Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Pertarungan raksasa.


__ADS_3

Melanjutkan ekspedisi, sekarang kami sudah berada di lapisan ke 81-90, area pegunungan dengan sungai dan gletser.


Semakin ke sini, aku semakin kagum dengan Dungeon ini.


Sampai pada lapisan ke 90. Sudah sejauh ini kami masih belum bertemu dengan monster. Kami memang bisa mendeteksi keberadaan mereka, tetapi entah kenapa mereka tidak bergerak sedikitpun dari sarang atau lokasi mereka.


Itu membuat kami penasaran karena kami belum bisa melihat bentuk monster penghuni dari sejumlah lapisan ini.


Karena tujuan kami hanya lantai bos, jadi kami mengabaikan mereka.


Sekarang kami sudah berada di lokasi bos area ini. Menurut informasi, seharusnya lapisan ke 90 menjadi sarang dari bos area.


Namun, seperti sebelumnya, kami tidak bisa menemukan keberadaan lawan, padahal sampai sejauh lapisan ke 89, kami masih bisa mendeteksi keberadaan musuh.


Tidak seperti sebelumnya, di sini tidak ada kabut. Tapi kami masih tidak bisa mendeteksi keberadaan musuh.


Atau, apakah di sini memang tidak ada monster?


Mencari mereka dengan kemampuan deteksi panas tidak akan berguna karena monster di sini sudah pasti berdarah dingin untuk mengondisikan tubuhnya dengan habitat.


«Hydra, bantu kami mencari keberadaan monster di sekitar sini.»


«Saya sedang melakukannya. Ini cukup sulit karena mungkin monster di sini sedang dalam kondisi mati.»


«Apa, mati?»


«Ya, kemungkinan seperti itu. Untuk bisa menyembunyikan keberadaan mereka dariku, hal seperti ini terlihat tidak mungkin. Bahkan jika mereka menggunakan penghalang berlapis di sarang mereka, saya pasti bisa menemukan mereka.»


Semua menjadi rumit ketika seorang tokoh besar seperti Hydra tidak bisa mengatasi masalah.


William, Ignis, dan Leon sepertinya juga tidak bisa mendeteksinya juga dan agak kerepotan.


Tapi tidak lama kemudian, William datang mendekatiku.


"Tuan Albert, saya memiliki sebuah saran."


"Oh, katakan saja, William."


"Saya pikir, kondisi ini sama seperti di arena dimana kita harus menampilkan kekuatan agar lawan bisa mendeteksi keberadaan kita dan mau keluar."


"Hm? Begitu, ya. Program sistem pertahanan dimana penjaga lokasi akan keluar ketika ada penyusup datang. Kerja bagus, William. Mungkin kita bisa menggunakan cara itu. Kalau memang tidak ada monster yang muncul, maka kita akan menganggap tidak ada apa-apa di sini."


"Baik."


Jika hal seperti itu benar, bos area di sini pasti bukan makhluk hidup. Itu juga akan membuktikan asumsi Hydra, dimana dia menganggap musuh adalah keberadaan benda mati.


"Luminous, kamu mengerti, kan. Apa yang harus dilakukan?"


Aku memberi sinyal kepada Luminous.


"Tentu saja, Master."


Luminous paham dan mulai bertransformasi ke wujud sejatinya, menyebarkan aura ke seluruh lokasi agar dapat dideteksi oleh pihak lain.


Kemudian di salah satu area pegunungan, kami bisa merasakan adanya kemunculan energi Mana. Energi itu semakin lama semakin membesar setiap detik.


Intensitas energi sihir di seluruh lokasi ini dengan cepat menurun drastis seolah-olah tersedot oleh keberadaan tersebut.


Lalu, gunung tempat dimana keberadaan itu bersemayam mulai bergetar hebat seakan ingin runtuh.


Hanya dalam beberapa menit, konsentrasi Mana tersebut meningkat tinggi dan semakin padat.


Aku meminta Hydra untuk menilai kekuatan keberadaan itu.


«Hasil penilaian, [SP: 12.096.874].»


Dengan mudah kekuatan musuh dinilai olehnya. Tapi tunggu, itu adalah jumlah yang sangat gila!!


Ditambah lagi, itu terus meningkat! Dia terus menyedot energi sihir yang terdapat di seluruh lokasi ini.


Yah, untungnya dia tidak bisa menyedot esensi Mana kami. Itu sungguh melegakan.


Tidak, lawan sekarang memiliki kekuatan 12 juta! Ini bukan waktunya untuk merasa lega.


*BOOM*


Ledakan terjadi di salah satu sisi gunung dan menyebabkan terjadinya longsor salju.


Setelah longsor itu mereda, sosok Golem berbentuk humanoid muncul dari balik tumpukan salju.


