Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Tantangan.


__ADS_3

Aku, Merlin, dan Eliza bergabung dengan Freya, menginterupsi pembicaraannya dengan kelompok Pahlawan.


Luminous sedang menjalani pelatihan, Rin sedang sibuk menyiapkan makanan bersama dengan Kaguya, Titania masih harus merapihkan berkas-berkas, dan sisanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kemudian terdapat Eliza, kami bertemu di kantor Merlin sebelum keluar kastil. Jadi hanya kami berempat yang menyambut kedatangan tamu.


Eliza sebenarnya ingin makan bersama kami, sayangnya kami sedang menunggu kepulangan anak-anak kami, berniat untuk makan bersama mereka. Jadi Eliza harus menunggu jika ingin makan bersama.


Dan kebetulan kelompok Pahlawan baru saja datang. Itu adalah kesempatan bagus untuk makan bersama mereka.


Tapi semua tidak berjalan sesuai dengan perkiraan karena putri bungsu kami malah terlibat cekcok dengan mereka.


(Sebenarnya apa yang anak ini pikirkan, sampai harus bertengkar dengan kelompok Pahlawan. Kemampuan kalian sudah jelas berbeda jauh, tidak bisakah dia mencari musuh dengan level terendah dulu? Kenapa langsung melawan bos terakhir? Sigh.)


Tristan dan kelompoknya merupakan ujung tombak kekuatan semua orang yang memerangi Iblis. Jadi menyebut dia sebagai Bos Terakhir tidaklah salah jika dilihat dari pihak oposisi.


Tidak, bukan itu masalahnya. Kupikir Alice sudah melakukan tindakan yang benar. Pria tampan memang tidak bisa dipercaya, jadi kamu harus menjauhi mereka, Alice. Good job!


"Alice, ada apa tadi?"


Menghampiri Alice, Eliza bertanya tentang kejadian sebelumnya.


Eliza kini sudah berbeda. Semenjak kami memberinya kuda, dia berusaha untuk belajar lebih keras tentang cara berbahasa, sopan santun, dan etika.


Penampilannya juga sudah berubah, rambut putih kebiruan panjangnya sekarang selalu dikepang oleh Merlin. Dua kunciran kiri dan kanan yang dikepang — dari ujung kepangannya tersebut diikat kembali ke pangkalnya.


Kupikir gaya rambut itu sangat cocok untuknya.


Apa yang sedang dituju anak itu sebenarnya aku kurang tahu, yang jelas dia mau berubah. Tapi...


"Kakak, pria di sana mendorongku hingga terjatuh."


"Siapa yang berani mendorong Alice. Aku tidak akan pernah memaafkannya."


Tampaknya kepribadiannya tidak terlalu jauh berbeda. Malahan, sesama Gadis Monster, kenapa mereka bisa memiliki kepribadian yang mudah sekali marah?


"T-Tidak, ini hanya kesalahan pahaman, sungguh!"


Pria itu, Ivan, mengelak.


"Apanya yang salah paham? Jelas-jelas kamu mendorong Alice hingga terjatuh, kan?"


"I-Iya itu benar, tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian. Aku tidak suka kamu mendorong Alice, jadi kenapa kita tidak berduel saja?"


"Eh, duel?"


"Iya, ada apa? Kau takut melawan wanita sepertiku?"


"..."


Entah kenapa itu berakhir menjadi sebuah duel. Dan tanpa sebab yang jelas, pria bernama Ivan itu memiliki rona merah di wajahnya semenjak Eliza mengajak dia berbicara.


Kemudian semua orang melihat ke arah aku dan Merlin. Kami berdua berada di belakang mereka, hanya diam memperhatikan mereka.


Eliza mungkin ingin mengkonfirmasi apakah duel diperbolehkan atau tidak, jadi dia melihat ke arahku. Tapi itu justru menarik perhatian banyak orang.


"Ayah!"


Alice memanggilku, beranjak dari Freya dan menghampiri ku. Dia memang anakku.


"Ayah, dia..."


"Ayah sudah tahu. Tapi, aku lihat sesuatu di tanganmu tadi. Apa itu gauntlet baja yang ayah berikan?"


Aku mengesampingkan pengaduan Alice. Senjata di tangannya itu, aku benar-benar tidak tahu kalau ternyata dia sudah bisa memakainya. Itu merupakan kemajuan yang cukup besar.


