
Seorang pria tampa sedang berjalan di tengah-tengah lorong.
Seluruh tubuhnya ditutupi dengan jubah dan mantel, rambutnya berwarna merah marun dan hal yang paling menonjol adalah sepasang tanduk hitam besar di kepalanya.
Pria itu berjalan dengan santai seolah-olah tempat itu adalah miliknya.
Dia akhirnya tiba di depan pintu dengan dua penjaga yang selalu menjaga pintu itu setiap hari tanpa makan dan minum.
Mereka berdua adalah makhluk spiritual, metabolisme mereka bekerja bukan dengan bahan organik melainkan dengan energi mana.
Ketika mereka terlahir di dunia, mereka tidak akan mati kecuali dibunuh atau dunia ini kehilangan sihirnya.
Itu perihal yang sama dengan pria tampan yang sedang berdiri menunggu penjaga itu membuka pintu.
Dengan suara decitan, pintu itu terbuka oleh kedua penjaga.
Ruangan megah terlihat, sepi dan dingin.
Hanya satu orang yang sedang berada di sana, mata penuh kekosongan dan tidak peduli dengan kondisi di sekitarnya.
Dia seorang wanita, sedang duduk di singgasana dengan bosan, menyangga kepalanya dengan tangannya yang putih halus.
Matanya terbuka, tetapi tidak melihat ke arah mana pun secara khusus seolah-olah dia sedang berfikir.
Rambutnya panjang berwarna ungu dan tanduk domba yang berbentuk spiral berwarna hitam tumbuh di kepalanya.
Mengenakan gaun berwarna hitam yang berbulu pada bagian kerah dan lengannya.
Dia tampak cantik secara keseluruhan dan dia memiliki keunggulan pada bagian dada dan bokongnya yang membuat dia semakin indah daripada pelacur terkenal mana pun di dunia.
Pria itu menghampiri dengan diam, memberi hormat dan mulai berbicara.
"saya sudah kembali, nona titania."
"lalu?"
Tanpa perlu basa basi, wanita itu langsung menuju ke alasan kenapa pria itu datang.
"saya tidak menemukan warga desa di sana."
"jadi, mereka sudah binasa, ya."
"bukan, saya tidak menemukan satu pun mayat dari mereka dan saya juga tidak menemukan monster yang menyerang sihir pertahanan anda."
Wanita itu — atau yang dipanggil dengan nama titania — mulai melirik pria yang sedang melapor.
Sebelumnya titania bahkan tidak melihatnya ketika mereka sedang berbicara. Dia sangat bosan, bahkan sampai malas untuk berbicara.
Ketika sihir pertahanannya hancur, titania langsung menyadari itu karena dia adalah casternya.
Dia menyuruh bawahannya — yang berdiri di depannya sekarang — untuk melakukan investigasi ke area tersebut.
Itu bukan seperti titania peduli dengan warga desa, namun sebagai penguasa wilayah, dia harus mengetahui monster mana yang sudah menghancurkan penghalangnya.
Sejujurnya, sejak awal dia tidak peduli dengan iblis lemah. Namun, dia masih memiliki sedikit hati sebagai penguasa.
Suku huldra adalah iblis yang memiliki darah campuran, mereka tidak dianggap oleh iblis di tanah ini dan oleh karena itu mereka diasingkan.
Pada akhirnya, titania tidak pernah peduli jika mereka binasa atau tidak karena itu bukan tugasnya mengurus iblis lemah, justru itu malah merepotkan.
Namun, sebagai penguasa wilayah, titania tidak bisa membiarkan siapapun bertindak semena-mena di tanahnya.
"apa yang kamu maksud?"
"saya sudah memeriksa seluruh area, dan saya hanya bisa menemukan adanya tanda penggunaan sihir ruang di tengah-tengah desa. Menurut saya, para penduduk desa telah dibawa pergi oleh seseorang."
"jadi, penghalangku tidak dihancurkan oleh monster?"
Titania merasa sangat marah di sana.
Jelas saja, dia tidak akan memaafkan seseorang yang sudah menginjak tanahnya tanpa izin. Ditambah, orang itu sudah menghancurkan penghalang yang sudah susah payah dia buat.
"maafkan saya, saya tidak dapat mengetahuinya."
"tch, lalu, apa hanya itu yang ingin kamu laporkan?"
"saya juga telah mendapatkan laporan bahwa ada pergerakan dari kastil itu."
