Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Kamu Yakin?


__ADS_3

Beberapa waktu sebelumnya.


Mengetahui kontaknya dengan Albert terputus, Merlin dengan segenap kekuatannya berusaha untuk mencari tahu alasannya. Kejadian itu sangat tiba-tiba yang memeberikan keterkejutan untuknya.


"Bagaimana?"


"..."


Freya bertanya, namun Merlin hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pasrah.


"Semuanya juga sadar kalau kontak mereka dengan Albert telah terputus dan berusaha untuk mencari tahu alasannya. Namun semuanya sama sepertiku, tidak dapat menemukan penyebabnya."


"Ta-Tapi apa menurutmu Albert baik-baik saja?"


"Soal itu jangan khawatir. Albert bersama dengan Hydra dan Eliza, aku yakin mereka masih baik-baik saja. Percayalah."


"Y-Ya, kamu benar. Kejadian ini tidak pernah kita alami, itu mengacaukan pikiranku sebentar dan membuatku agak panik."


Setelah tinggal lama dengan suami yang tidak tertarik dengan pertarungan, Freya hampir lupa kalau Albert sebenarnya sangat kuat. Faktor panik membuat sebagian orang tidak dapat berpikir jernih.


Kemudian...


"Ha?"


Tiba-tiba Freya terkejut dengan sesuatu.


"Kenapa?"


"Ibuku baru saja menghubungiku, dia berkata kalau ada sekelompok malaikat dari klan Aeghistar sedang menuju ke rumah mereka!"


"Ya ampun Frey, pertama-tama tenangkan dirimu dulu. Di saat seperti ini kita bisa menyerahkan urusan pengawalan keluarga mertua kepada para Einherjar dan Ghidora."


"I-Iya, maafkan aku. Aku hanya terkejut mendengar mereka ternyata datang hari ini."


"Em."


Daripada mengkhawatirkan musuh yang datang, Merlin lebih khawatir dengan Freya yang sedang berbeda dari biasanya.


Dia tahu kalau Freya bukanlah orang yang pikirannya mudah terpengaruh, tapi mengingat kejadian sebelumnya mungkin membuat Freya terganggu.


"Rin, sebaiknya kamu tunggu di sini dan menjaga Nava."


Rin yang kehadirannya sangat tipis akibat masalah yang menumpuk diberikan perintah untuk tetap tinggal.


"Tidak bisa. Tugasku yang sebenarnya adalah untuk menjaga Anda sekalian, saya tidak bisa jauh dari kalian dalam keadaan seperti ini atau Tuan Albert akan marah padaku!"


Rin menolak perintah Freya. Rin adalah servant Albert yang sedang menjalankan tugas untuk merawat kedua istri tuannya. Jika dia meninggalkan sisi kedua orang tersebut, itu sama saja menyelewengkan perintah.


Albert adalah orang yang telah membangkitkan Rin dari kematian. Setelah diberikan bantuan dan lingkungan hidup yang nyaman di kastil ini, Rin sangat berhutang budi padanya. Selain itu, belakangan ini ingatan Rin yang menghilang secara perlahan mulai bermunculan, ditambah dengan kehadiran Nava di kehidupannya, Rin sangat berterima kasih kepada Albert yang telah menghidupkan dia kembali.


Dengan itu, Rin tidak akan pernah meninggalkan tugas dari tuannya, meskipun dia harus menentang keputusan Freya yang mana statusnya lebih tinggi.


"Lalu bagaimana dengan Nava kalau kamu pergi dengan kami untuk menemui musuh? Itu akan membahayakan Nava, kan?"


"Gao...?"


Semua orang melihat Nava. Dan di saat seperti itu, Nava masih saja bertingkah manis dengan memiringkan kepalanya itu.


"Haruskah kalian pergi? Kalian sedang hamil, bagaimana kalian bisa menghadapi musuh? Seharusnya kalian tetap di sini dan serahkan tugas kasar kepada bawahan Tuan Albert yang lain!"


Rin dengan tegurannya, cukup tegas. Di kastil ini, mungkin Rin adalah bawahan pertama yang berani berkata seperti itu kepada Freya dan Merlin.


Freya dan Merlin saling menatap. Jika dipikir baik-baik, mereka memang tidak perlu turun tangan sampai pergi ke kediaman Bestlafiol. Itu semua karena Freya yang mengatakan ingin pergi dan membuat Merlin mau tidak mau harus mendengarkan percakapan tersebut dalam diam.


