Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Duel #1


__ADS_3

"Kamu juga tahu tentang ini, Hestia?"


Tristan ingin mengkonfirmasi pengetahuan Hestia.


"Iya, cukup aneh melihat mereka mengadopsi iblis sebagai anak mereka, tapi kupikir itu tidak ada masalah."


Hestia menjelaskan pendapatnya tentang iblis. Sebagai tambahan dia bergumam — (yah, bahkan jika aku tidak menyukainya, mereka masih tetap dicintai oleh para Roh.) sambil membuang muka.


"K-Kenapa kamu harus merawat mereka, Kak Freya?"


Grandine bertanya, terheran. Pertanyaan dan wajahnya itu dimiliki oleh seluruh party Tristan.


"Em, ini akan menjadi cerita yang panjang. Jika kalian ingin mendengarnya, aku akan jelaskan di dalam."


Freya menunda penjelasannya. Mendengar jawaban itu membuat Grandine dan Tristan saling menatap.


"Ck, memangnya apa yang perlu dijelaskan. Mereka berdua adalah putri kami, itu sama sekali tidak ada urusannya dengan kalian."


Merlin angkat bicara. Dari suaranya saja sudah terdengar kalau dia tidak senang. Dia juga melihat kelompok Tristan dengan tatapan sinis.


Untuk pertama kalinya dia memperlihatkan kemarahannya di tempat umum, itu membuat aku cemas karena biasanya dia menjadi wanita pendiam.


Karena ucapannya, party Tristan menatap Merlin dengan wajah bingung seperti ingin bertanya "siapa orang ini?".


"Ehem, sudah, sudah. Eliza dan Ivan, karena kalian sudah setuju ingin melakukan duel, maka kita harus pindah lokasi—"


Daripada masalah bertambah semakin parah, aku cepat-cepat mengubah topik. Ketika Merlin sudah sangat marah, bahkan aku sendiri tidak yakin bisa menghentikannya atau tidak.


"—Carla!"


"Iya, Tuan."


"Hentikan orang-orang yang berlatih di Colosseum dan suruh mereka membersihkan tempatnya, kita akan adakan duelnya di sana."


"Baik."


Setelah menyuruh Carla mengurus tempat duelnya, kami segera pindah lokasi dengan Freya yang memandu party Tristan, Hestia, dan Martin di depan.


***


"Tumben sekali melihat kamu marah, Merlin?"


Di jalan menuju ke Colosseum bersama dengan anak-anak, aku bertanya kepada Merlin. Suasana hati buruknya itu harus segera dihilangkan agar kemarahannya tidak terus disimpan.


"A-Apa itu mengganggu mu?"


Iya, itu sangat membuat aku khawatir karena kemungkinan kekacauan akan terjadi, tapi aku tidak akan berkata jujur seperti itu.


"Tidak. Aku hanya ingin tahu kenapa kamu tidak menahannya seperti biasa."


"Err, itu karena mereka benar-benar membuat aku kesal. Tidak hanya mengusik Alice, tapi juga memandang rendah Atla dan Eren. Aku benar-benar tidak suka dengan mereka."


Merlin mengutarakan perasaannya.


Yah, tingkah laku mereka memang sudah kelewatan. Bahkan jika mereka adalah sekelompok orang yang melindungi umat manusia dari bahaya monster dan iblis, mereka seharusnya tidak membeda-bedakan rasial seseorang.


Aku mengerti kenapa mereka sangat tidak menyukai iblis, tapi Atla dan Eren berbeda. Mereka berdua tidak pernah ikut dalam perang, jadi mereka tidak bersalah.


Sekarang aku jadi mengerti kenapa iblis atau ras demi-human tidak terlalu suka dengan manusia. Hanya karena perbedaan ras, suku, bahkan bahasa — mereka langsung memberikan sikap bermusuhan.


Mungkin mencampur bangsa naga kami dengan para manusia merupakan ide yang buruk. Aku harus mempertimbangkan baik-baik bagaimana hubungan kami kedepannya dengan para manusia di wilayah ini.


"Sayang, kamu marah sebagai "Ibu", jadi aku senang. Tapi kali ini tolong biarkan mereka. Kita tidak bisa memusuhi Pahlawan manusia."


"Em."


Aku suka Merlin marah karena anak-anak. Jadi aku merangkul pinggangnya yang halus dan empuk itu, lalu mendekatkan dirinya padaku.


