Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Pengorbanan Itu Dibutuhkan.


__ADS_3

Meski kami hanya bertiga, tapi kami pasti bisa menghadapi mereka.


Aku menguatkan tekadku dan memotivasi diriku sendiri.


Tapi, entah kenapa, berapa kali pun aku melakukan ini, aku masih merasa takut.


Mungkin jumlah musuh masih tidak menjadi masalah, karena perbedaannya hanya selisih satu orang. Namun, yang membuat kami khawatir adalah musuh memiliki senjata yang terbukti sangat kuat.


Senjata itu dipegang oleh pria bernama Julius, orang yang pernah aku lawan sebelumnya.


Sekarang dia ada di tim musuh, masih mengenakan baju yang sama berwarna putih. Dan, tentunya memegang senjata itu juga.


Sebuah busur panjang berwarna hitam metallic.


Ini adalah tipe senjata jarak jauh. Jadi sudah pasti mereka akan melindungi Julius dan membiarkan dia menyerang kami dari tempat yang aman.


Itu adalah formasi umum, dan kemarin dia menerapkan itu ketika melawanku.


Kemarin dia bersama dengan pria berpakaian hitam. Namanya kalau tidak salah adalah Ghidora. Dan orang ini juga ada bersama dengan mereka.


Setelah aku dikalahkan oleh mereka berdua, aku tidak sadarkan diri. Tapi pasukanku yang aku bawa ke kediaman Bestlafiol, semuanya dihancurkan.


Selain itu, Ghidora bisa seimbang melawanku. Bahkan ketika aku sudah melepaskan batasannya.


Aku harus berhati-hati terhadap pria ini, walaupun dia tidak begitu memiliki banyak energy Mana.


"Cthugha, bagaimana dengan rencananya?"


Gideon bertanya padaku. Di sebelahnya, Ostar, juga menunggu komando dariku.


Jadi, mereka berdua masih mempercayaiku sebagai orang yang memiliki otoritas tertinggi di sini.


"Kalau bisa, aku ingin salah satu di antara kalian mengincar pria berpakaian putih di sana."


"kenapa? Mungkinkah dia adalah orang yang pernah mengalahkanmu sebelumnya?"


"Benar. Dia adalah petarung tipe jarak jauh. Aku tidak begitu tahu keseluruhan kemampuannya, tapi dia memiliki senjata yang sangat kuat. Kalian harus berhati-hati."


Aku memperingati mereka.


Sebenarnya, aku sudah memberitahukan hal ini kepada semua orang sebelumnya, jadi mereka pasti sudah mewaspadainya.


"Tunggu, orang yang paling cepat di antara kita adalah kau. Bukankah lebih baik jika kau saja yang berurusan dengannya?"


Ostar memberikan pendapatnya.


Jika urusan mengejar seseorang, mungkin memang hanya aku yang paling bisa melakukan hal tersebut. Karena aku sangat cepat.


Tapi, aku ragu untuk menyerahkan sisa musuh kami kepada mereka berdua. Apalagi salah satu di antara musuh ada yang bisa mengimbangiku dalam hal pertarungan jarak dekat.


Sudah jelas kalau mereka pasti akan dikalahkan dalam sekejap. Tapi...


"Hei, tenang saja. Kami tidak akan dikalahkan semudah itu."


"Benar. Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami. Selama kau bisa membunuh pria itu dan mengambil senjatanya, kita pasti bisa menang. Kami akan berusaha sekuat tenaga menahan mereka."


Mereka berdua meyakinkanku. Tetapi jujur saja, itu tidak dapat menghilangkan sedikitpun kekhawatiranku.


Mereka jelas akan kalah dengan cepat. Bahkan jika mereka membagi musuh, dan mendapatkan masing-masing dua lawan. Itu tidak akan menyelesaikan apapun.


Justru mereka hanya akan babak belur. Tapi...


"Baiklah, bertahanlah sebentar. Aku akan menghabisi pria itu dulu."


"Ya. Cepat kalahkan dia dan kembalilah dengan senjatanya!"


"Kami mengandalkanmu, komandan tertinggi!"


Mereka mengatakan hal-hal yang memalukan.


Komandan tertinggi, kah... Itu terdengar bagus. Tapi maaf, sebenarnya aku hanya sedang memanfaatkan kalian.


Aku hanya ingin mengalahkan Julius karena aku memiliki dendam. Dan aku memanfaatkan mereka berdua demi tujuanku tersebut.


Aku yakin ini salah untuk dilakukan, tapi terkadang bawahan harus berkorban demi kepentingan atasan mereka.


