
"Aku sudah memperkirakan kalau ini adalah kota yang bagus pada saat kita melihatnya dari kejauhan tadi, tapi tidak kusangka akan sebagus ini ketika melihat semua bangunannya dari dekat."
"Benar, ini sangat menakjubkan!"
"Apa semua ini dibuat hanya oleh para naga?"
Setelah masuk ke dalam kota— Grandine, Datra, dan Ivan mengutarakan pendapat dan rasa penasaran mereka terhadap keindahan kota.
Mereka melihat seluruh bangunan dan fasilitas dengan antusiasme, begitupun dengan Tristan.
Dan melihat mereka semua begitu terkesan dengan bangunan kota membuat Carla juga ikut senang.
Karena hasil kerja sama semua orang, kota dapat dibangunin dengan baik.
Itu juga menyadarkan Carla bahwa bangunan di kota ini lebih bagus daripada bangunan di negara-negara tetangganya.
Setiap rumah memiliki eksterior yang minimalis dan berwarna, seperti kompleks perumahan metropolis. Prasarana seperti lampu dan tanda jalan juga dipasang dengan baik sesuai pada tempatnya.
Ini adalah kota revolusioner yang sangat baik untuk ditinggali.
Sambi dipandu oleh Carla, mereka terus berkendara. Hingga sampai ke salah satu bangunan yang cukup besar.
"Itu adalah Sekolah, satu-satunya tempat yang memberikan pendidikan kepada orang-orang yang ingin belajar di kota ini."
Carla menginfokan hal itu kepada para tamu. Karena mereka terlihat cukup penasaran jadi dia memberitahu mereka.
"Akademi, ya. Ini terlihat tidak cukup besar."
Tristan membedakan sekolahan itu dengan Akademi-Akademi yang berada di negara lain. Berkat pendapat ini mereka semua menghentikan perjalanan untuk membicarakan sekolah.
Ukuran Akademi biasanya bisa sampai menandingi ukuran luasnya Istana suatu Kerajaan, namun sekolah itu hanya seukuran Mansion yang memanjang ke belakang dengan lapangan.
"Ah, itu karena kota ini tidak terlalu memiliki banyak populasi."
"Benar juga. Aku bisa melihat kalau tempat ini cukup sepi."
"Err, sebenarnya kegiatan belajar mengajar mereka dilaksanakan pada pagi hari dan selesai sebelum jam makan siang. Karena sekarang jam makan siang sudah lewat, mereka semua sudah kembali ke rumah masing-masing."
"Oh, begitu ya."
Carla meluruskan kesalahpahaman Tristan.
"Memangnya tempat ini mempunyai berapa banyak murid?"
Grandine terlihat cukup penasaran dengan sekolah tersebut. Dia terus saja memperhatikan dua orang— yang tampaknya menjadi seorang pengajar — di depan sekolah tersebut.
Dua orang itu sedang mengobrol di depan pintu masuk gedung sekolah. Salah satunya adalah seorang Gnome dan yang lainnya seorang Elf.
"Sekitar 800 orang dari berbagai usia. Tapi mayoritas adalah anak-anak."
Carla menjawab pertanyaan Grandine.
"Hmm..."
Grandine masih terus memperhatikan dua orang yang berada di depan pintu masuk gedung sekolah.
Lapangan cukup luas, jarak antara mereka dengan pintu masuknya cukup jauh.
"Ada apa?"
Melihat Grandine begitu terpaku dengan dua orang yang berada di depan gedung membuat Carla ingin bertanya.
"Ah, tidak. Seseorang di sana terlihat seperti Elf yang kukenal, tapi tidak mungkin dia berada di sini. Jadi mungkin aku salah orang."
Grandine khawatir membuat Carla salah paham.
"Elf yang kamu kenal? Hmm, tapi mungkin saja kamu memang mengenalnya, Nona Grandine."
"Eh?"
"Sebenarnya Elf itu bukan penduduk kami. Kalau tidak salah, namanya... Ah! "Lyadriel". Iya, seingatku, dia adalah Lyadriel, salah satu bawahan Nona Hestia."
Carla berhasil mengingat nama Elf tersebut. Dia senang karena masih bisa mengingat siapa saja bawahan Nona Hestia.
Sangat jarang Albert memiliki tamu yang datang ke kastilnya. Jadi ketika Hestia dan para Raja dari tiga Kerajaan datang, itu membuat orang-orang di kastil cukup sering membicarakan mereka.
