Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Pengepungan!


__ADS_3

"Itu! Lihat ke atas."


"Hah! Kenapa? Kenapa?"


"Ap-Ap-Ap-- Apa itu!? Ada apa dengan langitnya!"


Di ibukota Kerajaan Suci, Ramis. Sejenis selaput tipis berbayang menyelimuti seluruh kota membentuk kubah dan membuat masyarakat gempar.


Di kuil utama, seorang pria berlarian di koridor, terburu-buru dengan nafas yang terengah-engah. Setibanya di sebuah pintu ganda, dia membuka pintu tersebut dan menemukan Erick, Chris, dan anggota paladin lainnya yang berjumlah 14 orang. Mereka terlihat seperti sedang melakukan rapat dengan berkas yang terpegang. Namun, pria itu mengabaikan kondisi mereka, dan...


"Kapten! Di luar, di luar sebuah penghalang besar menyelimuti seluruh ibukota!!"


Melaporkan apa yang terjadi terhadap kota mereka dengan panik.


"Apa!" ××


Semua paladin di sana terkejut dengan laporan pria tersebut. Beberapa orang berdiri dan beberapa memukul meja, tetapi Erick, Chris, dan sisa orang-orang berkemampuan tidak terlalu terkejut.


Ini adalah perang suci, sejak mereka mendapatkan perintah dari dewa, mereka tahu hal seperti itu pasti akan terjadi dengan kota mereka. Itu bahkan lebih baik daripada tertimpa batu berukuran sebuah gunung atau bukit.


"Ini pasti ulah mereka."


"Tidak salah lagi."


Mereka telah mendapat perintah untuk berperang sejak siang tadi, namun dalam kurun waktu tersebut, mereka masih belum kedatangan pasukan bala bantuan dari pengikut dewa Nodens lainnya. Setidaknya, mereka ingin diberikan waktu 2 atau 3 hari sampai pengikut dari negara tetangga datang. Tapi tentu saja itu sudah tidak mungkin sekarang.


"Menggunakan penghalang untuk menyelimuti kota. Apa mereka ingin mengisolasi kita?"


"Mengisolasi? Jadi kita telah terperangkap di dalam penghalang itu?"


"Ja-Jangan-Jangan, mereka ingin memusnahkan seluruh ibukota!?"


"Hah! Itu mengerikan!!"


"Ya ampun, kenapa ini bisa terjadi dengan kita!"


Beberapa di antara mereka panik dan membuat yang lainnya merasa cemas. Namun, Erick masih tenang.


"Penjaga, aku memberikan perintah. Katakan kepada rekan-rekanmu untuk memeriksa keadaan di seluruh kota. Jika ada sesuatu yang aneh, laporkan kepadaku dengan cepat."


"Ba-Baik!!"


Pria itu pergi meninggalkan ruangan.


"Ketua! Kenapa Anda masih bisa tenang begitu? Apa Anda mengerti sesuatu?" —Salah satu anggota paladin bertanya kepada Erick. Ingin meredakan kekhawatirannya juga.


"Justru kenapa aku harus panik? Pada kenyataannya kita masih hidup. Dan lagi, jika hanya penghalang, kita masih bisa mematahkannya. Mungkin di sekitar ibukota terdapat orang yang sengaja melakukannya, dan kita hanya perlu mencari orang itu."


"Tapi, tapi, bagaimana jika penghalang itu diciptakan oleh dewa? Mana mungkin kita bisa menghancurkannya, kan?!"


"Kenapa dewa repot-repot membuatkan penghalang untuk ibukota kita? Kalau dia memiliki kemampuan dewa, seharusnya kita sudah dihancurkan oleh sihir komet, genosida, atau sesuatu seperti itu, kan? Jika hanya penghalang, bukankah kita juga bisa melakukannya?"


Erick memasukkan logika ke kepala pria tersebut, dan membuat dia terdiam.


"Be-Begitu ya. Benar juga, kalau lawan kita adalah dewa, kita pasti sudah mati sekarang, sigh."


