Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Waktu Luang.


__ADS_3

Baik, aku telah mendapatkan laporan dari Niks bahwa terdapat sekelompok orang sudah memasuki perbatasan wilayah kami sambil menunggangi kuda bersayap.


Kuda bersayap...


Dulu, aku pasti akan senang bisa bertemu dengan makhluk sejenis ini, namun sekarang aku sudah memiliki wawasan yang luas tentang flora dan fauna dunia sihir ini.


Jadi, perasaan ketertarikan ku terhadap Magical Beast sudah tidak pada puncak masa keingintahuan ku sebelumnya.


Ya, aku bersikap biasa-biasa saja, sampai ketika layar monitor muncul di dalam kepalaku dan memproyeksikan keberadaan kelompok asing tersebut.


(Hah! Siapa ini?) —Aku mulai bertanya-tanya, dengan keterkejutan dan keheranan.


Aku tidak mengenal siapa dia, tapi isi hatiku berbisik bahwa aku harus berhati-hati dengan pria tersebut.


Ya, hanya pria 'itu'. Ketiga temannya yang lain tidak terlalu aku pedulikan.


Maaf, ini bukan pembicaraan tentang kekuatan tetapi pembicaraan tentang ketampanan!


(Pria tampan berpakaian keren sedang menuju ke wilayah kami!?)


(Bagaimana ini? Haruskah aku mengusir pria tersebut menggunakan para Familiar?)


Tetapi, tampaknya pria itu cukup kuat. Para Familiar kami sepertinya tidak akan bisa mengusirnya.


Lalu, bagaimana jika menyuruh Niks ke lokasi mereka?


Perindividu Einherjar kami pasti bisa menangani orang tersebut.


Tidak, tidak, tidak. Kenapa aku langsung memutuskan untuk mengusirnya? Seharusnya aku mencari tahu mereka itu siapa dan apa alasan mereka datang ke sini, kan?


Aku harus tenang, tidak boleh berprasangka buruk terhadap seseorang hanya karena dia tampan.


Tapi... Ugh, ketampanannya setara dengan Luminous, Niks, dan Julius! Sekelompok Eksistensi mengerikan yang harus aku waspadai!


Sigh, bertanya informasi lebih kepada Niks, ternyata pria itu adalah Grand Master dari Organisasi Asosiasi Petualang, Tristan Polgreen.


Niks hanya mengetahui sebatas itu, dan belum mengetahui tujuannya datang ke sini.


Dia berasal dari Guild Petualang, dan itu merupakan lembaga keamanan resmi umat manusia.


Jika aku mengusirnya, mungkin aku — atau lebih tepatnya negara kami — akan dicap sebagai musuh oleh mereka.


Lebih baik aku menyambut kedatangan mereka dan bertanya maksud tujuan mereka datang ke sini dengan baik-baik.


Tidak boleh berprasangka buruk. Aku langsung keluar ruangan dan mencari pelayan untuk menyambut tamu.


Kemudian aku langsung menuju ke ruang kerja Merlin dan Freya untuk membicarakan kedatangan mereka.


Biasanya, Luminous selaku ajudan selalu ada di sampingku setiap jam kerja. Tapi belakangan ini dia selalu bersama dengan para Einherjar untuk mengikuti pelatihan khusus mereka.


Tidak hanya Luminous, aku juga menyuruh semua anggota petarung kami untuk lebih memperbanyak jam pelatihan mereka.


Berharap supaya mereka dapat terbiasa dengan pertarungan.


Aku menerapkan kewajiban seperti itu seusai upacara pernikahanku di kediaman Bestlafiol.


Meski belum dipastikan, kami sepertinya akan dimusuhi oleh klan Aegistar. Itu sebabnya aku menyuruh anggota divisi pertarungan untuk menambah jam pelatihan mereka.


Aku merasa tidak enak karena sudah menyuruh mereka melakukan hal membosankan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi.


Jika kita kalah dari klan tersebut, kita pasti tidak akan mendapatkan kehidupan nyaman yang selama ini aku impikan.


Jadi, mereka harus menahannya sampai kita dapat memastikan bahwa klan itu tidak memusuhi pihak ini. Atau setidaknya sampai kami lebih kuat daripada mereka.


Yah, sebenarnya aku sangat yakin bahwa kami sudah mengungguli kekuatan mereka. Dua Divine Monster — Hydra dan Leviathan — yang memberikan klaim tersebut.


