
Cuaca panas di siang hari membuat sebagian orang malas untuk keluar rumah, dan tidak sedikit para pekerja yang menghentikan pekerjaan mereka untuk bersantai di rumah sambil menikmati alat pendingin ruangan.
Pria berseragam biru di dalam pos penjaga merupakan salah satunya. Dia melepaskan penjagaannya dan tertidur di atas kursi sambil menutupi kepalanya dengan pet.
Carla cukup risih melihat pria tersebut.
Jam sudah menunjukkan bahwa waktu istirahat baru saja usai. Yang mana membuat Carla berpikir bahwa pria itu tertidur karena efek mengantuk setelah makan siang.
"Hampir semua pria memiliki kebiasaan yang sama, dan dia pasti adalah salah satunya."
Carla sudah tidak kaget lagi melihat rekannya yang mengabaikan tugas mereka.
Biasanya Carla akan membiarkan mereka karena selama ini kota tidak pernah diserang oleh siapapun.
Wilayah di pinggiran kota dan wilayah-wilayah setelahnya sudah bersih dari monster dan hewan buas lainnya. Jadi kota tidak pernah kedatangan monster, bahkan jika tidak dijaga oleh petugas kepolisian, kota diyakini tidak akan pernah diganggu.
Pinggiran kota sudah dibatasi dengan dinding setinggi 2 meter. Terlihat seperti pembatas rumah biasa untuk mencegah hewan kecil memasuki kawasan penduduk.
Dan pos penjaga didirikan untuk mengawasi "jalan masuk kota" Agar tidak dilewati oleh hewan-hewan tersebut karena jalan masuk kota tidak ditutup.
Rencananya akan didirikan tembok besar untuk melindungi kota, dan pintu jalan masuk akan dibuat bersama dengan dinding tersebut. Jadi mereka harus menjaga jalan tersebut bagaimanapun keadaannya agar makhluk yang tidak diinginkan tidak masuk ke dalam kota.
Kesimpulannya, Carla tidak boleh membiarkan pria itu terus menerus tidur, dan memilih untuk membangunkannya.
Carla menyingkirkan pet yang ada di atas wajahnya dan menaruh topi itu di atas meja.
Akhirnya wajah pria tertidur itu dapat dikenali oleh Carla dan Carla langsung memberikan tamparan di wajahnya.
*Parr*
"Ah!"
Pria itu kaget dan hampir kehilangan keseimbangan di atas kursi, namun dengan cepat membenarkan cara duduknya.
"Ah, C-Carla? Sedang apa kau di sini?"
Pria itu bertanya, dengan wajah terkejut karena ketahuan melalaikan tugasnya.
"Aku sedang menjalani perintah untuk memandu seorang tamu."
"Terus, kenapa kau membangunkan tidurku?"
"Aku sudah bilang kalau sedang diberikan tugas untuk memandu tamu. Itu berarti akan ada tamu yang datang ke sini dan kau harus bertugas di situasi seperti itu."
Memperlihatkan anggotanya sedang bermalas-malasan di depan tamu membuat Carla berpikir kalau itu akan merusak citra organisasinya.
"Tamu?"
"Ya, tamu dari tempat yang jauh. Jadi kita harus menyambutnya."
"Aku juga?"
"..."
Carla tidak mengatakan apapun, namun memberikan tatapan tajam ke arah pria itu dan membuat dia sedikit terintimidasi.
"Oke, Oke, aku akan ikut juga."
Pria itu mengerti. Dia paham membuat Carla marah hanya akan mendatangkan malapetaka.
"Ngomong-Ngomong, kau mengenakan pakaian yang cukup bagus. Apakah itu seragammu yang sekarang?"
Dia melihat ada yang berbeda dengan Carla. Kemarin Carla masih mengenakan pakaian yang sama dengannya, namun sekarang Carla mengenakan seragam berwarna merah dengan jubah besar yang terpasang pada kedua pundaknya.
"Ah, ini merupakan pakaian resmi kami mulai sekarang. Semua anggota "Elite" Sudah mulai mengenakannya."
"Oh! Hebat."
Para naga belum lama ini sudah mulai mengerti tentang fashion. Mereka pada awalnya tidak terlalu peduli dengan yang namanya pakaian, karena biasanya mereka selalu telanjang.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, para naga mulai mengerti bahwa gaya berpakaian cukup penting untuk kehidupan sehari-hari. Meskipun tidak semuanya dapat paham, hanya sekumpulan naga dari generasi muda yang bisa dengan cepat memahami gaya berpakaian.