Aku pergi meninggalkan mereka, dan menuju ke arah Julius.


Melihatku terbang ke arah Julius, orang-orang sekelompok Julius mulai melindunginya. Berdiri di depannya untuk menghalangiku, terutama Ghidora.


Tubuh Ghidora mengeluarkan cahaya merah, kemudian berubah menjadi humanoid yang memiliki banyak senjata di tubuhnya.


Agak sulit untuk dijelaskan, tapi seluruh tubuhnya sepertinya adalah senjata itu sendiri yang dapat berubah sewaktu-waktu dia menginginkannya.


Karena aku sudah pernah bertarung melawannya sekali, aku sudah terbiasa melihatnya.


Kemudian dua orang sisanya, kelihatannya adalah petarung jarak dekat. Salah satu memegang great sword, yang lain memegang perisai dan pedang satu tangan.


Jadi satu-satunya petarung jarak jauh hanyalah Julius.


Meski sudah mengetahui hal itu, aku tidak menghentikan laju pergerakanku sedikitpun. Dan terus terbang menuju ke arah Julius.


Dan di saat yang sama, mungkin tahu kalau aku mengincarnya, Julius, pergi menjauh dari tim-nya.


Dia melangkah mundur, menjauh ke arah selatannya.


Itu adalah kesempatanku. Aku juga ikut mengubah arah, bermanuver di udara. Dan kemudian terbang ke arah Julius.

__ADS_1


Ketika aku berbelok untuk mengincar Julius, rekan setimnya ingin pergi menyusulku. Tapi mereka dihalangi oleh Ostar dan Gideon.


Kemudian mereka berlima bertarung.


Karena, aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan orang lain, aku mengabaikan pertarungan mereka dan hanya tetap fokus untuk mengejar mangsaku sendiri.


Jarak antara aku dan Julius sudah semakin dekat.


Setelah hampir mencapainya, aku mengambil ancang-ancang untuk memotongnya ketika dia sudah berada dalam jangkauanku.


Mungkin, dia akan menyerang balik sebelum aku benar-benar mencapainya, tapi saat ini dia juga sedang sibuk menjauh dariku. Dia memberikan punggungnya menghadapku.


Karena itu, meski dia ingin menyerang balik diriku, dia pasti memerlukan jeda waktu untuk melakukannya. Tapi ketika dia berhenti, jaraknya denganku akan mengecil. Di saat itulah aku akan meningkatkan kecepatanku sampai maksimal, dalam waktu singkat.


Dengan begitu, dia akan berada dalam jangkauanku.


Ya. Benar! Itu adalah perhitungan yang bagus.


Dan, sesaat setelah aku berhasil merencanakan semuanya, aku melihat dia mulai menarik tali busurnya. Sepertinya ingin menyerangku.


Aku harus mendekatinya sekarang!!


Aku mempercepat kecepatanku. Dan dalam waktu singkat, aku sudah berada di dekatnya ketika dia menghadap ke arahku.


Aku siap menyerangnya, dan bahkan sudah mengayunkan pedangku dari atas untuk memecahkan kepalanya.


Tapi, hal yang terjadi selanjutnya sangat tidak terpikirkan oleh.


"Bang!"


Suara benturan besi memekikkan telinga.


Pedangku – yang sudah terayun ke arah kepala Julius – justru malah terkena panahnya. Dan dalam waktu singkat itu, dia memanfaatkannya untuk melarikan diri.


"Sial!" –Mau tidak mau, aku menyesal.


Pedangku seperti terkena efek knockback, membuatku harus menstabilkan posisi akibat dorongan dari panah Julius.


Tidak! Aku tidak ingin berakhir seperti ini!


Aku memutuskan untuk mencoba menutup jarak kami kembali. Dan setelah aku berhasil mengendalikan pedangku, aku mulai mengejarnya.


Tapi, Julius tidak ingin didekati olehku. Dia berusaha melancarkan banyak serangan beruntun ketika aku mencoba mendekatinya.


Namun pada akhirnya, itu hanyalah panah yang dibuat oleh energy. Dapat aku tangkis, atau aku hindari.


Alhasil, kami bertarung di udara. Julius terus menembakkan panahnya sedangkan aku terus menangkisnya.


Aku agak heran dengan senjatanya. Itu dapat melepaskan panah dalam waktu singkat, sehingga Julius dapat mengisi ulang panahnya dengan cepat, tanpa jeda. Sampai-sampai gerakan tangannya tidak dapat dilihat jelas, sangking cepatnya.


Ini merepotkan.


Apakah aku harus melepaskan limitku?


Kalau seperti itu, aku mungkin akan kehilangan kesadaran dan hanya akan dikalahkan lagi olehnya.


