
Dua monster berukuran besar muncul begitu mendadak di dekat sisi barat dinding istana Aeghistar.
Cahayanya yang menyinar seluruh area sebelum mereka muncul membuat semua orang sementara menghentikan kegiatan mereka untuk mengamati fenomena ajaib tersebut.
Satu naga raksasa yang memiliki sayap besar seukuran panjang lapangan bola, terbang dengan bebas di udara.
Sedangkan yang lainnya merupakan monster raksasa berkepala sembilan setinggi ratusan meter. Memiliki nyala api di setiap kepala dengan warna yang berbeda-beda, dan ekor yang panjang.
Kedua makhluk ini terpisahkan karena kemampuan alami dan keterbatasan mereka. Charybdis sang kaisar langit, dan Hydra sang monster pengendali elemen.
Melihat kedua raksasa ini membuat salah satu saudara mereka, Leviathan, ingin berkumpul bersama dengan mereka. Tapi dia tahu kalau pertemuan tersebut bukanlah sebuah reuni.
Sementara itu, malaikat-malaikat bawahan Nodens, jenderal-jenderal dan pasukannya, menghentikan pertarungan mereka melawan musuh dan mengamati keagungan dua Divine Monster tersebut.
"GROWL!!"
"ROAR!!" ×9
Kedua suara raksasa memekik ke seluruh dunia. Menandakan akan datangnya bencana besar akibat keberadaan mereka itu sendiri.
"Ini gawat!"
Miura merasakan bahaya.
"Kita harus segera pergi dari tempat ini."
"Pergi katamu? Tapi ke mana?"
"Ke istana. Kita bisa aman di sana. Tempat ini sebentar lagi akan mengalami kehancuran!"
Miura menunjuk ke arah istana Aeghistar.
"Bukankah itu justru mendekati mereka?"
Veronika melihat posisi mereka lebih jauh daripada jarak antara kastil dengan Divine Monster. Dan semua orang berpendapat jika ingin pergi dan berlindung, maka mereka seharusnya pergi ke arah sebaliknya dan menjauh.
Tapi, Miura berpikiran lain.
"Tidak. Istana Aeghistar memiliki sihir pertahanan yang sangat kuat. Hampir sama dengan pertahanan kastil kalian. Jika kita ingin selamat dari kekacauan pertarungan mereka, kita harus berlindung di sana."
Miura menegaskan. Semua orang merinding ketika mendengar kata "jika ingin selamat" darinya.
"Ok, jangan membuang-buang waktu. Kita harus segera pergi."
"Tunggu, bagaimana dengan rekan kalian?"
Miura – yang sedang ingin membopong kakak laki-lakinya – juga mengkhawatirkan Sophia.
Mereka menemukan Hastur tidak berdaya di tumpukan puing-puing reruntuhan gunung.
"Tinggalkan saja! Aku yakin dia akan mendapatkan arahan dari beliau!"
"Benar. Tidak usah mengkhawatirkan orang lain. Ayo kita segera pergi dari sini."
Selama ini tindakan mereka diawasi oleh Merlin, dan mereka juga mendapat perintah bergerak atau diam darinya. Jadi dengan melihat situasi, maka tidak apa meninggalkan medan perang kalau Merlin tidak mempermasalahkannya.
Dengan Raphael yang membantu Miura membawa Hastur, mereka pergi meninggalkan tempat tersebut kemudian pergi menuju ke istana.
Di pusat pengawasan, Freya dan Merlin mengerti situasinya dan mulai mengambil keputusan cepat.
"Niks, suruh semua orang menghentikan pertarungan mereka dan mulai berlindung di istana itu."
"Dimengerti."
Merlin memerintahkan Niks untuk menghubungi seluruh Einherjar. Termasuk Sophia yang masih bertarung dengan Cthulhu.
Pertarungan mereka cukup epik melihat Cthulhu sama sekali tidak mengendurkan pertahannya. Sedangkan Sophia tidak segan-segan menusuk Cthulhu dengan lembingnya ataupun menampar Cthulhu dengan perisainya. Dia sangat menikmati pertarungan tersebut.
Tapi jika diteruskan, mereka hanya akan terbawa ke dalam arus pertarungan Albert dan Nodens.
"Oh!"
