
"Tolong bantu saya, Kak! Ayah saya sedang sakit sekarang, dia membutuhkan obat!"
"Di-Dia itu adalah pria bajingan, kenapa kamu masih mau membantunya, sih!?"
"Saya tahu, tapi-- tapi dia tetaplah ayahku."
Seorang gadis kecil dengan putus asa meminta obat kepada seorang wanita di depan toko apotek dan berakhir frustasi. Dia menunduk, tangannya dikepal dengan erat dan berusaha untuk tidak menangis.
Bagaimana bisa ada cerita menyedihkan seperti ini sebenarnya aku sendiri tidak tahu. Setelah komandan pasukan hiu dari markas pusat yang sebelumnya kalah melawan Eliza telah siuman, kami berdua membuat kesepakatan untuk tidak saling membunuh. Sebagai gantinya, dia mau mengantar kami untuk bertemu dengan raja pulau manusia ikan ini, raja bangsa merfolk.
Dan saat ini, kami sedang berada di pusat kota, sedang dalam perjalanan menuju ke istana negara ini. Namun di tengah perjalanan kami bertemu dengan gadis manusia yang dengan sedih meminta obat kepada seorang apoteker cantik, seorang apoteker mermaid dengan kaki manusia.
Aku tidak menyangka kalau ternyata ada manusia di tempat terisolasi seperti ini, tapi ini juga merupakan bagian dari dunia. Kita bisa memaklumi keberadaan manusia di manapun itu selama kita masih di dalam ruang lingkup dunia ini.
Selain itu, merfolk dan mermaid di sini punya kaki seperti manusia. Tapi aku sudah tahu kalau itu hanyalah perubahan manusia mereka, sebenarnya mereka juga bisa berubah ke bentuk aslinya (ekor ikan) ketika masuk ke dalam air. Sangat fantasi, aku ingin punya satu yang seperti itu di rumah.
"Kakak, kumohon padamu. Jika dibiarkan, penyakit ayahku akan terus memburuk!"
"Ugh..."
Kakak perempuan itu merasa bimbang dan gelisah juga pada akhirnya. Tampaknya, dia masih peduli dengan gadis kecil itu.
"Tuan, maaf telah mengganggu perjalananmu. Saya akan segera mengusir mereka dari jalan kita."
"Eh, ah! Tunggu, Randolph!"
"Iya?"
"Tunggu sebentar di sini, aku ingin bertemu dengan mereka."
"Baik.
Randolph adalah nama dari komandan pasukan itu. Setelah diingatkan-ingat dengan baik, ternyata dia adalah pangeran dari kerajaan ini. Aku hampir melupakannya padahal dia muncul dalam ingatan Zen. Ketika dia memperkenalkan dirinya sebagai Pangeran, aku bisa langsung percaya.
Tapi, kesampingkan gelarnya, dalamnya ternyata sangat busuk. Melihat gadis kecil yang sedang berusaha meminta obat untuk menyembuhkan ayahnya yang sedang sakit, dia tidak terlihat bersimpati sama sekali. Malahan dia ingin mengusir gadis itu dengan kekerasan. Sungguh berhati kejam.
Sebenarnya, aku juga sudah tahu kalau negara ini kayaknya dikuasai oleh Raja dan Pangeran yang busuk.
"Permisi, tidak bisakah kamu memberikan obatnya kepada anak ini? Apa harga obatnya sangat mahal? Kalau begitu aku yang akan membayarnya."
Sebagai gantinya, aku menghampiri anak kecil itu dan membantunya daripada dia berurusan dengan Randolph.
"Ini bukan masalah uangnya..."
"Hm?"
"Ah, tidak. Aku akan segera mengambil obatnya."
Dia seperti masih keberatan sebelumya, namun ketika melihat sosok Randolph di belakangku, dia melarikan diri begitu saja. Kakak perempuan ini pasti takut dengannya.
"Kakak, terimakasih telah membantuku. Aku akan segera mengganti uangnya setelah aku mendapatkannya dari pekerjaanku."
Gadis kecil itu berterima kasih, membungkuk beberapa kali di hadapanku. Dia tidak menangis, mungkin ayahnya tidak sedang sakit parah? Tapi aku tadi dengar dia mengatakan sesuatu yang cukup mengkhawatirkan. Yah, apapun itu, dia sedang berusaha untuk mengobati penyakit ayahnya. Dia anak yang berbakti.
"Sebutkan namamu?"
