Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Topik Telah Berubah Ke Arah Yang Lebih Serius.


__ADS_3

Melanjutkan pembicaraan.


"Lalu, mari kita masuk ke pokok utama."


"Eh?"


Tiba-tiba aku merasa akan ada sesuatu yang merepotkan.


Setelah mengkonsumsi banyak kue dan teh dalam diam, suasana di sekitar Hestia berubah menjadi santai.


"Aku ingin kamu menjelaskan tentang keberadaan aura roh. Meskipun sedikit, aku merasa adanya aura dari dunia roh di kastil ini. Rasanya, kastil ini sudah seperti istana milikku karena terdapat aura roh."


Hestia bertanya dengan santai.


Aku sudah mengira hal ini dari jauh-jauh hari. Lagipula, meski pintu ruang harta ditutup, tetapi itu tidak pernah dikunci dan selalu diakses setiap hari oleh kami dan para Einherjar.


Itu sebabnya sudah bukan hal aneh bila Hestia dapat menemukan hawa dunia roh yang bocor dari ruang harta pada saat pintu dibuka.


Bagaimanapun, di sana merupakan surga untuk kami bermain dan berlatih. Dalam setahun ini, para Kuda Peri juga sudah bermutasi karena selalu dimandikan energi milik Hydra dan Levi.


Kuda Leon menjadi lebih gemuk dengan aura petir putih, kudaku petir biru keputihan, kuda Merlin petir hitam kemerahan, kuda Freya petir biru, kuda William petir kelabu, dan kuda Ignis petir merah.


Perkembangan mereka sangat mengesankan. Ditambah dengan kuda kepunyaan Eliza, total semuanya menjadi tujuh Kuda Legendaris.


Tidak hanya itu, kami juga telah mendapatkan tiga monster untuk mengisi tiga lapisan kosong. Terdiri dari komunitas goblin + goblin king untuk lantai 1-10, kalajengking raksasa untuk lantai 60, dan sejumlah monster sejenis salamander hitam serta ratu salamander hitam untuk menempati kekosongan lapisan 61-70.


Aku agak terkejut mengetahui goblin ternyata hidup di dunia roh, kupikir mereka adalah sekelompok monster pengacau. Seperti di dalam manga atau anime.


Namun aku salah. Mereka secara mengejutkan juga merupakan keturunan dari roh alam, sama halnya seperti gnome dan dwarf. Tetapi mereka tidak terlalu memiliki kecerdasan.


Karena perbedaan ini, aku menggolongkan mereka ke hewan primata. Tidak, monster primata? Yah, pokoknya mereka berbeda dengan hewan biasa dan memiliki keahlian untuk menggunakan sihir.


Kesampingkan itu.


Haruskah aku jujur saja kalau kastil ini memang terhubung ke dunia roh? Lagipula, pihak lain terlihat sangat ramah.


Ditambah lagi, dia mengenal Luminous tanpa adanya sifat permusuhan. Kurasa ini bisa digunakan sebagai alasan.


Selain itu, dia sudah merasakan keberadaan aura dunia roh. Jika aku berbohong, itu hanya akan menimbulkan kecurigaan bagi pihak lain.


"Hmm, jika kamu sudah mengetahuinya, kurasa aku tidak bisa berbohong. Kastil ini memang terhubung dengan dunia roh, tapi..."


Aku menghentikan kalimatku dan melihat reaksi mereka.


Hestia menatap aku dengan wajah rumit, sedangkan dua pengawal di belakangnya terlihat sangat terkejut.


""Tapi" apa? Lanjutkan bicaramu..."


Dia mendesak.


"Tapi, aku tidak bisa menjelaskannya lebih jauh. Kecuali jika kamu juga menceritakan banyak hal tentang istanamu."


"Maksudnya, kamu ingin bertukar informasi pribadi?"


"Ya, tidak adil jika hanya pihak kami yang membeberkan informasi kami, kan?"


Benar, ini merupakan informasi penting, kami tidak bisa memberi informasi dengan mudah hanya karena pihak lain bertanya.


Meskipun ini merupakan informasi yang bersifat rahasia, kami tetap tidak bisa menyembunyikan keberadaannya.


Namun dengan pertukaran seperti di atas, aku bisa mendapatkan sedikit keuntungan.


"Sigh, tapi aku ingin mendengar penjelasan kamu du--"


Sebelum Hestia menyelesaikan kalimatnya, aku menyela.


"—Tidak, aku sudah menjelaskan tentang Luminous dan menghidangkan kamu teh. Sekarang aku ingin kamu untuk berbicara."