"Tok! Tok! Tok!"


Seseorang mengetuk pintu. Merlin mengizinkan orang itu membuka pintu, dan Niks berdiri di sana dengan sebuah laporan.


"Baru saja saya menemukan gerbang dunia seraphim terbuka di arah timur laut. Dan saya sudah memastikan kalau kehadiran enam orang tersebut salah satunya merupakan Nodens si kepala klan Aeghistar."


"Ha?"


"Niks, tubuh aslimu seharusnya bersama dengan Albert, kan?"


Freya terkejut dengan isi laporannya, namun Merlin tidak. Dia lebih mementingkan keselamatan suaminya lebih dari apapun.


"Mengenai hal itu, Anda tidak perlu khawatir. Setelah saya bangun, saya menemukan Tuan Albert dan Nona Eliza sedang dalam keadaan baik-baik saja. Mereka hanya terlibat dengan batu Bertuah yang bisa menghilangkan sihir di sekitarnya. Jadi mungkin untuk sementara kita tidak dapat menghubunginya dengan sihir."


"Syukurlah Albert tidak apa-apa."


Freya langsung merasa tenang setelah mendengar kabar baik dari Niks.

__ADS_1


"Jangan lupa kalau kita masih punya musuh yang harus ditangangani."


"Fufufu, mereka hanyalah sekumpulan seraphim tua, mana mungkin mereka bisa menandingi kekuatan tempur Albert, hmph."


"Perubahan yang terjadi begitu cepat padamu membuat aku merinding."


Dengan hembusan napas dari hidungnya seperti kuda dan dada yang membusung, Freya mempercayai bawahan Albert seperti mereka itu adalah sebuah pasukan terkuat di dunia.


Merlin hanya bisa menghela napas melihat Freya bertingkah begitu angkuh, tapi dia sangat senang Freya bisa kembali ke dirinya yang biasa.


\=\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=\=


"Hmph, akhirnya tiba waktunya untukku bisa bertarung melawan salah satu kepala keluarga besar."


Di ketinggian langit, dekat dengan kediaman keluarga Bestlafiol, Cthugha yang memiliki badan besar dengan lambang api di keningnya, memandang kediaman tersebut sambil tersenyum penuh minat.


Dia bersama dengan pasukan malaikat datang ke tempat tersebut atas perintah dari Tuannya, Nodens, untuk menangkap seluruh keluarga Bestlafiol. Dengan alasan keluarga ini telah memberontak.


"Tapi, harus dari mana aku memulainya... Mm, baiklah. Pertama hancurkan dulu penghalangnya. [Blazing Burst]!"


Tanpa memperingati siapapun, Cthugha melancarkan serangan bola besar panas ke arah pelindung kediaman Bestlafiol. Itu menabrak dengan ledakan yang sangat hebat dan membuat penghalangnya hancur seketika.


Di halaman rumah, Julius bersiaga dengan Ghidora, tuan rumah - Carol, Manuel dan Nikolas.


"Wow! Hancur dalam sekali serang. Apakah ini kekuatan dari salah satu "Tiga Komandan Pasukan" Aeghistar?"


"Tidak hanya itu, Jendral Api terkenal dengan sebutan orang terkuat setelah Nodens. Kita mungkin dalam masalah."


"Ini bukan waktunya untuk kagum, tahu! Dasar."


Berkebalikan dengan kondisi ayahnya yang sangat khawatir, Manuel dan Nikolas tampak mengagumi sosok yang disebut jendral api tersebut, yaitu Cthugha.


Namun berbeda dengan mereka bertiga, Julius dan Ghidora tidak memiliki reaksi apapun di wajah mereka. Bahkan setelah melihat komandan pasukan musuh, yang membawa sejumlah pasukan malaikat, telah menghancurkan pelindung tersebut.


(Em, mereka baik-baik saja, kan?) —Pikiran Carol yang sedang melihat mereka berdua diam saja membuatnya sedikit cemas.


Mengesampingkan Ghidora yang asal usulnya masih belum diketahui, Carol sudah pernah bertemu dengan Julius. Namun ketenangan Julius telah membuat Carol bimbang antara ingin tenang atau harus khawatir karena dia tidak mengatakan apapun.


"Ctik!" —Sebuah pemantik api telah membakar rokok Ghidora. Kemudian dia dengan santainya menghisap rokok tersebut dan menghembuskan asapnya. Orang-orang di sekitarnya agak terganggu dengan itu.


