang paling kuat diantara seluruh klan.
Oh, aku baru ingat kalau Freya pernah mengatakan hal serupa, namun Freya tidak menyebutkan namanya karena aku tidak membahas hal itu lebih jauh.
Sekarang aku mengerti bahwa pria bernama Nodens ini cukup berkuasa dan merupakan orang paling kuat diantara para malaikat.
Tunggu, bukankah ini artinya kami mendapatkan masalah?
Aku hanya mengetahui kalau Freya sangat membenci pria itu, itu sebabnya aku tidak bertanya lagi.
Orang yang dibenci oleh Freya pasti adalah orang jahat. Meski aku tidak memiliki bukti, tapi entah kenapa aku bisa yakin tentang hal ini.
Dan raut wajah Carol saja sudah menjelaskan semuanya. Dia pasti sedang memikirkan bagaimana cara membatalkan perjodohan antara Nodens dengan Freya.
Lilia juga memiliki raut wajah yang sama.
"Hmm, baiklah, aku mengerti."
Aku tiba-tiba mengatakan hal itu dan membuat kedua orang tua Freya bingung.
Ngomong-ngomong, entah itu Lilia, Carol, atau aku — sepertinya kami memiliki pemikiran yang sama karena selalu "Hmm" di awal kalimat.
Mau bagaimana lagi, setelah mengetahui kami akan berurusan dengan orang terkuat ras malaikat, tentunya kami akan langsung menghela nafas.
Tapi aku bersyukur karena orang tua Freya lebih memilih aku daripada Nodens.
Mungkin menunjukkan kekuatanku di depan mereka merupakan tindakan paling tepat.
"Anda mengerti tentang apa?"
Carol bertanya dengan heran.
"Err, Anda bisa memanggil saya dengan Albert, tidak perlu bersikap seperti itu. Rasanya sangat tidak nyaman. Tapi kesampingkan itu, sebenarnya aku memiliki hadiah untuk Anda sekalian..."
Dengan begitu, aku mulai mengeluarkan boneka — atau biasa disebut tubuh material buatan — untuk mereka.
"Err, ini adalah tubuh material buatanku (buatan Hydra). Aku lihat, kalian masih mengenakan Homunculus sebagai tubuh jasmani kalian. Fungsi dari boneka ini memang sama dengan Homunculus, tapi ini lebih baik daripada Homunculus. Entah itu daya tahan atau kompatibilitas, tubuh jasmani buatan ini seratus kali lebih baik. Yah, hal seperti ini memang tidak terlalu berguna bila kalian tidak memiliki urusan di dunia manusia, hanya saja aku masih tetap ingin memberikan ini kepada kalian. Tolong terima pemberian dariku ini."
Aku sangat sopan. Menjelaskan kegunaan dari boneka itu kepada mereka dan meminta agar mereka menerimanya.
Sungguh sangat memalukan jika mereka tidak mau menerima hadiah ini. Bagaimanapun mereka memang jarang ke dunia manusia dan seperti yang dikatakan oleh Freya, mereka tidak terlalu menginginkan benda dari dunia manusia. Itu sebabnya aku memohon.
"Hoo, itu terlihat bagus. Tapi aku lebih penasaran dengan senjata yang kamu keluarkan ketika melawanku."
Carol justru membahas senjata, seperti yang diharapkan.
Bagaimanapun, senjata itu sudah berada di kelas Mistis. Pasti akan memunculkan minat bagi siapapun yang melihatnya.
Nah, aku ingin mengeluarkan salah satu senjata itu, tapi tanganku selalu diremas oleh Freya sejak aku mengabaikannya.
"Freya, tanganmu menghalangi, aku ingin menunjukkan salah satu senjataku kepada Ayahmu sekarang."
"Apa kamu marah padaku?"
"Kenapa aku harus marah?"
"Kamu tidak memaafkanku barusan!"
Aku hanya mengabaikan dia sebentar. Sebenernya aku tidak marah, tapi entah kenapa aku merasa kesal karena Freya tidak mau bercerita tentang perjodohannya.
Yah, bukan berarti itu penting sekarang. Cerita atau tidak cerita, kami tetap akan berurusan dengannya.
"Aku tidak marah. Dan untuk permintaan maafmu, tentu saja aku memaafkanmu."
Atau lebih tepatnya, kenapa dia harus meminta maaf? Aku hanya sedikit kesal, dan hanya dengan meminta maaf tidak akan bisa menghilangkan kekesalan ini. Seharusnya Freya mengetahuinya.
"Wajahmu tidak terlihat bahwa kamu mau memaafkanku."
"Tidak, kamu salah. Aku benar-benar sudah memaafkanmu. Lagipula, aku tidak akan pernah marah padamu."
Freya merubah wajahnya setelah mendengar ini. Kemudian menatap kedua orangtuanya.
"Ayah, Ibu, lihat dia selalu bisa menggodaku seperti ini."
Dan mengadu kepada orangtuanya.
Itu benar-benar membuat aku jadi panik.
"Oi, bukankah kamu yang memulai ini semua! Aku bisa marah tahu kalau kamu mempermainkan aku."
__ADS_1
"Tuh, barusan kamu mengatakan kalau kamu tidak akan pernah marah padaku. Kenapa kamu mengubah ucapan mu secepat ini?"
Aku diam setelah mendengar ini.