Untuk menyamakan ketinggianku dengannya, aku berjongkok, tapi malah berakhir dia lebih tinggi. Tinggi anak ini sama dengan tinggi Atla dan Eren, jadi dia sudah cukup besar.
"Aku Iris. Kakak, siapa namamu?"
"Wow! Nama yang bagus. Namaku Albert dan kakak cantik di sebelahku ini bernama Eliza. Salam kenal, ya."
"I-Iya."
Dia tersipu malu ketika melihat Eliza tersenyum hangat, sangat manis.
Setelah itu, tidak ada pembicaraan lain. Kakak perempuan apoteker menyelesaikan meramu obatnya dan itu diberikan kepada Iris dengan kantong.
Ketika Iris ingin pulang, kami mengikutinya dari belakang. Kakak perempuan itu juga ikut dengan kami dalam barisan, dia sampai repot-repot menutup tokonya.
"U-Um, apa kalian mau datang ke rumahku?"
Mungkin tidak nyaman dengan keberadaan kami, Iris akhirnya bertanya di tengah jalan kenapa kami mengikutinya. Orang lain pasti sudah gelisah ketika diikuti secara tiba-tiba begitu.
"Iya. Aku khawatir dengan kesehatan ayahmu. Tapi aku tidak tahu kenapa Kakak perempuan ini mengikuti kita juga."
Ngomong-Ngomong, kami meninggalkan Randolph di depan toko itu.
__ADS_1
"Na-Namaku itu Rika! Ah, maksudku, aku juga... Mengkhawatirkan... Nya."
Si wanita apoteker dengan nama Rika ini, agak aneh. Dia memalingkan tatapannya seperti sedang memikirkan hal lain.
"Terimakasih karena sudah mau khawatir. Kalau begitu, baiklah. Kalian boleh mengikutiku."
Iris menuntun kami lagi, dia baik dalam urusan penanganan kami.
"Iris tidak memiliki keluarga lain selain ayahnya."
"Eh?"
Secara tiba-tiba, Rika membisikkan hal seperti itu kepadaku. Tapi, itu menjelaskan kenapa dia sangat mempedulikan ayahnya bahkan sampai rela meminta obat ke toko apoteker padahal sedang tidak memegang uang.
Setelah beberapa menit berjalan, kami tiba di rumah dua tingkat di dalam gang. Tempat ini cukup sepi dan agak jauh dari jalan utama. Tempat ini akan memberikan kesan kalau keluar di malam hari akan mendatangkan kekhawatiran.
"Semuanya, tolong tunggu sebentar di sini."
Iris menuju ke depan rumahnya sendirian. Aku melihat ada sedikit keraguan di wajahnya, entah apa itu aku jadi memikirkannya, bukankah seharusnya dia senang karena telah mendapatkan obatnya?
"Ayah, aku pulang membawakan obat untukmu."
Dia mulai mengetuk pintu rumahnya, seperti itu bukan rumahnya sendiri. Kenapa penghuni rumah harus menunggu seseorang untuk membukakan pintu rumahnya sendiri, apa itu norma di daerah ini? Rasa penasaranku semakin besar dengan semua keanehan ini.
Pintu mulai terbuka dan memperlihatkan seorang pria paruh baya dengan perut buncit sedang memegang botol minuman, dia sedang mabuk.
Ah, ini... —Aku merasakan firasat buruk.
"Ayah, aku membawakan obat seperti apa yang kamu minta."
Iris menyerahkan obat itu kepadanya. Tapi...
"Huh? Apa kau bodoh!!"
"Kyaaa!"
Pria itu menendang Iris dengan kakinya, yang mana itu mendorong Iris hingga terjatuh ke lantai. Perlakuan itu membuat wanita apoteker, Rika, berteriak.
Ugh, aku sangat khawatir dengan Iris, tapi dia sedang berada di dalam masalah rumah tangganya. Dan lagi, aku tidak tahu apakah di kerajaan ini ada undang-undang tentang KDRT atau tidak.
"Sudah kubilang untuk membawakan aku uang! Aku butuh uang, bukan obat!"
"Tapi, tapi, ayah bilang, ayah sakit. Jadi aku membawakan obat untukmu."
"Bodoh! Sudah berapa lama kamu menjadi anakku? Seharusnya kamu tahu kalau kamu hanya perlu membawakan aku uang! Aku bisa berobat sendiri jika kau memberikan aku uang!"