"Hei, apa itu?"


Sambil menghisap rokoknya, Ghidora menjawab pertanyaan Julius. Kemudian dihembuskan selesai berbicara.


Pria dengan busana jas dan mantel hitam sedang merokok, itulah penampilan Ghidora sekarang. Dia sangat tenang.


"Sungguh? Aku tidak pernah melihat beliau menggunakan barang itu?"


"Ah tentang itu, dia tidak ingin menggunakan barang ini karena kedua istrinya sedang hamil. Katanya, sesuatu akan menjadi buruk kalau ini digunakan di dekat wanita hamil. Jadi dia hanya menggunakannya ketika sedang bekerja di luar. Barang ini bagus untuk menghilangkan kebosanan."


Dengan kata lain, dia sedang merasa bosan sekarang. Tampaknya seseorang yang disebut jenderal api tidak begitu menarik minat Ghidora. Tapi...


"Kalian berdua, ini bukan waktunya untuk membicarakan itu, kan? Lihat, musuh sudah di sini."


Atau sebenarnya, Cthugha sudah ada di hadapan mereka. Dia mendarat di halaman itu tanpa masalah dan meninggalkan pasukan malaikatnya di langit.


Tidak ada masalah meninggalkan makhluk seperti itu di udara, mereka sudah terbiasa terbang dan kemampuan stabilisasi melayang mereka baik.


"Pak tua, aku tidak melihat pasukanmu di manapun?"


Mengenakan busana serba putih, rambut emas lebat, dan memegang greater sword emas yang panjangnya hampir sama dengannya, Cthugha dengan niat bertanya terlihat seperti sedang menyindir.


Makhluk spiritual seperti seraphim atau entitas yang lebih dikenal dengan sebutan malaikat, memiliki masa hidup yang panjang atau bahkan bisa abadi tergantung pada jalan kehidupan yang mereka pilih.


Dan mayoritas dari mereka memilih untuk mengikuti tren budaya manusia dan menjalani kehidupan dengan bermasyarakat seperti bekerja atau sosialisasi umum lainnya.


Akan tetapi, ada sedikit perbedaan. Kenapa ada tujuh keluarga atau klan besar menguasai sebagian wilayah di dunia seraphim, itu dikarenakan mereka mendapatkan kekuatan dari malaikat yang menyembah mereka.


Namun, di jaman ini Nodens mengontrol sebagian komunitas malaikat dan memberikan mereka tubuh buatan Homunculus. Di sana, ketika Carol bermusuhan dengan Nodens, sebagian malaikat di wilayahnya terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang masih setia dengan Carol, kemudian kelompok kedua adalah kelompok yang memilih ikut dengan Nodens karena mendapatkan Homunculus atau faktor lain, lalu kelompok terakhir adalah mereka yang tidak memiliki keberanian untuk memilih di antara keduanya.


Melihat kekuatan Nodens, tentu saja Nodens lebih unggul daripada Carol. Namun tidak semua malaikat menyembah seseorang karena alasan kekuatan. Bagi mereka, Carol merupakan pemimpin yang baik, tapi mereka juga tidak berani melawan Nodens dan lebih memilih cari aman.


Sekitar 15 hingga 20 persen malaikat di wilayah Carol berpihak pada Nodens, sepuluh persen tidak ingin berurusan dengannya, dan 40 persen masih menjadi penyembah Carol. Sisanya, mereka adalah seraphim liar tanpa ego yang terkadang sering terpanggil ke bumi.


Mendengar ucapan Cthugha membuat Carol sedikit kesal, namun alasan di tempat ini tidak ada pasukan sama sekali karena Carol memang tidak mensiagakan mereka di kediamannya. Melainkan di luar, di markas mereka dekat perbatasan. Bersiaga untuk ancaman monster liar seperti biasa.


"Ctik!" —Suara pemantik api yang sama terulang kembali. Kali ini, Julius yang sedang membakar rokok. Dia menghisap rokoknya, kemudian terbatuk keras setelah itu.


"Nyahaha!!"


"Apa-Apaan ini!? Apa kau tidak salah kalau Tuan Albert menggunakan barang menyakitkan seperti ini?"