"Lagian, siapa yang bilang penghalang itu dibuat oleh dewa?"


"Itu, sial! Gara-gara kita sedang melakukan rapat serius ini, aku jadi berpikir berlebihan."


"Hei, tunggu. Jika itu bukan dewa, itu berarti..."


"Benar, para naga itu pasti yang melakukannya!"


"Ah! Benar, itu pasti ulah mereka."


"Dasar, kadal sialan!!"


Mereka mulai mendapatkan rasionalitas mereka kembali. Sebagai ganti kepanikan sebelumnya, motivasi untuk berperang mereka mulai muncul karena ibukota mereka telah diganggu.


Ketenangan pemimpin sangat berpengaruh terhadap mental kelompoknya.


Dengan begitu, mereka mulai melakukan rapat darurat untuk mengatasi masalah ibukota mereka.


Ibukota Ramis, kota yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Sejak dulu, kota ini memiliki dinding yang sangat kokoh untuk melindungi kota dari monster atau penyerbuan agresi militer iblis. Dan dari jaman ke jaman, penduduk ibukota selalu bertambah sampai pemerintah harus membentuk dinding besar lainnya karena perumahan rakyat terus memperbanyak ke luar dinding. Itu sebabnya ibukota tersebut memiliki tiga dinding besar di dalam dan luarnya.


Kemudian, untuk bisa masuk ke ibukota, terdapat 4 gerbang di setiap arah mata angin sebagai akses jalan keluar-masuk. Dan sekarang, di setiap gerbang masuknya sudah terdapat pasukan dari Testalia Fam.


Di gerbang utara, seluruh angkatan kepolisian naga yang berjumlah 3000 telah bersiaga, mereka dipimpin oleh Saber. Kemudian di gerbang barat, terdapat pasukan bala bantuan yang terdiri dari 5000 prajurit lizardman bersenjata, mereka dipimpin oleh Alfred. Lalu di gerbang selatan, hanya terdapat empat petinggi dari negeri Lumia, yaitu Azure, Kanis, Selena, dan Edwin.


Semua pasukan sudah berada di tempat mereka masing-masing. Dipindahkan menggunakan sihir dari item tingkat tinggi berbayar, yaitu kristal teleportasi pasukan. Karena Albert harus memindahkan dua pasukan secara bergantian ke dua tempat yang berbeda, dia harus menggunakan dua item tersebut.


"Tuan Albert sangat hebat bisa memindahkan mereka dengan teleportasi."


Di gerbang selatan, Kanis masih saja membahas kemampuan Albert dalam memobilisasi pasukan naganya dari Colosseum ke gerbang utara."


"Tapi, ada yang aneh."

__ADS_1


"Aneh kenapa?"


"Kita sudah tahu kalau di utara dan barat pasukan kita sudah ditempatkan. Tapi bagaimana dengan timur?"


Sadar terdapat lubang di informasi yang mereka dapatkan, Selena mulai bertanya-tanya.


"Kau benar. Tapi penghalangnya sudah terpasang, kan? Itu berarti di timur sudah ada orang dari pihak kita yang berjaga."


Edwin menunjukkan kebenarannya. Rencananya adalah pasukan Albert harus dibagi menjadi empat tim dan ditempatkan ke setiap gerbang untuk mengaktifkan item bidang anti sihirnya. Item tersebut berbentuk pasak dan penggunaannya harus ditancapkan ke tanah. Di sanalah, empat tim tersebut harus menjaga pasaknya agar tidak dicabut oleh musuh supaya sihirnya tetap aktif.


"Lalu, siapa yang memasang item itu di sana?"


\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=


"Lapor! Semua gerbang ibukota sudah dicegat oleh pasukan musuh. Kita telah terkepung! Di-Ditambah lagi, sepertinya semua orang di kota ini tidak bisa menggunakan sihir!"