Benar, tidak adil jika hanya aku terus yang berbicara. Atau sebenarnya, aku ingin dia berbicara, memberi aku banyak waktu agar aku bisa mencari penjelasan yang bagus tentang kastil kami.


Di sini, dia hanya membahas tentang dunia roh, tidak dengan dua dunia spiritual yang lain. Jadi, aku mungkin bisa mencari alasan yang bagus untuk menutupi keberadaan dunia lainnya.


Setelah aku menyela, sekali lagi, Hestia menatap aku dengan wajah bermasalah.


Dia pasti tidak senang dengan gagasanku, tapi apa yang aku katakan memang terlihat benar.


Meski pihak lain adalah seorang "Ratu", tapi kami sudah memberikan jamuan dan satu penjelasan. Jadi, tidak adil jika hanya aku yang berbicara.


Tidak, sejak awal, meski mereka adalah Ratu Roh, bukan berarti mereka bisa mendapatkan apapun sesuka mereka di tempat ini, kan?


Malah seharusnya mereka menjelaskan maksud kedatangan mereka ke sini dengan lebih terperinci karena mereka merupakan tamu yang tidak diundang.

__ADS_1


"Sigh, baiklah aku mengerti."


Setelah menghela nafas dengan pasrah, Hestia mulai menjelaskan tentang keberadaan istananya.


Namun, jawabannya tidak seperti apa yang aku perkirakan.


Istana Hestia berada di benua utara. Tempatnya sangat dingin, bahkan sampai membuat manusia biasa membeku jika mereka tidak menggunakan mantra atau perlengkapan anti suhu rendah.


Kenapa tempat itu begitu ekstrem karena keberadaan monster dan Gaint Es. Karena mereka, suhu di sana turun drastis bukan karena efek iklim alami, melainkan karena udara telah tercampur dengan aura sihir beratribut es dari sejumlah monster dan Gaint tersebut.


Hal seperti ini, aku tidak terlalu terkejut. Dan lagi, jika ada raksasa api seperti Ignis, sudah pasti ada raksasa es.


Melanjutkan penjelasan, Hestia mengaku bahwa di istananya terdapat ruangan untuk berinteraksi dengan para roh dari dunia roh.


Itu hanya berisi altar tanpa ada pintu untuk bisa masuk ke dunia roh. Jadi, mereka tidak benar-benar bisa memasuki dunia roh, tidak seperti kami.


Namun, Hestia sebagai "Ratu Roh" bisa masuk ke dunia roh tanpa masalah dengan kemampuannya.


Mendengar itu, aku bergumam "Hmm, jadi kalian tidak bisa masuk ke dunia roh sesuka kalian" seperti itu dan langsung menarik perhatian Hestia.


"Apa kamu bilang?"


"Eh, t-tidak ada."


"Kamu berbohong! Apa maksudnya "sesuka hati"? Apa kalian bisa memasuki dunia roh?"


Dia benar-benar mengetahui kalau aku berbohong! Kemampuan itu, bukankah sangat berguna bila dipakai untuk berbelanja?


*Klik*


Tepat ketika aku ingin menjawab pertanyaan Hestia, seseorang membuka pintu.


Gadis kecil dengan telinga rubah, rambut pirang keemasan, dan berjambul — telah mengeluarkan kepalanya melalui celah pintu.


Ketika melihat kami, dia tersenyum cerah, membuka pintu sepenuhnya dan menghampiri kami.


Dia adalah Alice. Sampai kepadaku, dia meminta untuk dipangku. Jadi aku memangkunya.


Tapi ada alasan kenapa dia ingin ke sini, itu karena dia ingin ikut bergabung dalam menikmati jamuan teh. Atau lebih tepatnya, dia hanya ingin menikmati makanannya.


Padahal kami sedang berbicara dengan tamu, tapi tidak ada orang yang berani untuk menghentikannya.


Mau bagaimana lagi, terakhir kali, dia marah karena tidak diizinkan masuk ke shelter untuk menemuiku.


Ngomong-ngomong, gigi Alice lebih keras daripada Baja Pixie. Dan orang yang telah digigit olehnya adalah William.


William kehilangan tangan kirinya karena digigit oleh Alice. Tapi tentu saja itu bisa dengan mudah dipulihkan.


Hanya saja, semua orang mengingat kejadian ini di dalam kepala mereka dan berhenti untuk mencoba mencegah kemanapun Alice pergi.


Kupikir, William mendapatkan dirinya ceroboh karena menurunkan penjagaannya.


Kesampingkan itu. Rin datang dengan lebih banyak makanan, menaruhnya di atas piring kecil dan memberikan itu kepada Alice.


