Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Duel #2


__ADS_3

Eliza mulai bangkit secara perlahan. Seluruh pakaiannya kotor karena sempat berguling-guling di tanah, hanya sedikit mengalami kerusakan karena daya tahan baju cukup bagus.


Kemudian dia memperlihatkan wajahnya yang babak belur, garis luka di pipinya masih ada dan mulutnya penuh dengan darah. Rambut putih indah terkepangnya sekarang tidak lagi bersih dan acak-acakan.


"Uhuk-Uhuk..."


Eliza terbatuk dan memuntahkan darah di tangannya. Dia juga memegangi pinggangnya yang terkena serangan karena sakit.


Keadaan tubuhnya sangat kacau sekarang.


"Ini sudah berakhir, kan. Aku harus kembali ke sisi Tuanku. Di mana wasitnya?"


Ivan mencari Odimus untuk mengakhiri duel. Dari arah bangku penonton, Odimus hanya diam berdiri, tidak berniat untuk mengakhiri duelnya karena Eliza belum menyerah.


"Bangsat..."


"Hm?"


Berbicara tanpa tenaga, Eliza mengutuk Ivan. Ivan mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Eliza. Dia mengerti sikap orang yang kalah terkadang akan mengatakan hal-hal seperti itu, jadi dia memaklumi Eliza.


"Apa kamu masih ingin meneruskan duel ini, Nona? Kamu akan mengalami rasa sakit yang lebih parah lagi nanti, lebih baik menyerah sekarang karena aku merasa kasihan padamu."


"Berisik..."


"Jadi, kamu lebih memilih rasa sakit daripada menyerah?"


"..."


"Baiklah kalau begitu. Tolong jangan salahkan aku nanti. Ini adalah pilihanmu sendiri!"


Selesai berdialog, Ivan berlari menghampiri Eliza. Dia bergerak cukup cepat karena jarak antara dirinya dan Eliza sangat jauh.


"Kaminarimon."


*PETIR**PETIR**PETIR*


Eliza bergumam, kemudian sejumlah petir menyerang Ivan dan menghambatnya. Namun Ivan masih bisa menghindar dari setiap serangan petir tersebut sambil terus berlari ke arah Eliza, dia terlihat seperti menghilang ketika ada serangan dan muncul kembali di tempat lain untuk berlari.


Sampai jarak antara Ivan dengan Eliza semakin dekat, tiba-tiba sebuah gerbang emas jatuh di hadapan Ivan dan menghentikan pergerakannya. Gerbang itu membuat Ivan waspada, dia mengambil langkah untuk menjauh sedikit.


"Sensoji."


Eliza kembali bergumam dengan pelan, kehilangan tenaga karena serangan sebelumnya.


Mengetahui tidak ada hal yang terjadi dengannya, Ivan menuju sisi lain gerbang tunggal itu dan melihat Eliza sedang memulihkan diri di depan sebuah kuil besar serta didampingi oleh dua sosok yang tidak dikenal.


Ivan melihat buku — yang sebelumnya tidak digunakan oleh Eliza — sekarang telah terbuka (melayang di udara), dan mendapat kesimpulan kalau gerbang, kuil, dan dua makhluk itu merupakan hasil sihir pemanggilannya Eliza.


"Apa! Dia bisa memanggil Spirit Tingkat Atas ke sini!?"


Hestia berteriak dari arah tempat duduknya dan membuat semua orang terkejut.


Spirit yang diketahui sudah ada sejak pembentukan dunia ini, atau biasa dikenal sebagai Roh Primordial, telah muncul di hadapan semua penonton.


Melihat Hestia berteriak di bangku penonton membuat perasaan tidak nyaman untuk Ivan.


Dia tidak bisa membayangkan makhluk seperti apa yang telah dipanggil Eliza sampai-sampai membuat Hestia begitu terkejut.


Keringat dingin mulai muncul di kening Ivan.


Karena Ivan tidak bisa memikirkan ide lain selain menyerang Eliza, dia memutuskan untuk menyerang Eliza dan mengakhiri duelnya secepat mungkin.


Kebetulan Eliza masih dalam kondisi memulihkan diri. Berkat kuil di belakangnya, luka pada tubuh Eliza perlahan pulih.


"Huh!!?"


Ivan mulai berlari dan melewati gerbang tunggal itu. Namun kedua makhluk di samping Eliza tiba-tiba mengarahkan tatapannya kepada Ivan. Perasaan merinding berlebihan di punggungnya dapat dia rasakan setelah melakukan kontak dengan mata mereka.


