Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Ayo Kita Berpetualang!


__ADS_3

"Baiklah Tuan, biar saya yang urus!"


"Oi, tunggu-- Ah, dia buru-buru banget."


Eliza pergi menghampiri musuh dengan cepat. Tidak, mereka bukan musuh, tapi harus bagaimana aku menyebut mereka. Kita adalah orang jahatnya di sini.


Sebenarnya, bagaimana Merlin membesarkan anak ini, dia terlalu semangat.


"Apa itu kau, wanita pengguna Haki Raja Binatang Buas!?"


Setelah Eliza berhadapan dengan pasukan dari markas pusat tersebut, seorang Merman tampan berambut putih — yang aku kira adalah pemimpin pasukan tersebut — bertanya pada Eliza.


Berbicara tentang Haki, aku juga mendengar hal itu dari pasukan yang kami temui di hutan. Jadi seperti itu orang-orang bangsa merfolk ini menyebut "Aura".


Kupikir, itu menjadi sebutan yang bagus, akan aku catat dalam memo.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, tapi Tuanku ingin kalian mengantar Beliau ke tempat raja kalian!"


Si Eliza ini lurus banget orangnya. Setidaknya cobalah untuk berbasa-basi dulu! Ah, sudahlah. Pada akhirnya mereka pasti akan bertarung melihat pasukan di benteng ini sangat tidak menyukai orang asing. Sepertinya memang ada alasan kenapa negeri ini tidak ingin berhubungan dengan dunia luar.


"Apa yang akan kalian lakukan setelah bertemu dengan raja?"


"Tuanku, ingin berbicara dengannya."


"Manusia di sana, apa dia tuan yang kamu maksud?"


"Ya!"


Mereka berdua membicarakanku. Haruskah aku maju dan memperkenalkan diri?


"Kenapa kami harus mengantar orang asing ke tempat raja. Seharusnya kalian menyerah saja di sini, kami akan membawa kalian ke markas untuk diinterogasi."


... Ya, aku sudah tahu ini tidak akan berakhir dengan jalan damai.


Si Merman tampan ini sudah berada di tingkat [Epic-class], sudah wajar baginya untuk bersikap sombong di dunia ini dengan kekuatan sebesar itu.


Semua makhluk dunia ini paling tinggi hanya bisa mencapai kelas [Epic] atau peringkat [SS]. Jika mereka ingin melewati batasan tersebut, mereka harus memiliki suatu pencapaian seperti mendapatkan gelar untuk menjadi pahlawan atau raja Iblis sepertiku. Bahkan untuk makhluk hidup yang sudah berumur ribuan tahun, jika mereka tidak mendapat salah satu gelar itu di jiwa mereka, mereka tidak akan bisa melewati batasan tersebut.


Seperti di dalam game, sesuatu yang disebut level ada batasnya.


"Kamu tidak bisa berbuat seperti itu kepada Tuanku."


"Kenapa memangnya? Bukankah sudah wajar menginterogasi orang asing yang masuk ke tanah kalian?"


"Aku tahun itu. Tapi kamu tidak pantas memperlakukan Tuanku seperti penjahat. Dia tidak melakukan hal buruk apapun!"


Anak ini, dia benar sih. Aku memang tidak melakukan hal jahat sejauh ini. Semua perlakuan buruk ke para prajurit penjaga adalah ulah Eliza.


"Bagaimana kamu menjelaskan para prajurit yang berbaring di sana!?"


"Ah, itu..."


"... Seluruh prajurit, tangkap kedua orang ini!"


Eliza merasa bersalah ketika melihat para prajurit yang tergeletak di tanah akibat suhu rendah tubuh aslinya.


"Ya ampun, aku bilang kalian tidak boleh memperlakukan Tuanku seperti penjahat!!" —Sambil berteriak, dia menghempaskan seluruh prajurit tersebut dengan auranya. Atau mungkin sekarang kami harus menyebut itu Haki.


Mereka semua pingsan seketika dan terjatuh ke tanah. Oh, kurasa itu sangat sakit. Hanya tinggal satu pengendara hiu terbang yang masih bertahan. Dia adalah si Merman tampan.


Tampaknya, dia bisa mencegah Haki Eliza mengenai hewan tunggangannya. Perlu diberi pujian.


"Kau benar-benar melakukannya, pengguna Haki!!"


Pria itu berteriak dan menunjukkan Hakinya juga. Haki putih sedingin atribut es Eliza melawan Haki biru dari atribut air si Merman. Keduanya memiliki kualitas energi yang bagus.


