Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Rahasia Dibalik Penutup Mata.


__ADS_3

"Niks, apa kau sudah mengerti situasinya?"


Aku bertanya.


"Ketika Anda mengambil Kami dari dalam inventaris, aku langsung menyadarinya dan mulai memperhatikan Anda."


"Jadi, kau benar-benar mengawasi aku, kan?"


"... S-Saya sangat menyesal, Tuanku."


Niks tampak merasa bersalah.


Tetapi, entah kenapa aku tidak bisa marah hanya karena itu. Niks sudah hidup di dalam inventaris selama ratusan tahun, hanya dengan diam di dalam kegelapan pasti membuatnya bosan.


Selain itu, aku tidak pernah menyuruh dia untuk menjauhkan matanya dariku. Oleh karena itu, aku akan terlihat seperti majikan bodoh jika aku memarahinya.


"Itu artinya, kau sudah mengerti situasinya. Aku ingin bertanya apa kau mau melayani ku?"


"Tuanku, sejak Anda menciptakan kami, pada detik itu juga, kami para Roh sudah menjanjikan kesetiaan kepada Anda. Kami tidak akan pernah meragukan kehendak Anda. Jika Anda ingin kami mati, kami siap untuk mati."


Pernyataannya sedikit mengerikan.


Aku mulai melihat ke arah Damara dan Diego, mereka juga mengambil posisi berlutut seperti kesatria seolah-olah menyetujui apa yang dikatakan oleh Niks.


Menciptakan, ya. Mereka memang tidak dapat langsung dibeli dari toko. Meningkatkan level mereka membutuhkan kerja keras Pemain itu sendiri.


Namun, Pemain lain juga memilikinya. Jika salah satu dari mereka terkirim ke dunia ini sama seperti aku, apa mereka juga bisa memanggil Niks? Atau mereka akan memanggil Niks kedua, ketiga, dan seterusnya?


Yah, sejauh ini keberadaan orang dari dunia asalku masih dipertanyakan. Selain itu, jika mereka benar-benar datang ke sini, mereka belum tentu memiliki kastil.


Seperti aku yang ke sini dengan tangan kosong. Hanya karena kebetulan aku bisa bertemu dengan Hydra dan kastil ini secara bersamaan. Tidak, itu bukan kebetulan, itu adalah keberuntungan luar biasa tinggi.


Tanpa Hydra, aku pasti akan kalah melawan Darkness. Dan tanpa kastil, aku tidak akan pernah bertemu dengan para mantan NPC.


"Aku senang mendengarnya. Ngomong-ngomong, kenapa kamu menutup matamu dengan kain?"


Bahkan sebelum aku tiba di dunia ini, aku selalu penasaran dengan karakter misterius yang mengenakan penutup mata.


Sepertinya, hampir di setiap game laga memiliki beberapa karakter dengan penutup mata.


Karena saat ini aku bisa berinteraksi dengan salah satu karakter seperti itu, tentu saja aku harus bertanya, kan?


Itu memang merupakan privasi mereka, namun aku adalah majikan mereka. Memiliki akses informasi mereka merupakan pekerjaan khusus seorang pemimpin.


Niks melihat ke arah Damara dan Diego, dia terlihat agak ragu. Sedangkan Damara dan Diego sedang melihat ke arah Niks dengan penasaran.


Aku bisa menilai bahwa Niks merupakan orang yang sangat misterius, bahkan rekan sesama Roh seperti mereka tidak mengetahui wajah asli Niks.


Niks mulai berdiri dan ingin melepas bandana di kepalanya, namun...


*WUS*


Tiba-tiba, seluruh lokasi menjadi gelap dan hanya menyisakan kami berdua. Tidak, itu tidak gelap. Kami hanya sedang berada di dalam ruangan yang tertutupi oleh bidang hitam. Aku mengetahui itu karena aku masih bisa melihat tubuh Niks dengan jelas, walaupun tidak ada pencahayaan apapun.


Perubahan mendadak itu benar-benar membuat aku terkejut. Aku bahkan sampai tidak bisa menyembunyikan keterkejutan ku.


Mau bagaimana lagi, diselimuti oleh bidang hitam secara mendadak pasti akan membuat seseorang merasa takut. Bahkan pria berotot kekar dengan kumis pasti akan berteriak "Kyaa!" jika mengalami kejadian seperti ini.


Ah, lupakan itu.


Niks mulai melepaskan bandana dan aku bisa melihat sebuah mahakarya dewa di sana.


Alis tipis dan bulu mata panjang serta lentik berwarna perak berkilau. Kemudian mata berisi bak bintang pun berwarna perak bercahaya.