Dia adalah Golem raksasa, berbentuk balok, gemuk, dan berwarna biru. Tingginya sekitar 18 meter, hampir sama dengan wujud asli Ignis sang raksasa api.


Apa mungkin dia raksasa es?


Tidak, dalam game, raksasa es tidak seperti itu. Selain itu, aku sudah mengetahui bahwa ada raksasa es di benua utara. Jadi monster kita kali ini adalah Golem.


"Tuan Albert, apa yang harus kita lakukan?"


Ignis bertanya padaku.


Tentu saja kita harus mengalahkannya. Berbeda dengan makhluk hidup biasa, Golem tidak bisa berdiskusi, atau lebih tepatnya, dia tidak memiliki kemampuan untuk berinteraksi.


Golem memiliki kecerdasan, namun hanya sebatas dalam pertarungan untuk mempertahankan wilayah mereka. Bagaimanapun, mereka tercipta pasti karena perintah dari seseorang.


Tapi tunggu sebentar.


Core di tubuh Golem tersebut sangat bagus. Itu bisa menyerap seluruh energi di lokasi ini hanya dalam hitungan menit.


Aku sangat yakin bahwa core tersebut memiliki teknologi lebih unggul daripada teknologi Endrin.


Endrin juga menggunakan core agar bisa mengoperasikan sejumlah Golem ciptaannya.


Sama seperti Golem di depan kami, core digunakan sebagai alat untuk menyedot energi Mana dari area di sekitar Golem tersebut.


Kemudian energi itu akan diproses dan disimpan di dalamnya.


Itu sebabnya Golem Darkness kami menggunakan batu permata pixie sebagai sarana untuk menyimpan energi dalam jumlah besar.


Karena hanya dengan menggunakan core milik Endrin, itu tidak akan cukup mendukung kinerja dari senjata meriam nuklir.


Sekarang, di depanku sudah terdapat core dengan kinerja yang sangat mengerikan.


Aku tidak bisa menghancurkannya begitu saja.


Selain itu, kapasitas penyimpanan core itu sepertinya sangat besar.


Jika daya tampungnya bisa setara dengan permata pixie, maka ada kemungkinan kami bisa menciptakan Golem dengan bentuk tubuh ideal.


Yah, itu akan menjadi cerita jika core itu berukuran kecil.


"Semuanya, dengar ini baik-baik. Aku tidak ingin Golem itu, tetapi aku menginginkan core yang terdapat di dalam Golem itu. Kalian bisa menanganinya, kan?"

__ADS_1


Kalimat ini, aku merasa seperti pemimpin egois yang suka memerintah dan banyak maunya.


Seharusnya aku ikut bertarung dengan mereka karena aku juga ikut dalam ekspedisi ini. Tapi mau bagaimana lagi, ada Alice di sini, jadi aku tidak ingin dia terluka karena aku tidak mengawasinya.


Selain itu, sepertinya mereka tidak berfikir aku adalah pemimpin buruk seperti itu. Mereka tersenyum dan mengatakan "Serahkan masalah itu kepada kami, Tuan Albert." seperti itu, mereka benar-benar hamba yang baik, bukan?


Dengan begitu, pertarungan dengan Golem raksasa sudah dimulai.


Yah, kurasa ini tidak akan menjadi pertempuran sulit karena kami unggul dalam berbagai aspek.


Entah itu kekuatan atau jumlah, serangan atau pertahanan, kami lebih unggul.


"Ayah, apakah itu dingin?"


"Ya, itu sangat dingin. Mungkin tangan kecilmu akan membeku ketika menyentuh monster itu."


"Aku ingin memakannya."


...


...


...


Anak ini, dia adalah monster!


Melanjutkan ke medan pertarungan.


Setelah William, Ignis, Leon, dan Luminous berdiskusi tentang formasi pertarungan, mereka memutuskan untuk menempatkan kuda mereka di daratan, kecuali Leon.


Leon masih mengendarai kuda miliknya dan sepertinya dia akan menyerang lawan dari atas.


Dilanjutkan dengan...


Hm? Aku melihat hal yang tidak terduga telah terjadi. William naik ke atas kepala Luminous dalam wujud naganya.


Apa mereka ingin berkolaborasi?


Yah, kurasa itu tidak masalah, atau bukankah ini lebih bagus karena mereka bisa akrab satu sama lain?


Namun, mungkin karena tidak sabar menunggu, musuh secara tiba-tiba meluncurkan serangan ke arah mereka.


*BOOM*


Ledakan terjadi di lokasi mereka berdiskusi.


Seseorang telah berteriak untuk memperingati dan akhirnya semua selamat karena dapat menghindari serangan tersebut.


Kupikir mereka terlalu santai dan meremehkan musuh mereka. Aku harus menasihati mereka nanti.


"Tch, dasar tidak sabaran."