"Baiklah, mari kita mulai!"


"..."


Eliza turun dari kudanya tanpa menanggapi perkataan pria tersebut. Kemudian mereka berdua berhadapan dan memulai pertarungan, pria itu melancarkan pukulan pertamanya.


"Foosh!!"


Tinju tersebut memiliki akumulasi energi, namun Eliza berhasil menghindari pukulan yang diarahkan ke kepalanya itu. Sebagai hasil, energinya membuat hempasan angin ke arah belakangnya.


"Foosh!!"


"Foosh!!"


"Foosh!!"


Berkali-kali pria itu menyerang Eliza dengan pukulannya, tapi tidak ada satupun yang dapat mengenainya.


Ketika seseorang sedang menggunakan Haki, seluruh persepsinya tentu saja ikut meningkat. Dan dalam pertarungan di antara mereka, Eliza memperlihatkan keunggulannya dalam hal kecepatan.


"Argh! Sial!"


Pria tersebut merasa kesal dan mengambil beberapa langkah mundur. Kemudian dia kembali ke tunggangannya untuk mengambil sebuah trisula yang tersimpan di pelana.


Pria ini, dia tidak memiliki rasa malu melawan wanita menggunakan senjata.


*tebas**tebas**tebas*


Kembali ke hadapan Eliza, pria itu langsung menebas dan menusuk ke arah Eliza berkali-kali. Namun tidak ada satupun yang kena.


Melihat pertarungan itu, membuat aku penasaran apa wanita ini benar-benar Eliza yang aku kenal? Kecantikan dan keanggunannya memang tidak berubah, namun kehebatannya dalam pertarungan jarak dekat membuatku heran.


Bukankah terakhir kali dia tidak berkutik melawan rekan Tristan? Kenapa sekarang dia kelihatan sangat jago banget bertarung?

__ADS_1


Orang lain yang melihat wanita ini pasti akan langsung jatuh hati, namun pria yang sedang melawannya justru terlihat sangat kesal.


(Aku bisa menilai dia memiliki kepribadian yang buruk dari itu... Hm?) —Setelah lama melihat wajahnya, aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Tetapi wajah tampannya membuat aku jengkel, jadi aku tidak terlalu ingin memperhatikannya.


"Hah! Yah! Hah! Hah! Hyaaaah!!"


Setelah menyerang Eliza untuk waktu yang lama namun tidak ada satupun serangan yang dapat mengenainya, pria tersebut terlihat cukup frustrasi dan kelelahan.


"Sekarang kau sudah tahu perbedaan kekuatan di antara kita, kan? Jadi jangan tunjukan sikap sombongmu itu kepada beliau, bocah rendahan! Hmph!"


"Gahhhh!!"


Eliza mengakhiri pertarungan tersebut dengan membuat tubuh lawannya setengah membeku. Lalu dia meninggalkan pertarungan dan mengambil kudanya kembali.


Aku langsung menuju ke tempat pria itu terjatuh dan menemukan dia telah pingsan.


"Bagaimana ini... Apa aku tinggalkan saja mereka di sini?" —Aku kebingungan dengan situasinya.


Selain itu, rasanya aku memang pernah melihat pria ini entah di mana itu... Tapi sangat sulit untuk mengingatnya karena bagaimanapun aku tidak ingin mengingat pria pria seperti ini.


"Ada apa, Tuan?"


"Tidak apa-apa. Lahan tanah ini sangat luas, aku hanya bersyukur karena seluruh prajurit ini tidak mati dan hanya mengalami patah tulang setelah jatuh dari ketinggian itu."


"Apa perlu dibunuh?"


"... Kamu serius mengatakan itu?"


"Eh?"


Orang ini...


\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=


"Kita sudah sampai."


Tiba di depan rumah besar, Atla sambil memegang peta di tangannya meyakinkan adik dan teman-temannya bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Setelah diperbolehkan bermain ke luar wilayah oleh orang tuanya, Atla dan adik-adiknya memutuskan untuk memulai petualangan mereka dari lokasi rumah teman mereka, yaitu Isabella.


Dengan menggunakan portal teleportasi di depan kastil yang menghubung ke perusahaan Martin lalu menuju ke cabang perusahaan di negara Qzanth (tempat tinggal Isabella), Atla dan yang lainnya bisa sampai ke alamat rumah Isabella dengan cepat.