Kedua makhluk itu cukup besar, tingginya mungkin sekitar tiga meter. Dengan otot-ototnya yang secara sengaja ditampilkan. Salah satu mengenakan pedang kembar dan memiliki lingkaran takdir melayang di belakang punggungnya, lainnya memiliki kipas besar dan mengenakan hagoromo.


Ivan sempat berpikir untuk mundur, tapi dia tidak ingin kesempatannya untuk menyerang Eliza menghilang jika Eliza menyelesaikan pemulihannya. Oleh karena itu dia terus berlari ke arah Eliza, mengabaikan kedua makhluk tersebut.


Makhluk dari sisi kanan Eliza bergerak melangkah maju ke depan Eliza, dia si pemegang kipas besar. Kemudian dia mengayunkan kipas tersebut dan menciptakan badai angin untuk menyerang Ivan.


Badai angin besar berputar ganas di hadapan Ivan. Dia mau tidak mau menghentikan pergerakannya dan bersiap untuk bertahan.


Dari arah sisi kiri Eliza, makhluk dengan lingkaran takdir petir mengarahkan salah satu pedangnya ke arah langit. Dia memerintah sejumlah petir untuk memperkuat badai tersebut menjadi badai petir.


Cuaca di Colosseum menjadi gelap karena kedatangan badai dan sejumlah petir. Arena menjadi kacau hanya karena satu badai petir ganas sedang menghampiri Ivan.


"Ah, ini terlalu gila!"


Ivan menyadari kekuatan badai petir tersebut. Meski dia memiliki perisai dan sihir pertahanan, menerima badai petir itu secara langsung akan memberikan kerusakan besar pada dirinya.


Namun Ivan sendiri tidak bisa melangkah mundur. Tubuhnya seolah-olah sedang ditarik ke dalam pusaran badai, jadi dia merapalkan mantra [Increase Vitality] dan [Extra Defense] kepada dirinya sendiri.


Selesai menerapkan sihir, tubuh Ivan mengeluarkan cahaya dan siap untuk bertahan dari serangan badai.


"Kghh!!"

__ADS_1


Semakin dekat badai petir tersebut, semakin kuat badainya menarik tubuh Ivan. Seperti yang diharapkan, Ivan tidak bisa menahannya dan terhisap ke dalam pusaran.


"Arrgghhhh!!"


Seolah-olah tubuhnya sedang dicambuk, badai menyerang tubuh Ivan dengan bilah angin dan perlahan-lahan merusak pertahanan pada perlengkapan kelas [Legenda]-nya. Ditambah lagi sejumlah petir menghujani tubuh Ivan, memberikan sengatan tidak nyaman pada saraf-sarafnya.


Setelah ditarik oleh badai, tubuh Ivan berputar-putar dan terangkat ke atas, melewati batas badai lalu melambung tinggi. Dan diakhiri dengan serangan petir.


Ivan terjatuh tidak berdaya ke tanah, badai petirnya juga sudah menghilang dan langit-langit kembali cerah.


Lembing dan perisainya sudah tidak terpegang, tergeletak di dekatnya. Helm Ivan masih utuh, hanya saja zirah dan jubahnya sudah rusak, tidak memiliki mantra pertahanan di dalamnya.


Serangan gabungan dari kedua makhluk yang Eliza panggil, dapat menghancurkan dua item kelas [Legenda].


"Hmph, sekarang kita impas."


Sambil menunggu pemulihannya selesai, Eliza tersenyum melihat Ivan tersungkur.


Eliza memiliki skill pemulihan dari Albert, skill pemulihan untuk monster. Menggunakan energi Mana, tidak ada unsur atribut suci. Namun Eliza belum bisa menerapkannya, dia hanya bisa mengandalkan sihir dari dalam buku Grimoire.


Semua informasi dari dalam buku telah masuk ke dalam kepalanya, jadi dia bisa dengan mudah mengaktifkan skill nya. Itu seperti dia secara alami dapat mengerti sihirnya bahkan tanpa perlu belajar banyak.


"Ugh."


Setelah lama berbaring, akhirnya Ivan tersadar kembali.


"Haha, bagaimana rasanya mencium tanah?"


Dari kejauhan, Eliza menertawakan Ivan. Dia benar-benar senang karena bisa membalas dendamnya.


"Ini tidak lucu."


"Apakah begitu?"


"Aku tidak akan mengampunimu sekarang."


"Oh~, menakutkan."