"Akhirnya musuh mulai mengandalkan kartu trufnya, ya?"
"fufu, Tuan Albert pasti yang telah memaksanya."
Di belakang Freya – Ignis, Leon, dan William sudah hadir untuk menyaksikan pertarungan Albert.
"Eh? Sejak kapan kalian ada di sini?"
Kemunculan mereka yang begitu tiba-tiba membuat Freya terkejut.
"Hehe, izinkan kami melihat kehebatan Tuan Albert, Kakak!"
William memohon kepada Freya. Tapi Freya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Karena ini bukanlah sesuatu yang dirahasiakan. Atau sejak awal, Freya tidak pernah melarang mereka untuk datang melihat-lihat.
Tidak lama setelah itu, Merlin melihat Freya entah kenapa terlihat sedikit murung.
"Freya, ada apa?"
"Ah, tidak. Karena kita semua sedang berkumpul sekarang, aku jadi teringat dengan anak-anak. Kita sudah terbiasa bersama, tidak adanya mereka membuat ini terasa ada yang kurang."
Freya merindukan kehadiran Atla, Eren, dan Alice yang berisik.
"Kamu harus terbiasa dengan ini."
"Ahaha, aku tahu. Aku tahu."
Freya tertawa sambil mengelus-elus perutnya.
__ADS_1
Di belakang, William, Ignis, dan Leon hanya diam saja melihat mereka berdua, itu membuat Merlin jengkel.
"Hei, Freya membutuhkan minuman. Cepat bawakan itu ke sini."
"Ah, baik!"
Dan dengan cepat memikirkan cara untuk mengerjai mereka. Tapi orang yang membutuhkan hal tersebut justru memiringkan kepalanya.
Wajahnya memiliki tanda pertanyaan besar karena sebenarnya dia tidak memerlukan hal tersebut.
Ignis segera pergi untuk memenuhi permintaan Merlin.
"Dia juga membutuhkan gula!"
"Dimengerti!"
Masih ada William. Merlin tidak segan-segan meminta hal sederhana hanya untuk menyingkirkannya.
Sekarang tersisa Leon yang sedang gelisah ditatap oleh Merlin.
"Bantu mereka."
"Baik!"
Meski tidak mengerti, Leon dengan cepat menuruti kehendak Merlin. Dia tidak ingin mencari masalah dengannya.
Tidak, sebenarnya semua orang juga memiliki pemahaman yang sama.
"Pfft! Hahaha..."
"Ibu, kenapa?"
Lilia yang berada di tengah-tengah mereka tidak bisa menahan geli. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi menurut dia itu sesuatu yang menarik.
"Tidak apa-apa. Ibu hanya senang melihat kalian begitu menarik."
Lilia yang sejak awal merengut karena ada seseorang bersikap centil terhadap suaminya, sekarang mulai tersenyum kembali.
Itu merupakan hal yang menenangkan untuk Freya dan Merlin.
Berbicaralah tentang suaminya, Carol.
Dia beserta orang-orang yang berada di dekatnya, mendapatkan perintah untuk segera mengungsikan diri ke istana Aeghistar.
Tiamat awalnya meragukan ajakan pihak Carol untuk mengungsi, tetapi dia memikirkan kembali tentang peringatan bencana yang akan terjadi akibat pertarungan dari dua Divine Monster.
Itu pasti bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Jadi dia memilih untuk ikut dengan Carol dan yang lainnya ke istana Aeghistar.
Sejak awal, dia tidak memiliki tujuan lain. Rumahnya berada di lapisan ke tujuh. Yang artinya adalah tempat terjauh dari lapisan pertama ini.
Dan di lapisan pertama ini, dia setuju kalau tempat teraman untuk mengungsi adalah istana Aeghistar itu sendiri.
"Apa-apaan ini...?"
Mereka adalah orang-orang yang melawan antek-antek musuh sampai akhir. Tapi jelas, mereka belum mati.
Mereka tidak dibunuh dan hanya diikat dengan rantai. Meskipun begitu, itu tetap membuat Tiamat terkesima.
"Ini--"
*GEMURUH!!*
Tidak sempat untuk bertanya, gempa sudah melanda di seluruh lapisan pertama ini. Charybdis dan Hydra akan segera memulai pertarungan mereka.