Ketika aku bertanya, Alice justru cemberut dan mengalihkan pandangannya. Kemudian aku mencari orang yang bisa menjelaskan hal Itu kepadaku. Aku melihat ke arah Freya dan Eliza, mereka membuang muka. Ternyata mereka berdua sudah tahu tetapi tidak melaporkannya.


Lalu, aku melihat ke arah Merlin.


"Aku tidak tahu apa-apa, sungguh."


Merlin kelihatannya tidak berbohong. Dia tidak pernah berbohong ketika berbicara denganku, jadi aku sangat percaya padanya.


Dan terakhir...


«Oi, jika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, kenapa tidak kau katakan saja sekarang!?»


«...»


Aku bisa merasakan dia ingin mengatakan sesuatu karena kami berbagi jiwa yang sama, tapi dia hanya diam saja.


"Kami akan pergi sekarang!"


"!!"


Tiba-tiba Tristan mengumumkan kepulangannya dan membuat semua orang di lokasi terkejut.


"Kenapa tiba-tiba begini? Kalian bahkan belum masuk ke dalam?"


"Kami tidak memiliki urusan lagi di sini, maaf telah menggangu kalian."


"Caramu menangani masalah seperti biasa, ya."


"Bukan urusanmu."


Tristan benar-benar melangkah pergi setelah berbicara dengan Freya. Dia sepertinya tidak dalam suasana hati yang baik.


Sebenarnya aku memiliki bisnis yang ingin aku diskusikan dengannya, tapi...


Yah, membiarkan dia pergi mungkin lebih nyaman untuk hatiku. Dan bisnisnya masih bisa aku lakukan dengan orang lain.


"Tunggu, jangan terburu-buru seperti itu. Aku ingin kamu dan Grandine ikut makan bersama kami. Dan juga, ada sesuatu yang ingin suamiku bicarakan denganmu. Jadi, jangan pergi, Tristan."

__ADS_1


Freya Mencegah Tristan pergi. Ketika namanya disebut, Tristan menghentikan langkahnya.


Setelah lama diam berdiri, Tristan berbalik dengan mata tertutup. Berjalan melewati semua orang dan berdiri di depanku.


(Eh, kenapa tiba-tiba?--)


Dia lebih tinggi dariku. Seperti yang diharapkan dari "Mr. Hero", dia memiliki tubuh ideal dan tinggi badan yang sangat bagus.


Rambutnya juga bagus. Berwarna hitam panjang, terlihat sangat terawat. Dan pakaiannya... Em, pokoknya bagus. Semakin lama aku memperhatikan penampilannya, semakin membuat aku kesal.


"Aku Tristan Polgreen, kebetulan aku juga memiliki banyak pertanyaan untukmu. Jadi, bisa kita mulai berbicara?"


Tristan mendesak untuk mempercepat pertemuannya.


(Dia sedang tidak terganggu dengan permohonan Freya, kan?)


"Yah, aku ingin melakukan itu, tapi dua putri kami masih belum kembali. Kupikir, kita harus selesaikan masalah duel teman kalian dengan Eliza dulu sambil menunggu mereka kembali. Kau tentunya setuju dengan itu, kan? Ini tidak akan lama."


Sambil melihat ke arah Alice, aku menunda makan siang kami.


Di bawahku, Alice sedang melihat Tristan dengan tatapan kebencian. Mencengkeram bajuku dan memperlihatkan gigi-giginya yang bersih.


Aku sangat khawatir terhadap Tristan sekarang. Semoga saja Alice tidak menggigit atau melemparkan bola api ke kepalanya.


Kami akan dicap sebagai musuh umat manusia kalau Alice melakukan itu.


"Ivan, bagaimana denganmu?"


"Tuan, saya baik-baik saja."


"Baiklah kalau begitu, aku setuju dengan duel mereka."


Tristan mengkonfirmasi keikutsertaan Ivan dalam duel dan menyetujuinya.


Dalam ukuran kekuatan, pria bernama Ivan itu tidak akan menjadi lawan yang cocok bagi Eliza.


Dia berada di kelas [Epic] atau peringkat [SS] dengan kekuatan 300 ribu Poin Jiwa, sedangkan Eliza sudah berada di kelas [Legendaris] atau peringkat [SSS] dengan kekuatan 4 juta poin. Belum lagi buku Grimoire yang Eliza punya. Itu adalah Item tingkat [Mistis].


Aku tidak tahu Ivan memegang item atau perlengkapan seperti apa, tapi dalam segi kekuatan esensial, Eliza sudah berada jauh di atasnya.


Jika ingin duel ini adil, lebih baik Ivan melawan Carla. Karena Carla juga masih berada di peringkat double S.


