Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Mengambil kesempatan.


__ADS_3

Dengan atla yang menuntun kami, kami pergi ke desa tempat mereka tinggal.


Jika tujuan kita adalah sebuah desa, kemungkinan terbesar tidak akan ada "kakak succubus" yang menggunakan pakaian minim di sana.


Kalau pun ada, mereka pasti akan menggunakan pakaian penuh untuk menutupi tubuhnya dari serangga, karena hidup mereka dekat dengan hutan.


Sigh, sedikit mengecewakan tapi mungkin aku bisa bertemu dengan mereka nanti.


Ini adalah "dunia lain", jadi "kakak succubus" yang terkenal itu pasti akan muncul.


Tidak, tidak, kenapa aku memiliki ambisi yang tidak jelas seperti itu?


Baik, lupakan itu, tujuan kita ke sini hanya ingin memastikan keadaan ignis dan para penduduk.


Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya kami tiba di sebuah desa.


Jaraknya cukup jauh, aku terkesan dengan atla dan eren karena sudah berlari sampai sejauh itu.


Mereka mungkin lebih tangguh daripada yang terlihat.


Aku juga sudah bertanya kepada atla kenapa adiknya, eren, bisa terluka. Ternyata eren terjatuh ketika sedang melarikan diri.


Itu pasti sangat menyakitkan untuk anak-anak seumurannya, jadi aku tidak membayangkannya terlalu jauh.


Aku melihat struktur bangunan perumahan di desa itu, kebanyakan dari mereka menggunakan batu bata untuk membentuk dinding dan genteng dari tanah liat berwarna jingga.


Itu sangat normal, hanya sedikit bangunan yang terbuat dari kayu. Jadi, peradaban mereka tidak jauh berbeda dengan manusia.


Aku juga melihat beberapa rumah sudah hancur dan ada yang sedang terbakar.


Kondisinya sangat buruk, mungkin desa ini telah diserang oleh monster berukuran besar. Tapi aku tidak melihat adanya penduduk maupun monsternya.


Aku semakin masuk ke dalam desa, berharap menemukan alun-alun karena mungkin saja mereka sedang berkumpul di sana.


Lalu aku melihat tumpukan mayat monster, itu ditata menjadi tiga tumpukan dan satu monster besar sudah dipisahkan.


Aku bisa melihat dengan jelas bahwa itu adalah kingkong berukuran 60 kaki lebih, berotot, dan sudah tewas hangus terbakar.


Aku juga melihat ada penduduk desa yang berkumpul, posisi berada di tengah-tengah desa, mungkin akan aman bila aku menyebutnya dengan alun-alun.


Tapi anehnya, aku tidak melihat iblis bertanduk di sana, mereka hanya mempunyai ekor... Sapi? Aku tidak bisa mengidentifikasinya secara jelas, intinya mereka tidak memiliki tanduk dan hanya memiliki ekor. Sisanya, mereka terlihat mirip manusia.


Kemudian yang paling jelas terlihat diantara para penduduk adalah seorang pria berbadan besar dengan rambut merah panjang sedang berada di kerumunan para warga iblis, kami sudah mengenal baik sosok itu, dia adalah ignis. Jadi aku memutuskan untuk menghampirinya.


Turun dari kuda, kami diperhatikan oleh banyak iblis, ini benar-benar mencolok!


Tapi aku tidak peduli, lalu ignis menyambut kami dengan hangat.


"saya sudah menunggu kedatangan anda, tuan albert."


Ignis terlihat sangat percaya diri dengan sesuatu.


Aku menghiraukannya dan mengalihkan pandanganku ke arah tiga tumpukan mayat monster dan satu kingkong besar.


Mayoritas mayat itu terdiri dari hewan primata berukuran 3 meter, sisanya hanya babi hutan, lembu, dan hewan hutan yang lainnya.


Termasuk hewan primata, mayat-mayat monster itu memiliki perawakan seperti hewan biasa pada umumnya tapi ukuran tubuh mereka tidak normal.


Aku tidak tahu apakah itu akan enak untuk dimakan?


Setelah melihat itu, sepertinya aku harus memuji ignis.


"kamu sudah bekerja keras, ignis. Kerja bagus."


"jika itu demi anda, maka saya pasti akan bekerja dengan keras."


Ignis tampak sangat senang dan menyilangkan kedua tangannya sambil mendengus.


