
"[Ice breath]!!"
"[Poison breath]!!"
"[Flame]!!"
Erick, sang ketua paladin dengan perisai besar dan pedang di masing-masing tangannya, dikepung oleh Azure, Selena, dan Kanis. Dan mereka bertiga melancarkan serangan gabungan ke arahnya.
"[Holy Defense]"
Dengan tenang, Erick mengangkat perisai di tangan kanannya ke atas untuk berlindung, kemudian menerapkan sihir suci yang bisa menyelimuti dirinya seperti cangkang dan mencegah ketiga serangan dari Azure, Selena, dan Kanis menyentuhnya.
"Kgh, keras sekali!"
Melihat Erick baik-baik saja, Selena mengeluh. Itu bukanlah pertama kalinya mereka menyerang Erick dengan kemampuan mereka. Namun tidak ada satupun dari kemampuan mereka yang bisa membuat goresan di tubuh Erick.
Mereka tampak putus asa dan kegelisahan pun muncul di wajah mereka masing-masing.
"Mau sebanyak apapun kalian menyerangku dengan kemampuan tersebut, itu tidak akan berguna. Mulai dari sini aku akan serius, dan akan aku hancurkan magic item itu. Bersiaplah!"
Erick membuat mereka bertiga bersiaga.
"Gawat!"
Edwin yang menjaga magic itemnya menyadari bahaya akan datang. Dia bergegas menggunakan kemampuan originnya dan berubah menjadi Minotaur. Tapi kali ini dia mengenakan pakaian berbahan sihir yang dapat menyesuaikan ukuran tubuh penggunanya, itu tidak akan robek lagi dan mambuat seseorang malu.
Selain itu, dia sendiri tidak menyangka kalau Azure, dkk. Tidak dapat melukai Erick. Bahkan setelah mereka sudah menerapkan kemampuan khusus [Dragon Skin]-nya masing-masing.
Seharusnya, kemampuan tersebut dapat mengakses kekuatan tempur naga mereka ketika sedang berada di wujud manusia.
"Aku mengira kau datang ke sini sendirian karena ingin menyombongkan diri, manusia. Tidak terduga ternyata kau benar-benar kuat. Tapi kami juga tidak akan menyerah dan membiarkanmu menyentuh magic item kami, kami akan menyerangmu dengan sekuat tenaga!"
Dengan senyuman yang dipaksakan, Kanis mengisyaratkan bahwa dia tidak akan menyerah.
"Kau mengatakan hal bagus, Kanis! Benar, kami tidak akan membiarkanmu menyentuh magic item itu, manusia."
Datang ke arah Kanis dan berdiri di sampingnya, Selena menyemangati. Meskipun sempat ragu karena lawannya tidak terduga sangat kuat, namun Kanis dan Selena kembali sadar kalau mereka lebih unggul dalam jumlah. Mereka tidak ingin kalah.
"Yah, apapun yang terjadi, kita memang belum diizinkan untuk mundur. Tuan Kesatria, maaf saja tapi kami juga akan serius sekarang."
Turun dari udara dan mendarat di dekat Kanis dan Selena, Azure menyatakan kesungguhannya juga.
Erick sempat mengerutkan alisnya ketika Azure mengatakan itu. Dia mengerti kalau ada seseorang yang memerintah mereka berempat. Dari suatu tempat.
"Hei, ayo gunakan itu sekarang."
"Ya, aku rasa kita memang harus menggunakannya."
"Tidak ada pilihan lain."
Selena, Kanis, dan Azure saling memahami maksud dari perkataan mereka dan saling mengangguk. Mereka menutup mata, dan kemudian energi mereka meluap keluar hingga bisa terlihat dengan mata telanjang.
"Whosh!!"
Energi yang keluar dari mereka menciptakan gelombang angin ke area sekitar hingga membuat Erick harus memasang perisai agar tidak terkena dampak dari tekanan tersebut.
"Naga memang benar-benar puncak dari segala monster. Haki ini, mereka sudah berada di tahap Lord."
Erick baru saja mengidentifikasi status mereka. Lord Haki adalah aura dengan intensitas yang sangat tinggi dan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah berada di tingkat [Legendary-class].