Meski perlu berjalan sedikit dari cabang perusahaan ke alamat rumah Isabella, perjalanan itu bisa dipersingkat karena mereka bisa terbang, menaiki wujud naganya Davies.


Karena itu, mereka hanya perlu beberapa jam untuk bisa sampai ke rumah Isabella.


"Tapi, apa ini benar-benar rumahnya Isabella?"


"Tidak salah lagi. Aku sudah bertanya pada paman di kantor tadi, katanya kita hanya perlu mencari rumah besar. Dan satu-satunya rumah besar di daerah ini hanyalah rumah ini. Jadi..."


"Bagaimana kalau kita langsung masuk saja. Aku lapar..."


"..." ×2


"Permisi, apa ini rumah Isabella?" —Atla berbicara kepada penjaga di depan rumah tersebut yang sejak awal selalu melirik kelompoknya dengan gelisah.


"Anda benar. Ini adalah rumah Tuan Bupati dan Nona Isabella."


"Ah, ternyata aku tidak salah. Kalau begitu, bisakah Anda memberitahu kedatangan kami, kami adalah teman-temannya."


Sambil menunjukkan kartu petualangnya untuk menunjukkan namanya, Atla meminta penjaga itu untuk memanggil Tuannya.


"Ah! Ini..."


"Kenapa?"


"T-Tidak, saya akan segera menemui Nona Isabella."


Penjaga itu berlari setelah melihat kartu Atla dengan keterkejutan. Menjadi penjaga rumah seorang bupati dalam kurun waktu yang cukup lama memberikan pengalaman kepada pria itu bahwa kartu nama Atla bukanlah kartu petualang biasa.


Di sebelah kiri gerbang rumah juga masih terdapat satu penjaga. Dia hanya cukup penasaran melihat rekan satu tugasnya agak ketakutan setelah melihat kartu nama Atla.


"Tuan putri Alice dan semuanya, selamat datang!!"


Setelah beberapa menit berlalu, Isabella membuka pintu rumahnya dan menghampiri kelompok Atla sambil berseru senang. Nama pertama yang dia panggil adalah Alice karena baginya Alice paling dekat dengannya.


"Kamu tidak perlu sampai lari seperti itu."


"T-Tuan Putri Atla."


"Benar, apa kamu baik-baik saja?"


"Berkat ayah Anda aku baik-baik saja, Tuan Putri Eren."


"Kamu punya makanan, Isabella?"


"Ah, mungkin kami masih memiliki kue di dapur. Ayo masuk, semuanya."


"..." ×2


Isabella menyapa Atla dan yang lainnya dengan senang, kemudian mereka masuk ke dalam rumahnya.


Di ruang tamu, kelompok Atla dijamu dengan makanan ringan oleh Isabella.


"Selamat makan--"


"Tunggu, sikapmu sangat tidak sopan, Alice!"


Ketika makanan sudah disiapkan di depan semua orang, Alice orang pertama yang ingin memakan hidangan itu buru-buru. Namun tindakannya langsung dicegah oleh Eren.

__ADS_1


"Um, maaf."


"Ti-Tidak apa, kok. Kalian semua, silahkan dinikmati kuenya."


Alice terlihat merasa bersalah, melihat itu Isabella dengan cepat mengizinkan semua orang untuk makan. Dan kemudian, Alice dengan "Yay"-nya langsung memakan hidangan tersebut.


"Isabella, kuemu sangat enak, aku mau nambah!"


Dan baru saja beberapa menit itu dimulai, tetapi Alice sudah menghabiskan seluruh bagiannya dengan cepat.


"Ah, uhm, mm..." —Isabella kerepotan dengan sesuatu.


Melihat tingkahnya, Eren menyadari sesuatu dan meletakkan tas bepergiannya di atas meja.


"Ini Alice, bekal yang dibuat oleh ibu. Kamu boleh habiskan ini."


"Wah! Kak Eren, terimakasih!"


"..."


Eren tersipu, dia tidak bisa mengatakan apa-apa karena sedang berusaha menahan senyumnya ketika melihat adiknya bersikap sangat manis.


"Entah kenapa ibu membuatkan bekal ini untuk perjalanan kita. Jadi ternyata dia sudah tahu kalau Alice akan kelaparan bahkan sebelum kita memulai petualangan ini."


"Hah, kenapa bisa begitu?"


"Aku juga tidak tahu. Sepertinya kita harus membeli lebih banyak persediaan jika ingin pergi jauh."