Nah, aku heran kenapa Hestia tidak berbicara. Ketika aku melihat wajahnya, dia sedang menaruh perhatian tinggi terhadap Alice. Menatap Alice seolah-olah sedang memikirkan sesuatu karena matanya tidak pernah berpaling.


"Ada apa, Ratu Roh, Hestia?"


Aku bertanya, penasaran.


"Tidak perlu bersikap formal, panggil saja aku Hestia. Ngomong-ngomong, siapa anak itu?"


"Hmm? Ini adalah Alice, putri ketiga kami. Dia manis banget, kan?"


"Hah?"


Hestia terlihat heran dan memiringkan kepalanya. Kurasa, aku sudah membuat dia salah paham.


"Maaf, akan aku perkenalkan ulang. Dia adalah Alice. Seperti yang terlihat, dia sebenarnya seekor rubah. Dan juga, aku akan mengatakan padamu bahwa kami juga bisa ke dunia roh, dan Alice berasal dari sana."


Sambil memakan beberapa kue bersama dengan Alice, aku mengatakan hal itu.


"Aku-- jujur saja, aku tidak bisa percaya ini. Kenapa seseorang bisa datang ke dunia roh padahal tempat itu dijaga ketat oleh kami. Tapi setelah melihat anak ini..."


Rasa tidak percaya, keterkejutan, dan kebingungan — semua sedang dialami oleh Hestia dan menghasilkan wajah yang lemah. Wibawanya telah hilang entah ke mana.


Dengan perhatian, Freya mengambil teko dan menuangkan teh baru kepada Hestia, sambil mengatakan "Aku mengerti perasaanmu. Seperti inilah suamiku, tidak mengerti tentang konvensi dunia. Aku menyarankan agar kamu lebih rileks dan tidak terlalu mengandalkan akal sehatmu ketika sedang berbicara dengannya." seperti itu sambil tersenyum lembut.


Itu adalah senyuman orang berpengalaman, jadi sangat menyentuh.


"Kamu?"

__ADS_1


Hestia menatap wajah Freya dengan heran.


"Aku Freya. Sebelumnya aku memiliki nama Freya Bestlafiol, tapi sekarang, namaku adalah Freya Testalia."


"Bestlafiol...? Bukankah ini salah satu nama keluarga dari Tujuh Pilar Surga? Kamu berasal dari sana?"


"Ya, ayahku adalah kepala keluarga utama dari keluarga Bestlafiol."


"Ya ampun. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Seraphim di sini."


"Yah, aku menyembunyikan identitasku dan hidup di dunia ini tanpa mencolok."


Dan kemudian, Freya dan Hestia mengobrol banyak tentang apa saja yang ingin mereka bicarakan.


Aku dan Merlin hanya mendengarkan percakapan mereka. Adapun Alice, dia sudah tertidur karena terlalu banyak makan.


Ngomong-ngomong, Freya memang berasal dari salah satu keluarga besar di dunia Seraphim.


Aku pernah berniat untuk mengunjungi rumah keluarganya, tapi tidak memiliki waktu karena terus mengurus berbagai hal tentang pembangunan kota.


Dan sekarang, kupikir sudah waktunya untuk berkunjung ke sana. Meski Freya tidak menuntut atau mendesak, dia tampaknya ingin memperkenalkan aku kepada keluarganya.


"Sigh, ini membuat aku lega. Aku datang ke sini, khawatir karena adanya kekuatan baru. Tapi dengan adanya Nona Freya, kupikir itu sudah bisa dijadikan sebagai alasan bahwa kalian bukanlah orang jahat."


Maksudnya, Hestia memahami bahwa kami bukanlah musuh karena keberadaan makhluk suci.


Untuk kesekian kalinya, masalah bisa diselesaikan dengan cepat hanya karena adanya eksistensi tertinggi seperti Freya.


"Meski begitu, Anda sepertinya memang bukan manusia biasa, kan. Tuan Pahlawan? Menjadikan malaikat sebagai istri, monster Rubah Ekor Sembilan sebagai anak, dan dapat memasuki dunia roh dengan bebas. Sudah pasti orang sekaliber Anda bisa mendominasi roh alam dengan mudah."


Hestia mengatakan itu dan tersenyum lega. Meminum tehnya dan memakan beberapa kue.


Aku mengatakan "Hm?" dengan pelan, tapi tampaknya dia tidak mendengar ini.


Jujur saja, kalimat terakhir itu, aku sama sekali tidak mengerti. Cuma, Hestia terlihat sudah tidak tegang seperti ketika dia baru saja datang ke sini.


Jadi, aku tidak bertanya lebih jauh untuk menjaga suasana tetap santai.


"Ngomong-Ngomong, apa kamu mengenal anak ini?"