Erick tahu hal tersebut dari wawasannya tentang dunia ini dan sudah tidak bisa tenang lagi. Namun karena keputusannya yang ingin menyelesaikan pertarungan tersebut, dia tidak ragu-ragu untuk melepaskan kekuatan penuhnya juga.
Haki dari atribut sucinya melapisi seluruh tubuh, perisai, dan juga pedangnya. Membuat dia terlihat sangat bercahaya.
Kemudian dalam sekejap dia menghilang dari tempatnya, dan muncul kembali di hadapan Kanis dengan ujung bawah perisai yang lancip diarahkan kepadanya.
"Bang!!"
Suara benturan keras terjadi. Ujung perisai Erick menusuk Kanis, namun efeknya justru seperti memukul karena pertahanan Kanis tidak dapat ditembus. Alhasil, Kanis terhempas jauh karena tenaga dari benturan perisainya.
Di sana, Azure dan Selena sama sekali tidak mengkhawatirkan Kanis karena mereka percaya pada pertahanannya. Alih-alih mencemaskan Kanis, mereka justru membalas perbuatan Erick dengan cara menyerangnya dari masing-masing sisi.
Azure memukul Erick dengan tangan kanannya, sedangkan Selena menggunakan tendangan dari gaya bertarungnya yang mempesona. Kedua serangan tersebut dilancarkan secara bersamaan dan dapat menjatuhkan serangan mereka masing-masing kepada Erick diwaktu yang sama.
Dua serangan tersebut, jatuh di atas perisai Erick. Membuatnya menahan beban yang sangat berat karena serangan dari mereka menggunakan Haki, dan pada akhirnya dia terhempas ke belakang setelah kalah dari adu kekuatan tersebut.
Semua serangan itu terjadi di waktu yang sangat singkat, dan pergerakannya tidak dapat dilihat dengan persepsi biasa. Namun banyak sekali ledakan yang terjadi akibat setiap benturan yang mereka lakukan.
__ADS_1
Belum berhenti dari jalur hempasannya, tiba-tiba Kanis muncul di samping Erick dan mengarahkan pukulannya.
Erick sadar akan hal itu, tapi dia tidak menggunakan perisainya untuk bertahan, melainkan menggunakan pedangnya untuk menyerang Kanis.
Kemudian suara dentingan keras seperti dua besi yang saling berbenturan, terjadi. Pedang Erick dan tinju Kanis saling bertemu, meledak, lalu mereka berdua terhempas bersamaan.
Erick yang sebelumnya masih melayang di udara akibat serangan Azure dan Selena mendapatkan kerugian karena dia belum mendapatkan pijakan, membuatnya tidak dapat mendarat dengan benar setelah beradu serangan dengan Kanis.
Tidak sampai sana. Setelah Erick terjatuh, Selena tiba-tiba muncul di atasnya dengan salah satu kaki indahnya mengarah pada Erick. Kemudian dia menyerang, atau lebih tepatnya menginjak tubuh Erick dengan sekuat tenaga.
"Kghhh!"
Erick memuntahkan isi perutnya. Dan sebuah kawah terbentuk di sekitarnya akibat dampak dari serangan Selena yang sangat kuat.
Selagi Erick masih terkapar di pusat kawah, Selena menarik diri dan keluar dari sana.
"Apa kamu mengalahkannya?"
"Tidak, manusia ini benar-benar tangguh. Kesadarannya masih ada, hati-hati!"
Selena menjawab rasa penasaran Kanis dengan kecemasan. Bahkan dengan tendangan andalannya, Selena masih tidak bisa membuat Erick pingsan.
"Namun, ini pertama kalinya kita benar-benar memojokkan manusia ini. Bersiap untuk serangan selanjutnya, ayo kita kalahkan dia."
"Ya!" ×2
Azure memberikan perintah cepat – Kanis dan Selena juga mengerti dengan situasinya. Untuk mengalahkan Erick, mereka tidak bisa tenang sebelum Erick sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran. Namun...
Ketika mereka ingin melancarkan serangan penghabisan, Erick tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka dan muncul kembali di udara dengan pedang yang terarahkan ke arah mereka.
"[Sword Light]!!"
Dengan mulut penuh darah, Erick melancarkan serangan kuatnya ke arah Azure dkk.