Mereka mengatakan kalau kami sudah berada di dimensi yang sangat berbeda dengan beberapa makhluk kuat dari dunia ini.


Meski begitu, aku seharusnya senang mendengar kabar baik itu. Tapi... Tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa kami bisa dikirim ke sini. Bahkan pelaku yang mengirim kami masih tidak diketahui.


Oleh karena itu, aku hanya bisa berharap kalau kami memang sudah menjadi keluarga yang kuat.


Memasuki ruangan, kedatangan aku tanpa mengetuk pintu membuat orang-orang di dalam ruangan menghentikan pekerjaan mereka.


Aku tidak memperdulikan itu dan langsung duduk di sofa.


"Ah, aku harap hari-hari damai ini bisa terus berlanjut."


Dan berdoa dengan perasaan tidak nyaman.


Aku lupa kalau mengatakan hal-hal seperti itu biasanya justru malah mengundang masalah.


"Kamu mengatakan apa barusan?"


Merlin menanggapi, sambil menuju ke arahku untuk melayaniku menuangkan teh.


"Bukan apa-apa."


Bersikap seperti "semua baik-baik saja" merupakan perilaku yang harus diterapkan untuk kedamaian Rumah Tangga.


Dengan senang hati, aku meminum teh yang telah disediakan oleh salah satu istri terbaikku.


Bila tidak ada urusan, aku sangat jarang mendatangi ruangan ini. Karena setiap kali aku datang, Merlin menghentikan pekerjaannya untuk melayaniku.

__ADS_1


Yah, itu bukanlah hal buruk dan pekerjaan masih bisa dikesampingkan. Meski demikian, aku masih merasa tidak enak dengan Merlin. Itu seperti aku telah mengganggu pekerjaannya.


Oleh karena itu, aku jarang mengunjungi tempat ini kalau tidak ada keperluan. Karena setiap kali Merlin mengurusku, pekerjaannya akan menumpuk karena tertunda.


Sedangkan Freya, dia selalu fokus pada pekerjaannya, tidak pernah merawatku karena sudah ada Merlin yang melakukannya.


Itu juga bukanlah hal buruk. Tapi sesekali, aku ingin dia menyingkirkan pekerjaannya dan beristirahat ketika aku datang.


"Merlin."


"Iya?"


Karena aku mengatakan "Bukan apa-apa" barusan, Merlin jadi tidak bertanya lebih jauh. Dan aku harus mengatakan sesuatu untuk memulai pembicaraan.


Kemudian aku mendekatkan wajahku dan mencari telinga Merlin untuk berbisik "Kita kedatangan tamu." di telinganya.


Wajah Merlin seperti mengatakan "Kenapa harus berbisik?" seperti itu, agak terheran dengan apa yang sedang aku lakukan.


"Siapa tamu itu?"


Dia bertanya dengan pelan seperti sedang mengikuti permainannya, suara dan wajahnya serba manis ketika mengatakan hal tersebut.


Aku cukup terkejut melihat Merlin juga mengikuti hal konyol yang aku lakukan. Padahal aku yang memulai itu, tapi aku malah heran.


Suara "kusuk-kusuk" dari pena Freya yang sedang bekerja, mulai berhenti ketika aku dan Merlin melanjutkan pembicaraan dengan berbisik.


Dia pasti penasaran dengan apa yang sedang kami bicarakan. Sayangnya, Persepsi Sihir tidak berlaku karena aku telah membuat area kedap suara di sekitar kami agar suara kami tidak didengar oleh siapapun.


*Stak*


"Aduh!"


Merasa kesal, Freya melemparkan penanya ke kepalaku, cukup keras.


"Hei, jangan melempar benda sembarangan begitu! Bagaimana jika itu mengenai mataku!?"


Aku protes.


*Bang*


Dan Freya langsung memukul meja.


"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kalian berbicara diam-diam seperti itu!?"


Dan memprotes balik diriku.


"Memangnya salah melakukan hal itu? Kami hanya tidak ingin mengganggu pekerjaan kalian, tahu!"


Ah! —Pada detik itu, aku ingin sekali menggunakan sihir Teleportasi untuk melarikan diri.


Tapi kurasa, tidak ada tempat yang bagus untuk menampung pelarianku nanti. Jadi aku menyerah dan berharap masih bisa menyambut tamu tidak dikenal kami dengan wajah cerah.


