
Persepsi berubah dan kesadaranku kembali ke tubuh normal. Dengan waktu yang dipercepat, tidak aku sangka kami bisa menyelesaikan empat senjata peringkat Legendaris hanya dalam waktu beberapa menit.
Padahal aslinya, kami telah memakan waktu hingga berjam-jam di dalam dimensi Hydra. Kemampuan sihir waktu memang sangat mengerikan.
Sihir Waktu, salah satu sihir Hydra dan para Divine Monster lainnya yang paling berguna. Hanya saja cuma sebatas pada mempercepat dan memperlambat waktu, tidak sampai memanipulasi waktu secara sesuka hati seperti memutar balikkan waktu atau time travel.
Sekarang aku berada di dalam kantor. Setelah melihat beberapa dokumen, aku beranjak dari bangku dan menuju ke pintu masuk.
Kemudian bertemu dengan Luminous dan Rin di depan pintu. Penyebab kenapa aku bisa aman memindahkan kesadaranku adalah karena keberadaan mereka berdua telah menjaga pintu.
"Tidak ada yang mencariku, kan?"
"Tidak ada, Tuan Albert."
"Baiklah, kita bisa tinggalkan ini. Aku sekarang ingin melihat kompatibilitas senjata dengan penggunaannya."
""Baik.""
Kami langsung menuju ke Dungeon untuk bertemu dengan anak-anak.
Ngomong-ngomong, satu juta poin sudah kuberikan kepada mereka (para Kesatria Pengawal Putri). Dan saat ini mereka sedang berlatih untuk mengontrol sejumlah energi di tubuh mereka.
Tidak ada rasa penyesalan untuk itu. Mereka memang hanya Kesatria Putri untuk saat ini, tetapi mereka akan menjadi salah satu kesatria hebat setelah mereka sudah besar.
Menurutku, hal ini sering dijumpai. Bekerja dengan keluarga kerajaan merupakan suatu kehormatan. Walaupun, keluarga kami bukan keluarga kerajaan.
Kami tiba di lantai 75, area pegunungan. Seseorang telah menemukan lokasi yang cocok untuk anak-anak berlatih. Tempatnya cukup luas, dikelilingi oleh tebing tinggi, dan cukup kokoh.
Bahkan sihir penghalang berlapis telah dipasang untuk melapisi tebing agar tidak runtuh ketika terkena serangan atau semacam benturan lainnya.
Hari ini anak-anak sedang dibimbing oleh Damara dan Diego.
Tidak ada senjata. Mereka berlatih dengan tangan kosong, dan tentunya sihir tetap diperbolehkan.
*****
Diego melepaskan sejumlah bola api seukuran bola basket ke arah kelompok anak-anak. Atau, aku akan menyebutnya dengan Party Atla mulai sekarang karena Atla adalah pemimpinnya.
*Shu-Shu-Shu*
*BOOM**BOOM**BOOM**BOOM*
Ledakan terjadi di depan penghalang Atla. Itu tidak berhasil menembusnya penghalangnya, namun Atla terlihat kewalahan menghadapi serangan Diego.
Dari seluruh para Einherjar, serangan Diego adalah yang terkuat. Meski itu hanya serangan emisi kecil, tapi kekuatannya bisa ditingkatkan beberapa kali karena kemampuan Diego sebagai kartu pemberi Buff Serangan.
Berakhirnya serangan Diego, tim vanguard Party Atla langsung menuju ke arah musuh.
Davies sering berlatih dan cukup percaya diri. Oleh karena itu, dia memiliki keberanian dan menjadi orang pertama yang menghadapi musuh.
Davies datang ke Damara. Karena posisi Damara berada di depan Diego, dan mereka berdua beradu pukulan.
Bagi Damara, ini memang permainan anak-anak seperti yang terlihat. Dengan santai menangkis serangan Davies dan mengarahkan serangannya ke arah lain.
"Ingat, taruh energimu di setiap pukulan. Jangan pernah takut dengan konsekuensinya dan langsung keluarkan saja semuanya."
Damara memberi pelajaran.
Setiap hari, mereka selalu diingatkan tentang hal ini. Menggunakan seluruh energi di dalam tubuh ke setiap pukulan di kepalan tangan.
Meski sudah mengetahui hal itu, Davies masih belum cukup mampu untuk mengontrolnya.
Atau lebih tepatnya, dia sudah melakukannya sesuai dengan instruksi. Namun, berbeda dengan keinginannya, itu benar-benar sulit untuk dilakukan.
Bagaimanapun, untuk tetap berkonsentrasi terhadap kecepatan dan serangan lawan sudah membuat Davies kerepotan. Apalagi ditambah dengan memikirkan output energi di setiap pukulan? Itu benar-benar membuat kepalanya pusing.