Jadi, jika itu bukan demi aku, dia akan malas bekerja?


Aku melihat leon, dia tampak kesal seolah-olah sudah dikalahkan oleh ignis.


Dalam hal jumlah, leon memiliki jumlah buruan yang paling banyak, tetapi ignis memiliki hewan berukuran besar di sini yang sudah dia kalahkan sendiri.


Aku tidak melarang kalian untuk melakukan persaingan, tapi aku harap, tidak akan ada dendam dan benci diantara kalian karena itu.


Atla dan eren sedang melihat ke sekeliling warga desa dengan cemas, seperti sedang mencari seseorang.


Mungkin dia sedang mencari kakeknya yang sudah diceritakan sebelumnya.


Aku beralih lagi ke ignis.


"bagaimana keadaannya?"


"seperti yang anda lihat, saya sudah memusnahkan monster yang menyerang desa ini, tapi... "


"tapi? "


"ada beberapa orang yang tidak bisa diselamatkan karena ketika saya datang ke sini, para monster sudah menyerang desa ini lebih dulu, jadi ada beberapa orang yang tidak bisa diselamatkan, maafkan saya."


Ignis tampak sangat menyesal. Aku menyuruhnya untuk membantu warga desa tetapi masih ada warga desa yang tidak selamat karena masalah waktu.


Yah, itu bukan salah ignis jadi aku tidak mungkin menyalahkannya.


"apa... Di sini ada kepala desa atau pemimpin dari komunitas ini?"


"saya tidak bertemu dengan pemimpin mereka, tetapi ada wakil kepala desa di sini... "

__ADS_1


Ignis mengarahkan tangannya seolah-olah ingin menunjukkan orang yang berada di sebelahnya.


Seorang pria berumur sekitar 30 tahun berdiri di sana, mengenakan tunik dan celana panjang. Dia tampak sehat, tidak kurus tidak gemuk, seperti pria biasa pada umumnya dan memiliki ekor.


Karena sudah ditunjuk oleh ignis, pria itu berjalan maju ke depanku.


"permisi, saya merupakan wakil dari kepala desa ini, edwin."


Edwin memperkenalkan diri. Dia tampak berkeringat, mungkin karena grogi atau sejenisnya.


"em, seperti yang kamu lihat, kami adalah rekan ignis dan namaku albert. Ngomong-ngomong, jika anda adalah wakil kepala desa maka seharusnya ada kepala desa, 'kan?"


Edwin dan ignis menyebutkan "wakil kepala desa" dan bukan "wakil desa", jadi seharusnya ada orang yang memimpin mereka di sini.


Tiba-tiba, edwin mengalihkan pandangannya dariku dan melihat ke arah atla dan eren dengan penuh prihatin.


Di sana, entah kenapa, aku memiliki perasaan yang sangat tidak enak.


"k-kepala desa kami sudah meninggal dibunuh oleh monster yang menyerang desa ini."


"apa!?"


Atla berteriak, tampak sangat terkejut dengan ucapan itu.


Perasaan aku semakin tidak enak dan entah kenapa aku sudah memiliki dugaan tentang sesuatu.


Mungkin itu yang disebut firasat.


Aku langsung melihat ke tengah-tengah kerumunan warga. Ada banyak orang yang sedang menangis di sana sejak awal jadi aku sangat penasaran.


"kalian sudah mengevakuasi mayat warga yang meninggal?"


Aku ingin mengatakan "orang" di sana, tetapi karena mereka itu iblis — aku tidak tahu kata yang tepat untuk mengganti itu.


"kami sudah melakukannya. Berkat bantuan tuan ignis yang memusnahkan para monster dengan cepat, korban dapat diminimalkan. Dan, kami sudah mengumpulkan mayat para warga di sana, termasuk mayat kepala desa."


Edwin menunjuk ke tengah-tengah kerumunan, lalu atla dan eren langsung berlari ke sana dengan wajah yang penuh kecemasan.


Ugh, aku juga semakin khawatir dengan kedua anak-anak itu.


"anda tahu sesuatu tentang atla dan eren?"


"ya, sebenarnya kepala desa adalah kakek mereka."


"begitu, ya. Lalu di mana orang tua mereka?"


"kalau itu, saya kurang mengetahuinya. Kepala desa sudah merawat mereka sejak mereka masih kecil."