Hanya dengan melalui pakaian, mereka bisa memperkirakan pekerjaan apa yang sedang orang itu lakukan, atau status seperti apa yang orang itu miliki.
Jadi semakin bagus dan rumitnya pakaian yang dikenakan, maka semakin tinggi pula status mereka di dalam kehidupan masyarakat. Pria itu sudah mengerti dengan pemahaman ini.
"Hm? Perasaanku mengatakan akan ada seseorang yang datang."
Pria itu menyadari kehadiran sekelompok orang sedang menuju ke arahnya.
"Ya, sepertinya mereka sudah datang."
Dan tentu saja Carla juga bisa merasakan kehadiran mereka.
Carla dan pria tersebut keluar dari dalam pos untuk menyambut datangnya para tamu.
"Whoah!! Apa itu, monster?"
Pria itu terkejut ketika melangkah keluar dari dalam pos dan menemukan seekor binatang berkaki empat sedang menatapnya.
"Tenanglah, dia ini makhluk peliharaanku, fufu."
Menyaksikan keterkejutan rekannya membuat Carla geli. (Dia terlihat seperti manusia yang menemukan kecoa.)
Dia bisa meramal kedatangan tamu, tetapi tidak bisa merasakan hawa keberadaan makhluk biasa, jadi Carla agak heran dengannya.
__ADS_1
"Ah, begitu. Dia terlihat cukup keren. Kau menemukannya di mana?"
Pria itu cukup antusias dengan hewan peliharaan baru Carla.
Dalam salah satu ketentuan kota, terdapat larangan untuk terbang di atas kota. Larangan ini diterapkan untuk melestarikan keutuhan kota dari naga yang suka terbang secara sembarangan dan merusak properti.
Namun dalam batas-batas tertentu, naga masih diperbolehkan untuk terbang. Syaratnya mereka harus berada di jalanan dan ketinggian terbang juga ditetapkan tidak lebih dari 1-2 kaki diatas permukaan jalanan.
Naga Es bisa mengeluarkan sayap dari punggungnya, sedangkan Naga Laut bisa melakukan sihir terbang secara alami, dan untuk Naga Bumi lebih memilih untuk berjalan kaki. Semua dengan wujud manusia mereka.
"Anak ini namanya Ro. Aku baru saja mendapatkannya dari Tuan Ignis. Beliau bilang dia mengambil makhluk ini dari Dunia Roh."
Sambil mengelus wajah Ro, Carla memperkenalkannya.
Makhluk itu memiliki tubuh yang gemuk dan berkaki besar. Dia memiliki kulit yang keras berwarna biru gelap, Carla menangangi kulit keras itu dengan pelana khusus.
Menurut Tuannya, makhluk itu sering disebut Drake.
"Eh, jadi dia bukan makhluk dari tanah ini?"
"Ya."
"Sayang banget. Padahal aku juga ingin memelihara hewan seperti ini."
Pria itu tampak kecewa setelah mengetahui asalnya.
"Tidak bisakah kau meminta hewan seperti ini lagi dari Beliau?"
Namun dia tampaknya belum menyerah.
"Em, sebenarnya aku diberitahu kalau hewan ini dibawa ke kastil oleh Alice."
"Eh!? Si anak pembuat masalah itu?"
Pria itu secara spontan mengeluarkan kesannya terhadap Alice setelah mendengar namanya.
Itu membuat Carla sangat marah mendengar Putri dari Tuannya disebut sebagai anak bermasalah. Carla tanpa berpikir langsung memukul perut rekannya hingga meringkuk karena kesakitan.
"Kau berbicara yang tidak-tidak tentang Alice. Memangnya Alice sudah melakukan apa terhadapmu?"
"Tidak, tidak. Tolong maafkan aku. Aku hanya mendengar ceritanya dari yang lain. Aku tidak sengaja mengatakan itu."
Dia memohon ampunan.
Semua orang memang sudah mendengar cerita tentang masalah-masalah yang ditimbulkan oleh Alice, jadi lebih banyak orang mengenal Alice dengan sebutan anak pembuat masalah.