Sementara Carla senang karena berhasil mengingat nama tamu-tamu sebelumnya, Grandine dan Tristan sebaliknya justru terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Carla.
"A-Apa!? Jadi, dia benar-benar Paduka Lyadriel? Sang Raja Kerajaan Alvhein?"
"I-Iya..."
"Anda baru saja menyebut nama orang yang kukenal. Apakah dia juga pernah datang ke sini?"
__ADS_1
"E-Eeeh...?"
Dibawah tekanan kedua orang yang terkejut, Carla dibuat kerepotan.
Juga, teriakkan Grandine membuat Lyadriel dan seorang Gnome yang sedang berbicara dengan Lyadriel — Endrin — melihat ke arah mereka berlima.
Bingung dengan apa yang terjadi, kedua orang tersebut saling memandang dan memutuskan untuk menghampiri Carla dan yang lainnya.
Ketika Carla sedang menjelaskan keberadaan Lyadriel dan kejadian datangnya Hestia ke kota ini kepada Grandine dan Tristan, akhirnya Lyadriel dan Endrin sampai ke tempat mereka.
"Nona Carla, sedang bertugas seperti biasa?"
"Maaf mengganggu percakapan kalian. Ah, sepertinya ada seseorang yang kukenal di antara kalian."
Endrin dan Lyadriel menyapa. Lyadriel juga langsung menyadari kehadiran satu Elf yang dia kenal di kelompok Tristan.
"Kalian datang di waktu yang tepat!"
"Eh, kenapa tiba-tiba?"
Carla merasa tertolong dengan kedatangan Endrin dan Lyadriel.
Sangat merepotkan menjawab pertanyaan Grandine dan Tristan karena Carla sendiri tidak terlalu tau banyak tentang Hestia dan para bawahannya.
"Tuan Tristan, perkenalkan, di sini Tuan Endrin dan Tuan Lyadriel. Kurasa, jika ada yang ingin kalian tanyakan, kalian bisa langsung bertanya kepada mereka berdua. Kebetulan, Tuan Lyadriel pertama kali datang ke sini bersama dengan Nona Hestia."
Turun dari kuda, Carla memperkenalkan Endrin dan Lyadriel, dan langsung melimpahkan pertanyaan-pertanyaan merepotkan kepada mereka berdua.
"Yang Mulia Lyadriel. Senang melihat Anda baik-baik saja."
Melihat Carla sudah memperkenalkan kedua orang tersebut, Grandine turun dari kuda dan menghampiri Lyadriel untuk memberi salam.
Dia membungkuk kepada Lyadriel, sedangkan Tristan, Datra, dan Ivan masih berada di atas kuda.
Dalam hierarki di masyarakat, status Lyadriel sebagai Raja suatu Kerajaan lebih tinggi daripada Datra dan Ivan. Semestinya mereka berdua juga ikut memberi salam, sama seperti yang dilakukan oleh Grandine.
Namun karena keberadaan Tristan (yang tidak turun dari kuda), Datra dan Ivan tidak akan turun dari kuda karena Tuannya sendiri tidak memerintahkan hal tersebut.
Tristan sendiri merupakan orang yang sangat terkenal. Dia adalah legenda hidup yang umurnya lebih tua daripada Lyadriel.
Jika berbicara tentang hierarki, dia akan digolongkan dengan orang-orang seperti Hestia.
Adapun Grandine yang turun dari kuda, dia sudah sepatutnya memberi hormat kepada Raja dari negara asalnya.
Selesai membalas sapaan Grandine, Lyadriel langsung memberi hormat kepada Tristan.
"Beruntung atau kebetulan, aku sebenarnya tidak menyangka kalau ternyata ada seorang Raja Elf di sini. Dan yang membuat aku heran, kenapa Hestia tidak mengatakan apa-apa tentang ini?"
Tristan memasang wajah bermasalah sambil menyentuh keningnya. Terlihat seperti sedang stres.
Apa yang dia maksud "tentang ini" Di kalimatnya sebenarnya mengarah ke semua hal tentang kota dan Negeri naga.
Jika saja Hestia memberitahu Tristan lebih awal, semua kebingungan ini pasti tidak akan pernah terjadi.
"Maafkan aku karena tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut."
Lyadriel tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Tuannya, Hestia, jadi dia tidak bisa menjawab Tristan.
"Ah, ini bukan salahmu. Terus, apa yang sedang kalian lakukan di sini?"