__ADS_1


"Hanya karena Tuan Albert menggunakan barang ini bukan berarti kau harus menggunakannya. Aku pikir kau tidak perlu memaksakan diri untuk mencoba apapun yang Tuan Albert suka. Jadi jangan salahkan rokoknya. Ngomong-Ngomong, hampir semua orang juga terbatuk untuk pertama kali mereka merokok, tapi ketika sudah terbiasa, barang ini bisa menghilangkan stress dan kebosanan."


"Be-Begitu ya. (Apa beliau pernah merasa stress juga ketika menggunakan ini?)"


Julius bergumam setelah mengerti betapa tidak enaknya merokok. Namun masih berusaha untuk mencobanya. Seorang pria tampan dengan busana religi sedang merokok.


Pemandangan yang sering Anda temui ketika bertemu dengan pendeta gaul.


"H-Hei, sudah kubilang ini bukan waktunya untuk membicarakan itu."


Untuk ketiga kalinya, Carol mengingatkan orang-orang di sekitarnya untuk bersikap serius. Atau sebenarnya, dia sekarang sudah sadar kalau hanya dia satu-satunya orang di antara mereka yang terlalu serius.


"Siapa mereka, anak buahmu?"


"Mereka ini..."


Carol bingung ingin menjawab apa. Di sisi lain, Cthugha merasa kesal karena Julius dan Ghidora tidak menanggapi kehadirannya.


"Bagaimana?"


"Tidak buruk. Entah kenapa hatiku menjadi tidak tenang, ini memberikan perasaan aneh."


"Eh? Seharusnya barang ini justru memberikan ketenangan, tahu. Apa kau baik-baik saja?"


"Begitukah? Yah, setidaknya ini memang bisa menghilangkan kebosanan. Aku sepertinya akan terbiasa dengan ini."


"Oh, ingat! Jangan gunakan barang ini di kastil, kau mengerti."


"Baiklah."


Dengan rokok, mereka berdua menjadi akrab. Tapi ada seseorang yang tidak suka dengan tingkah mereka berdua.


"Bajingan! Beraninya kalian berdua mengabaikanku!!"


Dengan greater sword yang dia pegang menggunakan kedua tangannya, Cthugha melancarkan serangan kepada mereka.


Munculnya kehadiran Cthugha yang tiba-tiba, membuat Ghidora tidak senang dan memberikan tatapan sinis.


"Denting!!"


Seperti suara dari dua besi yang membentur, serangan pedang Cthugha terhalang oleh pedangnya sendiri.


Atau lebih tepatnya, muncul sesosok Cthugha yang kedua di hadapan Julius dan menghalangi serangan Cthugha yang asli.


"Apa!?"


"[Self-Reflection]."


Di saat Cthugha terkejut, Julius mengumumkan nama skillnya kepada semua orang. Skill yang dapat menduplikasi targetnya, seperti itulah mudahnya memahami fungsi dari skill tersebut.


"Ohh!!" ×2


Dua bersaudara, Manuel dan Nikolas, terkagum dengan keterampilan Julius.


"Ck, sialan!"


Cthugha kesal, dia berusaha mengalahkan dirinya sendiri dan mengalami pertarungan sengit.


"Kakak, bagaimana caramu melakukan itu?"


"Jika bisa tolong ajarkan sihir itu kepada kami!"


Dua bersaudara mendekati Julius.


"Syarat untuk mempelajari sihir ini cukup sulit. Pertama, kalian harus menguasai keterampilan space dimension jump sebagai dasarnya terlebih dahulu. Apa kalian bisa melakukan itu?"


"A- itu sihir yang sangat sulit sekali untuk dikuasai."


"Di keluarga kami, cuma ibu dan kakak perempuan yang bisa melakukannya."


Sebelum berusaha mempelajarinya mereka sudah putus asa. Keterampilan untuk berpindah dimensi itu cukup sulit dimengerti oleh laki-laki di keluarga Bestlafiol, bahkan sihir yang paling umum dari keterampilan tersebut seperti memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain melalui ruang dimensi masih belum mereka kuasai.


"Yah, mungkin dengan belajar dan membiasakan diri, suatu saat kalian bisa menguasainya. Tapi, itu hanyalah langkah awal untuk mempelajari sihirku tadi."


"U-Um, aku akan berusaha."


"Aku juga."


Berkebalikan dengan kalimat mereka yang setuju, suara mereka malah semakin dan semakin melemah. Bahkan sampai sulit untuk didengar.


(Anak-anak ini...) —Carol menghela napas melihat ke-dua putranya sama sekali tidak memiliki motivasi apapun.

__ADS_1


__ADS_2