Menganggu latihan orang-orang yang berada di lapangan, membuat repot keluarganya sendiri, dan masih banyak lagi masalah yang ditimbulkan oleh Alice.
Namun semua itu hanyalah keisengan dari anak kecil biasa. Alice memang sedang diumur yang seperti itu. Jadi sebenarnya dia hanya anak normal yang sedang aktif bermain.
Sementara mereka berdua bertengkar, beberapa siluet mulai bermunculan dari arah barat di atas langit.
"Hei, cepat berdiri, tamu kita sudah datang."
"B-Baik."
Pria itu mulai berdiri, mereka berdua berbaris di pinggir jalan untuk menyambut datangnya tamu.
"Ah, sepertinya orang-orang ini memang sudah ditunggu kehadirannya, ya. Oleh Beliau?"
Satu orang bernama Danko datang lebih dulu dan langsung menyapa.
"Iya, dari sini biarkan aku yang mengurus mereka."
"Baiklah, aku akan kembali ke timku."
Mereka berdua sepakat.
Kemudian tamu tersebut — Tristan, Grandine, Datra, dan Ivan — menapakkan kaki kuda mereka di atas permukaan tanah dan langsung menghampiri pos penjaga.
"Tuan dan Nona skalian, dari sini saya akan undur diri. Kalian akan dipandu oleh wanita ini ke kediaman Beliau."
Danko menunjuk Carla untuk menggantikan posisinya.
"Um, Terima kasih sudah mengantar kami."
"Baik, kalau begitu saya permisi."
Tristan mengangguk paham, kemudian Danko kembali ke timnya untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Perkenalkan, nama saya Carla. Saya diberi tugas untuk memandu Anda sekalian ke kastil Yang Mulia. Kalian pasti heran kenapa kalian tidak langsung diantarkan ke kastil padahal kastilnya sudah terlihat dan malah diantarkan ke sini. Untuk itu, biarkan saya menjelaskan bahwa ada sebuah peraturan di mana terbang di atas kota atau hanya sekedar melintasinya sangat dilarang. Jadi mulai dari sini, kalian harus berkendara di jalanan seperti biasa."
Selesai memperkenalkan dirinya, Carla langsung menjelaskan salah satu peraturan kota.
Alasan kenapa Carla memberitahu hal tersebut karena dia sudah melihat wajah para tamu yang seperti mengatakan "kenapa kami diantarkan hanya sampai sini?" Ketika melihat Danko pergi.
"Oh, begitu ya. Baiklah kami mengerti."
"Terimakasih atas pengertiannya."
"Tapi mendengar bahwa kamu mendapatkan perintah untuk memandu kami, itu berarti kalian sudah menunggu kedatangan kami, ya?"
"Benar, Yang Mulia ingin bertemu dengan kalian. Terutama Anda, Tuan Tristan Polgreen. Grand Master dari Guild Petualang."
Carla berterus terang dan membuat ketiga rekan Tristan sedikit terkejut.
__ADS_1
Bagi Tristan yang sudah hidup cukup lama, bertemu dengan seseorang yang dapat mengenalinya bukan hal yang jarang. Bahkan walapun Tristan tidak mengenal orang tersebut.
"Dia mengenakan benda yang bagus."
"Aku sepertinya pernah melihat itu di suatu tempat..."
"Apa yang kalian bicarakan? Itu sudah jelas platinum, kan? Hanya saja ..."
Ketiga rekan Tristan — Datra, Ivan, dan Grandine — mengobrol diantara mereka sendiri.
"Ada apa?"
Tristan bertanya, heran melihat rekan-rekannya begitu risih.
"Engga, kita hanya sedang mengamati lencana wanita itu."
"Ya, itu terlihat sangat bagus."
Mereka memuji lencana yang sedang Carla kenakan dan membuat Tristan juga sadar betapa bagusnya lencana tersebut.
"Ah, kalian sedang membicarakan ini, ya? Benda ini untuk melambangkan keorganisasian kami. Semua rekan-rekan ku juga memakainya."
Carla menunjuk pria yang berada di sebelahnya. Dia juga mengenakan hal yang sama. Lencana keanggotaan.
"Aku melihat. Tapi punya Anda lebih banyak dan beragam."
Tristan menemukan beberapa lencana berbeda bersembunyi di balik jubahnya.
"Ya, itu karena aku adalah Jendral polisi."