"Aku datang ke sini karena khawatir dengan orang-orang yang telah kami kirim ke sini."
"Khawatir dengan orang-orang mu?"
"Benar, minggu lalu kami mendapat pesan bahwa negeri ini berperang. Kami tahu kalau orang-orang kami di sini semuanya baik-baik saja karena mereka selalu bisa menghubungi kami, tapi sebagai Raja, aku tidak bisa tidak memastikan kenyamanan orang-orangku di sini."
"Bukankah kamu bisa menyuruh orang lain menggantikan mu untuk datang ke sini? Tidak perlu repot-repot datang dan memastikannya sendiri, kan?"
Tristan mencium bau-bau keganjilan dari kehadiran Lyadriel di tanah ini.
Sebagai orang yang telah bepergian jauh ke tanah ini, Tristan dapat merasakan betapa merepotkannya kalau dia harus turun sendiri untuk membereskan masalah.
Apalagi setelah dia mengetahui kalau bangsa naga ini cukup ramah melihat mereka bisa berhubungan dengan Raja Elf dan Hestia. Dia merasa kalau datang sendiri ke tanah ini sudah membuang-buang waktu berharganya.
"Hahaha, sebenarnya aku datang ke sini karena kemauanku sendiri."
Lyadriel tidak bisa menutupi motif sesungguhnya di depan Tristan. Dia menggaruk kepalanya, terlihat seperti orang yang kebohongannya baru saja terungkap.
"Jadi?"
"Ya, aku hanya sekedar bermain, tidak memiliki tujuan lain."
"Apakah begitu?"
__ADS_1
Tristan masih terlihat tidak percaya karena dia tidak cukup puas dengan jawabannya, dia masih penasaran.
"A--, Apa karena itu Anda tidak membawa para pengawal Anda?"
Grandine menarik kesimpulannya sendiri setelah melihat Lyadriel tidak ditemani oleh siapapun.
"Em, sebenarnya aku datang ke sini bersama dengan istriku, tapi sekarang dia sedang berada di alun-alun kota. Kami cukup bersenang-senang di sini tadi, namun aku ada sedikit urusan di sekolah ini dan sekarang sudah waktunya untuk pulang."
"Kencan, ya?"
"Ya, kalian mungkin bisa menyebutnya seperti itu."
Lyadriel tidak berusaha menyembunyikan maksud dan tujuannya datang ke kota ini kepada mereka.
Lyadriel datang pada pagi hari, menghabiskan waktu dengan istrinya di tempat makan dan memesan beberapa makanan sambil menunggu bell pulang sekolah berbunyi.
Di alun-alun kota terdapat toko yang menyediakan berbagai jenis menu makanan di kastil untuk dibagikan kepada para naga yang menginginkannya.
Tentu saja, yang menyediakan bukan koki dari kastil, melainkan para naga yang sudah belajar cara memasak dari koki di dapur kastil.
Namun lebih banyak menu berasal dari hidangan yang dibuat oleh Ignis. Makanan yang selalu dibuat adalah Pizza, Hamburger, dan Carbonara. Sedangkan dessert seperti Souffle Cheesecake, Perfait, dan Puding menjadi yang paling populer dan sudah bisa dibuat oleh semua koki.
Semua bisa terjadi karena Ignis menghafal seluruh peralatan memasak yang dibutuhkan, dan bahan-bahan makanannya juga sudah terpenuhi karena kota ini telah memiliki koneksi dengan 7 negara.
"Tuan Tristan, di sini Tuan Endrin yang bertanggung jawab segala hal tentang perawatan Golem. Jika ada sesuatu yang ingin Anda tanyakan, Anda bisa langsung bertanya kepadanya."
"Oh iya, salam kenal, Tuan Pahlawan Tristan. Saya adalah Endrin Ratfran, seorang Golem Master yang telah diberikan kuasa untuk menyimpan dan merawat Golem Helios."
Selesai berbicara dengan Lyadriel, Carla langsung memperkenalkan Endrin kepada Tristan. Karena dia terlihat cukup penasaran tentang Golem.
"Helios, ya. Jadi Anda adalah orang yang bertanggung jawab atas Golem-Golem itu? Apakah Anda juga ikut berperang?"
"Benar sekali, tapi selama perang terjadi, saya berada di sini."
"Anda bisa mengontrol benda itu dari kejauhan?"
