
Setelah selesai makan malam, kami memutuskan untuk kembali dan beristirahat di kastil karena kami tidak membawa tenda atau semacamnya untuk tidur di alam bebas.
Meninggalkan pintu antar dunia di lantai 71 dan menyuruh para Familiar menjaga pintu tersebut, kami bisa tidur dengan nyaman tanpa perlu khawatir.
Selain itu, Niks membuat beberapa clone tubuhnya dan mengucapkan kata-kata seperti "Saya akan membantu menjaga pintu ini dan melanjutkan pencarian kuda dengan menghubungi para Roh Kegelapan di sini." seperti itu.
Dia terlalu rajin. Aku hanya bisa bertanya khawatir kepadanya, dan dia menjawab...
"Tidak apa, Tuan Albert. Tubuh asli saya bisa tidur beristirahat selagi para clone mencari informasi."
Benar-benar kemampuan yang sangat berguna. Dia sudah seperti ninja sungguhan, kupikir.
Namun aku yakin, meski Niks mengatakan tubuh utamanya bisa tertidur, dia pasti tidak akan tidur.
Dia merupakan makhluk spiritual, hal-hal seperti tidur dan makan tidak terlalu dibutuhkan.
Yah, setidaknya aku sudah menyampaikan kepada seluruh tim untuk beristirahat. Jika mereka tidak ingin, maka aku tidak akan memaksa. Sebagai pemimpin mereka, memberikan mereka waktu istirahat juga merupakan pekerjaanku.
Berbicara tentang tidur, ada seekor anak rubah sudah tertidur sejak kami makan malam. Sekarang, anak rubah itu sedang diurus oleh Atla dan Eren.
Rubah itu sudah seperti hewan peliharaan, padahal kami tahu dia bukan makhluk biasa dan bisa berbicara.
Ketika rubah itu dibawa oleh Atla dan Eren ke kamarnya, tiba-tiba salah satu dari mereka menghampiri aku dan mengatakan bahwa rubah itu sudah bangun.
"Itu hal bagus, kan? Apa dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja, tapi dia mengatakan ingin memakan sesuatu."
Atla mengatakan itu dengan wajah khawatir, atau mungkin cemas? Intinya, dia ingin aku segera datang untuk memberinya makanan.
Sangat jarang melihat anak-anak mau mengandalkan aku. Mungkin membawa anak rubah itu ke sini bukan pilihan yang buruk. Kerja bagus, Luminous!
Kami menuju ke kamar Atla dan Eren.
Kamar ini dipenuhi oleh dekorasi berwarna merah muda. Itu semua adalah wujud manifestasi bahwa kami sangat memanjakan anak-anak kami.
Kemudian, aku melihat Eren sedang mengelus anak rubah itu dengan penuh kasih.
"Ah, lihat! Ayah sudah datang."
Eren berkata pada si rubah.
Aku tidak enak memanggil makhluk ini dengan hanya sebutan rubah. Mungkin aku harus mencarikan nama yang bagus untuknya.
Ketika aku bertanya apakah dia ingin makan, rubah itu mengangguk dengan lemah sebagai jawaban.
Kami mengubah lokasi agar tidak mengotori kamar mereka dari sisa makanan.
Kami menuju ke ruang makan di lantai dua, tempat makan khusus keluarga.
Menaruh anak rubah itu di atas meja dan aku mulai mengeluarkan daging.
Pertama daging dari babi hutan, kami mendapat daging tersebut dari wilayah di sekitar kastil.
*kunyah-kunyah-kunyah*
Dengan kecepatan yang mengerikan, rubah itu langsung menghabiskan makanannya.
"Ohh, kamu sangat lapar, bukan? Apa kamu ingin tambah lagi? Kami masih memiliki banyak daging."
Rubah mengangguk menanggapi pertanyaan itu.
Aku tahu bahwa ini sudah terlambat, tapi aku sedikit penasaran dengan makanan asli dari makhluk ini, apakah itu akan sama dengan rubah lain?
Aku mulai mengeluarkan banyak daging dari inventaris. Dimulai dari hewan berukuran kecil hingga ke ukuran besar.
"Oi, oi!"
Dan sampai ke ukuran monster sekitar tiga meter lebih, anak rubah itu terus memakan hidangannya sampai membuat aku terkejut.
Ukuran tubuh dari rubah itu juga terus meningkat secara dramatis. Tidak, ini terlalu cepat hingga kata "meningkat" tidak cocok untuk menggambarkan situasi anak rubah itu.
Dia lebih seperti merubah bentuknya untuk menyesuaikan ukuran dari daging santapannya.