Tanpa perlu menyembunyikannya, Carla memperlihatkan lencana-lencana di balik jubahnya.
Benda itu didesain sebagus mungkin bertujuan untuk diperlihatkan kepada orang-orang. Jadi tidak ada aturan untuk menyembunyikannya.
"Hm? Ternyata aku langsung dipertemukan dengan orang penting. Ini kebetulan karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu."
"Anda boleh bertanya apapun padaku, aku akan menjawab sebanyak yang aku bisa."
"Baiklah, Ini tentang perang di Kerajaan Herunia. Apa negara kalian benar-benar berperang menggunakan Golem?"
Tristan ingin mengkonfirmasi beberapa hal.
Dia sudah mendapatkan banyak informasi dari bawahannya, dan semua itu mengatakan hal yang sama tentang Golem yang berperang. Namun tidak dijelaskan secara spesifik bagaimana Golem-Golem itu menyerang karena tidak ada yang tahu detail pergerakan mereka.
"Itu benar, kok. Kebetulan aku adalah ketua Regu Pertama yang dikirim untuk mengurus Kekaisaran Dortos."
"Eh!? Kamu pernah berperang, Carla?"
Pernyataan Carla membuat rekannya yang berada di sebelahnya terkejut.
"Kenapa kau terkejut seperti itu..."
"habisnya, ini perang loh! Kenapa kalian tidak mengajak aku?"
"Tuan Ignis berpikir untuk tidak membawa terlalu banyak orang. Lagian yang berperang itu cuma para Golem."
Pria itu benar-benar iri dengan Carla dan yang lainnya, namun diabaikan oleh Carla karena masih ada tamu di depannya.
"Jadi Anda terlibat langsung dengan perangnya, Nona Carla. Bisakah Anda menjelaskan bagaimana cara Golem kalian melakukannya? Hal ini selalu membuatku kepikiran."
Tristan juga ikut mengesampingkan pria menyedihkan itu.
"Hmm, sepertinya Anda adalah orang yang baik, tidak seperti apa yang aku kira, Tuan Tristan. Namun saya pikir lebih baik Anda menanyakan hal itu kepada Yang Mulia. Ah, tentu saja ini bukan seperti hal yang berkaitan dengan Golem adalah informasi rahasia. Hanya saja aku tidak terlalu tau banyak tentang Golem."
Carla menolak untuk menjelaskannya. Dia bisa menjelaskan bagaimana Golem menyerang musuh, dan pertanyaan Tristan juga hanya tentang itu. Namun Carla memilih untuk tidak menjawabnya karena urusan golem bukan berada di bawah wewenangnya.
Carla menolaknya sambil mendekati Tristan.
Tubuh Tristan sangat tinggi dan membuat Carla harus mendongakkan wajahnya ke atas.
Setelah dapat melihat wajah Tristan dari dekat, Carla tersenyum lebar sambil menempatkan kedua tangannya di pinggang.
Dia benar-benar mengamati wajah Tristan dan membuat Tristan sedikit tidak nyaman.
"A-Ada apa?"
"Tidak ada. Karena Yang Mulia sedang menunggu, bagaimana kalau kita langsung ke kastil. Anda akan lebih mendapatkan banyak jawaban di sana."
"Baiklah, tolong antarkan kami."
Dengan begitu, Carla menjauh dari Tristan dan mendekati Ro.
Tristan benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Carla. Dia hanya bisa menebak kalau Carla seperti mengharapkan sesuatu darinya.
"Apakah itu hewan tunggangan mu?"
Melihat Carla mendekati Ro membuat Tristan mengingat kembali monster yang sejak awal berdiri di belakang Carla itu terlihat cukup unik.
"Iya benar, namanya adalah Ro. Kami memang baru saja berteman, tetapi dia sangat pendiam dan selalu menuruti apa yang aku katakan. Jadi kalian tidak perlu khawatir, temanku ini tidak akan mengusik kuda kalian."
Carla menjawabnya tanpa berbalik ke arah Tristan.
"Tidak, bukan itu yang aku ingin tanyakan sebenarnya."
Carla salah paham, tapi Tristan tidak melanjutkan pembicaraan agar kesalahpahamannya tidak berlanjut.
__ADS_1
Kemudian mereka menunggangi kendaraan mereka masing-masing dan pergi menuju ke kastil.