"Gaahhhhh!!" ×3
Cahaya terang benderang itu bersinar megah dari pedang Erick, memancar ke arah Azure, Selena, dan Kanis Seperti tembakan besar. Dan kekuatan dari serangan tersebut telah memberikan damage yang cukup besar kepada mereka bertiga.
Serangan itu dilakukan dengan cepat dan menghilang dengan cepat. Yang tersisa hanya ketiga naga dengan tubuh penuh asap, mengepul dari diri mereka seperti efek serangan thermal.
"Dia membuat... kita lengah. Hah... Hah... Hah..."
"Dasar licik! Karena ini aku tidak suka manusia..."
"..."
Azure tidak bisa berkata apa-apa. Sedangkan Selena menyesal karena membuat dirinya lengah. Kanis sejak awal tidak suka manusia dan tidak ingin berurusan dengan manusia. Namun, kesempatan untuk membantu Albert sangat jarang sekali muncul, dan hanya di perang ini dia bisa mendapatkan kesempatan itu.
"Sekali lagi!!"
"Ok!" ×2
Setelah cukup mengambil napas, Azure, Selena, dan Kanis mulai bertarung kembali. Tingkat kewaspadaan mereka meningkatkan drastis agar tidak terkena serangan Erick seperti sebelumnya.
\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=
Pintu gerbang timur ibukota Ramis, Kerajaan Suci.
Seratus vampire berjubah hitam, sedang menyaksikan pertarungan dewa mereka, Mary Scarlet, dengan perwakilan dari Kerajaan Suci, pemimpin departemen intelijen istana, Sergio Mosou.
"Uhuk!!"
Namun, berbeda dengan Erick. Sergio sekarang sudah terpojok oleh Mary, atau lebih tepatnya sudah dikalahkan. Karena serangan terakhir dari Mary, Sergio harus membuka mulutnya untuk memuntahkan isi perutnya. Dan tidak sedikit darahnya tercampur di sana, yang membuat area di sekitar mulutnya memerah.
Sergio sekarang sedang berusaha memulihkan tubuhnya sendiri dengan sihir, bertekuk lutut dihadapan sang dewa vampire yang mempesona dengan rambut merah panjang terurai.
Bagaikan melihat seorang dewi, Sergio sangat tidak khawatir sama sekali bahkan dalam kondisi di ujung kematian seperti itu. Hanya kata "indah" Yang ada di kepalanya saat ini, sambil memandang Mary yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Uhuk! Haha, tidak sia-sia aku ke sini."
Sambil tertawa gurau, Sergio menutup matanya dan mulai tersenyum. Seolah-olah dia sudah pasrah dengan kehidupannya.
Memang, siapapun pasti akan berpikir sama ketika dihadapkan dengan musuh yang terlalu kuat untuk mereka. Pilihannya hanya memohon ampunan, atau mati dengan pasrah seperti yang Sergio lakukan sekarang.
"Apanya yang tidak sia-sia?"
Mary mengerti akan hal tersebut, namun melihat seseorang yang berada di ujung kematiannya, tersenyum. Sangat jarang sekali terjadi dan membuat Mary bertanya-tanya tanpa sadar.
__ADS_1
"Aku pada awalnya memang sudah tidak yakin untuk menang melawanmu. Hanya, aku senang bisa bertarung dengan wanita yang sangat cantik sepertimu, Nona."
Dan dengan bahagianya, Sergio mengatakan hal-hal yang memalukan.
"Kau mengatakan hal bagus, Manusia. Akan aku akhiri hidupmu tanpa rasa sakit sebagai hadiahnya."
Mary sudah sering mendapatkan pujian seperti itu dari banyak orang, dan tentunya dia sama sekali tidak peduli dengan perkataan Sergio. Namun, suasana hatinya sekarang sedang bagus karena bisa ikut berpartisipasi dalam perang dengan Kerajaan Suci, dan perkataan Sergio justru membuat moodnya semakin baik. Oleh karena itu dia memberi ampunan kepada Sergio.
Bagi Mary, ampunan untuk orang seperti Sergio adalah kematian tanpa rasa sakit.