Semua orang, baik musuh maupun sekutu, semuanya tidak bertingkah aneh-aneh ketika bencana besar tersebut akan terjadi. Sehingga semua orang hanya terfokus pada kedua Monster Ilahi itu.
Charybdis mengepakkan sayapnya untuk terbang tinggi, kemudian dia bermanuver di angkasa sambil melepaskan energy-nya.
"BANG!!"
Sesuatu terjadi di seluruh tempat. Meskipun serangannya tidak terlihat, tapi pelindung istana aktif dan seluruh tanah agak mengguncang ke bawah.
Itu membuat dada semua orang sesak karena cemas untuk sesaat. Untungnya pelindung istana aktif di waktu yang tepat dan membuat mereka semua baik-baik saja.
"INI BENAR-BENAR BENCANA!!" ××
Semua orang memiliki pemikiran yang sama.
Lapisan pertama ini memiliki grafitasi yang sangat kuat untuk menahan dataran ini supaya tidak terjatuh.
Bahkan jika ketujuh pilar bersatu untuk mengguncang daratan ini dengan segenap kekuatan mereka, tempat ini tidak akan bergeser sedikitpun. Paling-paling mereka hanya akan membentuk sebuah kawah.
Oleh karena itu, mereka semua yang tahu fakta tersebut akan sangat terkejut melihat seluruh daratan ini bergerak.
Sebelum Albert dan Nodens menggunakan bentuk monsternya, mereka bertarung dengan energy yang ditahan-tahan untuk efisiensi penggunaan dan akurasi.
Namun setelah mengambil bentuk monster mereka, semua hal tersebut tidak diberlakukan lagi.
Ini adalah pertarungan menghabiskan energy.
Setelah semua, apa yang terjadi sebenarnya adalah kekuatan gravitasi Charybdis.
Charybdis mengunakan kemampuannya untuk menekan Hydra.
Sebagai makhluk yang bisa mengontrol energy gravitasi sesukanya, Charybdis pasti akan terus menekan Hydra sampai pertarungan mereka berakhir.
"Kau benar-benar menggunakan ini kepadaku!!"
Suara yang feminim namun sangat mengintimidasi, menggema ke seluruh area.
__ADS_1
"Maafkan aku, kak! Aku juga tidak bisa mengalah begitu saja!"
Dan suara anak laki-laki yang gelisah, membalasnya.
Itu adalah pertukaran dialog antara Hydra dan Charybdis yang dapat didengar oleh semua orang.
"Awas saja, kau! Aku akan mengigitmu setelah ini..."
"..."
Hydra tampak geram dengan Charybdis. Itu membuat Charybdis gelisah.
Sementara itu, kehendak Nodens untuk membunuh Albert juga masih keruh di hati Charybdis. Itu membentuk perasaan yang rumit untuknya karena harus mempertimbangkan banyak hal.
Tidak lama kemudian, sejumlah cahaya mulai terbentuk dari energy terkompresi di masing-masing mulut Hydra. Membentuk sembilan bola dengan warna yang berbeda-beda.
Semua energy tersebut diarahkan kepada Charybdis, dan kemudian dilepaskan bersamaan.
Sejumlah serangan tersebut saling bersinergi dan menjadi satu, membentuk serangan tembak penuh warna.
Di sisi lain, Charybdis tidak hanya diam saja melihat Hydra melancarkan sebuah serangan. Dia juga mengakumulasi energy dari kemampuannya, yaitu gravitasi, menjadi sebuah bola kecil di mulutnya.
Bola akumulasi gravitasi tersebut membuat seluruh partikel yang ada di dekatnya tertarik. Dan menciptakan keadaan yang mirip dengan black hole, namun ini berwarna putih.
Bola tersebut menciptakan kondisi abnormal, dimana kemampuan persepsi semua orang (termasuk Hydra dan Albert) tidak bisa menangkap atau melihat keadaan utuh dari bola tersebut. Karena semua partikel terhisap ke dalamnya, termasuk energy Mana.
Albert yang belum bisa menguasai Outerki energy sepenuhnya, menyesal melihat situasi ini.
Namun, waktu untuk menyesal bahkan tidak bisa diberikan karena bola gravitasi tersebut sudah dilepaskan untuk menghadang serangan Hydra.
"BANG!!"