Tapi aku yakin Carla juga akan memenangkan pertandingan itu karena kekuatannya sudah mencapai 900 ribu poin. Dia sedikit lagi akan mencapai peringkat triple S.


Jadi ide untuk menukar Eliza dengan Carla tidak akan memberikan banyak perubahan.


"Aku ingin melihatnya, boleh aku ikut bergabung dengan kalian?"


Tiba-tiba suara seorang wanita memasuki pendengaran kami semua.


"Hestia." ×3


Aku, Freya, dan Tristan menyebut namanya tanpa sadar. Dia masuk melalui gerbang dengan kedua pengawal (Wizura dan Bizura) dan hewan tunggangannya.


Hestia mengeluh. Berjalan perlahan menghampiri kami dengan kelompoknya.


"Hm? Apa melarang seseorang untuk terbang di atas kota memang ide yang buruk, ya?"


"Kurasa tidak buruk sama sekali, hanya saja itu bisa memperlambat pekerjaan seseorang."


"Hmm."


Aku mendapat masukan dari orang yang terganggu dengan peraturannya.


"Carla, bagaimana menurutmu tentang peraturan itu?"


"Menurutku tidak ada masalah sama sekali, Tuan Albert. Peraturannya dapat mendisiplinkan naga-naga yang suka terbang sembarangan, jadi dengan itu kita bisa membuat mereka membiasakan diri dengan lingkungan barunya."


"Apakah begitu? Yah, peraturan itu belum ditetapkan dalam undang-undang, jadi kita bisa menggantinya setelah semua naga sudah disiplin."


"Diganti?"


"Iya, terbang diperbolehkan, asalkan mereka menggunakan wujud manusia untuk meminimalisir kerusakan ketika kecelakaan terjadi."


Sebenarnya, apa yang sedang aku bicarakan di sini. Aku menganggap naga seolah-olah kendaraan besar dengan berat ribuan ton.


"Hai, Tristan."


"..."


Hestia menyapa. Tapi Tristan hanya diam saja, menatap Hestia dengan wajah tak berdaya.


"Eh, ada apa denganmu? Kamu tidak makan sesuatu yang aneh, kan?"


"Tidak ada masalah denganku. Justru sebaliknya, bukankah kamu seharusnya memiliki sesuatu untuk dikatakan?"


""Sesuatu untuk dikatakan" apa yang kamu maksud? Aku benar-benar tidak mengerti."


"... Wanita menyebalkan."


Hestia berpura-pura seperti tidak mengetahui apapun, itu membuat Tristan kesal.


"Apa kamu bilang?"


"Kamu sudah tahu tentang kota ini dan sudah mengenal mereka, kan? Kenapa kamu tidak memberitahukannya kepadaku?"


"Kenapa aku harus repot-repot memberikan informasi kepada pria menyedihkan sepertimu?"


"P-Pria menyedihkan? Atas dasar apa kamu menyebut aku seperti itu?"


"Itu tentu saja karena kamu tidak bisa mendapatkan cintanya Freya! Kalau bukan disebut sebagai pria menyedihkan, lalu julukan seperti apa lagi yang cocok untukmu?"


"Ughh! Wanita ini benar-benar menyebalkan."

__ADS_1


"Hah!?"


Mereka terus saja bertengkar di hadapan kami semua, terlihat tidak peduli jika reputasi mereka menurun.


Kurasa, tidak hanya aku yang berpikir kalau mereka itu sebenarnya cukup mirip. Mereka sama-sama memiliki umur yang panjang, kepribadian mereka juga tidak terlalu jauh berbeda. Sebenarnya mereka terlihat cukup serasi.


"Kalian seharusnya tidak bertengkar di sini."


"Berisik!" ×2


Perkataanku langsung di-counter.


Ugh, dari dulu, aku memang tidak cocok menangani hal-hal seperti ini...


"Kamu baik-baik saja?"


Oh, untung saja ada Merlin yang selalu peduli terhadapku. Mentalku menjadi pulih kembali.


"!!"


Hestia dan Tristan terus saja bertengkar, sampai ketika cahaya tiba-tiba saja muncul dari tempat portal teleportasi dan membuat semua orang terfokus ke alat tersebut.


"Oh, kita berhasil!"


"Aku sudah sering menggunakan alat ini, tapi tidak pernah bisa membiasakannya. Ini memberikan perasaan aneh. Ah, di mana kastilnya berada?"


Dua orang berhasil berpindah ke tempat ini. Satu pria dengan satu wanita.