Aku tidak benar-benar marah, hanya kesal. Mungkin aku seharusnya mengatakan kesal di sana tapi semua sudah terlambat.
Rasanya, aku ingin sekali menerkam wanita ini dan membuat dia menyesal karena sudah berani mempermainkanku di depan kedua orangtuanya.
"Ehem, kalian bisa bermesraan di dalam kamar. Sekarang aku ingin kita kembali ke pembahasan."
Carol tampaknya tidak suka jika aku bermain dengan putrinya di hadapannya. Sedangkan Lilia, dia terlihat sangat senang melihat aku dan Freya bertengkar seperti ini.
Dua orang tua ini cukup unik.
"Freya, kamu tidak mendengar apa kata Ayahmu? Lepaskan tanganmu, aku ingin mengeluarkan senjata untuk memberi penjelasan."
"Maafkan aku dan jangan marah padaku. Aku akan melepaskanmu setelah kamu melakukan dua hal ini."
Anak ini benar-benar memaksa.
Jika sudah seperti ini, aku tidak memiliki kondisi untuk melawan, kan? Dia sungguh bisa memanfaatkan situasi.
"Sigh, baiklah. Aku memaafkanmu dan tidak akan marah padamu tentang masalah sebelumnya. Kamu bisa tenang dan melepaskanku sekarang."
Mendengar ini, Freya tersenyum dan langsung melepaskan genggaman tangannya.
Akhirnya aku bisa bergerak dan mulai mengeluarkan item peringkat Mistis dari dalam inventaris sambil bergumam "Aku akan mengingat ini." kepada diriku sendiri.
Namun telinga Freya lebih tajam, dan bisa menangkap perkataanku dengan baik.
Dia langsung memelukku dan meminta maaf beberapa kali.
Yah, ini bukan melo drama. Dia bertingkat seperti itu hanya karena takut terkena hukuman.
Aku, Merlin, dan Freya — kami bertiga sering bercanda dan mengakhirinya dengan game hukuman. Dan orang yang selalu terkena hukuman adalah Freya.
Kesampingkan itu, butuh waktu untuk bisa memenangkan Freya. Dan selama itu, aku selalu merasa merinding karena tekanan dari seseorang.
Aku mulai mengeluarkan item, atau lebih tepatnya staff peringkat Mistis. Itu adalah staff peringkat Mistis berartibut api. Aku pernah menggunakannya ketika melawan Endrin dan Darkness.
"Ini adalah salah satunya. Semua senjataku sudah berada di peringkat Mistis."
Aku menyerahkan staff itu kepada Carol dan biarkan dia menilai sendiri kualitasnya.
"Fumu, ini memang item kelas Mistis, sangat mengesankan. Aku tidak melihat benda ini ketika kamu melawanku atau kedua putraku. Memangnya kamu memiliki benda seperti ini berapa banyak?"
"Kalau tidak salah... Aku masih memiliki 36 buah. Sisanya sudah kuberikan kepada bawahanku."
"Tiga puluh--... Ditambah lagi, kamu masih memiliki sisanya?"
"Eh, yaa, sebelumnya aku memiliki 54 lebih."
"Lima puluh empat!?"
Carol terkejut. Begitu juga dengan istrinya, Lilia. Hanya saja Lilia lebih memasang wajah poker, melebarkan matanya sebentar, dan kembali tenang.
Lilia hanya perlu melihat ke arah Freya untuk mengkonfirmasi kebenaran. Dan dengan begitu, Freya mengangguk sebagai balasan.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan semua benda itu?"
"Rahasia."
Aku langsung menjawab pertanyaan Carol tanpa berfikir dua kali.
Jujur saja, aku sebenarnya tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan seperti itu karena itu semua adalah item dari dalam game.
Bahkan jika aku hanya mengatakan kalau itu semua berasal dari dalam kastil, mereka pasti tidak akan percaya.
Sama seperti Freya. Sampai sekarang, dia masih tidak mempercayaiku, padahal aku selalu mengatakan kalau itu semua berasal dari dalam kastil.
Tapi melihat keseluruhan ruangan, kastil tidak memiliki ruang untuk menampung harta.
Terdapat ruang harta, tapi tidak ada isinya. Maksudku, ruang harta itu langsung terhubung dengan inventaris. Jadi hartaku tidak ditampilkan untuk publik.
Yah, alasan terbesar karena aku tidak berani jujur untuk mengatakan kalau mereka semua berasal dari dalam game.
Apa yang akan terjadi ketika mereka tahu mereka adalah sebuah karakter dari dalam game?
Memikirkan hal itu saja sudah membuat aku takut.
"Apa kamu menyukai Albert karena dia memiliki banyak harta, Freya?"
Lilia bertanya dengan wajah polos. Seolah-olah itu merupakan hal paling wajar di dunia.
"Ibu, kamu pikir aku orang yang seperti itu?"
"Memangnya, kamu orangnya seperti apa?"
"Tentu saja tidak seperti itu!!"
Freya kesal karena dipermainkan oleh Ibunya.
Hari ini aku selalu melihat sisi Freya yang sangat berbeda dari biasanya dan lebih kekanak-kanakan.
__ADS_1
Mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah karena dia kembali pulang ke rumahnya.
Berbicara tentang rumah, aku mulai teringat kembali dengan keluargaku sendiri dan mulai merindukannya.