Selesai berbincang, Ivan mulai mengambil lembing dan perisainya. Kedua item itu tidak terlalu mengalami kerusakan, itu berarti serangan badai petir benar-benar hanya menargetkan Ivan saja, tidak menyerang secara acak.


Dengan bantuan lembingnya untuk menopang, Ivan berhasil berdiri kembali. Dia mulai merapal sihir pemulihan pada tubuhnya. Setelah selesai, energi besar berfluktuasi di seluruh tubuhnya.


"Raijin, Fuujin, urus pria itu selagi aku memulihkan diri."


Merasa tidak enak melihat Ivan seperti itu, Eliza mengutus kedua makhluk tersebut untuk mengulur waktu. Pemulihan Eliza sedikit lagi akan selesai, dia hanya ingin beristirahat sebentar lagi.


Memahami maksud Eliza, salah satu makhluk dengan pedang ganda maju menghampiri Ivan. Dia berlari, selagi Ivan sedang menunduk, dia mengangkat kedua pedangnya dan ingin mengayunkannya dari atas.


*Bang!!*


Benturan terjadi dan menyebabkan kejutan hebat. Ivan menahan serangan dahsyat Raijin dengan perisainya.


Seperti yang diharapkan dari makhluk tingkat atas, kekuatannya sangat besar. Itu menjadi penyebab kenapa Hestia berteriak.


Selagi Ivan menahan serangan dengan sekuat tenaga, tiba-tiba Raijin mengangkat pedangnya kembali dan menjauh dari Ivan.


"Hm? Ada apa?"


Ivan tidak tahu apa yang terjadi. Tapi tidak lama dia melihat Raijin menjauh, dia merasakan adanya serangan dari arah lain.


*Boom!!*


Hembusan angin kencang menerpa Ivan dan menciptakan ledakan. Berasal dari Fuujin, serangan angin itu cukup cepat untuk mengenai Ivan dalam keadaan lengah, dan kemudian terhempas jauh karena ledakan.


Namun belum sempat mendarat ke tanah, Raijin tiba-tiba muncul kembali dan ingin menebasnya dari atas.


Ivan mau tidak mau menggunakan perisainya untuk bertahan kembali. Setelah menerima serangannya, Ivan terpental ke bawah dan membentur tanah.


Ivan tidak diberikan waktu untuk istirahat, serangan Fuujin kembali di lemparkan dan menerpa Ivan.


Dengan cara dan pola serangan yang sama, Ivan berulang kali menerima serangan dari Raijin dan Fuujin.


"Gahh, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi."


Ivan sudah kehabisan tenaga.


Berpikir untuk menangani situasi tersebut, Ivan melihat Eliza dan Fuujin tidak pernah bergerak dari tempatnya.


Dia memiliki ide yang kemungkinannya berhasil cukup sedikit. Tapi itu tidak menjadi masalah daripada harus menyerah, dia tidak punya pilihan lain.


Ivan memulai rencana dan menutupi seluruh tubuhnya dengan jubah.


Setelah mendapat serangan angin dari Fuujin, Ivan terhempas kembali. Dan ketika Raijin menyerangnya, ternyata itu hanya sekedar jubah, Ivan sudah tidak ada di sana.


Melihat ke sekeliling arena, Ivan tidak bisa ditemukan di manapun. Namun gelombang dengan energi besar bisa dirasakan oleh semua orang dari arah langit.


Di sana Ivan bisa ditemukan, sedang mengarahkan lembingnya ke arah Eliza, melesat dengan kecepatan tinggi.


"Haaa!!"

__ADS_1


Dia berteriak cukup kencang, seperti berniat untuk menyerang Eliza dengan semua energi dan semangatnya.


"[Barrier]."


Eliza buru-buru memasang penghalang di atasnya.


*PETIR**PETIR**PETIR*


Ivan mulai dihujani oleh serangan petir ketika sudah mendekat, tapi itu semua tidak bisa menembus pertahanan Ivan. Dia terus melesat dengan kecepatan tinggi. Bahkan serangan angin Fuujin juga tidak bisa menghentikannya.


*BANG!!*


Ketika sudah mencapai sihir penghalang Eliza, ujung lembing Ivan membenturnya. Menghentikan laju Ivan untuk sementara, tapi itu tidak berlaku lama.


*Krak*


Penghalang Eliza memperlihatkan keretakan, membesar secara perlahan dan hancur seketika.


*BOOM!!*


Dalam sekejap, Ivan meluncur ke arah Eliza dan menciptakan ledakan besar di sana. Lokasi tertutupi oleh debu.