Ngomong-ngomong, semenjak aku menyuruh Freya untuk tidak perlu menahan dan boleh menjadi dirinya sendiri, dia berubah menjadi seperti itu. Tidak melihat aku sebagai Pahlawan lagi, melainkan sebagai suami yang statusnya sederajat.


Jujur, aku sangat senang karena sekarang dia mau memperlihatkan kepribadian aslinya, bahkan sangat senang sekali. Entah kenapa, aku seperti selalu mendapatkan kenikmatan dari sifat disiplin Freya itu.


Sangat aneh. Aku tidak tahu itu disebut dengan apa. Mungkin diantara kalian ada yang mengetahui istilah istilah unik untuk menamai kenikmatan tersebut.


Setelah Freya selesai melampiaskan amarahnya padaku, dia duduk tenang di sebelah kiriku. Mengambil cangkir kosong, menuangkan tehnya sendiri, kemudian meminumnya.


Dia marah dan benar-benar memukulku, tetapi menyesali perbuatannya setelah amarahnya mereda.


Sungguh, wanita yang aneh. Tapi aku tidak membencinya.


"Barusan kamu membicarakan apa dengan Merlin? Katakan juga itu padaku."


Freya bersikap manja. Dia sangat manis di saat-saat seperti ini.


"Tidak ada hal khusus. Kami hanya akan kedatangan tamu."


"Tamu? Kenapa membicarakan tamu harus dengan berbisik? Bahkan sampai harus menerapkan penghalang supaya kami tidak dapat mendengarkan pembicaraan kalian berdua!?"


"Sudah kubilang "aku hanya tidak ingin mengganggu pekerjaan kalian", kan?"


"Albert, aku bertanya serius."


"Maafkan aku."


Menghilangnya sifat manis Freya secara tiba-tiba membuat aku terkejut dan langsung meminta maaf.


Padahal aku memang sudah berbicara jujur dan serius menanggapi pertanyaannya.


Kalau saja aku berbicara normal dan dapat didengar olehnya, dia pasti tidak akan penasaran dan tidak akan menghentikan pekerjaannya.


Dengan kata lain, aku berbicara sembunyi sembunyi hanya untuk menarik perhatian Freya, supaya dia mau menghentikan pekerjaannya.


Yah, sebenarnya tanpa melakukan hal itu, aku bisa meminta dia berhenti bekerja dan mendengarkan permintaanku. Hanya saja, menarik perhatiannya lebih menyenangkan untuk dilakukan.


Dan akhir-akhir ini aku bahkan selalu memulai pertengkaran dengannya hanya untuk melihat sisi manisnya.


Dan mendapatkan perlakuan tegas darinya juga menjadi hobi baru untukku.


Baik, kesampingkan itu.

__ADS_1


Aku memberi tahu perihal kedatangan tamu tidak diundang kami, Tristan, ke kota ini kepada Freya. Dan tujuanku datang ke sini untuk bertanya, apa pun yang Freya ketahui tentang Tristan.


Mendengar pertanyaan ku, Freya kemudian menjelaskan apapun yang dia ketahui tentang Tristan. Bahkan sampai hubungannya dengan pria tersebut juga dijelaskan.


Meski begitu, semuanya masih tetap sama seperti penjelasan penjelasan Freya yang selama ini dia ceritakan tentang Guild Petualang.


Dan untuk hubungannya dengan Tristan, itu hanya sebatas teman. Atau mungkin rekan kerja karena Freya juga termasuk ke dalam anggota organisasi yang telah didirikan oleh Tristan itu. Dia pernah menjadi anggota partynya.


Entah itu menjadi teman atau rekan, kedua kata itu seperti telah menekan dadaku. Aku mengerti kalau ini mungkin yang disebut dengan "Cemburu".


Ini bukan pertama kalinya aku cemburu dengan seseorang, tapi untuk kali ini terasa sangat tidak nyaman.


"Apa hanya itu saja yang kamu ketahui, Freya?"


Aku bertanya.


"Iya. Meskipun kami berteman, tetapi kami jarang ber-- Eh, kenapa matamu seperti itu?"


Perkataan Freya terpotong di tengah karena terkejut setelah melihatku.


"!?"


Nah, aku sendiri ikut terkejut melihat reaksi Freya seperti itu ketika melihatku.


