
Selesai makan malam, aku mulai memikirkan apakah kita harus kembali ke kastil dan beristirahat atau melanjutkan perjalanan.
Meski mereka terlihat baik-baik saja, istirahat masihlah penting untuk makhluk hidup.
Tapi, kita sudah berada di depan gerbang lapisan terakhir dungeon. Ketika masuk, semuanya akan selesai dengan cepat, aku yakin.
"Ayo kita masuk ke dalam. Kita akan menyelesaikan dungeon ini sekarang agar bisa tidur nyenyak."
Aku mengumumkan.
"Bos area, ya. Sudah lama kita tidak menyerang lawan yang kuat."
"Kukuku, aku juga sangat menantikannya."
"Karena dungeon sangat jarang ditemui di dunia ini, mungkin saja ini akan menjadi dungeon terakhir kita."
"Ya, ini memang bisa jadi dungeon pertama dan terakhir kita di dunia ini."
"Sigh, kalian semua... Sebenarnya apa yang ada di kepala kalian? Kalau dunia ini banyak dungeon, sudah pasti dunia ini akan hancur."
Anggota keluargaku terlihat sangat antusias, namun salah satu orang terlihat sangat lelah melihat sikap mereka.
Tunggu, sepertinya aku memang melupakan sesuatu yang sangat penting tentang tujuan kami datang ke sini...
«Master.»
«Ada apa?»
«Kita akan bertemu dengan kenalanku, jadi...»
«...»
...
...?
HAH!? KENAPA AKU BISA SAMPAI MELUPAKAN ITU!
Ya ampun. Aku baru saja ingat, kami ke sini untuk bertemu dengan "kenalan", bukan "lawan".
Lalu, bagaimana aku harus menjelaskannya ini kepada semua anggotaku? Mereka terlihat sangat antusias dan sudah SANGAT menantikan pertarungan yang menggairahkan.
«Jika kalian ingin mencoba melawan kenalanku ini, maka kenapa tidak dilakukan saja? Lagi pula, saya belum menghubungi orang ini, jadi dia masih belum mengetahui keberadaan saya. Tapi anda harus menggunakan kekuatan anda sendiri untuk melawannya.»
«Menggunakan kekuatan sendiri?»
Apa aku bisa melakukannya? Sudah sejauh ini, aku selalu mendapatkan dukungan dari Hydra.
Pada saat aku melawan makhluk penjaga gerbang ini, ketika aku sedang melayang di udara, beruntung Hydra memberi peringatan, jika tidak — aku pasti akan terlihat payah karena tidak pernah memperhatikan area di sekitarku ketika sedang bertarung.
Aku memang tidak akan terluka karena serangan lawan, namun citraku akan menurun di depan mereka karena terlihat payah. Itu sebabnya Hydra memperingati.
Musuh kami selanjutnya adalah makhluk yang mendiami inti dari dungeon ini. Dia pasti sangat kuat sampai bisa dikenal oleh Hydra.
Atau jangan-jangan...
Ughh, aku berharap ini tidak seperti apa yang aku duga.
Sudahlah, aku tidak peduli lagi. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk melihat sudah sejauh mana kemajuan aku dalam menggunakan sihir.
Aku juga sudah memiliki banyak kemampuan dari para bawahanku, jadi... Ya, aku punya sedikit, sedikit keunggulan, kurasa.
Dan juga, aku mungkin bisa menggunakan kemampuan pertahanan milik Freya sebagai pengganti pertahanan Hydra. Aku yakin, itu sudah sangat membantu.
Selanjutnya adalah mengirim anak-anak dan para familiar kembali ke kastil. Akan berbahaya jika mereka ikut ke dalam. Mereka akan diurus oleh Kaguya dan Titania.
Beruntung Kaguya dan Titania tidak mengeluh dan menuruti perintahku.
Adapun anak-anak, Atla dan Eren terlihat biasa-biasa saja karena sudah melihat kemampuan kami, mereka berdua sudah memiliki kepercayaan tinggi terhadap kami. Sedangkan untuk Alice, dia terlihat sangat khawatir. Terutama kepadaku.
Entah kenapa, tindakan dia dalam mengkhawatirkan aku sebenarnya sangat benar untuk dilakukan. Bagaimanapun, hanya aku yang perlu dikhawatirkan di tim ini.
«Hydra, kamu bisa mengirimkan data pertarungan kepada mereka?»
«Itu mudah untuk dilakukan. Semenjak kita menggunakan Cermin Map untuk mengawasi sekeliling kastil, saya sudah mulai terbiasa dan memahami prinsip dari sihir tersebut.»