Belum lagi, dia masih harus menahan serangan dari pihak lain. Dia masih harus membentuk pertahanan sendiri dengan energi sihirnya. Kalau tidak, dia tidak akan bisa adu pukul dengan pihak lawan.
Itu sungguh menyebalkan.
Terakhir dia mencoba mengeluarkan semua kekuatannya di satu pukulan, tapi hanya itu saja. Dengan mudah pukulan Davies dihindari dan sejumlah energi tersebut menghilang begitu saja. Hasilnya dia tidak memiliki pertahanan dan berakhir dipukul oleh pihak lain.
Seperti saat ini. Kontrol energi sudah dialihkan ke pertahanan. Sambil menahan dan menyerang, setiap energi disalurkan untuk menangkis dan memukul.
"Arghh, jangan menghindar!!"
Davies memberikan tuntutan egois.
Dia sudah kesal karena pihak lawan terus menerus menghindari serangannya. Padahal di setiap serangan itu sudah menyalurkan cukup besar energi.
Ini hanya akan menghabiskan energinya jika dia tidak dapat mengenai sasaran. Itu sebabnya, dia sangat kesal.
"Dasar bodoh. Bahkan jika aku tidak menghindar, kau tetap tidak akan bisa menyentuhku."
*Stak*
"Aduh!"
Sambil menegurnya, Damara melakukan sentil di kening Davies. Dia memiliki wajah yang memerah setelah mendengar teguran Damara.
Benar, bahkan jika Damara tidak menghindar, Damara tidak akan terluka meski sudah terkena pukulan dari Davies.
Jadi, percuma saja bila Davies memukulnya. Itu tidak akan memiliki faedah.
Bagaimanapun, apa yang harus dilakukan Davies hanyalah mencoba untuk mengontrol kekuatannya dan mensukseskan pukulan agar bisa mendarat di tubuh Damara.
__ADS_1
Hanya itu tujuan dari latihan setiap hari mereka.
Sementara Damara menegur Davies, Natalie melihat celah dan memanfaatkan itu untuk menyerang.
Dengan cepat dan tersembunyi, Natalie muncul di belakang Damara. Merentangkan cakar-cakarnya yang sangat beracun untuk menyerang Damara dan sudah bersiap sambil mengangkat kedua tangannya, seolah-olah ingin menerkam.
Namun, seakan Damara menghilang dari tempat dan muncul kembali secara tiba-tiba di depan Natalie untuk menangkapnya dengan kedua tangan.
Aksi sembunyi-sembunyi Natalie diketahui dan langsung tertangkap.
"Haha, sangat bagus. Tapi sayangnya, aku dapat mengetahui keberadaanmu karena kamu masih bernafas."
Damara mengatakannya dengan sombong.
Natalie hanya bisa pasrah dan menggantung pada kedua tangannya. Posisi mereka seperti seorang ayah sedang mengangkat anak.
Namun, aksi Natalie hanya untuk pengalihan. Dia sudah melihat Davies menuju ke arah Damara dengan energi besar terkompresi di tinju tangan kanan.
(Bisa!)
Natalie sangat yakin.
Namun tiba-tiba Natalie diayunkan ke samping hingga Natalie mengatakan "Eh?" karena bingung.
Hal berikutnya yang terjadi adalah kaki Natalie terbentur ke kepala Davies dengan kencang karena Damara mengayunkan Natalie ke arahnya.
*BANG*
Davies jatuh dan kesakitan. Kepalanya terbentur kaki Natalie cukup kencang.
"Haha, aku sudah mengira hal itu."
Sambil tertawa, Damara baru menurunkan Natalie dari tangannya.
Jadi itu sebabnya dia tidak langsung menurunkan Natalie dan tetap menggantungnya di atas.
(Sangat pintar.)
Natalie mengakui kecerdikan Damara. Sampai bisa menggunakan Natalie untuk dijadikan senjata, dia benar-benar menganggap mereka seperti mainan.
Natalie sadar akan perbedaan langit dan bumi ini. Namun dia tidak berkecil hati. Suatu hari, dia pasti akan menjadi petarung terkuat. Itulah mimpi yang ingin dia capai, dan karena itu juga, dia bergabung dengan kelompok ini.
Mengulang kembali.
Di waktu bertepatan dengan serangan Davies, Eren dan Alice menyerang Diego.
Atla beristirahat. Setelah mendapatkan serangan dari Diego, Atla mengkonsumsi banyak energi untuk memulihkan stamina.
Tapi tidak benar-benar habis. Atla hanya perlu menunggu sampai staminanya pulih sepenuhnya dan akan ikut membantu adik-adiknya.
Orang pertama yang menyerang adalah Eren. Setelah mendapatkan berbagai ajaran dari ibunya, Merlin, Eren mendapatkan banyak wawasan tentang keterampilan pertarungan jarak dekat. Dan saat ini, orang dengan keterampilan serangan paling menonjol di dalam party adalah Eren.