"Ahhhh! Ayah dan ibu mesra-mesraan!"


Tapi semua tidak bisa berjalan baik, yah!


Alice meneriakkan ketidaknyamanannya dari sisi kanan Merlin. Itu membuat semua anak-anak jadi memperhatikan kami, jadi kami langsung bersikap biasa lagi.


"Ibu, apa kami tidak disukai oleh manusia?"


Eren dari belakang kami memberikan pertanyaan, dia sudah peka terhadap pandangan orang-orang yang memusuhinya.


Aku mendengar Atla berbisik "Shhh, kamu enggak bisa bertanya tentang hal itu." Ke Eren, seperti sedang melarang adiknya untuk bertanya. Dan teguran itu membuat Eren merenung.


Mendengar Eren bertanya, Merlin justru menatap aku dengan wajah cemas seperti sedang mencari jawaban.

__ADS_1


"Kamu tidak merasa nyaman ya, karena itu?"


"Iya. Waktu bibi Hestia datang ke sini, dia juga melihat kami dengan tatapan seperti itu."


Eren mengingat kembali pertemuannya dengan Hestia.


Aku heran kenapa Hestia dipanggil bibir oleh Eren. Apa dia memang setua itu? Padahal kupikir Hestia hanya seperti wanita yang umurnya beda dua atau tiga tahun di atasku.


"Hmm, sebenarnya aku ingin menjelaskannya nanti ketika kalian sudah siap, tapi kupikir membicarakannya sekarang juga tidak masalah..."


Sambil berjalan ke Coloseum, aku menjelaskan permusuhan antara manusia dan iblis kepada Atla dan Eren. Untungnya mereka berdua merupakan anak-anak yang pintar, jadi bahkan jika aku menyebut kalau ras mereka merupakan musuh umat manusia, mereka tidak langsung panik.


Sejauh ini, mereka sudah mendengar kalau kami memang bermusuhan dengan manusia. Tidak hanya aku, tetapi bangsa naga juga memiliki sejarah perang dengan manusia. Jadi perang dengan manusia juga sudah mereka dengar dari kisah orang tua teman-temannya.


Itu hanya seperti Eren telah mendapatkan informasi baru.


"A--, Tapi tidak semua manusia memiliki sikap bermusuhan dengan kalian, loh. Sama seperti kalian yang tidak tahu apa-apa, di luar sana juga terdapat manusia yang tidak ingin berperang. Jadi kalian tidak boleh menghakimi mereka semua bersalah. Mengerti?"


"Iya." ××


Semua anak-anak menjawab dengan baik. Aku tidak tahu apakah mereka mengerti atau tidak, tapi setidaknya aku sudah mengatakan apa yang perlu aku katakan. Sisanya biarkan kebijaksanaan manusia yang menentukan bagaimana mereka menanggapi anak-anak.


***


Di tengah lapangan, Eliza dan Ivan berhadapan untuk melakukan Duel.


Eliza masih menggunakan pakaian biasanya, hanya saja kitab Grimoire telah dia keluarkan dari dalam ruang penyimpanannya dan menaruh item itu di pinggang.


Sedangkan Ivan mengubah penampilannya dengan perlengkapan bertarungnya. Prisai besar berwarna silver dia pegang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah lembing.


Dia juga mengenakan pelindung kepala seperti helm gladiator dan jubah besar berwarna merah. Dia adalah seorang Lancer tanpa kuda.


Seorang Lancer melawan High Wizard. Fighter VS Mage.


Berdasarkan job, biasanya Mage selalu menang melawan Fighter. Karena Fighter mengandalkan HP ketika bertarung, mereka pada umumnya melakukan pertarungan jarak dekat. Sedangkan Mage lebih mengandalkan MP dan bertarung dari jarak jauh. Jika selama pertarungan Mage bisa mempertahankan jaraknya dari Fighter, maka Mage dapat menang dengan mudah.


Dalam kasus Eliza, dia memiliki MP yang sangat banyak. Cukup untuk bertarung selama berbulan-bulan atau mengeluarkan sihir skala besar sebanyak ratusan kali. Yang mana satu skill skala besar itu dapat membunuh Ivan dalam sekejap.


Pemenang sudah ditentukan, bahkan sebelum pertandingannya di mulai.


Aku agak prihatin dengan Ivan.


Tapi keprihatinan ku sepertinya tidak diperlukan. Entah kenapa Ivan masih bisa tersenyum di sana.