"eh, mereka bahkan tidak memiliki orang tua?"


Tidak, tentu saja, mereka memiliki orang tua tetapi tidak tinggal bersama mereka.


Lalu aku meminta edwin untuk mencarikan tempat supaya kami bisa membahas masalah mereka, setidaknya aku ingin membantu sedikit dan ingin membahas masalah mayat monster.


Tapi sebelum itu, aku datang ke tempat di mana para korban yang tewas itu dikumpulkan.


Ada banyak iblis yang sedang menangisi keluarga mereka di sana, termasuk atla dan eren.


Atla dan eren menangis di dekat mayat kakek mereka. Lalu aku melihat kakek mereka tidak memiliki tanduk.


Hm? Semua iblis di sini hanya memiliki ekor tapi tidak memiliki tanduk, lalu kenapa atla dan eren memilikinya?


Juga, atla dan eren tidak memiliki ekor.


Ada apa ini? Mereka berdua berbeda dari kelompoknya.


Sudahlah, kesampingkan itu, sebenarnya aku memiliki buah kebangkitan untuk membangkitkan karakter yang sudah dieksekusi dalam game.


Tapi aku tidak mengetahui cara kerja buah itu.


«hydra, kamu tahu buah yang berwarna pelangi seperti batu ajaib di dalam inventaris?»


«saya mengerti apa yang anda maksud, tapi itu tidak bisa dilakukan.»


Bahkan sebelum mencoba, hydra sudah mengklaim kalau itu tidak bisa dilakukan.


«kenapa?»


«perlu anda ketahui, makhluk hidup seperti mereka — yang hidup dengan mengandalkan proses metabolisme pada tubuh mereka — tidak bisa dihidupkan kembali ketika jiwa mereka sudah terpisah sepenuhnya dari tubuh mereka. Jika sudah seperti itu, maka jiwa mereka akan mengurai dan membaur menjadi energi dari dunia ini. Singkatnya, anda tidak akan bisa mempersatukan jiwa yang sudah tersebar ke seluruh dunia.»


Ugh, jangankan untuk mempersatukannya, bahkan untuk mengumpulkan sesuatu yang tidak terlihat seperti itu saja sudah mustahil untuk aku lakukan.


«lalu, buah itu digunakan untuk apa?»


«tentu saja untuk membangkitkan seseorang. Jika anda memiliki jiwa yang utuh, anda bisa membangkitkan seseorang menggunakan buah itu.»


«hmm, jadi maksud kamu, kita sudah terlambat, ya.»


«benar, dan juga, saya akan memberi tahu kepada anda kalau mereka bukan entitas spiritual seperti iblis pada umumnya, mereka itu hidup seperti manusia, atau lebih tepatnya, mereka berada di wilayah antara iblis dan manusia karena mereka bisa hidup di dunia ini dan dunia manusia, kecuali untuk kedua anak kembar yang anda temui.»


«eh, maksud kamu atla dan eren?»


«ya, mereka adalah iblis sejati, dan entitas spiritual seperti mereka akan sulit untuk hidup di dunia manusia jika tidak memiliki tubuh jasmani.»


Hydra memberikan edukasi yang sangat informatif tentang kedua anak kembar itu.


Jadi mereka berdua adalah iblis sejati.

__ADS_1


Entah kenapa, itu terdengar sangat keren. Tapi untuk para warga itu, aku harus menyebut mereka dengan apa?


Mereka bukan iblis tetapi juga bukan manusia, haruskah aku membuat sebutan baru seperti "half-demon" atau "demonoid"? Atau mungkin mereka sudah memiliki julukan mereka sendiri?


«kamu bilang itu sulit, tapi bukan berarti itu tidak mungkin, bukan?»


«benar, selama mereka memiliki tubuh jasmani mereka bisa hidup di dunia manusia tanpa masalah.»


«untuk jaga-jaga, apa kamu bisa menangani sesuatu yang seperti itu?»


«... Sebenarnya golem darkness yang sedang saya teliti memiliki afinitas dengan jiwa. Jadi, kemungkinan saya bisa melakukannya dengan beberapa tambahan harus diterapkan.»


«ugh, kamu ingin membuat mereka menjadi golem?»