Entah itu kecepatan, kelincahan, atau kekuatan — semuanya telah dia dapatkan dan sudah dalam masa perkembangan.
Eren mendekati Diego. Melancarkan serangan dengan hati-hati dan mencegah Diego menyerang balik.
Oleh karena itu, Diego hanya bisa mengambil posisi bertahan ketika mereka sedang beradu pukulan.
Berbeda dengan Damara yang selalu tersenyum, Diego sedang memiliki wajah yang rumit.
Mau bagaimana lagi, Eren selalu melapisi pukulannya dengan atribut iblis. Itu sangat menyakitkan bagi Diego karena dia merupakan entitas Roh (spirit/pixie/peri).
Berdasarkan relasi: Malaikat lemah terhadap roh, roh lemah terhadap iblis, dan iblis lemah terhadap malaikat.
Menurut hubungan antara ketiga entitas ini, Diego sebagai roh mendapatkan kerugian melawan iblis seperti eren.
Atribut roh pada dasarnya adalah energi murni alam. Tidak seperti malaikat, sifat atribut iblis lebih ke "merusak" objek. Sedangkan sifat suci malaikat bersifat "memurnikan".
Itu sebabnya, setiap pukulan dari Eren selalu merusak pertahanan energi Diego seolah-olah mengkontaminasi.
Ditambah lagi, Diego benar-benar tidak ahli dalam hal pertahanan seperti Damara. Meski Diego merupakan spiritual peringkat Legendaris, rasa pahit dari serangan Eren masih bisa dia rasakan.
(Dia benar-benar anak Beliau.)
Alih-alih kerepotan, Diego lebih merasa sangat bangga dengan Eren. Bagaimanapun, dia adalah anak dari tuannya, Albert. Melihat perkembangan mereka juga merupakan kebahagiaan bagi para bawahannya.
"Pah!"
Alice tiba-tiba melepaskan sebuah bola api dari mulutnya. Itu membuat Diego sangat panik, berteriak "Wooah!!" karena terlalu terkejut melihat Alice melancarkan serangan secara langsung.
(Ini dia, suatu keajaiban dari salah satu anak Beliau.)
Sambil memikirkan itu, Diego menghindar.
Alasan kenapa Diego lebih memilih menghindar daripada menahannya adalah karena setiap serangan berartibut api yang telah dirilis dari anak itu, Alice, sangat aneh.
Bahkan ini sudah menjadi kontroversi di antara keluarga Albert.
Meski terlihat seperti api biasa, dampaknya sangat aneh karena bisa menggerogoti subjek serangan. Mirip dengan api Hitam Ignis tapi lebih ke sifat "memakan benda" dan menjadikan subjek sebagai bahan bakarnya.
Dengan kata lain, ketika api itu sudah menyentuh target, dia tidak akan mau melepaskan diri dan tetap terus mengkonsumsi energi kehidupan target sampai habis dan menjadikan target sebagai bahan bakarnya.
Yah, kurang lebih, Alice dan apinya memiliki sifat yang sama.
Dan lebih parahnya lagi. Sampai saat ini, semua orang — bahkan Hydra, Merlin, dan Freya — belum menemukan cara penanganan api serangan Alice tersebut.
__ADS_1
Itu sebabnya, setiap orang yang akan terkena serangan, harus merelakan bagian tubuh mereka dengan cara memisahkan bagian yang terkena api tersebut.
Sejauh ini, belum ada kasus seseorang sampai memotong bagian tubuh mereka. Jika tidak bisa menghindar, seseorang lebih memilih menggunakan medium untuk menahan api itu agar tidak terkena diri mereka sendiri secara langsung.
Api yang sangat fenomenal dan mengerikan. Karena api ini, Alice sekarang sering dipanggil sebagai "Putri Ganas". Kepribadiannya yang tidak terduga dan apinya yang berbahaya membuat dia memiliki panggilan seperti itu.
Yah, ini mungkin salah satu dari sejumlah kemampuan uniknya sebagai monster Rubah Ekor Sembilan. Monster yang terkenal dengan sebutan "Ibu dari segala monster" Dan "Mythical Beast" pastinya masih memiliki kemampuan unik lainnya. Albert dan yang lain meyakini hal ini.
Hanya saja, Alice tidak bisa diajak bekerja sama. Walaupun mereka sudah mengajak Alice latihan untuk mencari tahu kemampuan uniknya yang lain, Alice masih suka membolos.
—
Pertarungan masih terus berlanjut.
Sementara bola api Alice sudah dihindari, Diego mendapatkan dirinya lengah. Eren melihat celah ini dan menyerang Diego, bergerak dengan kecepatan suara, dan memukul pinggang Diego.