Aku bertanya tentang Alice. Lalu Hestia menggelengkan kepalanya.


"Ah, benar juga. Aku hanya mengetahui kalau monster Rubah Ekor Sembilan yang lebih tua sudah mati. Dia telah meninggalkan satu anak, dan sepertinya, anak itu adalah yang dimaksud. Karena aku hanya bisa mendengar kabar dari roh, aku tidak mengetahui pasti keberadaan mereka."


"Apa mereka tidak memiliki kerabat?"


"Tidak ada hal yang seperti itu. Lagipula, mereka berbeda dengan makhluk hidup biasa. Mereka lebih ke bentuk semi-spiritual. Memiliki masa hidup panjang seperti Elf, tapi seluruh tubuhnya merupakan manifestasi energi. Ketika sudah waktunya untuk mati, jiwa mereka akan melemah dan energi mereka perlahan akan hancur. Selain itu, mereka secara alami menciptakan satu anak untuk meneruskan keinginan leluhur pertama mereka. Tentu saja, itu harus dengan bayaran besar. Oleh karena itu, mereka hanya akan menciptakan anak pada saat waktu kematian mereka tiba dan menggunakan seluruh energi mereka yang tersisa untuk melakukan itu."


Hestia menjelaskan.


Kemudian ruangan ini terselimuti dengan keheningan.


Setelah mendengar penjelasan seperti itu, tentu saja keluarga kami langsung memikirkan bagaimana caranya agar anak kami dapat terus hidup untuk menemani kami.


Meski, hal itu seharusnya bisa dipikirkan nanti, kami tidak bisa menghilangkan rasa khawatir yang muncul secara tiba-tiba ini.


Dia adalah makhluk semi-spiritual sama seperti Monster ajaib, itu artinya Alice akan memiliki rentang hidup. Meski begitu, sepertinya dia masih bisa hidup hingga ribuan tahun lagi.


Pertanyaannya, apakah aku masih bisa hidup sampai saat itu? Aku pernah mendengar dari Hydra, jika aku tidak memutuskan kontrak dengannya, maka jangka hidupku bisa sama seperti dia. Dengan kata lain, aku bisa memiliki kehidupan yang panjang bila terus melanjutkan kontrak.


"Hmm, kalian adalah orang yang baik. Karena itu, aku akan menyampaikan asumsi yang aku miliki tentang Rubah Ekor Sembilan. Yah, ini memang hanya sekedar asumsi, tapi aku sudah memikirkannya sejak lama dan sudah sangat yakin dengan hal itu."


Seperti secercah harapan baru saja turun dari kalimat Hestia. Mungkin dia sedikit bersimpati karena melihat kami murung ketika membahas kehidupan anak kami.


"Boleh aku tahu apa itu?"


"Tubuh."


"Eh?"


"Tubuh. Aku sangat yakin bahwa mereka membutuhkan wadah material agar mereka tidak mati. Dalam pengamatanku tentang Rubah Ekor Sembilan selama aku hidup, energi dari monster itu selalu meningkat setiap periode. Dan ketika energi mereka sudah menumpuk, jiwa mereka tidak bisa menahan energi berlebihan yang mengakibatkan kebocoran jiwa, lalu mereka akan mati. Dengan kata lain, mereka membutuhkan media sebagai penopang agar jiwa mereka tidak hancur karena kelebihan energi. Bagaimanapun juga, mereka adalah makhluk semi-spiritual, bukan entitas spiritual sejati. Jiwa mereka tidak terlalu kokoh untuk menampung banyaknya energi berlebih-- Eh?"


Hestia menjelaskan dengan serius. Namun kami hanya melihatnya dengan tatapan datar. Hasilnya, dia kebingungan dengan tingkah kami.


Kami sebenarnya mendengarkan penjelasannya dengan baik, dan kami juga memahami setiap kata yang telah dia keluarkan. Itu sebabnya, kami merubah wajah kami menjadi datar.


Alasannya sederhana, aku sudah membuatkan tubuh untuk Alice. Tidak, tidak hanya Alice, tetapi seluruh petinggi kami sudah terintegrasi dengan boneka buatan Hydra.


Bagaimana bisa itu terjadi? Sebenarnya itu adalah implementasi dari sifatku yang sangat protektif. Aku tidak ingin keluargaku terkena masalah, oleh karena itu aku telah memadukan boneka Hydra dengan tubuh mereka untuk alasan keamanan mereka sendiri.


Jadi, ya, seperti itulah hasilnya. Tanpa sadar, aku telah menyelamatkan kehidupan putriku sendiri.

__ADS_1


Oh, aku hebat, bukan? Pujilah aku sebagai ayah yang kompeten.


__ADS_2