Pria itu, yang namanya masih belum diketahui, melaporkan hasil penyelidikan para penjaga ke Erick. Dia terengah-engah dan terlihat sangat membutuhkan air.


"Sudah dipastikan kalau penghalang itu bisa membuat orang yang berada di dalamnya tidak bisa menggunakan sihir. Ditambah lagi..."


"Ah~ tampaknya kita telah dikepung oleh mereka."


Wajah semua orang di dalam ruangan tersebut mengkerut, itu adalah penghalang yang paling merepotkan dari salah satu dugaan mereka. Sekarang mereka mungkin harus bertarung tanpa sihir sama sekali.


"Musuh membagi pasukannya menjadi 4 kelompok, ya?"


"Ta-Tampaknya begitu. Tapi, di selatan hanya ada 4 orang. Di antara empat orang tersebut terdapat tongkat mencurigakan yang kami duga adalah penyebab penghalang itu."


"Magic Item?"


"Mungkin. Di barat, kami memperkirakan pasukan musuh berjumlah 5000. Tapi, kami mengkonfirmasi mereka bukanlah naga, melainkan pasukan lizardman."


"Apa! Lizardman? Jadi mereka berkolusi?"


"Kami tidak tahu. Tapi di gerbang utara, mereka mungkin adalah pasukan naga yang sesungguhnya karena mereka semua punya tanduk di kepala mereka. Jumlah mereka dikisarkan sekitar 3000 orang."


"Jika ditotalkan, jumlah mereka berarti ada delapan ribu orang! Jumlah itu hampir menandingi keseluruhan pasukan yang kita punya."


"Dan, dan di gerbang timur..."


"Oi! Ada apa dengan gerbang timur?"


Pria itu terus menerus diberikan tekanan oleh para paladin yang bertanya padanya. Namun dia tidak menghentikan laporannya dan tetap menghiraukan keterkejutan mereka. Akan tetapi, untuk melaporkan sesuatu yang ada di gerbang timur membuat dia berhenti. Reaksi itu membuat semua orang jadi sangat penasaran dengan kelanjutan laporannya.


"Di- Di timur, jumlah mereka mungkin hanya sekitar 100, tapi mereka semua mengenakan jubah hitam dan kulit mereka tampak pucat. Dari semua pasukan musuh, hanya mereka yang memberikan perasaan tidak nyaman untuk kami. Dan juga, wanita itu... Wanita itu yang kami pikir paling menyeramkan! Dia adalah wanita berbaju putih dengan rambut merah seperti darah."


"Maksudmu apa? Aku pikir 4 orang di selatan adalah yang terkuat di antara mereka."


"Mu-Mungkin itu benar. Aku tidak pergi ke selatan dan hanya mendapatkan laporannya saja dari penjaga di sana. Tapi, aku pergi ke timur lalu melihat dengan mata kepalaku sendiri sosok gadis itu dan kelompoknya."


Dia berusaha menjelaskan sedikit kesalahpahamannya. Kuil ini dengan gerbang di timur lumayan dekat bila naik kuda. Sejak dia mendapatkan perintah dari Erick, dia berlari ke arah gerbang timur untuk melihat bagaimana kondisi di luar dinding, memastikan apakah penghalang itu mengisolasi kotanya dengan sempurna atau tidak. Namun tidak terduga dia malah menemukan pasukan musuh yang sedang bersiaga.


"Yah, apapun itu, sekarang musuh kita sudah menunjukkan kekuatannya, tinggal bagaimana kita harus mengurus mereka."


Sambil membenarkan kacamatanya, Chris menenangkan ketegangan semua orang. Kemudian, karena laporan sudah diberikan, pria itu kembali ke pos divisinya dan diberikan waktu istirahat.


"Meski begitu, kenapa mereka belum menyerang? Itu agak aneh, kan?"


"Benar. Sejak penghalangnya muncul, mereka tidak datang menyerang ke sini. Seperti sedang menunggu sesuatu."


"Apa mereka ingin kita yang menyerang ke sana?"