"kastil...? Maksudmu, lexo membuat pergerakan? Sigh, orang bodoh itu, apa lagi yang dia inginkan..."
Lexo telah membawa kastil ke tanahnya. Itu adalah tindakan yang tidak termaafkan tapi lexo membuat alasan kalau dia sedang diperintahkan oleh raja iblis, mau tidak mau titania membiarkan dia.
Berurusan dengan raja iblis memang merepotkan, terutama dengan para pengawalnya, titania tidak akan sanggup melawan mereka semua sekaligus.
Tujuan lexo adalah pusaka keramat yang berada di tanahnya.
Itu adalah benda yang bahkan raja iblis tidak bisa menggunakannya, bagaimana dengan lexo?
Itulah yang titania pikirkan.
Benda itu sudah ada sejak lama dan tidak ada yang bisa menggunakannya. Oleh karena itu, dia membiarkan lexo.
Titania hanya mengetahui kalau benda itu adalah pusaka peninggalan raja iblis terdahulu, tapi kegunaan atau bentuknya tidak ada yang mengetahuinya secara pasti.
"dari laporan yang saya dapatkan, sejumlah monster dengan level tinggi menyerang monster-monster di wilayah kita. Dan, menurut saksi mata, para monster berlevel tinggi itu berasal dari arah kastil."
"apa itu ada hubungannya dengan desa huldra?"
"mungkin."
Itu artinya, semua terhubung dengan lexo.
Titania hanya mengizinkan lexo untuk mengurus pusaka, tidak untuk menghancurkan properti miliknya.
Beraninya dia mengacaukan tempatku...
Titania sangat kesal.
"dan juga, saya mendapatkan informasi kalau pusaka keramat itu sudah tidak ada."
"apa!?"
Titania terkejut di sana.
Itu adalah sesuatu yang bahkan raja iblis tidak mampu untuk menggerakkannya, lalu bagaimana bisa lexo melakukannya?
__ADS_1
"kenapa kau baru menyebutkan itu sekarang?"
"maafkan saya, saya baru menyelidikinya setelah kejadian desa huldra. Haruskah kita memanggil dia ke sini?"
"ya, panggil dia ke sini dan suruh dia menjelaskannya."
"dimengerti."
Pria tampan itu memberi hormat kembali dan meninggalkan titania dengan diam.
Sebuah pusaka yang terkenal dan tidak bisa digunakan oleh siapapun, sekarang telah diambil oleh segumpal makhluk hijau jelek.
Sebuah lelucon yang bahkan tidak lucu.
.
.
.
.
.
Aku sudah menyebutkannya sebelumnya kalau di kastil ini ada pemandian air panas, tempatnya berada di lantai 6.
Kegunaan dari tempat ini adalah untuk mendapatkan cinta dari para npc, dan sangat 18+, jadi aku tidak bisa mengatakannya lebih jauh.
Tapi itu cerita di dalam game, sekarang tempat ini menjadi nyata dan kaguya sudah menyuruh salah satu pelayan untuk mengurus tempat ini.
Untuk anggota eksekutif seperti kami memang sudah bisa mengakses air panas di bak kamar mandi, tapi itu tidak bisa digunakan oleh banyak orang sekaligus.
Sekarang aku dan merlin sedang membersihkan kedua anak kembar yang kami bawa dari desa, aku mengurus atla dan merlin mengurus eren.
Sebenarnya, aku tidak perlu untuk mengurus hal-hal seperti ini karena ada freya atau wanita lain yang bisa melakukannya, tetapi merlin tetap memaksa aku.
Tapi aku memang masih memiliki tanggung jawab karena telah membawa mereka berdua ke sini, jadi aku menerimanya.
Aku tidak bisa hanya dengan membawa urusan tetapi orang lain yang mengurusnya.
Mungkin karena jarang — atau tidak sama sekali — menggunakan sampo, rambut mereka sedikit kasar dan berdebu. Kami memerlukan banyak sampo untuk membersihkan rambut mereka.
Tidak ada yang mempermasalahkan jenis kelamin di sini. Mereka masih anak-anak, aku dan merlin sudah menikah, jadi tidak akan ada yang mempertanyakan ini.
Juga, ini adalah pemandian campuran, jika dibuat terpisah, maka fitur awal game tidak akan bekerja.
Mungkin sekitar seperempat sampo dalam botol sudah kami gunakan, akhirnya kami bisa selesai membersihkan rambut mereka.