Di masa lalu, musuh kerajaan manusia terbesarnya adalah Kerajaan Suci, oleh karena itu Mary sangat menyimpan dendam terhadap Kerajaan Suci walaupun dia tahu kalau jaman dan orang-orangnya sudah berubah. Bisa dianggap itu hanyalah untuk memuaskan rasa kesalnya terhadap Kerajaan Suci di masa lalu.
"Tunggu! Sebelum aku mati, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan dari orang yang akan mati?"
"Ah! Setidaknya biarkan aku mati tanpa rasa penasaran!"
"..."
Mary sudah mengubah tangan kanannya menjadi kuku-kuku tajam besar berwarna merah. Dengan tangan besar dan tajam itu, hanya dengan satu gerakan saja sudah bisa merenggut nyawa Sergio karena benda itu sangatlah tajam.
Namun, melihat keteguhan hati Sergio, Mary mulai mempertimbangkan untuk mengabulkan keinginannya.
"Tanyakan."
Mary akhirnya setuju. Dan melihat Mary mau menjawab pertanyaannya, Sergio tersenyum.
"Engg, mungkin ini akan menyinggungmu, tapi aku benar-benar ingin tahu kenapa bisa bangsa vampire bekerja sama dengan para naga?"
Lalu datang pertanyaan seperti itu sesuai dengan dugaan Mary. Tentu saja siapapun akan bingung kenapa bisa ada vampire di kelompok naga, kenapa vampire berada di pihak naga, dan sebagainya.
"Itu karena tuan kami."
Senyum di wajah Mary menghilang.
"Tuan kalian? Apa yang kamu maksud dia itu—
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang matilah."
Mary tidak membiarkan Sergio menyelesaikan kalimatnya dan langsung mengarahkan tangan besarnya ke lehernya.
"Sigh, lega rasanya. Sekarang harus ke mana kita?"
Darah di tangan kanannya dicipratkan ke sembarang tempat, kemudian bentuknya diubah kembali.
"Rencana selanjutnya adalah mengepung istana kerajaan ini, Yang Mulia. Jadi kita harus ke sana dan bertemu dengan pasukan yang lain."
Salah satu bawahan Mary yang mengikutinya, Wilhelm, menghampirinya.
"Begitu ya."
"Iya. Ngomong-Ngomong, kita akan memasuki kota manusia, Yang Mulia."
"...? Iya, kita akan memasuki kota manusia. Lalu kenapa?"
"Tidak, itu, jika diperbolehkan. Bisakah kami mendapatkan beberapa mangsa?"
Ucapan Wilhelm membuat Mary bingung, namun marah setelahnya karena mendengar kelanjutan dari ucapannya.
"Kau tahu 'kan kalau perang ini dilakukan atas perintah dari Tuan Albert? Dan kau juga seharusnya sudah tahu kalau beliau melarang kita memangsa manusia! Apa kau ingin aku dimarahi oleh beliau!?"
"Ah, tidak! Tidak begitu, Yang Mulia. Aku berpikir karena kita sedang berperang, mungkin kita bisa mendapatkan sedikit jarahan. Tapi, tolong ampuni hamba!!"
Wilhelm berpikir mungkin baik-baik saja membunuh beberapa manusia dengan cara memanfaatkan kekacauan dari perang ini, yang dimana bisa dianggap sebagai kecelakaan kerja. Namun tidak disangka pemikirannya itu justru membuat lubang menuju ke neraka terbuka. Dia sangat menyesal telah memiliki pemikiran seperti itu.
"Hmph!"
Tanpa memperdulikan Wilhelm yang sedang bersujud, Mary pergi menuju ke pintu gerbang dan masuk ke dalam kota.
Diikuti oleh 100 bawahannya, dia melewati gerbang besar kota tanpa masalah sama sekali karena penjaga gerbang bukanlah tandingannya.
Berjalan di tengah-tengah perumahan, jalan tampak sepi dan pintu serta jendela rumah sudah tertutup rapat.
"Benar-benar pemandangan yang sangat nostalgia. Aku heran ke mana perginya pasukan musuh."
Dengan santainya Mary berjalan menyusuri jalan besar itu menuju ke pusat kota. Tanpa adanya musuh yang menghalangi. Mary, mengenang masa kejayaannya di masa lalu.
__ADS_1