«tentu saja tidak, anda bisa membayangkan kalau golem darkness adalah tubuh jasmani dan kedua anak kembar itu adalah jiwanya. Jika saya menggunakan kemampuan saya untuk mengintegrasikan keduanya, mereka bisa menjadi kesatuan yang utuh dengan wujud biasa mereka.»


Ohh, aku mengerti.


Hydra akan menggunakan kemampuannya untuk membuat golem darkness seperti dirinya yang bisa menyatu dengan jiwa seseorang. Jadi, bukan anak-anak itu yang menjadi golem tetapi golem itu yang bergabung dengan jiwa mereka berdua.


Baiklah, aku sudah membuat keputusan.


«hydra, kamu sangat hebat!»


«terima kasih atas pujiannya.»


Tiba-tiba, merlin menarik lengan bajuku beberapa kali dengan wajah yang tampak cemas.


"ada apa?"


"aku sangat khawatir dengan mereka berdua."


Merlin terlihat sangat peduli dengan mereka, dan aura keibuannya sangat terlihat.


Itu membuat aku ingin memeluknya, tapi di sekitar banyak orang, jadi aku berhenti di sana dan hanya memegang tangannya.


"bagaimana kalau kita mengadopsi mereka?"


"eh? Tapi, bagaimana dengan keluarga mereka?"


"aku pikir, selain kakeknya, mereka tidak memiliki keluarga lagi di sini."


Secara biologis, aku bahkan tidak tahu apakah dia kakek mereka sungguhan atau bukan.


Dan, orang yang mengaku sebagai wakil kepala desa juga tampaknya tidak terlalu mengenal mereka berdua.


Padahal dia yang paling dekat dengan kepala desa tetapi dia tidak mengetahui apapun tentang kedua anak itu.


"baiklah, aku mengerti, aku juga menyukai mereka berdua."


"yah, itu cerita jika mereka mau."


"kamu benar."


Merlin tersenyum. Lalu aku melepaskan tanganku dari genggaman tangannya dan memegang pundak merlin untuk menarik dia ke dalam pelukanku.


Merlin juga melingkarkan tangannya di tubuhku dan kepalanya bersandar pada dadaku.


Ini seperti adegan pasangan suami istri... Tidak, kami memang sudah menjadi pasangan suami istri, dan itu sebabnya kami ingin mengadopsi anak kembar itu sebagai "anak" bukan sebagai "adik" atau nama hubungan kekeluargaan yang lain.


Aku pikir umurku masih terlalu muda untuk memiliki anak, tetapi di dunia ini banyak orang sudah menikah di umur 17 tahun atau bahkan lebih muda lagi.


"ehem, kalian masih bisa bermesraan di kondisi seperti ini, ya?"


Freya membuat batuk yang disengaja dari sampingku.


Karena aku terkejut, aku melepaskan tanganku yang sedang memegang pundak merlin.


"jika kamu ingin dipeluk, bukankah kamu tinggal memintanya? Tidak perlu melakukan batuk-batuk yang seperti itu."


Merlin menggoda freya sambil tersenyum.


"a-apa yang kamu bicarakan? Aku tidak menginginkannya, hmph."


Freya menyilangkan tangan dan mendengus.


Dia mengatakan "tidak" tetapi wajahnya sedang memerah di sana.


Semakin ke sini, dia tampak semakin berbeda.


"baiklah, baik. Aku akan mengingat ini nanti. Ku~fufu."


"ugh~"


Merlin mulai melepaskan pelukannya dan berhenti untuk menggoda freya.


Freya membuat wajah yang bermasalah di sana karena suatu alasan.


Rasanya mereka lebih akrab daripada sebelumnya, tapi itu bagus.


Setelah itu, kami ikut menghadiri para korban disemayamkan di pemakaman umum desa.


Merlin mendampingi atla dan eren, dua tangannya sibuk memegangi salah satu tangan dari mereka.


Melihat itu, aku jadi teringat kembali bagaimana dengan keadaan keluargaku di rumah.


Apakah mereka baik-baik saja? Dan, bagaimana dengan reaksi mereka karena aku pergi dari sana tanpa pamit? Apakah mereka akan melaporkan aku — yang menghilang — kepada pihak yang berwajib?

__ADS_1


Tidak ada ide lain, dan aku sudah memutuskan untuk tinggal di sini. Jadi aku harap mereka baik-baik saja di sana.


__ADS_2