"Sepertinya kita tidak perlu memberikan belas kasihan padanya."


"Kau benar. Ini menjengkelkan."


"Kufufu, saya hanya perlu mengikuti anda sekalian."


Mereka mengutarakan rasa tidak senang mereka masing-masing.


Posisi aku dengan mereka cukup jauh, namun dengan koneksi jaringan Hydra, aku bisa mendengar kalimat mereka dengan jelas.


Ini seperti kemampuan stalker, namun aku hanya menggunakannya ketika dalam keadaan seperti ini.


Aku masih memiliki pekerjaan, dan karena perburuan ini, pekerjaanku semakin menumpuk di meja kantor.


Padahal aku sudah menyerahkan banyak pekerjaan kepada bawahanku, tapi anehnya pekerjaanku malah semakin bertambah.


Apakah menjadi presiden sangat melelahkan seperti ini?


Jika benar, aku sangat bersimpati kepada presiden negara. Setiap hari harus menangani banyak pekerjaan sambil dikritik oleh massa.


Beruntung warga kami tidak seperti itu. Bahkan jika mereka ingin mengkritik pekerjaanku, mereka hanya akan mendapatkan mimpi buruk.


Kesampingkan itu, Ignis tampak terlihat kesal dan mulai bertransformasi ke bentuk sejatinya.


Tidak, dia tidak berubah sepenuhnya. Dia masih memiliki daging, tetapi tidak memiliki biji mata. Itu berlubang dan memperlihatkan lahar panas di dalamnya.


Mungkinkah dia menahan diri?


Aku mulai bertanya-tanya.


Di dalam game, tidak ada penampilan seperti itu.


Sekarang dia dalam bentuk raksasa. Mengenakan sehelai kain berwarna merah untuk menutupi tubuhnya, dan rambut merah panjang menyala masih seperti biasa.


"Kuaaa!!"


Ignis berteriak.


Putriku, Alice, sedikit tersentak setelah melihat itu. Kupikir, akan aneh jika dia tidak merasa ketakutan sama sekali.


Aku mengelus kepalanya agar tenang, dan tidak ada satu kata pun keluar dari mulut kami karena sedang menyaksikan kehebatan Ignis.


Ignis tiba-tiba menghilang dari tempatnya, muncul kembali di belakang lawan dengan cepat, dan memukul lawan.


*BOOM*


Benturan energi dari pukulan Ignis dengan energi pertahanan lawan menyebabkan timbulnya dampak gelombang kejut.


Golem itu terkena pukulan langsung dari Ignis pada bagian belakang tubuhnya dan terlempar sangat jauh sampai membentur gunung yang lain. Jarak hempasnya mungkin sekitar puluhan kilometer.


Akibat dari itu, gunung tempat golem terbentur bergetar hebat dan menciptakan longsor salju kedua.


Melihat itu membuat aku sadar, mungkin saja di sini akan ada badai salju. Namun sekarang cuacanya cukup cerah, jadi kami beruntung datang di waktu yang tepat.


*shuuuut*


Serangan semacam leser berwarna merah ditembakkan oleh Golem.


"Hou, dia masih bisa berdiri rupanya."


Ignis terlihat sedikit terpukau.


Kemudian Golem itu muncul kembali dengan tubuh utuh.


Itu adalah pukulan menakutkan. Meski Ignis belum mengeluarkan seluruh kekuatannya, menahan serangan dari Ignis tanpa terluka, sudah bisa mendapatkan pujian.


Mungkin merasa kesal, Golem itu berlari menuju ke arah Ignis.


Jarak antara Ignis dan Golem Es cukup jauh, dan terdapat celah lembah diantara dua pegunungan tersebut.

__ADS_1


Atau aku bisa menyebutnya bukit karena keduanya cukup berdekatan.


Apakah dia bisa melewati celah lembah itu? Kami masih menunggunya.


Setelah berlari cukup lama dan mencapai celah lembah, Golem Es melompat.


Ohh!!


Sangat keren, namun aksi tersebut langsung digagalkan oleh Luminous.


Di sini, Golem Es telah melupakan lawannya berjumlah empat orang.


Ketika Golem Es melompat, Luminous menuju ke arahnya dengan kecepatan cahaya dan langsung memukul Golem Es dengan ekornya.


*PARR*


Seolah-olah sedang mencambuk batu, suaranya terdengar seperti benturan antara cambuk dengan benda keras. Itu terdengar sangat kencang.


*BOOM*


Luminous mengarahkan Golem itu masuk ke dalam celah lembah dan menyebabkan dataran menjadi terguncang.


Sungguh, apakah seperti ini pertempuran Ragnarok!? Ini sangat menakjubkan!


"Fumu-Fumu, tubuhnya masih belum hancur, dia sangat keras."


Leon menyampaikan kondisi musuh melalui jaringan Hydra.