Ada apa dengannya? Sangat keren!!


Nah, sekarang aku menjadi yakin kenapa pria ini disebut sebagai "Niks". Dia benar-benar terbuat dari tangan dewa, sangat mengesankan.


"Tuanku?"


Niks bertanya sambil melihat aku dengan matanya yang menyihir.


"A-Ahem, maafkan aku. Aku tidak menyangka kamu memiliki mata yang bagus. Kamu masih bisa melihat, kan?"


Ku... Sial. Dia sangat tampan!!


Padahal aku benar-benar sangat JIJIK mengakui ini tetapi entah kenapa aku sangat terpesona.


Dia akan menjadi pria berbahaya kedua setelah Luminous yang bisa mengancam posisiku sebagai suami Merlin dan Freya. Ugh, kenapa di sekelilingku banyak sekali pria seperti ini?


"Tentu saja, Tuanku. Mata ini bisa menangkap pergerakan benda sekecil apapun di dalam kegelapan."


Niks menjelaskan dengan tenang.


"Itu bagus. Ah, benar juga. Aku ingin kamu berhenti memanggil aku seperti itu. Panggil saja aku Albert."


"Dimengerti. Mulai sekarang saya akan memanggil Anda "Tuan Albert"."


Dengan itu, kami mengakhiri pertemuan rahasia ini.


Niks menghilangkan bidang hitam dan tanpa aku sadari — dia sudah mengenakan bandana. Sungguh pria yang terampil.


Melihat Damara dan Diego, sepertinya mereka merasa tidak senang karena tidak bisa melihat mata tersembunyi Niks.


Melanjutkan kegiatan. Setelah mendengar kalimat Niks tentang Roh akan selalu setia kepadaku, membuat aku merasa lega untuk membangunkan peserta lainnya.


Hydra memulai proses menyuntikan Mana kepada mereka sekaligus.


Setelah semua — Veronika, Raphael, dan Julius terbangun secara bersamaan.


Pertama, memeriksa kondisi badan mereka masing-masing dilanjutkan dengan mencari informasi dari situasi di area sekitar.


Ketika mereka melihat Damara dan Diego, kedua Roh itu tersenyum ke arah mereka.

__ADS_1


"Ini... Apa yang terjadi?"


"Aku sedikit pusing."


Kondisi mereka sepertinya tidak jauh berbeda dari yang lain, sedang melakukan proses menata memori.


Damara dan Diego menjelaskan dengan singkat apa yang mereka ketahui kepada Veronika, Raphael, dan Julius.


Karena mereka mengalami hal yang sama, aku pikir mereka dapat saling memahami. Lalu, sampai pada bagian di mana aku harus tampil.


"Albert...?"


Veronika menatap aku dengan bingung. Lalu melanjutkan...


"Apa itu kamu, Albert? Aku... Tidak bisa berdiri. Bisakah kamu membantuku?"


Veronika terlihat tidak dalam kondisi yang cukup bagus.


Aku bertanya-tanya, apa tubuh boneka itu tidak cocok untuknya?


Sambil memikirkan hal itu, aku menghampiri Veronika dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.


"Lebih dekat, aku benar-benar tidak bisa berdiri."


Veronika mengulurkan kedua tangannya seolah-olah ingin meraih tubuhku.


"Apa ada masalah dengan tubuhmu?"


Aku khawatir dan langsung menghampiri Veronika.


Dia tidak menjawab dan langsung melingkarkan kedua tangannya di leherku. Menempatkan kepalanya di pundakku dan berbisik "Gendong aku." dengan suara yang sangat lembut.


"Tunggu, apa kamu baik-baik saja, Veronika?"


Aku memanggil namanya seakan-akan kami adalah teman dekat. Tetapi, itu karena dia sudah memanggil aku dengan nama lebih dulu.


"Gendong aku, itu akan membuat aku sembuh."


"Eh?"


"Aku sangat kesakitan. Aku sangat merindukanmu, aku terlalu lama menahan kerinduan ini. Itu sebabnya dengan digendong olehmu, akan membuat kerinduanku terbayar."


"Kamu mempermainkan aku?"


"Tidak, aku tidak mempermainkan kamu. Aku sungguh sangat merindukan kamu."


Setelah mengatakan itu, Veronika langsung mencium pipiku, bahkan tanpa meminta persetujuan.


Dia benar-benar menyerangku!!


Selain itu, karena terlalu khawatir, aku tidak sadar bahwa tubuh Veronika sudah sepenuhnya memeluk diriku.