Dan ketika tembakkan energy Hydra bertemu dengan bola gravitasi Charybdis, mereka berbenturan dan meledak.
Ledakan tersebut, menyerap kembali semua partikel yang terlepas (termasuk partikel-partikel yang bahkan tidak berhubungan) ke dalam satu titik, dan lenyap dalam sekejap.
"Apa!?"
Albert mau tidak mau tersentak, dalam bentuk kesadarannya.
Dia terkejut dengan bola yang terlihat kecil namun bisa menahan semua energy dari tembakkan Hydra. Tapi daripada "menahan", itu lebih ke "menyerap" serangannya Hydra.
"Saya sudah memberitahu kemampuan adik laki-laki saya kepada Anda, kan. Master? Kenapa sekarang Anda terkejut seperti itu."
"Ugh..."
Albert terlihat sangat menyesal.
Dia tahu tentang informasi tersebut, tapi dengan gagasan "itu bisa dipikirkan nanti" Sebelum berperang membuatnya mengabaikan segala resiko yang ada.
Itu adalah kebiasaan orang-orang yang bertindak berdasarkan emosi. Sekarang dia menyesal kalau kemampuan Charybdis sangatlah kuat.
"Master, pikirkan sesuatu untuk mengalahkannya."
"Aku tahu, tunggu sebentar."
Albert berusaha memikirkan cara untuk mengalahkan Charybdis dengan akselerasi pikiran.
Kemudian muncul ide menyerang Charybdis dengan serangan berjumlah. Dengan asumsi Charybdis tidak bisa menahan banyak serangan karena mulutnya cuma satu, mungkin saja serangan berjumlah akan berdampak padanya.
Ide tersebut secara otomatis langsung tersalurkan ke Hydra, dan Hydra segera menerapkannya.
Sembilan serangan energy Hydra, tidak disatukan tapi ditembakkan secara terpisah. Serangan tersebut akan mengarah ke Charybdis dari segala arah untuk mencegah Charybdis menghalaunya lagi.
Charybdis (beserta Nodens yang berada di dalamnya) sedikit tersentak melihat sejumlah serangan tersebut datang dari berbagai arah.
Namun mereka tidak berupaya untuk menghalaunya, melainkan memilih bertahan.
Selaput tipis berwarna putih menyelimuti seluruh tubuh Charybdis, itu adalah penghalang. Kemudian penghalang tersebut menyerap semua serangan Hydra dengan mudah.
Tidak aneh lagi kalau itu adalah penghalang yang mengadopsi gravitasi sebagai konsepnya. Tapi itu tetap membuat Albert menganga.
"Hei, kalau kemampuan Charybdis sehebat itu. Kenapa Nodens tidak menggunakannya sejak awal?"
Karena rasa penasaran yang sangat besar, Albert langsung bertanya.
"Aku yakin itu bukanlah kemampuan yang bisa dikendalikan oleh seorang Nodens. Salah perhitungan sedikit kemampuan itu bisa menyerap segalanya, tahu."
"Tu-Tunggu, itu terdengar semakin menakutkan!"
"Sejak awal, itu memang menakutkan, Master."
Meskipun Albert terlihat panik, Hydra justru tetap tenang.
Lebih dari itu, Hydra sebenarnya cukup bangga dengan Charybdis. Karena bagaimanapun juga, Charybdis adalah adik laki-lakinya.
Itu merupakan suatu kebanggaan bagi kakak perempuan memiliki adik laki-laki yang kuat.
"Kakak! Aku tidak akan diam saja diserang terus! Aku akan menyerang balik!"
Charybdis mendeklarasikan niatnya.
Setelah selesai berbicara, tiba-tiba sejumlah bola kecil mulai bermunculan di sekitarnya. Jumlahnya mungkin sekitar sepuluh.
Bola-bola tersebut memutari Charybdis layaknya benda orbit, kemudian pergi satu persatu ke arah Hydra.
Bola-bola tersebut lalu berhenti di tengah-tengah jalan, dan kemudian menyebar.
Mereka memposisikan diri di atas Hydra, tidak berputar dan tetap melayang di udara dalam diam.
__ADS_1
"Tu-Tunggu, ini..."
Hydra memiliki keringat dingin di dahinya. Perasaan tersebut, juga tersalurkan ke Albert.