Dua anak ini memiliki rambut yang sangat panjang dan bagus, tidak bercabang atau keriting.
Setelah dibersihkan, itu semakin halus dan warna merah mudanya semakin jelas terlihat.
Melihat itu, membuat aku semakin takjub dengan dunia lain karena ada makhluk hidup yang memiliki warna rambut seperti itu, itu terlihat sangat manis.
Setelah semua orang sudah bersih, kami semua masuk ke dalam kolam.
Ohh, aku lupa untuk mengatakannya tetapi aku tidak sepenuhnya telanjang, itu hal yang sudah pasti.
Meskipun merlin dan yang lainnya hanya menutupi tubuh mereka dengan handuk, aku masih tetap mengenakan celana di sini.
Baik, lupakan itu.
Aku melihat dua anak itu sedang menikmati hangatnya air.
Mereka tenang dan tidak berisik, tapi itu justru membuat aku sedikit risih karena melihat anak-anak begitu tenang.
"kalian menyukai tempat ini?"
Merlin yang berada di sebelahku bertanya kepada mereka.
"ya, ini sangat enak."
"um."
Itulah jawaban mereka.
Mereka sangat tenang. Ketika aku memandikan mereka, mereka juga tidak banyak bergerak dan hanya diam sambil menutup mata.
Ini adalah waktu ketika anak-anak masih dalam masa lucunya, jika mereka sudah sedikit besar nanti, mereka tidak akan mau diperlakukan seperti itu lagi.
"syukurlah kalian menyukainya."
Merlin tersenyum, senyuman yang sangat menyihir karena aku bisa merasakan kenyamanan di sana, padahal itu hanya tindakan natural.
"err, b-boleh aku bertanya?"
Atla bertanya dengan ragu-ragu.
"boleh, apa yang ingin kamu tanyakan?"
Merlin menanggapi.
"kenapa kalian sangat baik terhadap kami?"
Di sana, eren mengangguk sekali setelah atla bertanya, seolah-olah ingin mengatakan "ya, kenapa?" seperti itu.
"itu karena kalian anak yang manis."
Merlin menjawab itu dengan santai dan sedikit tertawa, itu membuat atla menjadi terkejut dan hanya mengatakan "eh?" karena bingung.
"aku juga memiliki pertanyaan untuk kalian, di mana orang tua kalian berada?"
"err, sejak kecil kami hanya dirawat oleh kakek, jadi kami tidak mengenal orang tua kami."
"hmm, begitu, ya. Lalu boleh aku mengajukan sesuatu?"
"mengajukan?"
"um, kami ingin menjadi orang tua kalian, apakah kalian mau?"
"eh, kenapa?"
"kalian masih anak-anak, harus ada orang dewasa yang mengawasi kalian. Memangnya kalian bisa mengurus diri kalian sendiri?"
Atla tidak menjawab dan keraguan mulai muncul di wajahnya.
__ADS_1
"apa... Kami berdua tidak pantas untuk menjadi orang tua kalian?"
Merlin memasang wajah murung di sana.
Lalu, eren — yang hanya mendengarkan pembicaraan kakaknya — mulai menghampiri merlin yang sedang terlihat murung.
"jangan sedih."
Itu yang eren katakan sambil memegang tangan merlin yang terendam air.
Ini pertama kalinya aku mendengar suara eren, sangat pelan dan lembut.
Dan, entah kenapa, dia sepertinya sangat peduli dengan merlin, hingga merlin merasa terkejut dengan sikapnya sambil melebarkan mata sesaat.
Karena diperintahkan oleh eren, merlin merubah sikap murungnya dan langsung tersenyum.
Melihat sikap adiknya, atla seperti sedang membuat keputusan.
"apa yang ingin kalian lakukan jika kalian menjadi orang tua kami?"
Sebagai seorang kakak, sepertinya atla memikirkan tentang banyak hal.
"memangnya apa lagi tugas sebagai orang tua? Tentu saja, kami akan merawat kalian hingga besar, mengajari kalian tentang banyak hal, dan yang pasti melindungi kalian."
"a-apa itu sungguhan?"
"tentu saja, aku dan suamiku berjanji pada kalian."
Atla melihat ke arahku setelah merlin mengatakan itu.
Apakah akhirnya aku bisa tampil di sini? Itu yang aku pikirkan, tapi ini bukan waktunya untuk ceroboh. Aku mulai mengambil nafas.