Eren dan Atla membahas masalah makanan. Mereka tahu kalau Alice memang memiliki nafsu makan yang besar, namun itu cerita di tahun lalu. Sekarang seharusnya dia sudah membiasakan diri dengan porsi makan yang normal.


Akan tetapi, sekarang Atla dan Eren tidak menyangka kalau nafsu makan besarnya itu akan kembali lagi.


"Yah, itu bukanlah sesuatu yang perlu kita khawatirkan."


"Ya, kita hanya perlu kembali ke ibukota untuk membeli lebih banyak persediaan."


Masalah terselesaikan dengan cepat.


"Jadi kalian benar-benar ingin berpetualang, ya? Enaknya."


Isabella tampak iri, mendengar obrolan mereka membuat dia mengerti dengan situasinya. Pada pertemuan mereka di pesta terakhir kali, mereka saling bertukar cerita dan salah satunya adalah tentang petualangan.


"Apa yang kamu katakan, Isabella? Tentu saja kamu harus ikut dengan kami. Bukankah kamu mengatakan ingin pergi ke tempat yang jauh setelah penyakitmu sudah sembuh? Sekarang ini adalah kesempatannya, kita akan pergi ke berbagai tempat untuk berpetualang."


"Be-Berpetualang dengan kalian...?"


Mendengar perkataan Atla membuat Isabella terpana. Dia tidak menyangka kalau Atla benar-benar akan mengajaknya pergi. Namun, dia merasa sangat senang.


"Apa setelah ini kita akan menemui Cecilia dan Akane?"


"C-Cecilia!?"


"Hm... Kupikir kita akan mengunjungi salah satu tempat menarik dulu di pulau ini."


"Benar juga, di pulau ini terkenal dengan legenda harta karun bajak laut tersembunyi, kita mungkin bisa menemukannya jika kita beruntung!"


"..." ×6


"Itu hanya sekedar legenda, jangan dianggap serius."


"Ya, pasti membutuhkan waktu yang lama untuk menemukannya, kita tidak bisa melakukannya karena Cecilia dan Akane menunggu. Lebih baik kita pergi ke negeri yang memiliki makanan enak."


"Makanan enak!!?"


"Tu-Tunggu."


Semua orang mulai berdiskusi untuk menentukan tujuan pertama petualangan mereka, namun mereka melupakan satu hal...


"Tunggu, aku belum memutuskan ingin ikut dengan kalian atau tidak."


"Kenapa!?" ×6


"Ah! U-Um, sebenarnya aku memiliki sebuah masalah."


"Masalah...? Katakan detailnya."


Dengan itu, Isabella menjelaskan masalahnya kepada mereka.


Karena mengikuti pesta perayaan Atla, Eren, dan Alice, Isabella sekarang terkenal dengan sebutan gadis tercantik di negaranya. Itu semua karena Albert memberikan gelar tersebut di pesta itu.


Semua berawal dari sana, setelah Isabella pulang, beberapa hari kemudian banyak sekali undangan ajakan pertunangan dari berbagai kalangan bangsawan. Mau bagaimanapun, Isabella adalah anak dari seorang Duke, dia memiliki kewajiban untuk menikah dengan sesama bangsawan atau sesuatu semacam itu.


"Jadi, begitulah. Aku mungkin akan dinikahkan dengan seseorang oleh ayah, dan..."


Dengan ragu, Isabella mengatakan itu sambil memegang jepit rambutnya yang ia dapatkan dari Albert sebagai bukti dari gelar kecantikannya. Dia selalu mengenakan aksesoris tersebut karena sangat menyukainya.


"Jika aku bertanya apakah kamu ingin ikut berpetualang dengan kami atau tidak, apa jawabanmu?"


"Aku, aku tentu saja ingin ikut dengan kalian. Sebenarnya aku berharap kalian datang ke sini dan membawaku pergi."


"Kalau begitu ayo kita pergi!"


"Tapi, ayahku..."


"Biar aku yang berbicara kepada paman, kamu tenang saja. Dia pasti mengizinkan kamu pergi dengan kami."


"Tu-Tuan Putri Atla, uuu...."


Isabella sangat terharu mendengar Atla mengatakan hal berjiwa berani seperti itu. Meskipun Isabella tidak enak dengan ayahnya karena menghindari pertunangan yang sudah menjadi kewajiban bagi seorang putri bangsawan, namun Isabella lebih ingin berpetualang karena itu adalah impiannya sejak dia sakit.

__ADS_1


__ADS_2