Tidak, aku tidak bisa menerima kekalahan dua kali. Aku harus menang!


Tapi, bagaimana caranya... Sial!


Berpikirlah! Temukan cara terbaik untuk keluar dari situasi ini, diriku!!


Aku terlalu fokus berpikir, sampai aku lupa sudah berapa lama aku menangkis serangan rentetannya. Namun, terbesit satu hal di pikiranku, yang mungkin bisa mengeluarkan aku dalam posisi bertahan ini.


Aku tidak bisa bertahan terus, atau anggota tim Julius yang lainnya datang dan mereka akan mengalahkanku.


Baiklah, aku harus lebih agresif lagi.


Aku mulai mengerahkan seluruh energy-ku, dan kemudian tubuhku diselimuti oleh api.


Pada level ini aku belum melepaskan limitku, jadi panas api ini tidak begitu tinggi. Ini hanya karena aku mengerahkan seluruh energy dalam tubuhku agar siap aku gunakan kapanpun. Membuat atribut khususku, yaitu api, terbentuk.


Setelah energy siap untuk digunakan kapanpun, aku mulai membelanjakannya untuk kugunakan sebagai sihir api. Dan kemudian sihir api itu menyerang Julius.


Sihir api dapat aku gunakan dengan bebas, tanpa merapal. Karena aku sudah menguasai atribut api pada level tertingginya.


Sehingga, hanya dengan keinginanku, api dapat muncul di mana pun. Di seluruh titik sekeliling kami untuk menyerang Julius.


Ini adalah balasan untuk rentetan panah yang dia berikan.


Lalu, karena energy dalam tubuhku sudah aku siapkan, sihir itu dapat terus melancarkan serangannya tanpa henti. Bahkan jika aku berhenti untuk memikirkan sihirnya, selama aku ingin api itu menyerang Julius maka sihirnya akan terus aktif dengan sendirinya. Dan bisa terus mengkonsumsi energy-ku tanpa meminta persetujuanku.


Intinya, hanya ketika aku ingin sihir itu berhenti, maka sihir itu baru bisa berhenti.


Semua itu bisa terjadi hanya kepada seseorang yang sudah memiliki level mastery yang tinggi terhadap atributnya. Seolah-olah, atribut atau elemen itu sendiri bisa berbicara denganmu.


Kami, atau lebih tepatnya hanya Julius. Dikelilingi oleh gumpalan api yang berkumpul membentuk sangkar raksasa untuk mengelilingi kami.


Tapi, meskipun aku juga berada di dalamnya, aku tidak akan terkena sihirku sendiri.


Semua bola api itu menyerang Julius secara bersamaan, dan menabraknya. Kemudian bola api yang baru akan muncul kembali di posisi awalnya untuk menyerang Julius kembali.


Secara otomatis, Julius menghentikan aksi serangannya terhadapku, dan memilih untuk bertahan menggunakan sihir perlindungannya.


Pada situasi ini, aku terbebas dari kesibukan bertahan dari serangan Julius. Dan bisa memojokkan Julius dengan sihirku.


Aku tahu sihir tidak begitu dapat diandalkan ketika melawan orang-orang pada level ini. Tapi setidaknya aku bisa memiliki kebebasan untuk bernapas.

__ADS_1


Jadi, aku harus memikirkan rencanaku selanjutnya. Kalau begini terus, Julius pasti akan menemukan celah untuk melarikan diri dari serangan apiku.


Tapi bagaimana aku harus menyerangnya. Barusan dia bisa menangkis senjataku hanya dengan panahnya. Keakuratan tembakan Julius pasti sangat tinggi, dan kecepatan dia dalam menyerang juga harus diperhitungkan. Jadi hanya dengan menutup jarak di antara kita tidak akan membuat perbedaan.


Terlintas di pikiranku untuk menerima serangannya, tapi jika diingat-ingat kembali, senjatanya adalah alasan kenapa kami harus mengurusnya lebih dulu.


Maksudku, senjatanya adalah masalah terbesar kami karena itu terlalu kuat. Jadi aku tidak mungkin menerima serangan dari senjatanya, atau aku akan mati tanpa mengetahui apa yang terjadi.


"Tapi, bagaimana caranya untuk membunuhnya..."


Ini seperti berada di jalan buntu. Meskipun begitu, aku tidak ingin terhenti hanya karena jalanku terhalang.


Aku harus menghancurkan setiap halangan dengan kekuatanku sendiri, seperti biasanya.


Benar! Aku hanya harus menghancurkannya!!