Atla dan Eren hanya melihat anak rubah itu dengan antusias. Anehnya, mereka tidak merasa takut sama sekali. Mereka tidak normal.
Yah, semua keluarga kami — termasuk aku — juga tidak normal. Jika aku berkomentar ajaib tentang rubah itu, lalu kata apa yang tepat untuk menggambarkan keluarga kami?
Keberadaan kami bahkan masih dipertanyakan oleh dunia.
Satu sampai dua jam berlalu hanya untuk memberi makan anak rubah tersebut.
Kemudian kedua istriku mencari anak-anak mereka karena tidak dapat ditemukan di kamarnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"
Freya bertanya dengan heran, padahal dia sudah melihat situasinya.
Mungkin lebih baik kalau menganggap dia ingin aku menjelaskan situasinya. Itu sebabnya aku menjelaskan semuanya dengan ringkas.
Setelah mendengar semuanya, dia tidak terlalu terkejut. Dan sebagai gantinya, aku yang terkejut melihat dia begitu tenang.
"Dia adalah monster. Mungkin dia mengubah bentuknya sekecil mungkin karena suatu alasan. Yah, itu tidak penting lagi. Sekarang kami akan membawa anak-anak ke kamar mereka untuk tidur."
Setelah Freya mengatakan itu, aku baru sadar bahwa wajah Atla dan Eren terlihat sangat mengantuk.
Mereka menahan kantuk sambil berdiri dan terus mengamati perkembangan anak rubah.
Kemudian Atla dan Eren dibawa oleh Merlin dan Freya ke kamar untuk tidur.
Merlin meninggalkan pesan, menyuruhku untuk kembali ke kamar setelah urusanku selesai.
Kupikir urusan ini akan cepat selesai melihat si rubah sudah makan banyak, namun sepertinya aku terlalu naif.
"Kamu mau tambah lagi?"
__ADS_1
Itu adalah pertanyaan untuk kesekian kalinya, dan dia mengangguk sebagai jawaban.
Kadang-kadang, aku juga sering mendengar kata "Um" di dalam kelapaku. Aku yakin itu pesan dari si anak rubah.
Ukuran tubuhnya sudah mencapai tiga meter lebih, dan itu sudah hampir memenuhi ruang makan.
Aku memutuskan untuk pindah lokasi ke ruang harta di lantai empat.
Menilai hanya ada aku dan si rubah di ruangan tersebut, Niks muncul untuk menemaniku.
Ketika datang ke tempat sepi seperti ini, dia selalu muncul sebagai tindakan kesopanan.
Selain itu, aku juga melarang dia memasuki kamarku.
Ini bukan seperti aku menyimpan barang berharga di sana. Tetapi, Merlin dan Freya suka sekali telanjang. Aku tidak bisa membiarkan ada orang lain melihat mereka dalam keadaan seperti itu.
Siapapun yang berani melihat kulit istriku, aku pasti akan membunuhnya. (hukum ini hanya berlaku untuk pria)
Melanjutkan kegiatan, aku mengeluarkan sejumlah daging dari inventaris. Itu menumpuk menjadi gunung karena aku malas mengeluarkan mereka satu persatu.
Rubah itu kembali makan dan memperbesar tubuhnya. Dia terus makan tanpa merasa puas sama sekali.
Sekarang aku mulai khawatir apakah daging di dalam inventarisku dapat memuaskan rasa lapar dari makhluk ini?
Aku sangat yakin, dia pasti seharusnya memiliki batasan.
"Ini adalah pertama kalinya aku melihat monster bisa tumbuh secepat ini..."
Niks bergumam.
Sungguh, aku pun berpikiran sama dengannya.
Aku pernah melihat bagaimana makhluk spiritual tumbuh besar. Kejadian itu terjadi belum lama ini, ketika Atla dan Eren berevolusi.
Namun bila dibandingkan dengan rubah ini, evolusi seperti itu terlihat lebih alami seolah kejadian biasa.
Beberapa waktu telah berlalu.
Rubah itu sampai pada ukuran setinggi lima meter. Setiap memakan daging, dia tidak pernah memisah tulangnya. Semua langsung dihancurkan dengan gigi-giginya yang kuat.
Aku memang tidak terlalu yakin, tapi kalau tidak salah, diantara monster itu pernah memiliki peringkat B sampai A. Dan salah satu dari mereka pasti memiliki tulang dan kulit yang keras.
Namun semua itu dihancurkan oleh rubah ini dengan satu gigitan.
Mungkin istilah "Jangan menilai kekuatan dari penampilannya" akan cocok dengan rubah yang satu ini. Tubuh kecil sebelumnya benar-benar menipu.