Aku bisa merasakannya di sana, dua gumpalan empuk miliknya. Ditambah dengan ingatkan aku sebelum Veronika dibangkitkan, semua menjadi sangat panas!!


Tiba-tiba, Raphael menarik tubuhku ke arahnya.


Karena posisi kami bersebelahan, dia bisa dengan mudah menjangkau ku.


Memasuki fase ke dua. Setelah Raphael meraih tanganku, dia langsung menaruhnya di tengah-tengah gumpalan aset miliknya.


Tunggu, pakaian Raphael sangat tipis, dan aku bisa merasakan semuanya. Ditambah dengan ingatan sebelum Raphael mengenakan pakaian, semua semakin dan semakin memanas, sial!


Ini gila, ini sangat gila!!


"Apa kau bilang, suami? Aku tidak memiliki ingatan kalian pernah menikah?"


"Hmph, setelah ini aku akan menikah dengannya! Aku sudah mengerti kenapa Albert membuatkan aku tubuh. Semua ini pasti untuk itu!!"


"J-Jangan terlalu banyak mengkhayal. Wanita tua sepertimu mana mungkin disukai oleh Albert! Selain itu, dia juga membuatkan aku tubuh, sudah pasti dia menyukaiku juga!"


"T-Tua kau bilang? Kufufu, anak muda sepertimu masih belum pantas untuk berpacaran, apalagi membahas pernikahan. Cepat lepaskan Albert!"


"Usia tidak mencerminkan hati seseorang, siapapun boleh bercinta sesuka mereka. Dan jangan pernah memberi aku perintah, aku bukan pelayanmu!"


Selagi mereka beradu mulut, mereka juga saling menarik tubuhku ke arah mereka.


Kesenangan sebelumnya yang aku rasakan sudah benar-benar menghilang karena perdebatan mereka.


Selain itu, jujur saja, aku lebih menyukai wanita yang lebih tua dariku. Usia dua puluh ke atas dengan tubuh bagus lebih disukai.


Kesampingkan itu. Aku mulai mencari bantuan ke arah Damara dan Diego.


Mereka berdua mengerti dan mencoba untuk membantu. Dimulai dari Damara...


"Hei, sudah cukup. Jangan menarik Tuan kita seperti--"


Sebelum Damara bisa menyelesaikan kalimatnya, Veronika mengatakan "Berisik!!" dan langsung menyingkirkannya.


*Boom*


Ledakan terjadi di dekat Damara dan membuat dia terlempar hingga menabrak dinding.


Beruntung Diego merupakan Roh elemen, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh sihir milik Veronika. Namun, dia berhenti untuk mencoba membantu.


Dua orang yang tidak berguna.


Veronika dan Raphael masih melanjutkan perdebatan, mereka sama sekali tidak berniat untuk melepaskan aku dari genggaman masing-masing.


Aku selalu meminta untuk dilepaskan, tetapi mereka selalu menghiraukannya dan tetap melanjutkan perdebatan.


Kemudian Niks mulai mendekati kami.


"Kalian berdua. Hentikan ini."

__ADS_1


Niks berkata dengan pelan.


"Jangan memberi perintah."


"Benar, hanya Albert yang boleh memerintah aku."


Mereka berdua merasa tidak senang secara bersamaan. Untuk suatu alasan, mereka cukup kompak.


"Aku bilang hentikan! Kalian sudah terlalu banyak membuat masalah kepada Tuan Albert!"


Niks menegur mereka dengan tegas hingga mereka terdiam. Lalu, mereka berdua mulai memperhatikan aku dengan wajah bersalah.


"Err, sudah, sudah. Aku tidak apa selama kalian mau melepaskan tanganku. Selain itu, aku sudah memiliki istri. Kalian seharusnya mengetahui ini, bukan?"


Benar, mereka seharusnya sudah mengenal Merlin dan Freya.


"Wanita yang Anda maksud pasti Nyonya Merlin dan Nyonya Freya, kan? Bukankah tidak apa jika hanya menambah satu istri lagi?"


"Benar, hanya memiliki dua istri tidak akan membuat anda menjadi raja. Tambahkan aku ke dalam daftar istri Anda. Aku akan dengan senang hati melayani Anda setiap malam."


Bujukan dan rayuan Iblis mulai bermunculan.


Aku mulai bertanya-tanya apakah mereka benar-benar entitas Mulia seperti Roh pada umumnya?


Tidak, kenyataan bahwa mereka berada di peringkat Legendaris membuat mereka tidak bisa disamakan dengan Roh biasa.