Sekuat apapun barier yang Eliza miliki, itu akan percuma bila dihadapkan langsung dengan Fighter, karena Fighter selalu memiliki skill yang bisa menghancurkan pertahanan lawannya.


Ngomong-Ngomong, banyak sekali penonton yang ingin menyaksikan Duel ini. Mereka merupakan para naga yang sering berlatih di sini.


Sedangkan aku, Merlin, Freya, Tristan, dan Hestia menyaksikan mereka dari tempat VIP. Di sini juga terdapat Alice yang selalu teriak-teriak mendukung Eliza untuk membalaskan dendamnya, Anak-anak, Carla, Martin, dan Irina juga di sini.


Aku mengajak Martin dan Irina untuk ikut menonton. Daripada mereka harus bosan menunggu di lobi, lebih baik mereka ikut menyaksikan duel ini.


Yah, meskipun aku tahu kalau kehadiran mereka di sini justru membuat mereka semakin tidak nyaman.


"Perlengkapan mu terlihat berat. Apa kau benar-benar bisa bertarung sambil menggunakan itu?"


Dengan wajah heran, Eliza bertanya pada Ivan. Dia merasa aneh dengan senjata Ivan dan bertanya-tanya bagaimana Ivan akan menyerangnya dengan senjata seperti itu.


"Aku sudah terbiasa dengan ini, jadi kamu tidak perlu khawatir. Justru sebaliknya, apakah kamu tidak menggunakan perlengkapan untuk pertahanan mu sendiri?"


"Aku tidak membutuhkan hal-hal seperti itu untuk melawan mu."


"Kurasa, kamu terlalu menganggap enteng Duel ini. Untuk mempertahankan kehormatan Tuanku, aku tidak akan segan-segan, loh. Bahkan jika lawannya adalah wanita"


"Begitu, ya? Tapi aku mengajak mu berduel hanya untuk memukul mu karena telah mendorong Alice hingga terjatuh. Aku juga tidak akan segan-segan pada orang yang berani menyakiti keluargaku."


Mereka berdua saling memperingati, tapi pada akhirnya peringatan Eliza lebih menakutkan untuk didengar. Dia juga memberikan tatapan tajam terhadap Ivan.


"Ehem, baiklah. Masing-masing pihak sudah siap untuk bertarung. Peraturannya sederhana, tidak boleh membunuh lawan dan tidak boleh keluar dari arena. Membunuh lawan akan dikenakan hukuman, sedangkan keluar dari arena akan dianggap kalah. Apa masing-masing pihak setuju dengan ini?"


Tiba-tiba, Odimus muncul di tengah lapangan sebagai wasit.


"Em."


"Ya."


Ivan dan Eliza menyetujui peraturannya.


"Baiklah kalau begitu. Duel antara Nona Eliza dari Keluarga Testalia dan Tuan Ivan dari party Pahlawan... DIMULAI!!"


Setelah mengumumkan dimulainya duel, Odimus tiba-tiba menghilang dari lokasi tersebut. Aku merasa dejavu melihat itu.

__ADS_1


*Whoooosh*


Ivan langsung melesat ke arah Eliza setelah duel dimulai. Itu membuat efek kejut dan menciptakan ledakan kecil.


Dalam sekejap, lembing Ivan muncul di depan wajah Eliza, membuat Eliza terpana sesaat dan kemudian dia menghindarinya. Namun darah sudah keluar dari pipi sebelah kiri Eliza, membentuk sebuah garis.


"Woooah!!"


Serangan itu telah mengenai wajah mulus Eliza, dan membuat penonton berseru.


Eliza cepat-cepat menjauh dari Ivan, tapi Ivan tidak membiarkan jaraknya melebar. Setelah mendekati Eliza kembali, dia menyerang Eliza dengan lembingnya.


Eliza memperhatikan setiap serangan Ivan dan berhasil menghindarinya. Itu membuat Eliza terlihat seperti terpojok dengan setiap serangan Ivan.


Ivan menggunakan lembingnya seolah-olah itu adalah Rapier, jenis senjata ringan yang menyerang lawannya dengan menusuk.


Orang tidak akan menyangka kalau Ivan dapat menggunakan lembing berat seperti itu dengan mudah tanpa menurunkan kecepatannya sama sekali.


"Ugh, menjauh dariku!"