Sekarang aku mulai ragu. Aku tidak bisa menyerahkan monster mengerikan ini kepada kedua putriku.
Sampai ke hidangan terakhir. Itu adalah monster Kepiting Raksasa dengan cangkang keras berwarna merah jingga.
Kami mendapatkan makhluk ini di dalam labirin dan kekuatannya pernah mencapai peringkat A.
Kemudian kepiting itu dimakan oleh rubah bersamaan dengan cangkangnya.
Tetapi, sepertinya dia agak menikmati cangkang tersebut.
Setelah semua, dia berdahak, merasa kenyang dan mengakhiri makan malamnya.
Di satu sisi, aku merasa senang karena dia sudah puas. Tapi di sisi lain, aku mulai mencemaskan bagaimana aku harus memberi dia makan.
Hanya untuk makan malam, dia sudah memakan ratusan daging dari berbagai ukuran. Bagaimana dengan sarapan dan makan siangnya nanti?
Aku rasa, aku tidak bisa memelihara monster ini. Jumlah porsinya akan melebihi pemasukan kami.
Bahkan jika kami bisa mengelola peternakan sendiri, jumlahnya masih tidak akan mencukupi kebutuhan si rubah.
"Kamu menyukainya?"
Aku tersenyum, sambil berusaha menyembunyikan keberatan hati.
«Um. Terima kasih, err... Ayah?»
...
...
...
Apa itu?
Suara seorang gadis bergema di kepalaku.
"Apa ini, suara kamu?"
Aku penasaran dan bertanya kepada si rubah.
«Ya.»
Baik, hanya dengan satu kata — semuanya menjadi jelas.
Padahal aku sudah memiliki niat untuk mengembalikan rubah ini ke dunia Roh, tapi setelah dia memanggil aku dengan sebutan seperti itu, mana mungkin aku bisa membuang dia begitu saja!?
Rubah itu mendekatkan kepalanya ke arahku, mungkin meminta untuk dielus. Lalu, aku mengelus dia sambil tersenyum pahit.
Memikirkan bagaimana aku harus menangani rubah ini, kemudian aku teringat akan sesuatu.
Sebelumnya aku pernah meminta Hydra untuk menganalisis kemampuan semua orang yang terhubung dengan Jaringan Hydra.
Oleh karena itu, aku sekarang memiliki semua kemampuan tingkat tinggi dari seluruh anggota yang terhubung dengan Jaringan Hydra.
Dua diantaranya adalah skill [Transformasi Manusia] dan skill [Pemberian Keterampilan] milik Eliza.
Seluruh skill dianalisis dan Hydra bisa membuat tiruannya. Mengumpulkan semua di satu tempat yaitu jiwaku dan diarsipkan agar sewaktu-waktu aku dapat dengan mudah menggunakannya dalam keadaan sulit tanpa perlu mempelajarinya.
Sekarang aku bisa dengan mudah mengubah rubah ini menjadi manusia dengan kemampuan dari Eliza.
__ADS_1
Jujur saja, aku seperti orang jahat, mengambil skill milik orang lain tanpa meminta izin dari pihak terkait terlebih dahulu.
Kemampuan cheat ini bukan skill, melainkan keahlian khusus Hydra. Aku sudah menamainya dengan sebutan "All for One".
Entah kenapa, itu terlihat sangat payah.
Aku memberikan kekuatan mentah untuk mereka dan mereka akan mengolahnya menjadi kekuatan tertinggi.
Ketika mereka menjadi kuat, aku juga akan ikut menjadi kuat. Jadi, aku tidak akan ragu-ragu untuk memberikan Nilai Jiwa kepada seseorang yang memiliki keahlian dan keterampilan tinggi atau unik.
Aku bahkan memiliki skill untuk membangkitkan makhluk hidup yang telah mati dari Merlin.
Sekarang, aku sudah menyuruh Merlin untuk menyegel kemampuan tersebut dan melarang penggunaannya bahkan dalam kasus terburuk.
Mengesampingkan itu.
"Ngomong-ngomong, aku belum mengetahui namamu. Apa kamu memilikinya?"
«Ibu tidak memberiku nama. Dia hanya menyebut "Anakku" setiap kali ingin memanggilku. Beliau juga tidak memilikinya, jadi hal seperti itu tidak terlalu dibutuhkan, kurasa.»
Dia bercerita sambil berbicara dengan fasih.
Aku yakin monster ini tidak sederhana karena bisa berbicara, telepati, dan memiliki banyak jumlah pasokan Mana.