"Ada apa dengan mataku?"


Sambil meraba-raba area di sekitar mata, aku bertanya.


"Barusan, Mata Iblis mu muncul. Apa kamu tidak menyadarinya?"


"Mata Iblis...? Aku tidak berniat menunjukannya."


"Itu artinya, mata itu muncul dengan sendirinya, ya? Tapi kurasa, ada sesuatu yang memicu munculnya mata itu tanpa kamu sadari. Dan pemicunya mungkin—"


Seperti sedang memecahkan teka teki, Freya mulai berasumsi dan membuat aku dan Merlin penasaran. Kemudian dia melanjutkan...


"—Perasaan hati. Sepertinya ketika perasaan hatimu sedang buruk, mata itu akan muncul, Albert."


Itulah yang dia katakan dengan wajah keyakinan.


"Dari mana kamu tahu kalau ini karena perasaan hatiku?"


"Intuisi? Entah kenapa aku bisa merasakan kalau perasaamu sedang tidak baik sekarang."


"Ehhh...?"


Jawaban yang tidak logis. Tetapi sekarang aku memang memiliki perasaan yang rumit, entah karena apa.


Mungkin Freya memang bisa merasakan apa yang sedang aku rasakan hanya dengan intuisinya? Jika seperti itu, apa memang hati kami sudah terhubung secara langsung?


Yah, kami sudah melakukan banyak hal, dan diantara hal tersebut mungkin saja ada suatu ritual yang dapat menghubungkan hati kami melalui koneksi jiwa? Fufu.


Ah, sudahlah. Semakin dipikirkan malah semakin banyak pertanyaan yang muncul. Freya juga tampaknya tidak mengetahui apa-apa.


Sekarang sangat penting untuk mempersiapkan diri menyambut tamu dan memikirkan masalah Mata Iblis setelah pertemuan selesai.


Ah, mungkin aku juga harus mencari alasan yang bagus tentang masalah perang kemarin.


Mereka jauh-jauh datang ke sini pasti memiliki alasan dan salah satu alasannya mungkin dikarenakan hal tersebut.


"Kesampingkan mata iblisnya dan fokus pada tamu kita kali ini. Aku berpikir, mungkin kedatangan mereka merupakan kesempatan bagus untuk berbisnis."


Aku tiba-tiba mendapatkan sebuah ide yang cukup cemerlang.


"Bisnis?"


"Bukanya kamu sudah cukup banyak bekerja akhir-akhir ini. Tidak bisakah kamu beristirahat sebentar?"


Merlin bertanya kembali, dan Freya cukup mengkhawatirkan kondisiku karena aku memang sedang banyak pekerjaan belakangan ini.


"Tenang saja, kali ini aku hanya ingin mengenalkan sebuah alat kepada mereka, termasuk kepada kalian juga. Dan ini tidak akan menggangu pekerjaanku yang lain."


Aku meyakinkan Freya supaya tidak perlu mengkhawatirkan aku.


Kedua perempuan ini sekarang sedang memasang wajah penasaran karena aku tidak mengungkapkan alat seperti apa yang akan aku tunjukan kepada mereka.


"Ah, sepertinya aku harus menunjukkannya kepada orang "Itu" Juga."


Berbicara tentang bisnis, aku langsung mengingat sosok yang sangat cocok untuk hal-hal seperti itu.


"Orang yang kamu maksud pasti si Martin itu, kan?"


"Ya, karena teman bisnis Albert hanya dia seorang."


Merlin mencoba menebak, dan Freya bisa menarik kesimpulan dengan mudah.


Mereka bisa menebak dengan benar karena memang tidak banyak orang yang bisa bekerjasama denganku.


Ini terlihat seperti aku tidak punya banyak teman, kan? Sangat menyedihkan.


Sepertinya bukan hanya putriku yang kekurangan teman, tetapi aku juga. Mungkin lebih baik bila aku mencari lebih banyak teman. Dan kebetulan terdapat tamu pria yang mungkin bisa aku ajak berteman.


Aku akan berusaha untuk berteman dengan tamu yang satu ini. Meskipun dia tampan dan membuat aku selalu ingin mengutuknya, tapi dia adalah ketua sebuah organisasi besar. Berteman dengannya pasti akan mendatangkan kebaikan untuk bisnis, organisasi, dan keluargaku.

__ADS_1


__ADS_2