Prilaku musuh yang membingungkan membuat mereka bertanya-tanya.


"Bagaimana dengan pasukan kita?"


"Semua sudah berkumpul dan siap diberikan perintah, Ketua."


"Kalau begitu—


Erick seperti ingin memberikan perintah dan mulai beranjak dari bangkunya, tetapi seseorang tiba-tiba membuka pintu ruang rapatnya.


"Siapa kau? Ini adalah ruang rapat kesatria suci! Jangan seenaknya masuk ke dalam sini."


"Oi, tunggu. Kita tidak mengenal orang ini."


"Hei! Jangan-Jangan, dia... Musuh!?"


Semua paladin yang berada di meja rapat mulai berdiri mengetahui bahwa orang itu sangat mencurigakan, termasuk Chris dan James mereka semua memegang gagang pedang mereka yang berada di pinggang.


"Sergio, bukankah kau seharusnya berada di sisi Yang Mulia Raja? Kenapa kau malah ke sini?"


"Kau juga. Kau dan paladin yang lainnya adalah kesatria pengikut Raja. Seharusnya kalian berada di sisinya ketika situasi seperti ini terjadi, kan?"


"Aku baru saja ingin ke tempat Raja."


"Kalau begitu, maka kau tidak perlu lagi ke sana. Raja memerintahkanku untuk membantu kalian menghadapi musuh. Musuh kali ini, sepertinya sangat kuat."

__ADS_1


Dengan wajah serius, Sergio membawakan titah Raja.


"Ketua, orang ini siapa?"


Salah satu paladin bertanya dengan sopan. Di sana, Erick melihat ke arah Sergio dulu sebelum menjawab, lalu Sergio menganggukkan kepalanya.


"Dia adalah Ketua pimpinan divisi intelijen istana."


"Ohh!!" ××


Setelah diberitahu identitasnya, semua orang tampak bersemangat. Mendapatkan bantuan dari Sergio sangat meningkatkan kekuatan tempur mereka. Karena bagaimanapun, dia dan Ketua Paladin, Erick, adalah dua dari tiga orang terkuat di Kerajaan Suci ini.


"Lalu, bagaimana kalian akan menghadapi mereka?"


"Tampaknya musuh mempunyai banyak sekali bala bantuan, ya?"


"Ya, sejujurnya... Kita tidak mungkin bisa menang, menurutku."


"Begitukah..."


Mendengar pendapat Sergio, Erick terdiam jatuh ke dalam keputus-asaan. Sergio berasal dari divisi intelijen istana, informasi darinya tentu saja sangat dapat dipercaya. Oleh karena itu, mendengar pendapatnya saja sudah seperti mengetahui hasil akhir yang sebenarnya.


"Begimana dengan kekuatan musuh?"


Chris sangat penasaran, dia akhirnya bertanya kepada Sergio.


"Ehm, jika dilihat dari kekuatan saja, sudah jelas mereka lebih kuat. Kita mungkin memiliki lebih banyak pasukan, tapi mereka itu naga loh. Satu dari mereka saja sudah cukup merepotkan. Namun sekarang kita malah dihadapkan dengan 3000 ekor naga. Sudah jelas ini merupakan pertempuran yang mustahil."


Sergio secara jelas memberitahukan ketidakmungkinan mereka menghadapi naga kepada Chris.


"Ugh... Aku sudah tahu kalau ini memang mustahil."


Dan membuat Chris berputus-asa juga.


"A-Apa! Jadi ini adalah perang yang tidak mungkin dimenangkan."


"Mustahil. Bukankah kita memiliki lebih banyak pasukan?"


"Itu benar! Jumlah kita lebih banyak dari mereka, kita pasti masih memiliki kesempatan dengan menggunakan kelebihan itu."


Mereka masih belum mau menyerah, tapi semangat di diri mereka sudah hilang. Diganti dengan kegelisahan. Dan juga, Erick, Chris, dan Sergio tidak terpengaruh sama sekali dengan saran tersebut karena...