"Tapi tidak memiliki nama akan menjadi masalah di sini. Kamu harus memiliki nama supaya kami bisa memanggil kamu dengan mudah."
«Hmm... Kalau begitu, tolong berikan nama yang bagus untukku.»
"Nama yang bagus, ya... Bagaimana dengan "Alice"? Karena nama keluargaku adalah Testalia, namamu akan menjadi Alice Testalia."
Kupikir, nama itu cukup manis untuk anak perempuan.
Alice terus menggumamkan nama tersebut, mungkin mencoba untuk menghafal dan mencocokkan dengan seleranya.
«Baiklah, mulai hari ini aku akan menjadi Alice Testalia, anak ketiga dari Ayah yang hebat.»
Alice mengatakan sesuatu yang membuat aku malu. Kemudian dia menjilatku dengan lidah besarnya.
"Karena kamu mau menjadi anak ketigaku, kamu harus menuruti apa yang aku dan istriku katakan, ok?"
«Ya, aku mengerti.»
"S-Sudah cukup menjilatnya. Aku ingin merubah kamu menjadi manusia. Kamu mau menuruti ini, kan?"
«Eh? Berubah menjadi manusia?»
"Tidak, bukan manusia. Maksudku, aku akan merubah wujudmu menjadi seperti Atla dan Eren. Kamu mau menurutinya, kan?"
Aku sampai harus mengeluarkan dua kalimat yang sama untuk mendesak Alice menjadi manusia.
Bagaimanapun juga, jika dia tidak ingin berubah dan memilih untuk tetap seperti itu, aku akan kerepotan dalam mengurus makanannya.
Itu akan menjadi salah satu masalah paling serius yang pernah ada dalam sejarah kastil ini.
«Berubah menjadi Kakak... Baiklah, tolong lakukan itu kepadaku juga, Ayah.»
Hmm? Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Tapi aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan itu.
Karena aku sudah mendapatkan izin dari Alice, aku langsung menerapkan kedua skill Eliza kepadanya.
Tubuh Alice mulai bercahaya dan perlahan berubah menjadi partikel energi. Partikel itu dengan cepat berkumpul di depanku, membentuk setiap komponen organ tubuh manusia, dan menciptakan gadis kecil dengan rambut berwarna kuning sedang telanjang.
Dia melayang di depanku, bercahaya seperti sosok gadis suci.
Aku tanpa ragu menangkapnya setelah dia mengulurkan kedua tangannya ke arahku.
"Ayah!!"
Alice terlihat sangat senang, tertawa, dan tidak bisa diam.
Terdapat serangkaian rambut sedang berdiri diatas kepala Alice. Mungkin aku bisa menyebut itu sebagai jambul.
Aneh, padahal dia bukan ayam, tetapi jambul itu tidak bisa diturunkan dan terus berdiri tegak.
Ngomong-ngomong, dia masih belum mengenakan pakaian apapun.
Aku mencoba menghubungi Merlin dan Freya, meminta mereka membawakan pakaian untuk Alice.
Ukuran tubuh anak ini lebih kecil daripada Atla dan Eren. Jika Atla dan Eren terlihat seperti anak-anak berusia 12 tahun, maka Alice terlihat seperti anak-anak berusia 10 tahun.
Perbandingannya hanya 2 tahun tetapi ukuran tubuh mereka terlihat sangat berbeda.
Sementara aku asik mengobrol dengan Alice, Merlin dan Freya datang membawakan pakaian.
Melihat kedatangan mereka, Niks sedikit membungkuk untuk memberikan hormat.
"Tidak bisakah kamu melakukan hal seperti ini di pagi hari?"
"Uh, maafkan aku. Ukuran tubuhnya hampir sama dengan Mozes, jadi aku merubahnya agar dia bisa tidur di kamar."
Benar, karena dia sudah mengaku sebagai putri ketiga, aku juga harus memperlakukan dia sama dengan yang lain.
"Dia sangat manis, aku menyukainya."
Merlin kelihatannya sangat menyukai Alice.
Setelah itu, Merlin membantu Alice mengenakan pakaian dengan sedikit usaha.
Meski kecil, anak ini cukup aktif.
Tidak seperti Atla dan Eren, dia lebih sulit untuk diatur dan selalu menolak ketika datang ke sesuatu yang menurut dia tidak bagus.
Aku melihat Merlin cukup kerepotan dengan sikap Alice, tetapi dia entah kenapa selalu tersenyum seakan-akan itu bukanlah masalah sama sekali. Atau lebih tepatnya, dia terlihat sangat menikmatinya.
Sepertinya anak itu sudah dianggap mainan baru olehnya.
__ADS_1