Uang, uang, dan uang. Pria ini hanya memikirkan itu, parah banget. Mengatakan hal memalukan seperti meminta uang kepada anaknya sendiri, dia... Udah enggak tertolong lagi.
"Cepat! Berikan aku uangnya! Kau pasti punya uang kan hasil kerja di toko itu? Cepat berikan padaku semuanya!!"
"Ah! Ayah tolong hentikan."
Pria itu memaksa dan mulai menendang Iris berulang kali. Dia terus menendang anaknya yang berusaha untuk membantunya sembuh. Ini membuatku muak. Di sebelahku, Rika sedang berusaha menahan tangisannya sambil menutupi mulutnya. Sedangkan Eliza menatap pria itu dengan jijik.
Dia benar-benar sudah berlebihan, mungkin sekarang sudah waktunya untuk membantu Iris. Tapi kemudian pria itu mengangkat botol di tangan kanannya, bermaksud untuk memukul Iris dengan botol itu.
Rika si apoteker langsung berlari setelah melihat pria itu ingin melukai Iris, dia menuju ke arah Iris untuk melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
"Ha? Siapa kau? Jangan menghalangiku!!"
Pria itu mengganti target pukulnya dari Iris ke Rika, tapi sebelum dia bisa memukul, botol itu sudah pecah duluan.
"Bang!!"
Dia panik dan mulai mencari penyebab kenapa botolnya bisa hancur. Tapi kita bisa mengesampingkan tingkah bodohnya itu...
"Hei, kau bilang, kau ingin uang, kan?"
"Ha?"
"Aku bisa memberikan uang kepadamu. Sebagai gantinya, kau harus menyerahkan anakmu kepadaku, bagaimana?"
Jual beli anak, mungkin kita sedang melakukan transaksi itu sekarang. Sungguh, aku tidak bisa memikirkan cara lain, ini adalah satu-satunya cara untuk menjauhkan Iris dari ayahnya tanpa perlu membunuh.
Dia mulai melihat aku dan Eliza, memperhatikan pakaian kami seperti sedang mengevaluasi.
"Aku tidak bisa memberikan harga murah."
__ADS_1
Oh, dia bahkan menawar, dia benar-benar bajingan.
Aku mulai mengisi satu kantung besar dengan emas, dan melemparkan sekantung emas itu ke hadapannya dengan suara benda berat yang tumpul terjatuh. Aku tidak ingin menyentuh tangan menjijikannya itu, makanya aku lempar.
Melihat sekantung emas itu membuatnya menelan ludah dan tersenyum lebar. Lalu tanpa mengatakan apa-apa, dia mengambil emas itu dan berusaha pergi.
Tapi Iris menghampiri ayahnya dan memeluknya, mencegah pria itu pergi.
"Ayah, jangan tinggalkan aku!"
"Ah, berisik! Kau sudah dibeli oleh pria itu, jadi jangan menyebutku ayahmu lagi. Pergi sana ke tempatnya!"
Sambil memegang kantung besar penuh uang di pelukannya, pria itu mencoba melepaskan diri dari Iris, dan pergi setelah itu.
Bahkan sampai akhir, pria itu tidak berprilaku seperti ayah sama sekali. Dia sangat busuk. Tapi, orang yang telah membuatnya seperti itu adalah aku, jadi aku tidak pantas untuk berkomentar apapun tentang dia.
Yah, setelah mendapatkan gelar Raja Iblis, sudah terlambat menyebutku sebagai pria jahat sekarang. Mari lanjutkan kejahatan ini sambil membusungkan dada.
Setelah ditinggalkan oleh mantan ayahnya, Iris menangis. Sejak aku bertemu dengannya, baru kali ini aku melihat dia menangis. Aku yakin, dia sebenarnya adalah anak yang kuat.
Aku ingat kalau ayahnya adalah keluarga terkahirnya. Sekarang karena orang itu sudah pergi, Iris hidup sebatang kara, tidak mempunyai keluarga lagi.
Tidak, aku telah membelinya, jadi aku memiliki tanggung jawab untuk merawatnya.
\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=
Di depan gang, jalan utama. Randolph bertemu dengan pria yang sedang membawa sekantung penuh dengan emas di pelukannya, berjalan terburu-buru dengan wajah mencurigakan.
"Oi!"
Dia melihat pria itu adalah orang yang berurusan dengan Albert di dalam gang, jadi dia memberhentikannya.
"Huh, Pangeran? Kenapa Anda bisa berada di sini?"