«Kalau begitu, tunjukkan kegiatan kami agar mereka tidak khawatir lagi.»
«Dimengerti, Master.»
Nah, mereka akan mengawasi pertarungan kami dari ruang harta. Setelah aku menyampaikan hal ini, mereka mengerti dan pergi ke ruang harta. Hydra membukakan pintu untuk mereka.
Kemudian, aku mengumpulkan semua orang untuk mengatur posisi dan tugas mereka masing-masing.
Tim penyerang utama akan menjadi timku, atau lebih tepatnya, tim partyku yang terdiri dari aku, Merlin, Freya, William, Ignis, dan Leon.
Kemudian tim penyerang kedua terdiri dari Eliza, Luminous, Saber, dan Alfred.
Eliza dan Luminous sebagai penghasil damage, Saber akan menjadi tank mereka, dan Alfred bisa untuk menjadi peran defensif atau ofensif. Alfred bebas memilih tempatnya, tapi tugas utamanya adalah mendukung Eliza dan Luminous agar mereka mendapat pertahanan.
Kemudian tim terakhir, tim pendukung dua tim lainnya. Mereka terdiri dari para Einherjar.
Karena mereka belum memiliki senjata, mereka aku tempatkan di garis belakang.
Selain itu, kemampuan mereka dalam mendukung dua tim penyerang merupakan tugas penting.
__ADS_1
Setelah semua sudah mengerti posisi mereka, kami mulai membuka gerbang besar itu agar bisa masuk.
Pada awalnya, aku berfikir bahwa pintu itu akan sulit untuk dibuka, tapi aku salah. Kami hanya perlu berusaha untuk mendorong pintunya agar dia terbuka.
"Kamu baik-baik saja, Freya?"
Aku bertanya, penasaran karena dia terus diam.
"Aku... Baik-Baik saja."
Jawabannya agak ragu.
"Kamu selalu seperti ini ketika sedang bimbang."
"Eh?"
"Dengar, kamu hanya perlu melakukan apa yang menurut kamu perlu dan benar untuk dilakukan. Jika kamu tidak menyukainya, maka kamu tidak perlu untuk melakukannya."
Seolah-olah mengerti apa yang sedang dipikirkan Freya, aku menasihatinya.
Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Namun berdasarkan pengalamanku selama berhubungan dengannya. Dia selalu mempertimbangkan banyak hal sendirian, tidak pernah untuk membagi kekhawatirannya kepada teman atau bahkan orang terdekatnya.
Kurasa, itu adalah kebiasaan buruk dari dirinya, tapi aku tidak bisa mengubah pola pikir seseorang. Aku hanya perlu mengingatkan dia ketika kebiasaan buruk seperti itu muncul.
"Ma-Maafkan aku."
Freya berkata dengan wajah menyesal. Apa yang aku pikirkan tentang dia, ternyata memang benar adanya.
Meski terlihat sudah dewasa dan memiliki tubuh matang, hatinya masih terbilang remaja.
Yah, pertumbuhan entitas spiritual memang terbukti sangat lambat. Bahkan aku pernah mendengar ada seorang gadis kecil dengan pola pikir anak-anak sudah berusia ribuan tahun.
Jadi, menganggap Freya masih remaja tidaklah salah. Adapun orang yang perlu untuk disalahkan, itu adalah aku. Aku telah meniduri gadis polos dan memberikan berbagi doktrin aneh kepadanya.
Nah, beruntung di sini tidak ada undang-undang untuk melindungi seorang gadis. Jadi aku aman?
Tidak, kenapa aku malah bangga berbuat kejahatan? Ah, salah, aku tidak berbuat kejahatan, sungguh. Bagaimanapun juga, Freya sudah memenuhi usia untuk menikah!
Sudahlah, lupakan itu.
Gerbang terbuka dan memperlihatkan ruangan celestial luas, putih, bercahaya, dan sangat besar.
Seluruh lantai dan dinding dilapisi dengan marmer. Tidak ada penyangga atau pilar, hanya ada ruangan luas melingkar dan langit-langitnya sangat tinggi.
Banyak jendela di atas bangunan ini dan cahaya bisa masuk melalui itu. Namun aku tidak yakin apakah itu merupakan cahaya matahari atau bukan.
Sementara aku kagum dengan bangunannya, seseorang menunjuk ke arah tengah ruangan.
Di sana terdapat tugu berwarna putih setinggi 5 meter. Bila dibandingkan dengan besarnya ruangan, itu hanya seperti benda kecil.