"Lihatlah kenyataannya. Jangan lupa kalau kita tidak bisa menggunakan sihir, sedangkan mereka tanpa menggunakan sihir pun sudah memiliki fisik yang kuat. Termasuk para kadal di barat itu."


Itu alasan Erick, Chris, dan Sergio tampak putus asa. Fisik manusia lebih lemah dibanding fisik monster dan demihuman, mereka pasti akan kalah kalau hanya mengandalkan senjata.


"Satu-satunya cara adalah menghilangkan penghalang menjengkelkan itu."


"Bagaimana caranya?"


"Aku dengar terdapat magic item di masing-masing pasukan musuh. Kemungkinan itu adalah alat sihir yang membuat penghalang tersebut."


"Jadi, kita harus menghancurkan salah satu magic item tersebut untuk menghilangkan penghalangnya? Apa begitu?"


"Ya."


Sekali lagi, Erick mencoba memecahkan masalah mereka. Kemudian secara tidak sengaja dia tersentak, terkejut karena menyadari sesuatu.


"Ada apa, Ketua? Apa Anda telah menemukan sesuatu?" —Melihat Erick bereaksi seperti telah menyadari sesuatu, Chris bertanya.


"Aku mengerti kenapa mereka masih belum menyerang. Ini mungkin hanya dugaanku saja, tapi... Kemungkinan mereka masih belum menyerang karena mereka sedang menunggu orang dari kita menghancurkan salah satu magic item mereka. Hanya dengan menghancurkan salah satu item tersebut, mantra penghalangnya mungkin akan terpecah. Dan bagian terpentingnya, mereka pasti menyuruh kita untuk memilih, pasukan mana yang ingin kita lawan dari keempat pasukan mereka tersebut. Ini seperti, kita boleh dengan bebas menentukan musuh yang ingin kita lawan."


"Apa!"


"He~ begitu rupanya. Aku sedikit memahami hal itu. Dengan kata lain, jika kita memilih kekuatan terlemah mereka, kita bakalan ditertawakan oleh mereka. Sedangkan jika kita memilih kekuatan terkuat mereka, orang terkuat mereka seperti akan tertantang. Aku tidak ingin mengakuinya, tapi mereka tampaknya sudah meremehkan kita. Begitu maksudmu, kan? Erick."


Selesai Erick menjelaskan dugaannya, Chris terkejut. Kemudian Sergio seperti sudah paham dengan maksud Erick.


"Kupikir begitu."


"Haha! Mereka benar-benar hebat. Aku tidak menyangka kalau naga bisa memikirkan cara seperti itu bahkan dalam peperangan."


"Apa-apaan itu! Dasar kadal brengsek!"


Kesal mengetahui skema pihak musuh seperti sedang merendahkan mereka, mereka semua marah.


"Ini semakin rumit saja. Ngomong-Ngomong, pasukan mana yang menurutmu paling lemah dan paling kuat, Sergio?"


"Menurutku, pasukan kadal di barat adalah yang terlemah. Meskipun pemimpin mereka sangat kuat, pasukan kadal itu masih bisa dilawan dengan pasukan kesatria suci kita. Sedangkan yang terkuat... Ehm, mungkin empat orang di selatan. Mereka sudah jelas adalah yang terkuat."


Sergio memberikan evaluasinya terhadap kekuatan musuh kepada Erick.


"Bagaimana dengan musuh yang berada di gerbang timur? Sepertinya mereka sangat menyeramkan bagi para penjaga di gerbang timur."


"Ah mereka ya. Mereka adalah kelompok yang masih menjadi misteri sampai sekarang. Aku tidak tahu mereka naga atau lizardman, tapi wanita berambut merah itu sangat cantik. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dia sudah seperti bidadari jatuh yang memimpin pasukan kegelapan. Aku berniat ingin melawannya."


Sambil tersenyum mesum, Sergio mengutarakan niatnya.

__ADS_1


__ADS_2