Niatnya memukul tulang rusuk, namun karena faktor jarak, Eren merubah arah sasaran menjadi ke pinggulnya dan berharap agar tangan pendeknya bisa mencapai Diego.
*BANG*
Diego terpukul di bagian pinggangnya. Merasakan perih dan tidak percaya.
(Ugh, bagaimana bisa?)
Dia mulai bertanya-tanya.
Dia sudah melapisi tubuhnya dengan penghalang standar untuk melawan anak-anak. Namun tiba-tiba itu menghilang, seolah-olah sihir itu sendiri telah impoten dari tubuh Diego.
"Eh, jangan-jangan...!"
Diego baru sadar dengan apa yang terjadi. Tapi sebelum dia bisa memastikannya...
"Chance!!"
*BOOM*
Alice memukul Diego dengan kekuatan seadanya. Itu kekuatan suntikan kesembilan energi dari dalam ekornya.
Meski Alice terlihat seperti sedang memukul badut, namun pada kenyataannya energi dalam pukulan itu jutaan kali lebih besar daripada pukulan biasa.
Diego berakhir membentur tubuhnya di penghalang berlapis dekat tebing. Sangat menyedihkan.
"Yay!"
Alice, Eren, dan Atla merayakan kemenangan mereka.
Penyebab kenapa penghalang ditubuh Diego menghilang adalah karena kemunculan Atla di dalam tim.
Diam-diam Atla menyelinap ke belakang Diego ketika Alice melancarkan serangan api mengerikannya.
Hanya karena satu api sudah menjadi pengalihan yang sangat bagus.
Atla menggunakan skill [Bidang Anti Sihir] milik ibunya, Freya, pada saat itu juga. Namun berbeda dengan ibunya, Atla hanya bisa melakukan itu dalam jarak tiga meter dari tubuhnya.
Oleh karena itu, dia harus melakukan trik agar dapat mendekati Diego dengan cara pura-pura memulihkan staminanya.
Tidak, itu tidak pura-pura. Dia hanya diam menunggu, bahkan ketika staminanya sudah pulih.
Bagaimanapun juga, Atla merupakan leader di party mereka. Mengordinasi member party sudah menjadi tugas Atla.
Dia juga telah mengarahkan Davies dan Natalie untuk mengurus Damara.
Jika mereka melawan Damara dan Diego secara bersamaan, itu hanya akan mengulangi kesalahan yang sama seperti latihan-latihan sebelumnya.
Untuk itu, Atla lebih memilih mengatasi satu orang, dan sekarang, mereka telah mendapatkan hasilnya.
Melihat anak-anak merayakan kemenangan mereka hanya karena telah mengalahkan Diego yang ceroboh, Damara tersenyum pahit.
Atla sebagai leader party, pasti telah mengerti kenapa dia lebih memilih Diego sebagai target incaran daripada Damara.
Tidak seperti Diego, Damara memiliki keunggulan tertinggi dalam hal pertahanan. Dan Atla pasti telah mengerti ini dan mengesampingkan Damara.
(Benar-benar anak yang pintar.)
Damara merasa bangga.
Yah, meskipun Diego ceroboh, kenyataan bahwa mereka bisa menjatuhkan pukulan di tubuh Diego sudah patut diberikan pujian.
Selesai berlatih, mereka menuju ke tempat istirahat. Di sana sudah terdapat Albert, Peter, dan Claris yang sedang merawat anakan Wyvern.
Wyvern ini tidak lain adalah monster dari telur yang pernah ditemukan oleh Atla ketika kami pertama kali menginvasi Dungeon.
Dia tumbuh dengan baik dan bahkan sudah mengalami mutasi ketika keluar dari cangkang telurnya.
Wyvern biasa hampir mirip seperti Dragon eropa, hanya saja ukurannya lebih kecil. Dan berbeda dengan naga biasa, sayap Wyvern berada di tangannya, bukan sayap yang muncul di punggung.
Peter dan Claris tidak mengikuti latihan fisik karena mereka sedang menghafal sejumlah mantra untuk mengoptimalkan kemampuan mereka.
Kemudian, melihat Albert telah berkunjung, Damara berfikir bahwa pasti akan ada sesuatu yang menarik. Karena Albert jarang sekali datang ke tempat latihan para anak-anak ini.
Damara menghampiri Diego, memberi sedikit sihir pemulihan, dan membantu Diego berjalan.
Tidak ada kerusakan parah. Meski jiwanya sedikit terkikis karena terkena atribut iblis dari Eren, itu masih bisa disembuhkan dengan cepat.
Nah, untuk Diego, dia sudah tidak ingin lagi ceroboh di depan anak-anak itu dan akan mengingat ini sebagai pelajaran.
__ADS_1