Untuk orang yang cukup terkenal buruk di kalangan masyarakat, pria itu dapat langsung mengenali Randolph. Tentu saja Randolph tidak mengetahui tentang ini, tapi tingkah pria itu seperti orang yang baru saja tertangkap basah sehabis mencuri. Padahal Randolph memberhentikannya hanya karena ingin bertanya.
Setelah tahu kalau sejumlah uang itu berasal dari orang yang bisa mengalahkannya dengan mudah, dia tentu saja tidak memiliki pemikiran untuk merebut uang itu darinya. Dia masih punya akal sehat, bagaimanapun dia adalah seorang pangeran. Meskipun begitu, bahkan bagi seorang pangeran pun, sejumlah uang itu tentu saja sangat menggiurkan. Bisa untuk menambah jumlah pasukan di komandonya.
"Aku ingin bertanya, kenapa dia memberikan sejumlah uang itu padamu?"
"Ah, soal itu. Dia membeli anak saya dengan semua uang ini."
"Apa dia memiliki hobi mengumpulkan budak?"
"Sa-Saya tidak tahu."
"Cih, dasar tidak berguna, pergi sana!"
Kesal karena pria itu tidak memberikan informasi yang bagus, Randolph mengusirnya. Pria itu takut dan langsung berlari selayaknya pecundang.
Berpikir kalau Albert bisa membelanjakan uangnya sebanyak itu dengan mudah, Randolph mendapatkan sebuah ide.
(Pertarunganku dengan pangeran lain bisa aku menangkan jika pria ini ada bersamaku. Aku harus menyusun rencana untuk memanfaatkan kekayaan pria ini. Tidak, dia juga memiliki kekuatan tempur (Eliza) yang sangat hebat. Jika aku bisa memanfaatkan mereka berdua dengan baik, menjadi raja selanjutnya bukanlah sebuah mimpi lagi!) —Dengan wajah gelap dan senyum licik, Randolph merasa kebahagiaan akan segera datang menghampirinya.
Awalnya dia berpikir kalau pertemuannya dengan Albert merupakan nasib buruk, tetapi setelah dipikirkan baik-baik ternyata pertemuan kebetulanya itu mungkin saja akan mendatangkan keberuntungan yang belum pernah dia temukan.
\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=
Setelah aku membeli Iris dan kembali ke tempat Randolph berada, kami semua melanjutkan perjalanan kami menuju ke istana kerajaan.
Agak aneh melihat wajah menjijikkan Randolph yang tiba-tiba berubah menjadi akrab dan baik kepada kami, tapi yang lebih membingungkan adalah Iris mengikuti kami tanpa perlawanan sedikitpun. Atau sebenarnya, dia seperti menerimanya begitu saja.
Sekarang dia berjalan dengan murung di sebelah Eliza. Kakak apoteker itu pulang setelah memberikan beberapa kata penyemangat seperti "Iris tetaplah hidup, aku yakin orang ini adalah pria yang baik." Seperti itu dan mengucapkan salam perpisahan.
Pada saat itu aku tidak mengatakan apapun, tapi sebenarnya aku tidak memiliki niat untuk memisahkan mereka berdua. Aku lihat kakak perempuan itu cukup peduli dengan Iris, jadi nanti aku akan menyerahkan anak ini padanya.
Yah, itu kalau dia mau merawat Iris. Aku bisa memberikan dana kebutuhan untuk Iris padanya kalau dia mau. Dan sebenarnya, aku juga memiliki bisnis dengannya. Aku adalah orang yang selalu seperti ini, ketika aku datang ke suatu tempat yang memiliki probabilitas berniaga, aku pasti akan mendirikan koneksi perdagangan dengan salah satu penduduk setempat di sana.
Itu merupakan kebiasaan, mirip seperti hobi. Tapi hal itulah yang menyebabkan bisnisku membesar, aku tidak bisa bilang itu adalah hal buruk. Walaupun tidak semua bisa berjalan mulus karena aku hanya menilai mereka dalam sekali pertemuan.
Kami terus berjalan, dan pada akhirnya kami sampai di gerbang besar dengan tembok putih. Di dalamnya terdapat istana berwarna biru, memberikan kesan fantasi bawah laut. Kemudian di depan istana terdapat patung putri duyung yang sangat besar sedang berada di dalam cangkang kerang.
Sambil kagum dengan pemandangan tempat itu, kami masuk. Tapi...
Niks, salah satu orang yang sangat aku percayai, mengatakan kalau kastilku diserang.
"Huh...?"
__ADS_1