Tanpa berpikir lagi, aku mulai melepaskan limitku dan pandanganku agak menjadi memerah.


Aku berusaha untuk tetap mempertahankan kesadaranku dalam kondisi ini. Sebenarnya aku belum pernah melakukannya, tapi tidak ada pilihan lain.


Ini adalah pertaruhan.


Aku harus mengalahkannya dalam satu serangan terbaikku. Tidak ada cara lain lagi yang dapat aku pikirkan.


Dan tidak terduga, aku masih bisa mempertahankan kesadaranku. Dan Haki mulai memadat menjadi api yang sangat panas.


Kemudian aku melapisi semua tubuh dan peralatanku dengan Haki, membuat semuanya menjadi merah membara.


Pedangku ini memang bukan item setingkat senjata Mythical-class para Pilar Surga, tetapi ini sudah memiliki afinitas yang sangat tinggi terhadap atribut api. Itu sebabnya pedang ini dapat menahan Haki dan atributku.


Suhu di sini meningkat pesat. Kami mungkin ada di udara, di luar dinding istana. Tetapi pepohonan di bawah kami semuanya hancur terbakar oleh suhu panasnya.


Yah, tidak ada waktu untuk memikirkan alam sekitar kami.


Dengan kekuatanku.


Dengan semangatku.


Dengan niatku untuk membunuhnya.


Aku menyerang Julius dengan sekuat tenaga, mengayunkan pedangku secara vertikal untuk membelahnya menjadi dua.


Seranganku sepenuhnya berubah menjadi bilah api yang sangat besar. Membelah apapun yang ada di jalannya, langit dan tanah bahkan terbagi menjadi dua bagian. Membelah sepanjang jalan sejauh ribuan kilometer.


Julius menerima seranganku sepenuhnya. Aku yakin bahkan sihir pertahanan terkuat pun tidak akan bisa menghalangi serangan tersebut.


Semua kemampuan terbaikku, sudah aku tuangkan ke dalam serangan ini.


"Ya ampun... Itu hampir saja."


Huh?


"Apa? Kau tidak mati?"


"Haha. Yah, entah bagaimana..."


Pria di hadapanku, Julius, masih hidup dengan tubuh yang babak belur.


Meski dia babak belur karena menerima seranganku sepenuhnya, tapi dia masih hidup.


Kenapa!?


Itu seharusnya adalah kemampuan terbaikku. Aku yakin, itu bahkan bisa membunuh dewa setingkat para Pilar Surga!!


Tapi, kenapa dia masih hidup!? Bukankah dia hanya seorang pemanah!? Apakah dia memiliki keahlian atau keterampilan extra untuk menjadi seorang Tanker?


Sial, sial, sial!!


"Bagaimana bisa ini terjadi!? Aku tidak bisa menerima ini!!"


"Oh, tenanglah. Kupikir aku baru saja diselamatkan oleh Buff seseorang dan tubuhku sendiri. Tapi yang paling berperan pasti adalah tubuhku."


Dia memberitahuku alasan dia masih hidup.


"Buff dan tubuh?"


Aku tahu Buff yang dia maksud pasti adalah perlindungan, tetapi bagaimana dengan tubuh? Apa tubuhnya memiliki pertahanan berlapis-lapis.


Tapi sebanyak apapun sihir penghalang yang dia tanamkan pada tubuhnya, itu seharusnya akan terpotong.


"Ya. Untuk jelasnya, aku akan sedikit menyombongkan kehebatan tuanku—


Dia merapihkan kembali postur tubuhnya yang sempoyongan, dan mendapatkan kembali kejayaannya dengan sihir penyembuhan.


Itu bisa disembuhkan dengan begitu mudah...?


"—Tubuhku ini diciptakan oleh tuanku dengan bahan baku terkuat yang hanya dimiliki oleh tuanku. Yaitu logam peri. Alasan kenapa logam ini sangat keras adalah karena logam ini memiliki unsur energy Outerki. Oleh karena itu, logam jenis ini hanya tuanku yang memilikinya. Inilah alasan kenapa tubuhku sangat keras."


Dia melanjutkan bicaranya, dan menjelaskan alasannya.


"Dan..."


Dia masih ingin melanjutkannya.


"Tuanku pasti bisa mengalahkan penguasa kalian. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa diubah."


Selesai berbicara, dia mulai menarik kembali tali pada busurnya. Dan mengarahkan panahnya kepadaku.

__ADS_1


Ah, bahkan dengan seluruh kekuatanku, aku masih tidak bisa mengalahkannya. Padahal, aku...


Semuanya menjadi terlalu terang dan aku kehilangan kesadaranku.


__ADS_2