"a-ahem, itu benar, atla. Kamu ingat ketika kita sedang menaiki kuda? Apa yang aku katakan adalah "aku akan melindungi kalian", kata itu berlaku untuk selamanya, tidak hanya untuk sementara."
Aku tersenyum dengan canggung di sana. Tapi atla merasa terkejut seperti baru mengingat kembali perkataan itu.
"jadi, bagaimana? Apakah kalian mau menjadi anak-anak kami?"
Merlin bertanya kembali.
"uh, aku..."
Atla mendapat kesulitan di sana, dan wajahnya memerah.
Lalu, eren yang sedang memegang tangan merlin dengan tangan kanan, juga memegang tangan atla dengan tangan kirinya.
Seolah-olah mengajak atla, eren menarik kakaknya dan mereka bertiga berkumpul di sana sambil berpegang tangan.
Itu adalah perkumpulan para perempuan, jadi aku hanya melihatnya dari samping merlin.
"jawabannya?"
Merlin mendesak mereka.
Kemudian atla mengangguk di sana dengan "en" sebagai jawaban setuju, eren juga melakukan hal yang sama.
"ku~fufu, jadi sekarang kita sudah menjadi keluarga. Aku ingin mendengar kalian memanggil aku ibu."
Atla mengatakan "i-ibu!?" dengan terkejut, dan wajahnya semakin memerah di sana.
Itu hal yang sama dengan eren. Sebelumnya, dia memang memerah karena malu tetapi sekarang wajahnya semakin merah.
Mungkin itu karena mereka baru saja memiliki ibu baru, mereka menjadi belum terbiasa.
"atla?"
"iya, i-ibu."
"eren?"
"u-uhm, iya, ibu..."
Mereka terlihat berusaha di sana, dan pada akhirnya mereka mengatakannya.
Melihat keimutan mereka, merlin memeluk mereka dengan penuh kasih sayang.
Hmm, aku tidak tahu apakah ini hanya sebuah kebetulan atau tidak, tetapi kita mendapatkan cinta, bukan? Di tempat ini?
Sungguh tempat yang sangat misterius. Namun, aku menyukainya dan ini berakhir dengan baik.
Setelah selesai mandi, merlin menemani mereka — atau sekarang aku akan menyebut "putri kami" — pergi ke kamar mereka yang letaknya tidak jauh dari kamar kami.
Seharusnya, lantai tiga menjadi tempat tinggal untuk para eksekutif, tetapi mereka adalah putri kami, jadi kami membuat pengecualian. Ditambah lagi, ada banyak — banyak sekali — kamar kosong di lantai tiga, jadi itu tidak menimbulkan persoalan.
Aku sedang berganti pakaian, lalu seseorang mengetuk pintu dan membukanya setelah aku menjawab.
Leon berdiri di sana.
"tuan albert, ada tamu."
"tamu?"
"benar, dia mengaku sebagai bawahan dari lady titania. Sekarang dia sedang menunggu di depan gerbang karena ada sihir pelindung."
Bawahan titania? Mereka benar-benar datang ke sini!
Yah, wajar saja dia akan datang ke sini melihat kami membawa para penduduknya tanpa mengatakan apapun padanya, itu sudah aku perkirakan.
Karena hydra terhubung langsung dengan kastil ini, aku memintanya untuk membuka shield supaya bawahan titania itu bisa masuk.
"leon, aku sudah membuka sihir pelindungnya, tolong antar dia ke ruang kerjaku sekarang."
"baik."
Ruang kerja berada di lantai dua dan itu adalah tempat yang baru aku bereskan kemarin.
Aku sudah menaruh banyak interior yang aku buat sewaktu di dalam game. Bangku dan meja kerja, dua sofa panjang berwarna biru, meja kecil, jam, rak buku, karpet hijau, dan vas bunga.
Dalam game, membuat perabotan juga untuk berjualan, itu sebabnya aku memiliki beberapa benda bagus di inventaris.
Kesampingkan itu, aku segera memakai baju yang sedikit rapih untuk menemui tamu.
Meskipun dia hanya bawahan tetapi cara aku berpakaian adalah cermin dari moral seluruh pegawai yang berada di sini.
Jadi, aku tidak bisa membuat seseorang berfikir kalau kami hanya rakyat biasa karena pemimpin yang lalai.
__ADS_1