Aku sudah mengenal prianya, dia adalah Martin. Sedangkan wanitanya aku tidak mengenalnya.


Mereka berhasil berteleportasi, tapi mereka menghadap ke sisi lain kastil. Dan ketika mereka berbalik, mereka terkejut ketika melihat kami sedang berkumpul di depan kastil.


"Err, apa saya baru saja mengganggu urusan kalian? K-Kami akan segera kembali kalau begitu."


Martin membaca atmosfer aneh di antara kami. Dia benar-benar pria hebat.


"Tidak perlu kembali. Kedatanganmu sebenarnya telah menyelamatkan bangsa peri dan bangsa manusia. Kau harus bangga, Martin."


"Heh! Masalah sebesar itu?"


Martin tampaknya punya keringat dingin di dahinya.


Berkat kedatangan Martin yang tidak terduga, Hestia dan Tristan mau menghentikan pertengkaran mereka.


Ketika aku melihat mereka, keduanya sama-sama membuang muka. Terlihat malu karena baru sadar kalau perdebatan mereka membuat masalah bagi orang lain.


Jadi, kita bisa mengesampingkan mereka dan beralih ke wanita yang telah dibawa oleh Martin.


"Kau membawa siapa, Martin?"


Mendengar aku bertanya, kedua orang itu buru-buru turun dari portal dan menghampiri ku untuk memberi hormat.


"Dia adalah orang yang Anda cari di waktu lalu, Tuan."


"Y-Yang Mulia, perkenalkan nama saya I-Irina Laurent."


Sesampainya di hadapanku, Irina langsung memperkenalkan dirinya.


Wanita tinggi yang menggunakan kacamata. Mengenakan pakaian formal kerja, dan terlihat sangat dapat diandalkan.


"Oh, kau membawa dia di waktu yang sangat tepat, Martin. Kerja bagus! Dan untuk Irina, tidak perlu kaku di depan kami. Perlakukan saja kami seperti temanmu."


"Ah, saya tidak berani melakukan itu."


Irina langsung menolak saranku. Bisa dibilang itu adalah reaksi yang biasa, cukup klise.


"Mama!"


"Ohh, kalian sudah pulang rupanya."


Tiba sekelompok anak-anak memasuki gerbang dan langsung menghampiri Freya.


Mereka adalah Atla serta partynya — Eren, Claris, Natalie, Davies, dan Peter.


Mereka tampaknya telah menyelesaikan perburuan monster di sekitar wilayah ini.


Atla dan Davies mengenakan pakaian Ksatria yang diselimuti baja, Eren dan Natalie menggunakan pakaian minim dari bahan kulit agar bisa leluasa bergerak, Claris seperti biasa mengenakan pakaian sehari-hari, sedangkan Peter menggunakan jubah pelindung yang ringan agar tidak menerima serangan secara langsung dan dapat leluasa untuk bergerak.


Dilihat secara keseluruhan, mereka sudah seperti party yang berpengalaman.


Ngomong-Ngomong, seharusnya Alice bersama dengan mereka, tapi kenapa dia bisa pulang sendirian?


Dia selalu seperti itu, meninggalkan kakak dan temannya untuk melakukan hal lain.


Padahal aku sudah sering memperingatkan untuk selalu bersama kakaknya agar hal-hal tidak terduga seperti hari ini dapat dicegah oleh Atla atau Eren. Tapi... Ya, sudahlah.


Mungkin memberi hukuman sesekali dapat mengubah sifatnya.


"Aku tidak asing dengan penampilan itu, bukankah dia iblis?"


Setelah melihat Atla dan Eren, Tristan bertanya ke Freya.


"Iya, itu benar. Kenapa?"


"Apa?"


Freya menjawab sambil menggenggam tangan Atla dan Eren. Jawaban itu telah membuat Tristan heran.


Dia melihat ke arahku, wajahnya terlihat memiliki pemikiran aneh tentangku.


"Aku manusia loh. Kau bisa menggunakan sihir sucimu sebanyak mungkin padaku jika tidak percaya."


Dengan wajah datar, aku memberitahu statusku. Dia pasti memikirkan hal-hal aneh seperti menganggap aku adalah iblis.

__ADS_1


Setelah aku mengatakan hal di atas, dia terlihat semakin dan semakin bingung. Dia mungkin sempat berfikir kalau aku bukan suami Freya, tapi setelah melihat ke arah Alice — yang sebelumnya pernah memanggil aku "ayah" — dia memutar kembali otaknya.


__ADS_2