*Boom!!*


Eliza terlihat kesal karena Ivan selalu mendekatinya ketika dia menjauh. Dia mengarahkan tangannya ke depan dan menciptakan ledakan untuk menjauhkan Ivan.


Dari kepulan asap, Eliza berhasil keluar dan menjauh dari Ivan.


"Tidak akan kubiarkan!"


Dari kepulan asap yang sudah mulai menghilang, setelah berhasil menahan sihir ledakan Eliza dengan perisainya, Ivan mengencangkan tangan dan kaki-kakinya. Kemudian dia mengambil sikap kuda-kuda, dan melempar perisainya dengan tenaga penuh.


Perisai itu terlempar ke arah lain, lalu berbelok dan menuju ke arah Eliza dengan kecepatan tinggi. Gaya terbang seperti bumerang.


*Bang!*


"Aghhh!!"


Perisai mengenai pinggang Eliza, dan mengirim Eliza terbang karena dampak serangannya cukup keras.


Setelah mengenai Eliza, perisai Ivan kembali ke tangan kirinya. Benar-benar mirip seperti bumerang.


Eliza yang terhempas mulai terjatuh dan berguling-guling sebelum berhenti. Sepertinya dampak serangannya lebih besar daripada perkiraanku.


Melihat Eliza jatuh lemas seperti itu membuat aku ingin sekali memukul Ivan. Tapi aku dapat memastikan kalau Eliza tidak mengalami cedera fatal, jadi aku masih bisa bersikap tenang.


Selama pertarungan berlangsung, aku bingung kenapa Eliza tidak mengaktifkan sihir pertahanannya. Aku hanya bisa berpikir kalau Ivan memiliki semacam skill untuk mencegah Eliza menggunakan sihir seperti kemampuan Freya.


Dan juga, perlengkapan Ivan sepertinya bukan hanya sekedar gaya berpakaian biasa. Jubah, zirah, helm, perisai, dan lembingnya merupakan perlengkapan kelas [Legenda]. Jadi pantas saja dia memiliki kecepatan, kelincahan, dan kekuatan melebihi kemampuan basicnya karena mendapat dukungan dari perlengkapan tersebut.


"Ah, KAKAK!!?"


Oh, tampaknya Alice sangat terkejut melihat Eliza terjatuh. Atla, Eren, dan yang lainnya juga tampak mencemaskan kesehatan Eliza.


"Ini sudah berakhir."


Sambil mengumumkan hal tersebut, Tristan berdiri dari tempat duduknya. Itu pertandingan yang terlalu cepat, ya.


"A-Ayah, selamatkan Kakak!"


Alice mencari bantuan kepadaku, wajahnya terlihat panik.


"Eliza terjatuh di sana kan karena kamu, Alice. Jika saja kamu tidak membuat masalah, Eliza tidak akan pernah melakukan duel itu."


"Ah!"


Aku menyalahkan Alice, dia langsung merasa bersalah setelah mendengar kalimatku. Betapa jahatnya aku.


"Maafkan aku."


Hm? Tiba-tiba Alice meminta maaf. Sangat langka melihat dia mau meminta maaf, biasanya dia akan menyalahkan kesalahannya kepada orang lain, jika tidak ada orang yang bisa disalahkan, dia akan membuang muka atau malah memarahi balik orang yang telah menyalahkannya. Namun sekarang dia...


Dia meminta maaf sambil menundukkan kepalanya, terlihat sangat merasa bersalah.


"Nanti kamu harus meminta maaf sama Kak Eliza, ya?"


Dia adalah putri bungsu kami yang selalu memberikan keceriaan di dalam keseharian keluarga, jadi aku tidak bisa melihat dia seperti itu terus. Aku langsung memeluknya agar dia tenang, mengatakan hal itu dan membuat dia mengangguk mengerti.


"Bagus. Selain itu, pertarungan ini belum berakhir. Tidak ada peraturan yang mengatakan membuat lawanmu jatuh akan membuat mu menang, kan? Selama Eliza belum menyerah atau pingsan, pertarungan masih terus berlanjut."


"Apa kamu masih ingin melanjutkan duelnya?"


"Tentu saja. Jika aku menghentikan duelnya, dia akan memarahiku habis-habisan nanti."

__ADS_1


Menyelesaikan kalimat, aku tertawa canggung. Kemudian semua orang melihat ke arah arena untuk memperhatikan Eliza.


__ADS_2