"Dengar, aku tidak bisa mengkhianati kepercayaan istriku. Dan juga, kalian sudah memiliki tubuh untuk bisa hidup di dunia ini. Kalian bisa bebas memilih untuk menjalani kehidupan seperti layaknya makhluk hidup biasa."


Dengan kalimat itu, aku menjadi seorang pria termunafik di dunia.


Seorang pria sepertiku yang memiliki nafsu besar, tentu saja sangat menyukai wanita cantik seperti mereka dan sangat tertarik memiliki banyak selir.


Namun, jika aku boleh jujur. Aku sebenarnya sangat takut bila dibenci oleh Merlin atau Freya.


Cukup dengan menjaga hubungan kepercayaan dan keharmonisan rumah tangga, kupikir itu sudah menyenangkan.


Yah, sebenarnya aku tidak memiliki hak untuk mengatakan itu setelah memiliki dua istri.


"Kufufu, seperti yang diharapkan dari pria terkasihku. Kamu benar-benar hebat."


"Benar, sifat seperti ini yang aku sukai dari dirimu."


Mengatakan itu, mereka berdua langsung mencium pipiku dan mulai melepaskan genggaman mereka.


"Tapi ingat ini, aku tidak akan menyerah untuk menjadi istrimu."


"Ya, jika kamu ingin menghilangkan stres, kamu boleh datang ke kamarku. Bagaimanapun juga, hanya kamu satu-satunya orang yang aku cintai."


Mereka mengatakan itu setelah menciumku.


Kata-kata mereka benar-benar membuat imanku terguncang. Jadi, aku hanya bisa tertawa kering di sana.


«Tch, dasar pria.»


Aku sepertinya mendengar Hydra mengatakan sesuatu, tapi aku menghiraukannya karena aku sedang menatap Julius.


Sejak awal, Julius hanya menyaksikan perbincangan kami dengan diam.


"Ada apa julius? Kau baik-baik saja, kan?"


Aku bertanya, dan Julius seperti telah tersadarkan kembali dan langsung membenarkan posisinya, dia langsung bertekuk lutut.


"Senang melihat Anda baik-baik saja, Tuanku. Dan untuk pertanyaan Anda, sebenarnya saya hanya sedikit heran dengan aura Anda. Bolehkah saya bertanya tentang satu hal?"


Hmm? Ada apa dengan auraku? Apakah dia menyadari bahwa aku berbeda dengan karakter di dalam game?


Jika itu benar, dan dia ingin membeberkan fakta ini, bagaimana kelanjutan dari cerita ini!?


"Apapun itu, tanyakan saja kepadaku. Aku akan menjawabnya jika aku bisa."


"Kalau begitu... Aura Anda sedikit berbeda, atau mungkin sedikit tercampur? Saya sejak awal tidak mengerti ini."


Aura berbeda? Sedikit tercampur? Tunggu, apa yang dia maksud adalah keberadaan Hydra?


«Bahkan dengan bergabungnya jiwa kita, dia masih bisa merasakan perbedaannya. Dia sangat berbahaya, Master.»


Jadi dia benar-benar bisa melihat perbedaan jiwa? Sehebat apa pria bernama Julius ini?


Sebelum aku menjawab, aku ingin memastikan sesuatu.


Aku mulai melihat ke arah Niks.


"Sejak di dalam inventaris, saya sudah merasakannya. Aura Anda memang sedikit tercampur dengan hal lain. Namun saya sangat yakin bahwa Anda adalah Tuan Albert."


Niks juga merasakannya. Kemudian aku beralih ke Veronika dan Raphael.


"Hmm? Aku tidak merasakan apapun."


"Aku juga sama."


Keduanya berkata jujur.


Sedangkan untuk Diego dan Damara — yang baru saja bangkit —, mereka berdua menyetujui pendapat Veronika dan Raphael dengan mengangguk.


Di sini perbedaan kekuatan sudah mulai terlihat. Pria Julius dan Niks ini benar-benar memiliki kekuatan di atas mereka.


Haruskah aku merasa senang karena sudah dilayani oleh dua orang kuat seperti itu?


Melihat mereka bukan anggota keluarga — tidak sama seperti Merlin dan mantan NPC yang lainnya — aku agak meragukan kesetiaan mereka.


Sigh, di saat-saat seperti ini, apakah tidak ada sihir yang mampu membuat seseorang menjadi loyal?


Aku pikir, sihir seperti itu seharusnya ada di dunia ini, kan? Aku tidak ingin dihantui oleh kecemasan seperti ini selamanya.

__ADS_1


Atau mungkin, aku harus membuatnya sendiri nanti supaya ketika datang ke kondisi seperti ini — aku tidak akan merasa khawatir lagi.


__ADS_2