Sejak awal, tugas dia hanyalah mengawasi pertempuran dari atas. Menggunakan kemampuan mata pemanahnya untuk mengamati dan menyampaikan keadaan musuh melalui jaringan komunikasi.


Bisa aku bilang, kerja sama mereka sudah sangat bagus.


"Apa kalian ingin menghancurkannya?"


Aku bertanya dengan santai.


"Iya, Tuan Albert. Kami sedang menguji daya tahan tubuhnya. Dan seperti apa yang kami duga, dia sangat keras."


"Ya, dia terlihat seperti balok es, tapi aku yakin tubuhnya terbuat dari mineral khusus."


"Bagaimana jika aku membakarnya? Kita mungkin bisa melihat sampai sejauh mana tubuhnya bisa bertahan."


"..."


"..."


"..."


"""Baiklah, lakukan itu."""


Nah, mereka terlihat sangat kompak.


Ngomong-ngomong, Alice tidak dapat mendengar pembicaraan kami.


Dia belum mendapatkan lambang. Bahkan jika dia mempunyai itu, aku tidak akan membiarkan dia mendengarkan pembicaraan orang dewasa.


Alice masih suci, kata-katanya bahkan tidak pernah menggambarkan keburukan.


Aku tidak ingin dia bergaul dengan pria dewasa yang mengucapkan kata-kata kasar.


"Dia mulai bergerak."


Leon memberikan peringatan.


Kemudian suara seperti orang sedang mendaki mulai terdengar dari dasar lembah.


Meski memiliki banyak jumlah energi dan daya tahan yang hebat, Golem itu masih tidak bisa terbang.


Produk jelek.


Hanya core di dalam tubuhnya yang mengesankan.


Golem Darkness kami akan menggunakan baja pixie sebagai bahan komponennya. Jadi, Golem lain dengan pertahanan tinggi tidak terlalu dibutuhkan.


Selain itu, bentuknya terlalu besar dan mobilitasnya sangat jelek. Tapi, kemampuan serangannya sangat destruktif, itu cukup bagus.


Yah, jika hanya itu, Golem Darkness modifikasi juga bisa melakukannya.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Golem Es telah mencapai ke atas tebing.


Kami semua bertepuk tangan di sana.


Tanpa basa basi, Golem Es langsung berlari kembali menuju ke arah Ignis.


Meski memiliki mulut, organ untuk menghasilkan suara tidak ada. Itu sebabnya Golem tidak bisa berbicara. Kecuali jika dia memiliki alat untuk memanifestasikan getaran suara, mungkin dia bisa berteriak.


Sementara Golem Es berlari, Ignis mulai menciptakan bola api berdiameter 10 meter.


Bola api itu tercipta di depannya dan langsung diarahkan kepada Golem Es.


Golem es tidak menghiraukannya, mungkin cukup percaya diri dengan pertahanannya sendiri dan mulai menabrakkan diri dengan bola api raksasa Ignis.


*BOOM*


Gelombang kejut terbentuk dari hasil benturan dan mengarah ke seluruh area lokasi.


Ketika datang ke arah aku dan Alice, kami bisa merasakan adanya kehangatan dari gelombang tersebut.


Itu membuat aku sangat terkejut.


Bayangkan saja, Hydra sudah menggunakan pertahanan berlapis untuk melindungi kami dari bahaya, tetapi suhu dari dampak masih bisa kami rasakan.


Aku yakin suhunya pasti sangat panas hingga jutaan derajat.


Melihat kondisi Golem Es, tubuhnya sedikit meleleh namun dia menghiraukannya dan terus berlari ke arah Ignis.


Dan, sepertinya yang diharapkan dari api Ignis, Golem Es tidak bisa melanjutkan pergerakannya setelah langkah ke lima.


Dia terjatuh, mengarahkan tangannya ke depan dan mulai memusatkan sejumlah energi di mulutnya.


"Ignis, dia ingin melakukan serangan."


Leon memperingati.


Kemudian Luminous dan William mendekati Ignis untuk menciptakan penghalang.


Ketika Golem Es melepaskan serangan terakhirnya, itu ditahan oleh mereka bertiga.


Menilai serangan dari Golem Es adalah serangan berkecepatan tinggi, menghindar bukan pilihan yang bagus. Bagaimanapun juga, kepala Golem Es selalu mengarah ke Ignis.


Jika Ignis menghilang dari jangkauannya, dia hanya akan mengganti target dan membuat yang lain kerepotan.

__ADS_1


Setelah semua, akhirnya Golem Es bisa kami taklukkan.


Serangan yang sudah dilepaskan tidak bisa dihentikan, oleh karena itu Ignis menyedot api di bangkai Golem Es agar core di dalam tubuhnya bisa kami ambil secara utuh.


__ADS_2