"Hmm, saya tidak bisa memberitahu informasi penting kepada Anda, saya hanya bisa mengatakan bahwa kontrol benda itu bisa dipindahkan kepada orang lain. Jadi pada saat perang tempo lalu, saya memindahkan wewenang komando atas Golem-Golem itu kepada Nona Carla dan Tuan Monta."
"Hah? Bukankah Golem digerakkan oleh Mana si pembuat?"
"Err, kalau untuk pertanyaan ini saya tidak bisa menjawabnya, Tuan Tristan. Tapi saya diperbolehkan untuk menunjukkan Golem Helios kepada Anda."
Tristan memberikan banyak pertanyaan kepada Endrin, terlihat sangat penasaran seperti yang diperkirakan oleh Carla.
Endrin berusaha menghindari pertanyaan-pertanyaan yang beresiko dengan menunjukkan Golem Helios untuk mengalihkan perhatian.
Tampaknya pengetahuan tentang Golem juga termasuk informasi penting bagi Guild Petualang. Jadi Tristan berupaya mendapatkan informasi lebih banyak selagi dia memiliki kesempatan untuk bertanya kepada masternya secara langsung.
(Menunjukkan Golem Helios itu sendiri mungkin bisa menghilangkan rasa penasaran Tristan. Membiarkan dia melihat dan menilai sendiri Golem Helios dapat mengakhiri sejumlah pertanyaannya.)
Endrin berpikir demikian, dan mulai mengajak semua orang pindah ke lapangan sekolahan untuk mengeluarkan Golem Helios dari dalam sub-dimensi penyimpanan khususnya.
Endrin mengarahkan portalnya di tengah lapangan. Lingkaran sihir berukuran besar terbentuk dan mengeluarkan cahaya. Selesai itu, Golem Helios mulai muncul secara perlahan dari dalam lingkaran mantranya.
"Ohh!!" ××
Beberapa orang tampak takjub dengan Helios. Setelah dikeluarkan, Helios berdiri tegak sambil memegang Trident di tangan kanannya. Sayapnya tertekuk, tidak dilebarkan ketika dalam kondisi seperti itu. Namun masih menakjubkan bagaimanapun kondisinya mirip seperti robot mecha.
"Tidak seperti yang aku bayangkan. Apa yang Anda lakukan barusan adalah sihir pemanggilan, kan? Kupikir Anda baru saja akan membuat Golemnya, seperti yang dilakukan oleh Master Golem yang lain."
Lyadriel mengutarakan keterkejutannya. Dia orang yang paling terlihat antusias di antara mereka yang sedang terpesona.
Apa yang dimaksud Lyadriel adalah para penyihir biasa, di mana mereka membuat Golem dari batu atau tanah. Golem yang tidak dapat bertahan lama.
Sedangkan Endrin membentuk Golem secara permanen dan memanggilnya ketika dibutuhkan. Berbeda sekali dengan praktek konvensional.
"Jika aku membuat Golem seperti itu, mereka tidak akan bisa diperintah oleh orang lain selain diriku, kan? Nah, Karena Golem ini bisa bergerak secara independen dan otomatis, dia jadi bisa mengikuti perintah dari orang lain."
Endrin baru saja menjawab pertanyaan Lyadriel sekaligus Tristan dengan cara menunjukkan Golemnya.
"Apa kalian tidak apa-apa menunjukkan senjata kalian secara terbuka seperti ini?"
Datra berbicara, tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh pihak lain. Menunjukkan hal-hal secara terbuka seperti ini, itu berarti mereka tidak masalah bila informasi mereka diketahui oleh orang lain.
"Hmm, Golem Helios bukanlah senjata rahasia. Di masa mendatang, kami berniat menggunakan Golem untuk mempertahankan perbatasan wilayah atau untuk membunuh monster-monster yang mengganggu penduduk kami. Lagipula, jika berbicara tentang senjata, sebenarnya para naga sudah terbilang sangat menakutkan daripada Golem Helios."
Endrin mengingatkan fakta tentang keberadaan para naga yang lebih merepotkan daripada Golem.
Semua orang tersadar kembali kalau sekarang mereka sedang berada di tanah naga. Alasan naga lebih merepotkan adalah karena mereka merupakan makhluk hidup, bukan sekedar benda mati yang bisa bergerak seperti Golem.
Keindahan kota telah membuat mereka semua lupa tentang itu dan langsung melihat ke arah Carla. Gadis berambut biru dengan sepasang tanduk emas.
"Yo."
__ADS_1
Carla memberikan senyuman dan tanda peace kepada mereka yang melihatnya.