Kecuali Hydra, Freya, dan Luminous — kami semua berasal dari dunia lain. Kemudian Kesampingkan Hydra, Luminous meski menjadi makhluk asli dari dunia ini, dia tidak bisa membaca.
Yah, tidak ada orang yang mengharapkan monster bisa membaca, jadi kami memaklumi Luminous.
Sekarang kami hanya bisa berharap kepada Freya, namun Freya juga tidak mengetahui tulisan itu, jadi kami menyerah untuk mencari tahu lebih jauh.
Nah, ini bukan seperti kami mendapatkan jalan buntu. Hanya karena aku tidak bergerak, semuanya menjadi tidak dapat maju.
Sebelumnya, aku sudah mengetahui bahwa ini adalah tempat tinggal kenalan Hydra. Menggunakan itu sebagai sumber, aku bisa berasumsi bahwa benda putih itu merupakan tempat tinggal kenalan Hydra.
Kemudian kekhawatiran aku semakin meningkat karena dugaan ku semakin membesar.
Karena sudah terlanjur seperti ini, aku menyuruh anggotaku untuk mundur dan bersiap. Kemudian aku menyerang tugu itu berulang kali dengan sihir jenis emisi, menggunakan cadangan manaku sendiri sebagai bahan bakar.
Aku sudah mengunci akses pasokan energi milik Hydra agar tidak aku gunakan karena ketika aku menggunakan energi Mana Hydra, musuh bisa langsung mendeteksi aura Hydra dan menyadari keberadaannya.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu, namun sudah dipastikan musuh akan kalah jika Hydra ikut dalam pertarungan.
*DOOM*
Tekanan seolah-olah langit akan runtuh tiba-tiba muncul, rasanya benar-benar tidak nyaman. Kemudian, benda putih berbentuk balok itu mulai bergetar dan hancur dengan suara batu berserakan.
Lalu aku melihat armor putih keemasan terselimuti dengan serabut petir sedang melayang pada ketinggian 2 meter di atas permukaan tanah.
"Ahh, tidak salah lagi."
Aku bergumam, sembari mendesah.
Dugaanku tentang armor berbayar atau yang biasa disebut sebagai "Skin Legendaris" ternyata benar.
Mau bagaimana lagi, Hydra ingin bertemu dengan kenalannya. Seharusnya kata itu sudah merujuk kepada skin Legendaris lainnya karena jumlah mereka ada tiga (termasuk Hydra) di dalam game.
Tapi kenapa aku tidak menyadari hal ini sejak awal? Dasar idiot.
"I-Ini, kan!"
"Ya, tidak salah lagi."
"Benar, kenapa benda ini bisa ada di sini?"
Mantan karakter dalam game mulai menyuarakan keterkejutan mereka.
Mereka berasal dari game di mana skin Legendaris itu dipublikasikan, karena itu sangat wajar melihat mereka dapat mengetahui skin tersebut.
"B-Benar juga, kita harus mendapatkan ini untuk dipersembahkan kepada Tuan Albert."
__ADS_1
"K-Kau benar. Ini demi Tuan Albert. Tidak akan ada orang yang cocok menggunakan benda itu selain Tuan Albert!"
"Fumu, jadi kita harus mendapatkan benda ini bagaimana pun caranya."
Mereka mulai bertekad akan sesuatu.
Setelah mendengar itu, sebenarnya aku juga mulai tertarik. Namun, aku sudah memiliki Hydra. Aku tidak bisa menghianati perasaannya hanya karena ketamakan egoisku.
Selain itu, jika membandingkan statistik, Hydra lebih unggul dalam hal pertahanan. Namun tidak untuk serangannya.
Terlepas dari spesialisasi, Hydra lebih ke menyeimbangkan seluruh kemampuan.
Sedangkan untuk skin di depan kami, sebutannya adalah "The Ruler of The Lightning, Leviathan".
Dari namanya saja, orang bisa menebak bahwa dia pasti beratibut petir. Tapi jujur saja, dalam game tidak ada hal khusus tentang namanya.
Hanya karena dia adalah penguasa petir, bukan berarti pengguna harus menggunakan atribut petir.
Itu hanya sekedar nama karena armor tersebut selalu mengeluarkan serabut petir berwarna kuning keemasan seperti sekarang.
Ditambah lagi, desain armor itu terlihat terlalu modern dan sangat tidak cocok dengan budaya di dunia ini.
Pada punggung armor tersebut terdapat benda satelit melayang dengan bentuk melingkar berwarna kuning.