Karena serpihan penghalang yang pecah berserakan, semua orang tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan Eliza ketika diserang oleh Ivan.


Kemudian, kepulan asap secara perlahan menghilang disapu angin dan memperlihatkan lembing Ivan tepat berada di depan wajah Eliza.


Posisi Eliza sedang berdiri tegak, wajahnya mendongak ke arah atas. Sedangkan posisi Ivan sedang berada di atas Eliza, membeku.


Ivan berada di dalam bongkahan es besar. Hanya ujung lembingnya saja yang berhasil mendekati Eliza, tapi tidak sampai menyentuhnya, hanya butuh sekitar 3-5 senti lagi untuk bisa menyentuh wajah Eliza.


*Tepuk-Tepuk-Tepuk*


"Whooooahhh!!"


Seluruh hadirin mulai bertepuk tangan untuk pertandingan duelnya.


"Itu merupakan pertarungan yang sangat spektakuler antara Nona Eliza dan Tuan Ivan. Semuanya, beri tepuk tangan yang lebih meriah lagi untuk duel mereka!"


*Tepuk-Tepuk-Tepuk*


Sambil memeriahkan para hadirin, Odimus muncul kembali ke lapangan.


"Baik, karena Tuan Ivan terlihat sudah tidak bisa mengikuti pertarungan lagi, maka saya nyatakan duel ini dimenangkan oleh Nona Eliza!"


"Whooah!!"


"Nona Eliza hebat!!"


"Kakak yang terbaik!!"


"Aku mencintaimu!" <— "Eh!?" ×(Penonton)


Dan begitulah akhirnya pertandingan duel antara Eliza dengan Ivan. Semua orang cukup senang atas kemenangan Eliza. Bahkan Grandine dan Datra memberikan tepuk tangan mereka kepada Eliza.


Sepertinya Ivan tidak populer bahkan diantara teman-temannya sendiri.


***


**


*


Keluar dari Coloseum, anak-anak mengelilingi Eliza dengan penuh keprihatinan. Sedangkan Ivan sedang diberikan semangat oleh Datra dan Grandine supaya tidak terlalu sedih karena kalah.


Pemandangan yang sering anda jumpai ketika ada sebuah perlombaan.


Sebelumnya Ivan mengalami sejumlah luka bakar dan sayatan di sekujur tubuhnya, itu merupakan luka yang amat parah. Namun dengan Elixir tingkat tinggi kami, dia bisa langsung disembuhkan di tempat pada saat itu juga. Ramuan kami benar-benar manjur.


Sedangkan keadaan Eliza sudah dalam kondisi yang baik. Dia hanya kekurangan energi karena memanggil dua Roh tingkat atas secara bersamaan. Sebenarnya itu juga bisa disebut sebagai prestasi.


Ternyata item kelas [Mistis] yang dapat dibeli dengan mudah di toko juga merupakan item kualitas terbaik. Itu berarti senjata yang sedang dipegang oleh Eren juga (seharusnya) memiliki kekuatan kelas atas sama seperti buku itu.


Senjata dengan bentuk meruncing atau melancip pada ujungnya, tidak memiliki tepi. Itu juga bisa disebut sebagai pedang. Namanya adalah Estoc. Salah satu karakter dalam game menggunakan item itu untuk menusuk musuhnya, dalam satu waktu bisa menyerang musuh sebanyak 4-5 kali, menembus [Physical Defense] lawan, dan memberikan [Critical Damage] pada musuh.


Jika Eren dapat diakui oleh pedang tersebut, mungkin saja dia bisa menggunakan skill seperti itu. Aku sangat menantikannya.


Ah, berbicara tentang senjata anak-anak. Alice sudah memperlihatkan penggunaan senjata kelas [Mistis]-nya. Dia berhasil, dia bisa menggunakannya, tapi anehnya dia tidak mengatakannya padaku.


Kenapa? Aku sangat ingin tahu.


Sebenarnya sejak awal aku hanya memikirkan hal itu.


Apakah seseorang ingin memberi aku kejutan?


Tapi aku sudah melihatnya, jadi mereka seharusnya tidak bisa melakukan hal itu lagi.


Atau haruskah aku berpura-pura tidak melihat?


Ketika mereka memberi aku kejutan, aku hanya perlu meladeni dan mengikuti suasana. . .

__ADS_1


Tidak, tidak. Aku tidak dapat melakukan hal itu. Aku harus tahu secepatnya kenapa mereka menyembunyikan hal hebat seperti itu dariku.


__ADS_2