Mungkin anda bisa mengambil referensi dari dewa petir berbagai mitologi. Jika ditemukan, terdapat benda melayang selalu menempel pada punggung mereka.
Karena aku tidak tahu kegunaan dan tujuan dari benda itu terpasang, aku tidak bisa menjelaskannya lebih jauh. Bagaimanapun juga, aku bukan orang yang membuat game NW.
Setelah armor itu muncul, dia langsung berubah menjadi partikel cahaya keemasan dan mengeluarkan asap berwarna putih bersih seperti awan.
Tidak salah lagi, proses ini, dia pasti ingin bertransformasi ke wujud aslinya sebagaimana seekor monster, sama halnya seperti Hydra.
Sungguh, aku sangat khawatir bagaimana kami akan melawan makhluk ini. Tetapi ketika aku melihat wajah para anggota timku, mereka semua tersenyum lebar seakan-akan mereka sudah menantikan momen ini selama ribuan tahun.
Mereka benar-benar tidak waras.
Aku khawatir pola pikirku sebagai manusia normal akan ikut terbawa arus mereka dan berubah menjadi monster seperti mereka.
"Kalian semua, dengar ini baik-baik! Aku tidak bisa mengeluarkan seluruh kekuatanku karena suatu alasan. Jadi... Jangan terlalu berharap banyak padaku."
Aku mengumumkan berita mendadak kepada Merlin dan yang lainnya.
Mereka semua terlihat terkejut dan mulai memeriksa sejumlah mana di dalam tubuhku dengan mata mereka masing-masing.
"Apa kamu memiliki masalah?"
Merlin bertanya, mewakili semua orang.
"Tidak ada. Aku hanya akan menggunakan kekuatan dasarku sebagai pahlawan dan equipment dari inventaris."
Aku memiliki beberapa armor tingkat mistis. Itu terbuat dari bahan baku monster kelas legenda, namun peringkatnya tidak sama dengan "item berbayar" seperti Hydra dan Leviathan.
Meski begitu, armor itu masih setingkat dengan senjata kelas mistis karena level mereka sama.
"Tapi, kondisi kamu sungguh baik-baik saja, kan?"
Merlin terlihat sangat khawatir. Dia menghampiri aku dan menyentuh kedua pipiku dengan kedua tangan lembutnya.
Wanita ini, dia lebih mengutamakan kesehatanku daripada kekuatanku?
Apa dia tidak merasa aku adalah penghambat baginya?
Jika benar, dia pasti merupakan malaikat!!
Tidak, dia memang malaikat, tapi dalam versi sedikit berbeda.
"Tentu saja, aku akan menjelaskan hal ini setelah kita-- ah, maksudku, setelah kalian mengalahkan musuh. Aku hanya akan menjadi pendukung kalian di sini."
Mengatakan kalimat tidak tahu diri seperti itu, aku melepas tangan Merlin dari pipiku.
Sungguh, rasanya, sangat tidak pantas bermesraan dengan Merlin ketika aku — sebagai pemimpin mereka — sedang tidak dapat diandalkan.
Itu sebabnya aku berusaha melepaskan tangannya dari pipiku, padahal biasanya aku akan langsung menciumnya ketika sedang dalam keadaan seperti ini.
Namun, itu hanya sampai sana. Ketika aku menurunkan tangan Merlin dan melepaskannya, dia tampak terkejut dan langsung meraih tanganku kembali.
Jika aku tidak salah, dia pasti sudah memiliki pemikiran aneh yang berlebihan hanya karena aku tidak menciumnya.
Bagaimanapun Merlin memiliki fobia aneh tentang bagaimana perlakuan dan tindakan aku terhadap dia.
Yah, itu bukanlah hal buruk untukku, tapi sangat tidak bagus untuk kesehatannya jika dia selalu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.
"Tenanglah, kamu bisa meminta APAPUN ketika kita sudah tiba di kastil, ok?"
Ketika datang ke keadaan seperti ini, aku hanya bisa menjanjikan hal-hal serupa untuk membuatnya tenang.
Namun, dia tidak pernah menagih janji seperti itu. Hanya ketika aku menyuruhnya untuk meminta sesuatu agar hutangku terpenuhi, dia baru mau melakukannya.
Hal itu juga berlaku untuk Freya.
Setelah aku memberikan janji, Merlin baru mau melepaskan tangannya.
Untuk saat ini, aku hanya bisa mengelus rambutnya.
Mungkin, aku juga memiliki masalah dengan mentalku kenapa aku harus memberikan batasan-batasan tidak jelas terhadap tindakanku sendiri.
__ADS_1